Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bonchap 2


__ADS_3

Perjalanan Dirga dan Athan.


Akhirnya Dirga menemukan makanan yang Syafi inginkan. Setelah membeli makanan itu mereka segera kembali ke Rumah Sakit.


"Than." Dirga mencoba membuka pembicaraan.


"Iya, apa Dir?"


"Kalian yakin kalau antara kau dan Mayfa hanya ingin sebatas teman?"


"Yakin." Athan sangat mantap dengan jawabannya.


"Aku bukan menggurui kamu tentang cinta, kamu tau sendiri kalau masalah cinta aku sangat payah." Dirga tertawa menertawakan segala kebodohannya.


"Sebaiknya yakinkan hati kamu Than, kalian kan selalu dekat. Coba deh kamu pergi dulu, dan rasakan bagaimana harimu tanpa Mayfa. Tidak berhubungan secara real mau pun dunia maya. Kalau perasaan kamu bis biasa saja, ya memang berarti perasaan kalian memang sebatas teman. Tapi kalau ada yang hilang, kamu cari tau sendiri bagian apa yang hilang itu, bagian kehilangan teman, apa kehilangan kepingan hati yang lain."


Sesampai di Rumah Sakit, mereka segera ke ruangan Syafi. Makan malam pun terasa begitu hangat, rasanya segala ganjalan kekhawatiran sudah lepas saat Syafi melahirkan dengan selamat.


Malam semakin larut, Mayfa dan Athan pun pamit pulang. Sepanjang perjalanan keduanya diam. Entah mengapa pertanyaan Sam tadi siang membuat keduanya merasa canggung.


Hingga Mayfa turun dari motor Athan, keduanya masih saling diam.


"May ...."


Panggilan Athan membuat langkah Mayfa terhenti, dia menoleh pada pemuda itu.


"Ini masih libur semester kan?"


"Napa? Lu kangen godain mak-mak anak murid lu ya?"


"Cemburu May?"


"Hilih, ngarep lu!"


Athan tertawa renyah, tawa Athan bagaikan semilir angin yang berhembus hingga menyapa hati Mayfa.


"Jangan lupa ngedip! Gua tau kalau gue tampan," ledek Athan.


Mayfa segera membuang pandangannya kearah lain.


"Oh iya, besok gua mau pergi, jadi nggak bisa nemenin lu wara-wiri nggak jelas, so jangan kangen ya." Athan segera menghidupkan mesin motornya dan pergi dari kost-an Mayfa.


Sedang Mayfa membeku memandangi kepergian Athan.


***


Tepat saat kedua bayi kembar Syafi berumur 1 minggu, Dirga mengadakan syukuran pemberian nama dan aqiqah kedua bayinya di sebuah hotel. Kedua bayi Syafi diberi nama Nafasha Aurelia dan Nazhifa Aurelia.


Acara berjalan begitu hangat, berbagai kalangan yang hadir di acara Dirga dan Syafi, hingga teman-teman guru, kecuali Athan. Sejak malam itu Mayfa benar-benar tidak melihat sosok Athan lagi.


Hari-hari Mayfa biasa saja saat bersama Athan, tapi entah kenapa dalam kesehariannya banyak yang kurang saat Athan tidak bersamanya. Mayfa terus tenggelam dalam dilemanya, sedih dan hampa harinya tanpa Athan, namun mengakui semua itu dia tidak mau.


Entah, semua terasa mengganjal, apa perasaan itu? Mayfa sendiri tidak tahu. Tapi tanpa Athan setiap detik waktunya menjadi terasa membosankan.


"May, kamu ada hubungi Athan nggak?"


Pertanyaan itu membuat Mayfa tersadar dari lamunannya tentang Athan.

__ADS_1


"Ha?"


"Athan, kenapa dia nggak ada kabar ya? Terakhir aku bertemu dia saat malam setelah aku lahiran," ucap Syafi.


Syafi menatap wajah Mayfa penuh selidik. "Kamu sama Athan berantem?"


"Astaghfirullah Fiy ... Aku sama Athan tidak punya ikatan apa-apa, apa yang harus bikin kami berantem coba?"


"Iya juga sih, terus kenapa Athan tiba-tiba menghilang?"


"Habis anter gue pulang ke kost waktu itu, dia cuma bilang mau menghilang sebentar selagi libur semester."


"Apa Athan pulang ke Banjarmasin ya?"


"Bisa jadi sih," sahut Mayfa.


"Tapi kalau pulang, kok nggak cerita sama kita?"


"Ilih Fiy ... Ingat kita ini teman, bukan siapa-siapa dia, ngapain dia laporan sama kita, emaknya bukan bininya juga bukan."


"Sayang, ternyata kamu di sini?" Dirga begitu nyaman melingkarkan lengannya di pinggang Syafi.


"Ada apa?" tanya Syafi.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin kenalkan salah satu temanku, dia teman kuliah aku dulu, namanya Frans." Dirga mengisyarat pada pemuda yang datang bersamanya.


"Hai, aku Syafi." Syafi mengatupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.


"Senang bisa bertemu dengan Anda Nyonya Dirga," ucap Frans.


Pandangan mata Frans tertuju pada Mayfa, sepasang mata itu terlihat tertarik dengan sosok yang berdiri di samping Syafi. Hal itu juga bisa disadari Syafi.


"Temen lu yang itu Dir?" Mayfa mengisyarat, apakah orang itu yang tempo hari Dirga ceritakan.


"Iya May, kenalan aja dulu."


"Ya Salam, Anda sangat tampan," puji Mayfa.


Frans langsung salah tingkah dengan pujian Mayfa.


"Ya Allah, jika dia jodoh orang, maka dekatkanlah padaku, karena aku ini orang, bukan bidadari," goda Mayfa.


"Kocak ini orang." Frans menggeleng mendengar ucapan Mayfa.


"Jangan ilfeel ya bang, ini mah masih kaleman saya dari bini Dirga, kalau Syafi lebih parah," ucap Mayfa.


"Yup, sangat parah dan gokil, karena hal itu juga yang membuat aku jatuh cinta sama dia." Dirga mendaratkan ciuman di pipi kanan Syafi.


"Hareundang hareundang hareundang panas-panas-panas ...." Mayfa mengipasi dirinya sendiri dengan telapak tangannya.


"Pengen?" goda Dirga.


"Pengen ... Tapi nggak ada yang halalin adek bang, cogan-cogan sibuk ngehalalin indomie doang," sahut Mayfa.


Frans merasa sulit berhenti tersenyum karena kata-kata Mayfa. Baginya perempuan ini unik, di mana sebagian perempuan berusaha terlihat anggun dan manis, berbeda dengan Mayfa.


Perhatian Frans terus tertuju pada Mayfa. Walau batinnya terus menerus mengutuki perasaannya sendiri karena tidak mampu berhenti memperhatikan Mayfa. Rasanya hal ini seperti perasaan cinta anak kacangan yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi dia sendiri tidak bisa mengabaikan rasa itu.

__ADS_1


Bagi Frans, Mayfa unik. Sangat berbeda dengan gadis-gadis yang dia kenal, mereka bersikap manis dan jaim, sedang Mayfa bersikap apa adanya, bahkan tidak malu menggodanya, walau itu sebatas candaan.


"Akhirnya Athan kelihatan juga batang hidungnya," ucap Syafi tiba-tiba.


Mendengar nama Athan, entah kenapa sekujur tubuh Mayfa menghangat. Athan, nama yang selalu berputar di kepalanya, dan sosok yang dia rindukan 1 minggu belakangan ini.


"Hai Fiy, Dirga, semuanya." sapa Athan.


Setelah 1 minggu tidak mendengar suara itu, darah Mayfa seakan mendidih mendengar suara itu.


"Kamu kemana aja Than? Seminggu ini aku huungin tapi nggak bisa!" omel Syafi.


"Aku lagi Healing fiy," sahut Athan.


"Itu mah bukan healing, tapi hilang!" omel Syafi.


Sedari tadi Athan berusaha keras agar tidak menoleh pada Mayfa, namun dia tidak bisa mengendalikan dirinya hingga tetap menoleh pada Mayfa.


"Hey patner ribut, seminggu nggak ketemu ada yang beda!" goda Athan.


"Bilang aja gue gendutan!" sahut Mayfa sinis.


"Buka body lu, tapi wajah lu. Kau pakai skincare nggak bpom ya? Itu wajahmu merah," ucap Athan.


"Ini merah bukan karena salah perawatan, tapi merah karena aku terpesona sama calon imamnya orang!" Mayfa mengisyarat pada Frans.


"Calon imamnya orang?" Athan berusaha memahami.


"Iya, karena kan dia jodohnya ma orang, bukan sama bidadari. Nah gue ka orang." celoteh Mayfa.


"Beneran siap jadi makmumku?" ucap Frans.


"Ini jawabannya pakai lagu Syafi." Mayfa berdeham beberapa kali mempersiapkan suara emas terpendamnya.


"Suka sama suka, mau sama mau, tak usah kau ragu ... Sabar-sabar dulu, tunggu-tunggu waktu ...." nyanyian Mayfa.


"Ini kan lagu andalan Syafi?" sela Dirga.


"Iya tau, kan minjem dulu buat kasih tau sabar ama maseh." Mayfa menatap genit pada Frans.


"Anakmu mana Fiy? Lama nggak lihat dia." Athan berusaha mengalihkan topik.


"Itu di sana sama Neneknya Gavin Gilang." Syafi mengisyarat kearah ibu Sam dan ibu Resa.


"Aku ke sana dulu ya," pamit Athan.


"Seminggu lu ga liat mereka, mereka dah banyak perkembangan loh," sela Mayfa.


"Masih bayi May, mereka baru bisa bobo, mimi, bobo, dan pup!" sahut Athan.


"Eh ... jangan salah, nggak cuma itu, sekarang dah bisa lari-lari loh!" ucap Mayfa.


Kedua alis Frans tertaut bagaimana bisa bayi umur seminggu bisa lari pikirnya.


"Ya aku percaya, bisa lari-lari itu maknya, bukan si kembar!" Athan langsung berjalan kearah bayi kembar Syafi.


"Gokil kalian, aku pikir yang bisa lari tadi anak Dirga, ternyata bininya," sela Frans.

__ADS_1


"Ngobrol sama istriku, Mayfa, dan Athan, kadang aku harus melepas kewarasanku dulu, ngobrol dengan waras sulit nyambung dengan mereka," ucap Dirga.


__ADS_2