Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 95


__ADS_3

Napas Dirga memburu seakan selesai meniti anak tangga dari lantai 1 hingga lantai 20, setelah membaca pesan Lala. Dengan tangan yang masih gemetaran Dirga menekan panggilan ke nomor Lala. Sebelah tangannya memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut mengetahui kalau Syafi sudah tahu akan pernikahan rahasianya.


“Kak! Kakak di mana? Kenapa kakak tidak menjawab panggilanku?!” suara Lala terdengar sangat panik.


“Darimana kamu tau kalau Syafi tahu tentang pernikahan kita?”


“Kakak tidak membaca semua pesanku?” Lala terdengar semakin putus asa mendengar ucapan Dirga.


“Tidak, aku sangat kacau La, membaca satu pesanmu saja aku hampir tidak bisa bernapas, bagaimana aku punya kekuatan untuk membaca pesan kamu yang lain?”


Terdengar Lala menghela napasnya begitu dalam, hembusan kasar napas Lala juga sangat jelas terdengar di telinga Dirga.


“Tiba-tiba Syafi datang ke rumah.”


“Datang ke rumah kamu?”


“Iya.” Suara Lala terdengar begitu lemah.


“Kapan?”


“Tidak lama setelah kakak pergi, Syafi datang.” Lala terisak, dia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Syafi.


Lala menceritakan semua yang Syafi ucapkan padanya. “Sebaiknya, kakak cari Syafi sekarang, tadi pagi dia minta aku bahagia-in kakak, dari Syafi mengatakan hal itu, sampai sekarang perasaanku tidak enak.”


“Aku mau cari Syafi sekarang, makasih La.” Dirga langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Dirga melupakan semua urusan kantor, dia memacu cepat langkah kakinya, berlari secepat yang dia bisa meninggalkan Gedung The Alvaro Group. Semua karyawan yang melihat Dirga berlari cepat melewati mereka, membuat mereka bertanya-tanya. Dirga tidak perduli dengan sorotan mata yang terus tertuju padanya.


Brukkk!


Dirga begitu keras menabrak seseorang yang berpapasan dengannya.


“Weih sob, kamu semangat sekali. Selamat ya Dirga, atas kesuksesan pagi ini.”


“Maaf Arnaff, aku buru-buru.”


Dirga beusaha pamit pada Anaff, tapi lengan kokoh milik Arnaff menahan Dirga.


“Aku ke sini hanya untuk memberi selamat kepada kamu, Dirga.”


Wajah Dirga terlihat begitu pucat, sorot matanya begitu lemah. “Maaf Arnaff, tapi aku benar-benar harus pergi. Dirga melepaskan tangan Arnaff yang masih memegangi lengannya, kembali memacu langkah kakinya menuju mobil.


Bresss ….


Mobil Dirga melaju cepat, bahkan hampir menyerempet mobil-mobil yang lain. Mulut Arnaff mengaga lebar, melihat ketakutan, kepanikan, kecemasan yang jelas tampak dari raut wajah Dirga. Arnaff segera memasuki Gedung TAG, mencari tau kenapa Dirga seperti orang yang baru melihat hantu, juga seperti orang yang rugi Triliunnan.

__ADS_1


Sesampai di ruangan Sam, Arnaff langsung memberi ucapan selamat pada Sam, karena impian Sam tercapai. Mereka terus membicarakan masalah bisnis dan perkembangan Kerjasama mereka.


“Dirga kenapa ya? Aku ketemu dia di luar, dia aneh, seperti orang yang habis lihat setan, sepeti orang yang putus asa ditinggal pacar nikah juga iya, tapi seperti orang kemalingan juga iya, dia ketakutan dan panik gitu, kayak orang nggak bahagia aja, padahal baru dapatin kerja sama bukan?”


“Masa? Tapi selagi dia di sini, dia sangat bahagia, pamit pada kami hanya bilang ingin menelepon Syafi, dan memberitahu berita bahagia ini,” ucap Sam.


“Wajah Dirga sama sekali tidak terlihat bahagia,” ucap Arnaff yakin.


“Paling istrinya merajuk, karena harusnya hari ini mereka menikmati waktu kebersamaan, tapi ada panggilan pekejaan mendadak, tahu sendiri lah bagaimana kalau Wanita sudah merajuk,” ucap Sam.


Arnaff berusaha mencerna ucapan Sam. “Walau aku tidak mengenal Syafi, tapi sepertinya dia bukan Wanita seperti itu. Menurutku—”


Arnaff menahan ucapannya, saat melihat Sam memintanya diam dengan isyarat tangannya, Sam memadangi layar handphone-nya.


“Kepala Sekolah The Alvaro?” Sam sangat terkejut melihat kepala Sekolah meneleponnya.


“Sebentar Arnaff, aku khawatir kalau Gavin atau Gilang bikin masalah. Sam segera menggeser icon berwarna hijau, mengangkat panggilan dari kepala Sekolah The Alvaro.


“Iya bu ….” Sapa Sam ramah.


“Maaf Tuan Sam, saya mengganggu waktu Anda,” sesal kepala Sekolah.


“Ada apa bu? Apa Gavin atau Gilang berulah di Sekolah?” tanya Sam.


“Guru? Maksud ibu?”


“Mayfa dan Athan keluar dari sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung, mereka tidak saya kasih izin, tapi mereka tetap nekad pergi. Dan sekarang Syafi, tiba-tiba ada surat pengunduran diri Wanita itu di meja saya.”


“Waw, cepat sekali, padahal jabatan Dirga baru saja naik,” gumam Sam.


“Ada apa?” Arnaff bertanya tanpa mengeluarkan suara.


“Syafi mengundurkan diri jadi guru,” jawab Sam.


“Fix, ini ada masalah, apapun jabatan Dirga, Syafi tidak memperdulikannya, selama Dirga jadi bawahanmu, apa mereka kekurangan uang?”


Sam memikirkan ucapan Arnaff. “Oh ya bu, Mayfa dan Athan pergi karena memenuhi panggilan saya, kalau urusan Syafi, terima saja pengunduran diri dia, karena pekerjaan suaminya semakin padat, mungkin dia ingin fokus mengabdikan dirinya pada Dirga.


Ibu kepala sekolah hanya meng-iya-kan segala ucapan Sam, jika Sultan sudah berkata demikian, dirinya hanya bisa mengiyakan.


Sam menatap tajam kearah Arnaff. “Menurut kamu, sebaiknya kita mengambil langkah apa, atau harus kemana? Kamu tahu sendiri bukan, Dirga bukan pribadi yang suka berbagi.”


“Athan dan Mayfa,” jawab Arnaff.


“Jangan bilang kamu mau rayu miss upp nya Nadhira,” ledek Sam.

__ADS_1


“Masa lalu Sam. Sekarang kita fokus pada Syafi dan Dirga,” protes Arnaff.


Dua sahabat itu segera pergi meninggalkan Gedung The Alvaro Group. Tujuan mereka adalah T.A School, tempat Syafi mengajar.


***


Sepanjang perjalanan, pikiran Dirga begitu kacau, dia mengemudikan mobilnya ugal-ugallan. Menyalip semua kendaraan yang ada di depannya, seakan dia berada di sirkuit balapan.


Shuttsss!


Mobil Dirga memasuki area hotel tempat dia menginap dengan Syafi. Langkah kakinya kembali berpacu cepat memaskuki hotel itu. Rasanya dirinya ingin cepat tiba di lantai di mana kamar yang dia tempati sebelumnya. Sesampai di lantainitu, Dirga kembali berlari begitu cepat menuju kamarnya.


Ting! Tong!


Ting! Tong!


Ting! Tong!


Dirga terus memencet bel yang ada di pintu itu.


"Ada apa ya Tuan?" tanya salah satu petugas keamanan.


"Saya menempati kamar ini dengan istri saya tadi malam," jawab Dirga.


Salah satu pekerja hotel yang baru keluar dari kamar sebelahnya langsung bertanya perihal yang terjadi.


"Kata Bapak ini, istrinya ada di kamar itu." Petugas keamanan menunjuk kearah pintu kamar yang ada di depannya.


"Owh, kamar ini sudah kosong, tadi pagi yang menginap di sini sudah cek out, saya sendiri yang membantu wanita itu berkemas," jawab petugas hotel.


"Cek Out?" Dirga tidak mengucapkan apa-apa lagi, tujuannya saat ini adalah rumahnya, harapannya Syafi masih berkemas barang-barangnya.


Mobil Dirga kembali membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, hingga mobilnya terparkir di halaman rumahnya. Dengan napas yang masih memburu Dirga berlari kedalam rumahnya.


“Mbak Adah ….” Panggil Dirga.


Tidak berselang lama, keluar asisten rumah tangga yang selama 2 bulan ini bekerja menemani Syafi. Wajahnya terlihat sedih, sepasang matanya juga terlihat sembab.


“Mbak Adah kenapa?” tanya Dirga.


Adah tidak menjawab, menatap wajah Dirga saja tidak, Wanita itu terus menundukkan wajahnya.


Dirga tidak bisa berlama-lama, dia langsung berlari menuju kamarnya. Sesampai di kamarnya dan Syafi, hanya ada kehancuran, pecahan kaca berserakan di mana-mana, dan kamar itu terlihat sangat berantakkan.


"Syafi ...." pekik Dirga.

__ADS_1


__ADS_2