Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 94


__ADS_3

Mobil taksi yang membawa Syafi terus melaju menuju Bandara. Syafi terbayang akan nasehat Ustadz yang biasa mengisi pengajian di komplek perumahan tempat dia dan Dirga tinggal.


Sabda Rasulullah Shallahu alaihi wasalam: "Jika Seorang perempuan keluar dari rumahnya tanpa ijin suaminya, maka dia akan dilaknat oleh Allah sejauh mana kakinya melangkah, hingga sampai dia kembali lagi ke rumah, baru laknat itu berhenti mengiringinya."


Syafi terbayang akan nasehat itu, namun meminta izin pada Dirga dirinya juga tidak bisa. Syafi memutar otaknya. Hingga dia mengingat satu sosok, yaitu Resa. Wanita itu pasti bisa membantunya menghubungi Dirga.


Syafi segera mengambil handphone-nya dan melakukan panggilan ke nomor Resa.


"Iya Fiy …." Sapaan lembut dari istri penguasa TAG itu langsung menyapa telinga Syafi.


"Nona, maafkan saya lancang, apa boleh saya minta bantuan Nona?"


"Ya ampun Fiy, aku sangat senang jika bisa membantumu, tolong jangan sungkan-sungkan."


Nona, bisakan Anda membantu saya untuk berbicara dengan suami saya saat ini? Saat ini kak Dirga sedang rapat, pastinya handpone dia tinggalkan di ruang  kerjanya."


"Oh okey, nanti setelah aku kirim pesan padamu, kamu langsung saja telepon nomer Sam ya."


"Baik Nona, terima kasih banyak."


Syafi dan Resa menyudahi panggilan mereka. Resa segera melakukan panggilan ke nomor telepon Sam. Kalau dirinya yang menelepon laki-laki itu secepat kilat mengangakat panggilannya.


"Ada apa sayang? Sudah rindu lagi padaku?" Sapa Sam.


"Sayang, Syafi ingin berbicara pada Dirga, tapi pasti Dirga sedang sibuk kan? Tolong dia sayang, dia  kuminta menelepon kamu, nah kamu beri waktu pada Dirga sebentar ya sayang."


"Iya sayang, apa yang enggak bagi kamu."


Di rumahnya Resa tersenyum. "Terima kasih suamiku."


"Sama-sama Sayang."


Resa menyudahi panggilan teleponnya, dia segera mengirim pesan pada Syafi. Mempersilakan Syafi untuk melakukan panggilan telepon ke nomer Sam.


***


Drett ….


Syafi segera membaca pesan yang masuk, membaca pesan dari Resa, Syafi segera menelepon nomer Sam.


Tutttt ….


"Sebentar ya Fiy." Ucap Sam.


Samar terdengar Sam memanggil nama Dirga.

__ADS_1


"Dirga, bicara sebentar pada istrimu, kasian dia."


Pembicaraan di ujung telepon yang Syafi dengar.


"Halo sayang …." 


Sapaan itu seketika membuyarkan lamunan Syafi.


"Kak, aku minta izin untuk pergi."


"Izin pergi? Kemana?"


"Aku tidak punya tujuan, hanya saja aku tidak mau setiap langkahku beserta kutukkan karena tidak dapat izin kakak."


"Maafkan aku, kamu ingin pergi saja susah payah meminta izinku. Harusnya tadi aku kasih izin kamu kalau mau pergi, karena tidak nyaman berkurung diri di hotel sendirian."


"Aku boleh pergi?"


"Hati-hati."


Syafi menyudahi panggilan teleponnya begitu saja, mendengar suara Dirga hatinya hanya semakin sakit. Mobil yang Syafi tumpangi pun perlahan memasuki wilayah Bandara, Syafi segera mempersiapkan semua perlengkapan untuk penerbangannya.


Di Gedung Sekolah The Alvaro.


Mayfa dan Athan berlari cepat menuju parkiran sekolah itu, menuju motor Athan yang terparkir manis di sana.


"Sudah, ayuk sekarang kita ke Bandara, semoga Syafi masih di sana."


Setelah sahabatnya naik, Athan memacu cepat motornya menuju bandara, harapan mereka semoga masih bisa bertemu teman mereka untuk yang terkhir kali di belahan bumi bagian ini.


Setelah drama valentino Rossi kw membonceng wanita cantik ngebut di jalanan, akhirnya usaha mereka menuju Bandara berhasil. Mayfa melepas helmnya kasar, dia menyerahkannya pada Athan. Sedang tangan yang satunya sibuk dengan handphone-nya.


"Fiy lu di mana?" Pertanyaan itu langsung meluncur saat panggilan teleponnya tersambung.


"Aku masih di bagian luar, terminal B, aku menunggu kalian di sini, aku yakin kalian pasti ingin memelukku bukan?"


Mayfa tidak menjawab, dia langsung mematikan sambungan teleponnya dan menyeret Athan menyusul Syafi.


Hampir 5 menit Athan dan Mayfa menyisir area yang Syafi sebutkan, namun mereka tidak juga menemukan sahabat mereka.


"Aku di belakang kalian."


Suara itu membuat Mayfa menoleh secepat kilat kearah samping, benar saja itu Syafi. Secepat kilat juga Mayfa memeluk sahabatnya.


"Terima kasih karena mau nunggu kita."

__ADS_1


"Mending kita cari tempat ngobrol," sela Athan.


"Temenin gue sampai di depan ruang tunggu, soalnya 10 menit lagi pesawat aku akan berangkat."


Ketiga sahabat itu mencari tempat terdekat, mengisi 10 menit terakhir kebersamaan mereka.


"Titip surat pengunduran diri aku ya, aku sudah lama persiapin ini." Syafi memberikan  amplop pada Mayfa.


"Jangan lupa terus kabari gue, daratan kita emang terpisah, namun kita masih 1 rasa, 1 hati, 1 sarver, cuma beda pemikiran, lu sesat gue belok," oceh Mayfa.


"Idih, sama aja!" Gerutu Athan.


Mereka terus berbincang bersama. Hingga sampai waktunya Syafi melambaikan tangannya pada dua sahabatnya yang selalu ada buatnya.


Setelah pesawat yang Syafi tumpangi lepas landas terbang ke udara, Mayfa dan Athan segera kembali ke T.A School. Mereka yakin, mereka orang pertama yang Dirga introgasi kalau laki-laki itu sudah menyadari kepergian Syafi.


Di gedung The Alvaro Group.


Rapat dengan klien Luar Negri selesai, saat klien mereka sudah pergi, tepuk tangan para pekerja setia Sam menggemuruh di ruangan itu. Kontrak kerjasama mereka dapatkan.


"Selamat Dirga, setelah semuanya beres, kamu bukan lagi anak buahku, tapi partner bisnisku seperti Arnaff dan mitra kerja yang lain." Sam memeluk Dirga dan menepuk punggung Dirga. Hatinya sangat bahagia atas kinerja Dirga.


"Selamat Tuan Dirga," ucap bu Miya.


Beberapa pekerja lain juga memberikan ucapan selamat pada Dirga.


"Kita adakan pesta lagi malam ini!" ucap Sam.


"Kalau kalian silakan, tapi kalau aku, aku tidak bisa ikut, aku--" Dirga tersenyum, dia yakin rekan-rekan kerjanya pasti faham, apalagi atasannya yang selalu memenuhi kemau-an istrinya itu.


"Ya ya ya … kamu boleh tidak datang, silakan kamu party berdua dengan Syafi," ucap Sam.


"Terima kasih semua, saya izin ke ruangan dulu, saya ingin memberi kabar bahagia ini pada Syafi." Dirga segera meninggalkan ruang rapat, dia berjalan begitu semangat menuju ruang kerjanya. Senyuman juga terukir permanen menghiasi wajahnya.


"Syafi sayang, kita punya usaha sendiri, andai aku sendirian, mungkin aku tetap mebgabdi pada Sam, tapi sekarang ada yang aku perjuangkan, yaitu kamu." Dirga sangat semangat.


Sampai di ruang kerjanya Dirga langsung menyambar handphonenya. Saat layar handphone menyala, sangat banyak panggilan tidak terjawab dari Lala, dan ratusan pesan dari Lala yang masuk.


"Lala?" Kedua alis Dirga tertaut.Dirga membuka salah satu pesan dari Lala.


Kak, kak Dirga tolong angkat teleponku! Ini penting kak, Syafi sudah tau tentang pernikahan kita.


Doarrrr!


Membaca salah satu pesan Lala kebahagiaan yang Dirga rasa sebelumnya seketika lenyap.

__ADS_1


***


Tentang pentingnya izin suami saat bepergian, sercing sediri bang utup atau om ogel ya, othor pun copas dari om ogel😅 jangan debat othor, othor pun masih jahil.


__ADS_2