
Dirga berbincang santai dengan teman-teman Syafi, hingga mobil taksi yang akan menjemput 6 guru yang lain itu tiba. 6 orang guru itu sudah meninggalkan Rumah Sakit dengan dua buah taksi yang menjemput mereka. Syafi,
Dirga, dan Mayfa melambaikan tangan mereka melepaskan kepergian rekan mereka.
Dirga merasa aneh dengan sikap Mayfa, akhir-akhir ini Mayfa terasa sangat berbeda. “Jas siapa yang kamu peluk, May?” tanya Dirga.
“Jas Athan.” Pandangan mata Mayfa tertuju kearah lain, dia sangat malas menatap wajah Dirga, hingga matanya menangkap sosok Lala yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Lah, Athannya mana?” Dirga memandang kesegala arah mencari sosok Athan, hingga sepasang matanya melihat Lala berada tidak jauh darinya. Tapi Dirga sangat santai, seolah tidak mengenali Wanita itu.
“Di sini.” Tiba-tiba Athan muncul dari arah belakang mereka.
“Nih jas lu.” Mayfa melempar jas itu pada Athan.
Athan menangkap jas yang Mayfa lempar padanya, dan menggantungnya di bahu kanannya. “Lu mau pulang bareng gue May?” tanya Athan.
“Enggak, karena gue mau main ke rumah Syafi dulu.”
“Eh, mobil kakak parkir di mana?” tanya Syafi.
“Rada jauh dari sini, kamu sama Mayfa tunggu di sini.” Dirga mengusap sisi kepala Syafi begitu lembut sebelum meninggalkan Wanita itu.
Kepercayaan diri Syafi naik drastis, dia tau ada Lala di dekatnya, tapi Dirga masih bersikap manis padanya. Syafi mengambil handpone dan earphone dari dalam tasnya. Dia mulai menyetel lagu yang dia dengarkan lewat earphone-nya. “Eh May, menepi dulu yuk.” Syafi menarik Mayfa melangkah kearah samping, hingga dia berdiri berdekatan dengan Lala.
Syafi menyanyi pelan, mengikuti lagu yang dia dengarkan. Lagu Tata Janeta feat Maia Estianty, Sang Penggoda.
“Kau ... dulu pernah bilang, aku ratu di hatimu sayang, dan aku ratu di istanamu. Dan … dulu pernah kau pun bilang … tak kan pernah tinggalkanku sumpah, mungkin kau lupa.”
Syafi tersenyum kecil saat Lala memadangnya dengan tatapan sendu. Dirinya sengaja pura-pura tidak mengenal Lala, padahal pernah berbicara langsung saat hampir menabrak Lala tempo hari.
Mayfa mulai faham, kenapa Syafi mengajaknya mendekati Wanita itu. Athan juga tersenyum, dia mengerti tujuan Syafi, Athan pun berpindah posisi, dia berdiri di sebelah kiri Lala, sedang Syafi berada di sebelah kanan Lala.
Syafi meneruskan nyanyiannya. “Dan ku pernah jadi yang tersayang … ku pernah jadi yang paling kau cinta, mungkin kau lupa.”
“Dan disaat sang penggoda datang, kau biarkan dia hancurkan istanaku, ternyata … kau lupa aku ratumu ….”
"Tambah sakit penghuni Rumah Sakit kalau dengar nyanyian kau Fiy," ledek Mayfa.
Syafi hanya tersenyum, dia meneruskan nyanyiannya dengan suara pelan. Tapi orang di sampingnya bisa mendengar dengan jelas. “Kini, aku pun tlah pergi … tlah ku relakan kau bersamanya, ku biarkan dia merebut semua.”
Di depan sana Dirga sudah datang dengan mobilnya. Dirga terkejut melihat Syafi berdiri berdampingan dengan Lala. Sedang Syafi hanya tersenyum, dia masih menikmati lagunya. Dirga berusaha santai, dia turun dari mobil menghampiri Syafi, Athan dan Mayfa.
“Athan, mau pulang bareng kita?” tawar Dirga.
“Owh … ingatkah dulu kau bilang … tak kan pernah dua-kan ku sumpah … mungkin kau lupaa.” Senandung Syafi.
“Boleh?” Athan balik bertanya.
Syafi melepaskan earphone-nya dan berhenti bernyanyi, dia menoleh kearah Athan. “Ya boleh lah, kuy masuk!” Syafi lebih dulu melangkahkan kaki menuju mobil Dirga.
Dirga, Mayfa, dan Athan pun mengikuti langkah kaki Syafi. Tiba-tiba langkah Syafi terhenti ketika melihat seorang supir taksi berlari kearahnya.
“Ada apa Pak?” Syafi masih ingat, itu adalah supir taksi yang mengantar mereka sebelumnya.
“Ini, piala ibu ketinggalan di mobil taksi saya.” Supir taksi itu memberikan piala yang dia pegang.
“Wah … maaf banget ya Pak, saya jadi ngerepotin Bapak.” Sesal Syafi.
“Nggak masalah bu.”
“Terima kasih Pak.”
“Sama-sama.” Supir taksi itu segera kembali.
“Pak ….” Panggilan itu menghentikan langkah kaki supir taksi.
__ADS_1
Supir taksi itu berbalik. “Iya, ada apa ya?”
Lala beranjak dari posisinya, dia mendekati supir taksi tersebut. “Mobil taksi Bapak ada penumpangnya sekarang?” tanya Lala.
“Kosong.”
“Saya boleh menumpang taksi Bapak?”
“Oh pasti boleh Non, mari ikut saya.”
Lala mengikuti supir taksi itu. Mayfa menatap tajam kearah Wanita itu.
“Kapan kita pulang?” tanya Syafi.
“Sekarang yank ….” Dirga langsung masuk kedalam mobilnya, diikuti Mayfa dan Athan.
Mobil Dirga pun meninggalkan Area Rumah Sakit. Tujuan Dirga saat ini mengantar Athan menuju kostnya. Setelah mengantar Athan, mobil yang Dirga kemudikan segera melaju cepat menuju kediamannya.
Sesampai di kediaman Dirga, mereka segera masuk ke dalam rumah. Dirga langsung menuju kamarnya. Sedang Mayfa Menghempaskan bobot tubuhnya diatas sofa yang ada di rumah Dirga.
“May, aku ganti baju dulu, sekalian ambilin baju ganti buat kamu,” ucap Syafi.
Mayfa hanya mengacungkan jempolnya ke udara menanggapi ucapan Syafi.
“Wah ada bu guru Mayfa,” sapa mbak Adah.
“Hai mbak Adah,” sapa Mayfa.
Mayfa dan Adah berbincang santai, membahas apa saja yang bisa dibahas.
Sedang dalam kamar Dirga dan Syafi.
Syafi mengganti pakaiannya, selesai mengenakan baju hariannya, Syafi mengambil satu setel lagi untuk Mayfa. “Kak, aku turun duluan,” pamit Syafi pada Dirga.
“Iya sayang.”
Maaf ya La, kamu harus pulang sendiri.
Tidak berselang lama, handphone Dirga bergetar, terlihat pesan Lala masuk.
Tidak apa-apa kak, yang penting hubungan kakak dan istri kakak baik-baik aja.
Pikiran Dirga, saat ini Syafi di bawah pasti menemani Mayfa, Dirga menggunakan kesempatan ini untuk menelepon Lala. Tidak menunggu lama panggilan Dirga terhubung.
“Kamu sudah sampai La?” tanya Dirga.
“Sudah kak.”
“Bagaimana peraaanmu setelah mengetahui keadaan Romi?
“Yang pasti kacau kak, aku berharap Romi bisa sembuh.”
“Aamiin, semoga Romi bisa pulih dan sehat kembali.”
Dung! Dung! Teroret, teroret ....
Suara musik terdengar dari bawah, hingga Lala pun bisa mendengar
jelas musik yang berasal dari sana.
"Hareundang hareundang, panas, panas, panas ... syelalu syelalu syelalu panasnya hareundang ...."
Suara Syafi terdengar begitu jelas, apalagi kalau bukan konser tunggal di dapurnya.
“Istri kakak suka nyanyi ya?” tanya Lala.
__ADS_1
Dirga tertawa mendengar pertanyaan Lala. “Bahkan sepanjang hari dia menyanyi asal-asallan, melihat dia seperti itu aku sangat bahagia.”
“Saat menunggu taksi di depan Rumah Sakit, tadi dia bernyanyi sang penggoda di dekatku, aku merasa tersentil.” Tawa Lala lepas, mengingat kejadian itu.
“Istriku sangat suka bernyanyi La, sudah dulu ya.”
“Iya.”
Dirga dan Lala menyudahi panggilan telepon mereka. Senyuman kembali menghiasi wajah Dirga, bukan karena habis berbicara dengan Lala, tapi mendengar lagu hobah Syafi. Kini lagu sebelumnya sudah selesai, terdengar alunan nada yang berbeda dari yang sebelumnya.
“Selingkuh kau anggap biasa … Wanita mana tak kecewa arjunanya buaya!”
Dirga tersenyum sendiri mendengar lagu Syafi. Sebagian besar lagu yang biasa Syafi nyanyikan bisa dikatakan petama kali Dirga mendengar lagu itu. Bahkan Dirga sering menggeleng kepala mendengar lagu-lagu yang begitu aduhai. Seperti lagu Atas Bawah, Jagung Rebus, dan banyak lagi. Dirga bahkan tidak tahu kalau ada lagu itu, awalnya dia berpikir Syafi bikin sendiri lagu-lagu itu.
Nyanyian seperti bagian dari hidup Syafi. Tapi Wanita itu pandai memposisikan diri. Dia bergaya normal dan sangat sopan jika tampil kedepan umum sebagai istri salah satu petinggi TAG. Jabatan Dirga di kantor Sam sangat dihormati. Syafi sangat menjaga wibawa suaminya. Tapi jika berada di rumah seperti saat ini, Syafi yang lama lah yang ada. Yang lebai, ceriwis, dan heboh sendiri, tidak pernah lepas.
Sesampai di ruang tamu, tidak ada siapapun di sana. Suara musik begitu jelas terdengar dari arah dapur. Dirga pun memacu langkah kakinya menuju dapur. Saat dia melewati ruangan laundry, terlihat mbak Adah menyetrika baju sambil berjoged ala dia.
Dirga membuang napasnya kasar, terkadang mbak Adah pun tertular somplak karena istrinya. Dirga meneruskan langkah kakinya. Semakin dekat dengan dapur, suara musik semakin jelas terdengar. Kini lagu baru lagi, nadanya berbeda dengan 2 lagu sebelumnya.
“Abangku sayang … jangan kau macam-macam, mempermainkan perempuan.”
Dirga menyandarkan punggungnya di samping pintu dapur, menyaksikan Syafi bernyanyi dengan gaya kocaknya. Sedang Mayfa terlihat sibuk memasak sesuatu di sana. Syafi menyadari keberadaan Dirga, dia hanya melemparkan senyuman untuk Dirga.
Syafi melanjutkan nyanyiannya. Dia melangkah mendekati Dirga, tapi tidak terlalu dekat. “Bila nanti abang, punya istri simpanan, abang nanti abang akan ku tendang!” Kata Tendang Syafi ucap penuh penekanan, saat yang sama
Syafi menendang asal kearah lain.
Dirga masih tersenyum, tapi bukan senyuman kebahagiaan seperti beberapa detik sebelumnya, mendengar lagu yang Syafi nyanyikan saat ini rasanya ini suatu peringatan atau ancaman.
Ngeekkk!
Dirga menelan saliva-nya, dia tidak tau, nyanyian ini sebuah sindiran plus peringatan, atau hanya nyanyian asal Syafi seperti biasa.
“Ku tak mau … ku diimadu … kuu tak mau … ku dimadu ….”
Syafi mengedipkan sebelah matanya pada Dirga, lalu menuju meja yang ada di dapur itu. Di meja itu terlihat beberapa sayuran yang belum selesai di potong. Syafi melanjutkan memotong sayuran yang ada di sana sambil melanjutkan nyanyiannya.
“Bila aku dimadu, abang diracun!” Syafi mengarahkan pisau yang dia pakai memotong sayuran, kearah Dirga. “Aku mau …."
"Daripada hatiku sakit-sakit karenamu ....”
“Bila aku dimadu, abang diracun aku mau, daripada melihatmu dengan istri barumu ….”
"Hobah ...." Mayfa mengambil sayuran yang Syafi potong, lalu memasukkannya ke dalam panci yang terlihat mengepul.
Saat Syafi menyebut kata ’abang diracun” Syafi mengulagi Gerakan yang sama, mengacungkan pisau kearah Dirga. Walau wajah Syafi dihiasi oleh senyuman, tetap saja rasa takut menyelimuti diri Dirga.
“Yank, aku tunggu di luar ya ….” Pamit Dirga.
“Iya sayang.” Sahut Syafi.
Setelah Dirga menghilang dari pintu, Syafi dan Mayfa sama-sama tertawa.
"Puas lu?" tanya Mayfa.
"Setidaknya gue sedikit lebih plong."
Syafi dan Mayfa kembali pada kegiatan memasak mereka.
*****
Lebai, ceriwis dan apalagi ya, itu emang karakter Syafi, maafkan jika tidak suka sama si usil Syafi 🙈
Maaf juga, aku ngetiknya lelet, huruf demi huruf, kata demi kata, kumpulin 1000 kata penuh perjuangan 😂😂😂🤣
__ADS_1