
Di kediaman Dirga.
Melihat dua pekerja dari salon langsung merias Syafi, Dirga
segera naik keatas untuk bersiap. Hampir 40 menit Dirga menghabiskan waktu di kamarnya, selesai dengan persiapannya, Dirga segera turun dengan setelan Tuxedo. Di ruang tamu hanya tinggal Syafi seorang diri, Dirga berusaha santai, padahal dia sangat kagum dengan penampilan Syafi yang baru di sihir dengan polesan kuas ajaib sang perias. Dirga mengumpulkan sisa tenaganya. “Ayok … kita berangkat,” ajaknya.
Syafi hanya membalas dengan senyuman. Dia segera mengekori
Langkah kaki Dirga. Tidak ada hal yang istimewa selama perjalanan, keduanya saling diam. Mobil terus melaju membelah jalanan malam, perlahan laju mobil mulai menurun, saat mobil memasuki sebuah halaman yang luas.
Keadaan halaman tempat acara pernikahan teman Dirga, terlihat ramai. Deretan mobil mewah terparkir di sana. Membuat jiwa Syafi
semakin menciut menyadari siapa Dirga. Syafi berusaha menegakkan wajahnya, dia tidak mau mempermalukan Dirga. Berjalan di samping Dirga, sebagaimana
pendamping pada umumnya. Dirga berusaha menahan kebahagiaannya yang seketika ingin meledak, saat berjalan bersama Syafi menuju Gedung tempat acara berlangsung.
Suara irama musik traditional berpadu dengan alunan irama dari tabuhan alat musik tarbang, menggema dari arah dalam.
🎶🎶🎶🎶
Di lanjutkan … ahaahaaa waaaa …..
🎶🎶🎶🎶🎶
Syafi tersenyum mendengar sepotong nada dari akhir syair Madihin yang berlangsung. Senyuman di wajah Syafi sangat kecil, tapi bagi Dirga itu sangat luar biasa. Harapannya untuk membuat Syafi Kembali ceria sedikit mendapatkan celah. Langkah kaki keduanya terus memasuki tempat acara resepsi pernikahan berlangsung. Suara irama musik semakin jelas terdengar.
🎶🎶🎶🎶
Ini Madihin saya ikut menyambung, Kesenian dari Kalimantan Selatan.
kenalkan saja saya yang paling tampan. Tapi sayang nasibnya
tidak ikut tampan.
Di sini saya perkenalkan diri, Paling tampan ini Athan dinama-i ….
Di nama-i … ahahaaa ahaa haa waaaa ….
🎶🎶🎶🎶🎶
“Ya salam ….” Keluh Syafi, saat melihat kearah panggung yang
sedang berlangsung acara Madihin. Tidak asing dengan sosok laki-laki yang membawakan Madihin saat ini.
“Ada apa Fiy?” Dirga heran melihat Syafi tampak terkejut. Tapi, sayang pertanyaannya hanya di jawab Syafi dengan gelengan kepala. Sya’ir
madihin dengan cengkok nada ciri khas hiburan itu terus berlangsung, Syafi berusaha santai dan ikut menikmati pesta ini. Dirga dan Syafi duduk tidak jauh dari panggung, sehingga orang yang tengah asyik membawakan madihin itu bisa
mengenali Syafi.
“Fiy, kamu keberatan kalau saya tinggal sebentar? Saya ada
perlu di sana.” Dirga menunjuk kearah kerumunan para pria yang memakai jas.
“Tidak, kak. Silakan kakak bergabung dengan teman kakak.”
__ADS_1
“Jangan kemana-mana, nanti kakak susah cari kamu.” Anggukkan
kepala dari Syafi yang Dirga dapat sebagai jawaban. Dirga meninggalkan Syafi duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja bundar itu. Sambil menikmati hidangan yang ada.
“Hallo Fiy, ku.” Sapaan itu tidak asing bagi Syafi. Tidak meminta izin, dia lagsung menarik salah satu kursi, dan duduk manis di sana.
“Kak Athan?” Syafi terkejut dengan sosok laki-laki yang berani menghampirinya.
“Tadinya aku kira aku Cuma berhalusinasi saat melihatmu,
karena selama ini aku hanya melihatmu lewat khayalku.” Pemilik wajah tampan itu menatap sendu kearah Syafi. “Rasanya penantian pungguk berakhir sudah, ini rembulan sudah berada tepat di depan mataku.”
“Kak … maaf, aku pensiun melancarkan rayuan mukidi, tolong
….” Syafi memohon.
“Pensiun? Ayolah Thayank … jangan begitu … jadilah dirimu sendiri, Eh tunggu!” Athan memandang lekat wajah Syafi. “Ada sinar yang padam
dari wajah itu.”
“Kak ….” Syafi memohon.
“Yes! Saatnya aku membayar lunas semua hutang gombalan, dulu
kau sering menggombaliku, sepertinya kau kehabisan bahan bakar. Terlihat dari redupnya sinar di wajahmu, tapi sinar di hatiku tetap terang, karena namamu selalu terpatri di sana.” Athan menyeringai bangga.
“Kak, tolong jaga jarak denganku, kali ini aku tidak sendirian lagi, aku mendampingi seorang laki-laki yang sangat paman cinta dan sangat aku hormati.” Syafi termenung memikirkan kata-kata yang tepat untuk statusnya dengan Dirga.
Bagaimana mungkin aku bilang aku bersama suamiku, sedang aku tidak tahu kak Dirga memperkenalkan aku sebagai siapa dia.
Tlekk tek tek!
Fiy .” Athan membuang kasar napasnya.
“Harusnya dari dulu aku begini, agar tidak ada yang terluka karena tingkahku.” Syafi mengalihkan pandangannya kearah acara Madihin
berlangsung.
“Kau bilang ke sini mendampingi seseorang?”
“Iya.”
“Masa?”
“Hanya sebatas pendamping. Puas?”
“Fiy, selama ini kau ku lamar untuk jadi pendamping hatiku, kau selalu menolak. Hatiku sakit, ingin rasanya aku bunuh kamu.” Lagi-lagi tatapan sendu dari mata Athan teruju pada Syafi.
“Bunuh saja aku, aku bahagia kok, kalau bisa pergi dari dunia ini.”
Athan bingung, jangankan gombalan, jawaban Somplak pun tidak dia dapat dari Syafi. “Aku pasti bunuh kamu Fiy, cam kan itu. Membunuh semua rasa sakit kamu, dan menghidupkan kebahagiaan dan keceriaan di diri kamu.” Athan mengedipkan sebelah matanya.
Syafi menepuk jidatnya, rasanya mual mendengar kalimat Athan
barusan. Padahal ini bukan rayuan mukidi yang alai. Seketika hatinya sangat merindukan Mayfa, entah di mana teman Somplaknya itu sekarang. Terbayang akan segala nasehat Mayfa, agar dirinya mengurangi bucin dia.
__ADS_1
Mayfa …. Jerit batin Syafi.
“Apa fiy?” Pertanyaan itu mengejutkan Syafi.
“Apanya apaan?” Syafi balik bertanya.
“Ini aku mendengar kau memanggilku lewat hatimu.” Athan
tersenyum. Puas rasanya bisa membayar gombalan Syafi, biasanya dia yang kalah telak bila melawan Sayfi. “Tenang Fiy … yang jauh cuma jasadku, hatiku dan perasaanku masih menempel pada hatimu.” Athan lagi-lagi memberikan senyuman penuh kemenangan.
“Ya salam ….” Keluh Syafi. Syafi berusaha menahan kekesalannya.
Athan tertawa puas. “Begini ya rasanya menang ngegombalin
orang? Kalau begitu jangan berubah Fiy. Tetaplah seperti ini, aku ingin
membayar semua hutangku nanti setiap kali kita bertemu. Kalau kau seperti dulu, hutang cintaku, ehh hutang gombalanku tidak akan pernah bisa ku bayar.”
“Aku marah kalau kakak ngegombalin aku.” Expresi wajah itu
sungguh tidak bersahabat lagi.
“Mana bisa kamu marah sama aku, sedang aku tau, dalam hati kamu itu hanya ada kak Athan seorang.”
“Arggghhtttt! Begini banget ya!” Kemarahan dalam diri Syafi mulai menyala.
“Iya thayank … aku tahu kamu Bahagia karena bisa bertemu dengan aku.”
Syafi mencegat salah satu pelayan yang berlalu di sampingnya. “Mbak, toilet di mana?”
Pelayan itu menujukkan arah toilet.
“Terima kasih mbak.” Syafi segera meraih tas kecil yang dia letakkan diatas meja. Syafi ingin menjauhi Athan, Athan tidak tahu keadaanya hatinya saat ini, menjauh darinya adalah langkah terbaik.
“Fiy, aku masih polos, masa kamu ngajak aku mojok di toilet,” goda Athan.
Plakkkk!
Syafi tidak bisa lagi menahan kekesalannya. Menatap tajam
Athan yang tengah memegangi pipinya dengan tangannya. Ciuman tangan Syafi pada pipi Athan berhasil menyita perhatian orang sekitar, termasuk Dirga. Sedari
tadi dia memperhatikan Syafi dan lawan bicaranya.
Rasa marah masih menyelimuti dirinya, menatap Athan dengan sorot mata yang sulit di artikan, Syafi langsung pergi kearah toilet. Melihat Syafi pergi Dirga undur diri pada teman-temannya, dia segera menghampiri Athan.
Athan masih dalam posisinya, tamparan Syafi tidaklah sakit, tapi malu di lihat orang itu yang sangat sesuatu. Athan masih tenggelam dalam lamunannya. “Apa yang terjadi pada Fiy ku ….” Gumamnya.
“Dia tercebur dalam kubangan derita, sampai kini dia belum bisa bangkit atau keluar dari kubangan itu.” Ucapan orang barusan berhasil menyita perhatian Athan, dia menoleh kearah suara itu bersumber.
“Maaf, Anda siapa?”
“Saya Dirga.” Dirga mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Athan.
****
__ADS_1
Yang mau tahu bagaimana irama madihin, silahkan cari di bang yutup aja ya, tapi di sana pakai bahasa daerah Kalimantan Selatan.
Bersambung dulu ya Thayank .....