
Setelah mempersiapkan hati dan dirinya, Syafi segera menyusul Dirga.
Syafi begitu jelas melihat gurat kesedihan di wajah Dirga. "Kenapa kakak sedih?"
"Teman aku, yang aku besuk tadi siang, kabar baiknya dia membaik, kabar buruknya tidak tahu kapan dia bisa sadar."
"Semoga dia cepat sadar kak."
"Amiin."
Syafi kembali dudu di samping Dirga, dan menyandarkan kepalanya di pundak Dirga.
****
Menjalani keseharian dengan bersikap seolah tidak tahu pengkhianatan suaminya bukan hal mudah, sebaik apapun dan semanis apapun Dirga padanya, tetap hal itu tidak bisa menutup luka yang terlanjur menganga.
Syafi juga bingung pada dirinya sendiri, setiap malam Dirga berada di sampingnya, mendatangi istri mudanya hanya siang hari, 1 hari selama sebulan. Sisanya Dirga habiskan bersama Syafi.
Dirga terlihat sibuk dengan handphone-nya. Sedang Syafi sibuk dengan dandanannya, sambil merias wajahnya, dia sesekali curi-curi pandang kearah Dirga. Melihat Dirga secemas itu, hati Syafi sangat takut dan merasa begitu sakit.
"Sudah siap yank?" Pertanyaan Dirga membuat Syafi tersadar dari segala lamunannya.
"Sudah kak." Syafi segera meraih tas nya.
"Kakak sangat senang, kalau setiap hari bisa mengantar dan menjemputmu, entah kenapa ketika melihatmu semua terasa indah, dan kakak ingin melihatmu dan memelukmu selamanya."
Dirga membelai lembut wajah Syafi.
"Kakak adalah orang lain yang pertama yang aku cinta, hatiku telah aku serahkan buat kakak, selama hati dan kepercayaanku kakak jaga, selamanya aku berada di samping kakak." Syafi masuk kedalam pelukan Dirga.
"Kalau sudah seperti ini, rasanya aku ingin libur saja, dan menghabiskan sepanjang waktu untuk memelukmu, walau semalaman suntuk memelukmu, tetap saja itu terasa kurang.
"Sudah, ayuk kita berangkat."
"Iya sebentar, kakak ambil berkas pekerjaan kakak dulu." Kedua tangan Dirga terlihat penuh dengan bermacam berkas yang dia peluk.
"Mau aku bantu?" Tanya Syafi.
"Kamu bawakan kunci mobil dan handphone ku, dan tas kerjaku saja, sayang."
Syafi segera meraih tiga benda yang Dirga maksud, sedang laki-laki itu sudah berjalan lebih dulu membawa berkas pekerjaannya.
Dretttttt!
Dretttt!!!!
__ADS_1
Drettttt!
Banyak notifikasi pesan yang masuk kedalam handphone Dirga.
Kepo emang bikin umur kita nggak panjang, tapi tersiksa oleh rasa penasaran, bikin kita susah napas, sama-sama mati juga kan dampaknya? Mending pendek umur karena kepo, daripada pendek umur karena penasaran, tapi kalau bisa kepo atau enggak umur gue, gue berharap berumur panjang.
Syafi terbayang kata-kata Mayfa. Dirinya pun memberanikan diri membuka salah satu pesan yang masuk ke dalam handphone Dirga.
Degggggh!
Syafi hanya bisa berusaha menguatkan dirinya, ketika kedua matanya melihat foto wanita itu dan bayinya pada handphone Dirga.
Mereka memang tidak terhubung dalam dunia nyata, tapi dunia virtual mereka?
Syafi berusaha tegar dan bersikap biasa-biasa saja. Dia memacu langkah kakinya begitu cepat, menyusul Dirga yang sudah berjalan lebih dulu di depan sana.
Setelah semuanya siap, Dirga perlahan melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Mobil Dirga terparkir di depan gerbang T.A School.
"Kak, nanti aku izin ya pergi sama Athan dan Mayfa, ada sedikit rapat dengan Nona TAG," ucap Syafi.
"Tentu boleh sayang. Jangan terlalu capek." Dirga mendaratkan ciuman di pucuk kepala Syafi.
Setelah Syafi turun Dirga meneruskan perjalanannya menuju gedung TAG, tempatnya bekerja.
Tapi kali ini Dirga bukan bekerja, dia ke gedung TAG, hanya mengantar berkas yang sudah selesai dia kerjakan. Selesai urusan di gedung TAG, Dirga segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit di mana Romi di rawat.
Sebelum berangkat bekerja, Dirga pun meminta Lala untuk mengirim beberapa fotonya dan bayinya, untuk diperlihatkan pada Romi.
Karla juga meminta Dirga hati-hati, karena sampai detik ini, dirinya belum menemukan siapa musuhnya yang sebenarnya, yang ingin melenyapkan Romi dan calon anak Romi.
Sesampai di Rumah Sakit, tentu saja Dirga begitu semangat menuju ruangan sahabatnya. Ketika sampai di ruangan itu, banyak perawat dan beberapa keluarga Romi. Mereka sangat bahagia karena Romi ada perkembangan, walau hanya sedikit.
"Selamat pagi Dirga," sapa Karla.
"Pagi juga tante." Dirga memberikan senyuman pada setiap orang yang ada di ruangan itu.
"Tante sangat bahagia,setelah kedatangan kamu kemaren, Romi ada respon, tante harap segala ceritamu bisa membuatnya semangat untuk bangun," harapan Karla.
"Semoga tante." Dirga berdiri di samping ranjang perawatan Romi.
"Terima kasih banyak kak Dirga, akhirnya setelah 6 bulan lamanya, akhirnya kak Romi ada perkembangan." Seorang wanita mengulurkan tangannya pada Dirga, terlihat wajahnya sangat bahagia.
"Qida?" Dirga memastikan.
"Benar sekali, aku Qida, sepupu kak Romi."
__ADS_1
Keduanya saling berjabat tangan.
"Kamu dapat apa yang tante usulkan tadi?" Tanya Karla pada Dirga.
"Sudah tante."
"Baiklah, kamu ajak Romi bicara." Karla memandangi setiap koleganya yang berada di ruangan itu. "Semuanya, tolong keluar," pinta Karla.
Beberapa anggota keluarga Karla perlahan meninggalkan ruang perawatan Romi, tinggal dua orang perawat yang masih setia berada di dalam ruangan itu.
"Semuanya!" Kode Karla keras.
"Tapi, siapa yang memantau?" Sela salah satu perawat itu.
"Beri Dirga waktu untuk berkomunikasi dengan Romi, kalian berdua juga keluar! Termasuk aku!" Titah Karla.
Mau tak mau kedua perawat itu keluar, Karla semakin yakin, kalau dua perawat itu salah satu kaki tangan yang menginginkan kematian Romi dan penerus Romi.
Di ruangan itu hanya ada Dirga dan Romi, Dirga memutarkan video-video yang Lala kirim tadi pagi.
"Lihat Romi, putramu dan calon istrimu menunggumu, kapan kamu bangun sob?"
"Kamu tau? Demi melindungi anak dan calon istrimu, aku terpaksa menikahi Lala. Tapi aku bersumpah demi umurku, aku tidak menyentuh Lala sedikitpun, aku menikahi Lala semata melindungi dia. Kalau kau kasihan padaku, bangun Romi, kasian istriku."
Dirga memandang sayu kearah Romi, tidak ada perkembangan apapun, tapi Dirga tidak putus asa, Dirga terus berbicara banyak hal kepada Romi, berharap pemuda itu segera bangun dan mengakhiri segala dilema hidupnya selama 6 bulan ini.
****
Di kediaman Lala.
Ayu datang lagi, seperti janji Karla, kalau Ayu datang untuk mengambil sampel DNA bayi Lala.
"Aku tidak bisa berbuat banyak La, aku hanya bisa membantu hal kecil seperti ini," ucap Ayu.
"Itu sudah sangat membantu Yu, terima kasih, karena kedatanganmu, hatiku yang sempat meragukan Romi, kini bisa teguh kembali menunggu Romi."
"Aku hanya takut La, Dirga pemuda yang sangat baik, kamu terus bersamanya, lama bersamanya, aku khawatir kamu jatuh cinta padanya dan melupakan Romi."
Lala tersenyum, dia tidak bisa menepis rasa nyaman yang timbul karena bersama Dirga. Tapi mengingat bagaimana besar dan dalamnya rasa cinta Dirga untuk Syafi, membuat Lala sering bercermin, dirinya hanyalah serpihan batu yang diselamatkan Dirga dari tengah jalanan ramai agar tidak terlindas apa saja yang melewatinya.
"Antara aku dan kak Dirga, tidak akan ada hubungan apapun, karena kak Dirga sangat mencintai istrinya."
"Aku tau, Dirga sosok yang setia, tapi perasaanmu?"
"Fokusku hanya anakku Yu."
__ADS_1
"Semoga terus begitu, aku pamit dulu ya, aku harus mengantar sampel ini."
Lala hanya bisa memandangi kepergian Ayu.