Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 57 Maju Mundur Cantik


__ADS_3

Puas menumpahkan rasa sesak di hatinya, Dirga segera meninggalkan kamar itu, matanya terlihat merah, karena efek Lelah juga karena terlanjur menangis di kamar kosong itu. Dirga menyalakan lampu temaran di setiap ruangan yang ada di lantai dasar, selesai dengan semua itu dia segera menuju tangga. Kakinya terasa lemas menapaki anak tangga itu, harus dia kuatkan, karena kamarnya ada di lantai dua. Akhirnya pintu kamarnya di depan matanya.


Tlek!


Suara sakelar yang Dirga ketik. Kedua matanya terbelalak, jantungnya juga seakan berhenti berdetak.


🎶🎶🎶


Maju mundur cantik cantik


maju mundur cantik


 


Dari matamu aku pun sudah tahu


kau suka aku tapi kau malu-malu


ku tunggu kamu bilang cinta padaku


tapi kau seperti susah ungkapkan itu


 Ini jaman edan ku tahu kau suka


kalau kau terlambat nanti keduluan


 


Maju mundur maju mundur cantik (cantik)


kedip mata biar kau tertarik (tertarik)


mundur lagi mundur lagi mundur lagi mundur


cantik cantik cantik cantik


Maju mundur maju mundur cantik (cantik)


Tebar pesona biar menarik (menarik)


mundur lagi mundur lagi mundur lagi mundur


cantik cantik cantik cantik


🎶🎶🎶


Lagu Maju Mundur Cantik, yang di populerkan Rina Nose, menggema di kamarnya.


Dirga mematung melihat seorang gadis cantik mengenakan pakaian yang sedikit terbuka, menari dan bernyanyi di depan matanya. Wanita itu terus bernyanyi dengan gaya manja dan sengaja menggodanya. Mulut Dirga terbuka, dia merasa ini hanya mimpi. Saat lagu selesai, wanita itu meraih handphonenya dan mematikan musik yang di putar dari ponselnya, dia melangkah mendekati Dirga yang masih mematung.

__ADS_1


Wanita itu berdiri tepat di depan Dirga, dengan mata yang berkaca-kaca. Wajah cantik yang tadi di hiasi senyuman, kini hanya di hiasi linangan air mata. “Maafkan aku ….” Tangis wanita itu pecah, dia menenggelamkan wajahnya pada dada Dirga.


Dirga masih menganggap ini mimpi, wanita yang sangat dia cinta masih berada di depan matanya, rambutnya ter-urai dan dia mengenakan gaun malam. Tapi sulit menganggap ini mimpi, wanita itu menangis dan memeluknya erat. Hembusan napas wanita itu juga terasa di bagian dadanya.


“Maafkan aku, aku tidak pernah melihat rasa cinta dari Anda yang begitu besar yang hanya tertuju padaku. Maafkan aku ….” Suara itu bercampur dengan isak tangis.


“Izinkan ku lukis senja—” Syafi tidak bisa meneruskan nyanyiannya. “Apakah lagu itu yang membuat kakak jatuh cinta padaku?” Suara Syafi tertahan, wajahnya masih tenggelam dalam dada bidang milik Dirga.


Dirga juga ikut menangis. Dia langsung mengusap air matanya. “Apakah ini mimpi? Kalau ini mimpi, aku tidak ingin bangun, aku juga hanya ingin Aul yang somplak, yang selalu membuatku tersenyum. Aku tidak ingin Aul yang baru.”


“Maaf, Aul yang baru untuk semua orang, tapi Aul yang somplak hanya untuk kakak.”


“Indahnya mimpi ini ….” Dirga membalas pelukan Syafi, mendaratkan ciumannya di pucuk kepala Syafi.


Syafi melepaskan dirinya dari pelukan Dirga. “Apakah ini mimpi?” satu ciuman lembut mendarat di pipi kanan Dirga. “Apakah ini mimpi?” satu ciuman lembut lagi mendarat di pipi kiri Dirga.


Kedua bola mata itu saling beradu tatap. “Apakah ini mimpi?” Mendaratkan ciuman tepat di depan bibir laki-laki yang sudah lama menjadi suaminya. Syafi tidak bisa melepaskan apa yang sudah terlanjur menyatu, laki-laki itu menahan bagian kepalanya. Hingga tautan itu semakin dalam.


[Tuttttttt …. Sensor tanteee, aku polos aku ndak ngeltiii, huwaaa otakku ternoda 😴😴😴🤦‍♀️😞😩🙈]


Konser tunggal maju mundur cantik yang Syafi persembahkan hanya untuk suaminya, kini berujung menjadi konser duet maju mundur cantik yang sebenarnya.  Dirga masih memandangi wanita yang kini berada dalam pelukannya, wanita itu sudah memejamkan matanya. Berulang kali Dirga menghujani wajah wanita itu dengan ciuman. Hubungan sebatas pendamping dirinya dan Syafi tidak berlaku lagi, wanita itu benar-benar menjadi


istrinya.  Dirga semakin erat memeluk wanita yang ada dalam pelukannya, dan juga ikut memejamkan matanya.


Flash back Syafi.


Selesai menikmati sarapannya, Syafi meraih tas-nya. Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya, saat melihat keadaan rumah Dirga yang belum bersih, apalagi saat ini bi Masri sakit. Siapa yang melayani Dirga? Dirga sudah memberi banyak pertolongan dalam hidupnya. Menunda kepulangannya ke Kalimantan juga bukan hal sulit. Syafi melangkahkan kakinya menuju pintu.


“Pak, kalau saya tidak pulang sekarang nggak apa-apa? Kasian kak Dirga, bi Masri juga sakit saat ini.”


“Tidak apa-apa Non. Kalau Non butuh sesuatu, tolong telepon saja saya.”


“Iya Pak. Tapi jangan kasih tau kak Dirga ya, nanti dia kepikiran saya. Biar saja dia mikirnya kalau saya sudah pulang.”


“Iya Non.”


Syafi memberikan tiket yang dia pegang pada Pak Ajah. Pak Ajah segera menurunkan koper Syafi, selesai dengan tugasnya, Pak Ajah langsung pergi meninggalkan rumah Dirga. Sedang Syafi segera masuk kedalam rumah. Mengganti bajunya dengan setelan santai. Dia langsung memasak nasi goreng untunya sendiri. Bagi Syafi yang biasa makan berat, beberapa lembar roti hanya pengganjal, sarapan paginya belum sah kalau belum makan nasi. Nasi goreng sudah masuk kedalam perunya, saatnya Syafi melakukan tugasnya. Syafi langsung menuju kamar Dirga, membersihkan kamar Dirga menjadi pilihan pertamanya.


Syafi menghembus kasar napasnya. Saat melihat bola-bola kertas berserakan di lantai kamar Dirga, dia kembali turun ke bawah mengambil kantong sampah. Dia kembali lagi ke kamar Dirga memulai tugas memunguti bola-bola kertas itu. Sesekali senandung lepas dari mulutnya sambil memunguti bola-bola kertas itu. Kertas putih yang sebelumnya bagai salju yang menghiasi lantai kamar Dirga sudah hilang. Kertas-kertas itu sudah masuk dalam kantong sampah.


Kini Syafi membersihkan meja kerja Dirga. Dia menemukan catatan yang belum selesai. Bukan isi kertas itu yang menyita perhatian Syafi, tapi tulisan tangan itu yang seakan Syafi kenal. Syafi membaca tulisan yang belum selesai itu. “Apa—” Syafi tidak meneruskan perkataannya, dia segera menuju kamarnya. Mengambil semua surat yang selama ini dia terima dari pencinta misterius, yang setiap hari mengiriminya bunga dan kado.


Syafi membandingkan semua surat yang dia terima dengan tulisan tangan Dirga, semua sama. Rasanya sangat sulit bernapas menyadari kenyataan ini. Syafi memungut beberapa bola kertas yang sudah masuk dalam kantong sampah. Hatinya semakin terasa ter-ikat, saat membaca itu surat-surat yang salah kata dan salah penulisan.


Plakkk!


Buku terjatuh, Syafi tidak sengaja menyenggol buku kecil itu. Syafi penasaran, dia membuka buku kecil itu. Kedua matanya seakan melompat saat membaca tulisan dalam buku kecil itu. Tertulis daftar hadiah yang dia terima setiap pagi yang dia terima dari Satpam sekolah selama inu. Buku kecil itu terlepas dari tangannya. Syafi masih kesulitan bernapas, dia melangkah mundur, hingga dia menyenggol kotak yang ada di sisi tempat tidur Dirga. Saat dia memungut kotak itu, isinya seragam pelayan penjual ice coffe langganannya selama bernyanyi bersama Athan, kacamata, masker dan topi.


Syafi terbayang seorang pelayan yang selalu memandanginya, tapi tak pernah mau berbicara.

__ADS_1


~Kebahagiaan terbesarku, cukup kamu menerima cintaku.


~Tapi aku jatuh cintanya sama kamu.


Perkataan Dirga yang Syafi anggap gombalan tengiang di kepala Syafi.


Bayangan saat Dirga memeluknya ketika pamannya meninggal, Dirga juga selalu memberikan tangannya saat turun dari Bandara, ketika dia pertama  kali menginjakkan kakinya di kota ini, jelas terlintas dalam benak Syafi. Tapi dirinya mengabaikan uluran tangan itu.


“Arggtttt!” Syafi merasa hancur. Dirinya jatuh ke lantai, terus mengeluarkan air matanya.


“Kak Dirga … maafkan aku.” Syafi terisak semakin dalam, dalam tangisnya.


Merasa puas menumpahkan tangisnya, Syafi berusaha menguatkan dirinya. Dia langsung membersihkan semua isi rumah itu. Selama berkutat dengan sapu dan pel, bayangan Dirga selalu terbayang di matanya. Handphone-nya berdering, terlihat nama Dirga yang menghubunginya. Syafi berusaha santai. Kali ini darahnya seakan mendidih mendengar suara laki-laki yang ada di ujung telepon sana. Setelah Dirga menutup telepon mereka, Syafi kembali melanjutkan pekerjaannya.


Syafi sudah selesai dengan pekerjaannya. Seluruh sudut rumah bersih, Syafi segera membersihkan diri, melihat jam dinding, terlihat jam baru menunjukkan jam 12 siang.


Setelah rapi, Syafi memesan ojek online. Dia langsung menuju sebuah pusat perbelanjaan membeli barang yang dia inginkan. Selesai dengan tujuannya, Syafi membeli makan siang untuk dia bawa ke suatu tempat. Pikiran Syafi teringat pada Mayfa. Merasa Mayfa sudah selesai mengajar, Syafi langsung menuju kost tempat Mayfa bernaung.


Sesampai di sana, saat yang sama, seorang wanita yang mengenakan seragam guru baru turun dari ojek online. Dia kaget saat melihat Syafi juga baru turun dari ojek online.


“Bukannya lu pulang hari ini?” Mayfa langsung mendekati wanita yang menenteng banyak kantong belanjaan.


“Mana aku bisa kembali, hatiku tertinggal di sini.” Senyuman lebar menghiasi wajah Syafi.


“Maksud lu?”


“Kita bicara di dalam bisa? Princes gak kuat berjemur thayank ….” Goda Syafi.


Mereka segera memasuki kost-an yang Mayfa tempati. Setelah menikmati makan siangnya, Syafi menceritakan semua yang baru dia ketahui pada Mayfa.


“Jadi kado yang kamu terima setiap hari dari kak Dirga?” Mayfa memastikan.


“Iyaa, dan aku baru tahu sekarang.” Syafi mengusap air mata yang membasahi pipinya. “Kak Dirga sangat cinta sama aku, aku terharu.” Air mata itu semakin deras mengalir.


Mayfa menarik Syafi ke dalam pelukannya. “Maaf, aku tau dari awal, sejak kalian menikah waktu itu, tapi aku tidak punya keberanian mengatakannya padamu, kalau kak Dirga sangat mencintai kamu. Dia menikahimu bukan karena paman, tapi karena dia cinta padamu.”


Syafi terus menangis dalam pelukan Mayfa. “Dia selalu ada di dekatku, bahkan saat di lapangan.”


“Aku tahu, bahkan aku geram dengan cara Dirga mencintai kamu. Tapi dia melarangku untuk memberi tahu kamu.”


“Aku tidak hanya menjadi sebatas pendamping baginya, aku akan menerima pernikahan ini May, aku ingin memberinya kejutan malam ini.”


“Semoga sukses Thayank ….” Keduanya berpelukan.


Merasa cukup lama berada di kost Mayfa, Syafi segera kembali ke rumah Dirga, untuk melanjutkan rencananya, memberi Dirga kejutan.


Flash back off.


*********

__ADS_1


Bersambung lagi ya Thayank


Aku gak bisa up rutin, jika aku ada waktu luang, aku pasti up, karena karya ini walau remahan bagian dari jiwa aku, hobahh 💃💃💃💃💃💃


__ADS_2