
Keduanya beradu tatap, tatapan mata yang begitu tajam sulit untuk diartikan. Syafi segera pergi melangkahkan kakinya, membuang tenaga saja berdiam diri di sini.
“Kamu sangat terobsesi dengan saya, ya Aul. Kamu memburu saya sampai ke sini. Tapi sayang, sebentar lagi saya akan menikah, drama kesedihan kamu tidak akan bisa membuat saya prihatin sama kamu.”
Seketika langkah kaki Syafi terhenti, dia kembali melangkah mendekati laki-laki itu. “Ada yang lebih berharga untuk saya perjuangkan, selain Anda Tuan Arnaff!”
“Jangan munafik, bilang saja kamu tidak ikhlas saya tinggalkan.”
“Haaah ….” Syafi tersenyum ketir. Menggelengkan kepalanya, sangat heran pada laki-laki yang saat ini berdiri di depannya. Entah kenapa laki-laki itu begitu membencinya, dia tidak melakukan apa-apa saja, tetap salah. “Apa yang terjadi adalah hal yang terbaik bagi saya, saya berduka bukan karena gagal menikah, tapi karena kematian paman dan bibi.” Syafi mengarahkan tatapan tajam matanya pada Arnaff.
“Kamu kira saya percaya, dengan perubahan kamu sekarang, kamu pikir saya akan terpesona dan jatuh cinta padamu saat bertemu kamu?” Arnaff balas menatap mata Syafi dengan pandangan sinis.
“Saya berubah bukan karena Anda!”
“Mbak Aurelia ….” Panggilan itu memecah ketegangan yang terjadi.
Syafi menoleh kearah suara itu bersumber, terlihat laki-laki yang menaiki motor mengenakan jaket logo ojek online. “Iya saya Pak,” jawab Syafi. Syafi segera mengambil helm yang di berikan tukang ojek padanya. Naik keatas motor. Tukang ojek pun langsung melajukan motornya meninggalkan area itu.
Arnaff masih memandangi motor yang melaju pelan yang membawa Syafi. “Dia pikir, dengan merubah penampilan seperti itu aku akan jatuh cinta? Cuih!” Arnaff meludah kearah samping.
“Maaf Tuan, kami terlambat, tadi pas selesai main, Non Nadira katanya melihat gurunya, jadi kami berjalan berkeliling, tapi tidak ketemu sama guru Nadira,” ucap pengasuh Nadira.
Arnaff berjongkok di depan putrinya. “Sayang … besok kan masih sekolah, jadi besok pasti ketemu guru Nadira lagi,” bujuk Arnaff. Putri kecilnya itu masih terlihat murung.
“Aku belum ucapin terima kasih sama miss Aurel, tadinya pengen ngajak miss makan ice cream, tapi papa yang traktir.”
“Nanti kita traktir miss Aurel, dia guru kesayangan Rara, ya?”
“Iya papa.”
__ADS_1
“Sekarang kita pulang dulu. Kapan-kapan kita undang miss Aurel ya ….”
Akhirnya anak kecil itu mau diajak pulang. Perlahan mobil Arnaff juga meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan hanya cerita Nadira yang mewarnai perjalanan pulang mereka.
****
Pagi, sore, dan malam begitulah kegiatan Syafi. Pagi mengajar, pulang dijemput Pak Ajah. Sore bernyanyi bersama Athan. Malam makan malam bersama Dirga. Tidak ada keistimewaan lain. Setiap pagi kado dan setangkai bunga mawar putih juga selalu dia dapat. Hanya saja kado dan isi surat itu yang berbeda tiap harinya. Yang paling membosankan adalah rayuan Athan. Entah kapan laki-laki yang Syafi anggap teman itu bisa berhenti melancarkan rayuan padanya. Hubungannya bersama Nadira juga semakin hari semakin akrab.
Tidak terasa, dua minggu sudah Syafi mengajar di sekolahan ini. Pagi yang sama seperti pagi sebelumnya,
sarapan bersama dengan Dirga dan bi Masri sebelum berangkat memenuhi tanggung jawab masing-masing.
“Fiy, biasanya pulang jam berapa kamu setelah manggung?” Dirga membuka obrolan pagi ini.
“Sebelum magrib aku sudah sampai rumah, kak. Memangnya kenapa kak?”
“Malam ini, Sam mengundang kita makan malam, sepertinya di sebuah Restoran. Kamu bisa ikut?”
wajah yang terbiasa ceria itu terlihat muram saat ini.
“Kalau kamu tidak bisa tidak apa-apa.” Dirga meneruskan sarapan paginya.
Selama ini Dirga selalu memberikan kebebasan padanya, memberinya banyak hal. Syafi merasa bersalah
menolak ajakan Dirga. “Baik kak, aku ikut kakak malam ini.”
Dirga tidak bersuara lagi, dia hanya menganggukkan kepalanya dan terus melajutkan menikmati sarapan paginya.
*
__ADS_1
Di kediaman orang tua Arnaff.
Nadira sudah berangkat bersama pengasuhnya ke Sekolah. Arnaff juga sudah pergi ke kantor. Hanya tinggal Leti dan Rinto di rumah. Handphone Rinto berdering, terlihat satu pesan dari Sam masuk. Rinto segera membuka pesan itu. Hatinya merasa lega, sekian lama menunggu akhirnya Sam mau menemui dirinya. Nasib masa depan perusahaannya akan segera di ketahui setelah berbicara dengan Sam nanti.
“Mama. Nanti malam kita di undang makan malam oleh Sam. Mama kasih tau Arnaff,” pinta Rinto.
Leti segera mengetik pesan di handponenya, mengabari kalau Sam mengundang mereka semua makan malam.
***
Aktivitas di sekolah juga berjalan seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Selesai tugas di sekolah, Syafi segera pulang, karena tugasnya pada Athan belum selesai, setelah rehat sebentar dia segera bersiap bernyanyi bersama Athan di tempat biasa sore ini.
Semua pekerjaan Syafi berjalan lancar, entah berapa lagu duet yang dia nyanyikan bersama Athan. Entah, rasanya Athan sudah menjadi bagian hidupnya sekarang, rasanya ada yang kurang jika tidak gelud dengan anak itu. Tugas pada Athan selesai, saatnya pulang ke rumah. Malam ini ada acara makan malam bersama keluarga Sam. Keluarga yang sangat Dirga hormati, dan keluarga yang sangat di banggakan Paman Ardhin.
Jam sudah menunjukkan jam 8 malam. Syafi sudah berdandan sebisa dia untuk menemani Dirga memenuhi undangan makan malam. Tapi yang dia tunggu belum juga datang. Suara mesin mobil yang berhenti terdengar, tandanya penantian Syafi sudah ber-akhir, karena yang dia tunggu akhirnya datang. Syafi segera menyambut Dirga. Saat dia sampai di depan pintu, Dirga juga tepat berada di pintu itu. Seketika darah Dirga berdesir melihat penampilan Syafi.
Dirga segera mengumpulkan sisa kesadarannya. “Maaf, tadi ada urusan di kantor. Maaf saya terlambat,” ucapnya.
“Tidak apa-apa kak.” Syafi mengukir senyuman di wajahnya.
“Ayok langsung saja, aku sudah mandi dan ganti baju di kantor tadi.”
Syafi saegera mengekori langkah kaki Dirga. Keduanya melangkah ber iringan menuju mobil. Entah kapan dinding kecanggungan ini roboh. Sepanjang perjalanan keduanya kompak membisu. Bahkan setelah sampai di tempat tujuan, keduanya masih kompak membisu. Segera turun dari mobil.
Setelah memasuki area Restoran, keadaan terlihat sepi. Beberapa orang terlihat berkumpuk di satu meja, di dekat meja itu ada layar monitor besar. Tak jauh dari meja itu ada panggung musik. Hanya saja masih terlihat kosong.
“Maaf semua, saya terlambat, tadi pekerjaan di kantor sangat—” Seketika lidah Dirga kelu, saat melihat siapa saja yang duduk kursi-kursi yang mengelilingi meja itu. Dirga segera berbalik ingin mengajak Syafi pergi dari tempat ini. Berada di sini hanya membuat Syafi terluka lagi. Tapi terlambat, bola mata Syafi sudah bertemu dengan sosok yang menorehkan luka dalam, dalam kehidupannya.
“Harusnya aku mengikuti jawabanmu yang pertama saat pagi tadi, maafkan aku, aku sama sekali tidak tahu kalau ada mereka,” ucap Dirga. Sekilas Dirga melirik kearah Leti, Rinto, dan Arnaff.
__ADS_1
Syafi masih mematung, tatapan matanya begitu tajam ter-arah pada laki-laki yang juga tidak kalah tajam memandanginya.
Dirga tidak mau Syafi terluka lagi. Dia meraih tangan Syafi dan menggenggamnya erat. “Maaf Tuan, kami tidak bisa ikut makan malam bersama kalian.” Dirga segera menarik tangan Syafi untuk meninggalkan tempat itu.