Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 7 Calon Madu


__ADS_3

Pekerjaan baru di mulai. Berulang kali ponsel Syafi berdering. Mau tidak mau, dia harus izin untuk mengangkat panggilan telepon. Terlihat  identitas pemanggil adalah pamannya. Syafi langsung mengangkat panggilan telepon.


“Assalamu’alaikum paman abah ....”


“Wa’alaikum salam.”


“Paman, paman sehatkan?”


“Alhamdulillah paman sehat. Memangnya kamu mau,  pamanmu ini menelepon kamu saat sakaratul maut gitu?”


“Lah enggak dong paman. Ada apa nih? Bukan marah di telepon paman, tapi saat ini aku masih kerja.”


“Ada yang lamar kamu.”


“Apa? Aku gak salah dengar paman?”


“Enggak, akad nikah kamu pun akan di percepat. Ayo kembali ke rumah paman. Kenalan sama calon suami kamu, juga kenalan sama anak angkat paman, yang sering paman cerita in dulu, namanya Dirga.”


“Paman ....”


“Aul, paman kamu ini sudah tua. Kalau paman mati, siapa yang jaga kamu. Kalau kamu sayang sama paman, ayo pulang sini, menikah dengan laki-laki pilihan paman.”


Syafi bingung. Selama ini pamannya selalu menuruti keinginannya. Pamanya tidak pernah meminta apa pun padanya. Ini permintaan pertama dari pamannya. “Kalau begitu, aku urus berhenti kerja dulu ya paman. Gak mungkin kan aku urus cuti? Secara aku akan menikah di sana.”


Obrolan mereka terus berlanjut. Setelah selesai, Syafi langsung menuju ruangan bu Erli. Untuk menyampaikan keinginannya.


“Kok kamu berhenti juga, apa karena Mayfa berhenti kerja di sini, kamu juga ikutan berhenti?”


“Mayfa berhenti kerja?” Rasanya ada yang hancur dari dalam diri Syafi.


“Iya, katanya Ayahnya mengajaknya pulang, urusan keluarga dia sudah selesai,” terang Eren.


“Tu anak gak anggap aku teman kali, kenapa dia gak bilang sama aku.”


“Kamu berhenti, kenapa Fiy?”


“Paman jodohin aku, katanya akad nikahnya dalam waktu dekat ini.”


“Alhamdulillah, aku senang Fiy, akhirnya ada laki-laki yang bernasib sial karena nikah sama kamu!” Obrolan Erli dan Syafi terus berlanjut. Erli tidak bisa melarang Syafi untuk berhenti. Dengan berat hati Erli mengizinkan Syafi berhenti. Hari inj, hari terakhir Syafi bekerja di Restoran ini.


Syafi yang biasa heboh, hari ini terlihat diam. Membuat orang sekitar bingung. “Sakit kamu Fiy?” tanya Mayfa.


“Maaf, Anda siapa, ya?” Syafi berjalan menjauhi Mayfa.

__ADS_1


“Lu marah ma gua?”


 


“Buat apa aku marah, sekalian nanti kalau pergi jangan pamitan sama aku!” Syafi terus menghindar.


Mayfa sadar, Syafi mengetahui kalau hari ini hari terakhirnya bekerja d Restoran ini. Mayfa mencoba menggoda temannya itu. “Ayah gua orang normal, kelamaan di sini, takutnya dia ketularan virus dari lu!”


“Ini hari terakhir lu kerja kan? Ini juga haribterakhir  aku kerja. Ayo kita kerja yang benar.”


“Maksud lo?”


“Besok aku mau ke Banjarmasin, ke rumah paman. Paman sudah tentuin tanggal pernikahan aku dengan pilihannya.”


“Kenapa lo mau?”


“Bagi aku paman segalanya. Kata almarhumah nenek, selama ini paman dan bibi yang membiayai hidup kami. Dulu paman dan bibi bekerja menjadi pembantu. Saat mendengar nenek meninggal mereka berhenti kerja dan kembali pulang, aku sudah melarang mereka berhenti, aku bilang aku sudah dewasa dan bisa jaga diri. Tapi mereka tetap kembali, maka dari itu aku bisa punya motor itu karena pamanku.”


“Lu sayang banget sama paman lo?”


“Banget May.”


“Kalau lu besok mau ke Banjarmasin, mending nebeng sama aku, rumah paman kamu di mana?”


“Kalau begitu, besok kita ke Banjarmasin sama-sama, aku mau telepon Ayah dulu, kasih tau kalau kamu juga ikut.” Mayfa langsung menepi untuk menelepon Ayahnya.


Sore hari Syafi, izin off kerja. Dia harus mengantar motor kesayangan ke desa pamannya. Di sana masih ada kerabat pamannya. Perjalan 15 menit, Syafi sudah sampai di desa itu. Suasana haru menyelimuti keadaan rumah bibinya yang lain. Syafi tidak suka acara mewek, dia lebih memilih izin pergi setelah meninggalkan motor pemberian pamannya di sana. Syafi kembali ke kota Barabai diantar oleh sepupunya, sepupunya langsung pergi setelah tugasnya selesai.


“Assalamu’alaikum, Fiy,” sapa Bu Je.


“Wa alaikum salam,” Syafi tersenyum, tidak sulit menemui ibu kost, sekarang yang dia cari ada di depan mata.


“Tadi Ayah Mayfa bilang, kalau Mayfa tidak kost di sini lagi, mereka mau pulang,” terang Bu Je.


“Bukan hanya Mayfa yang gak kost lagi bu, aku juga.”


“Ya salam ....”


“Ini hari terakhir aku di kota ini, andai aku punya banyak salah, maafin ya bu.” Syafi terdiam mencerna kata-katanya barusan. “Eh aku kan orang gak tau rambu-rambu, kok 'kalau ada salah,' sedangkan apa yang aku lakukan selalu salah,”


“Kamu itu unik Fiy, kamu gak punya salah sama ibu. Ibu juga mohon maaf ya, kalau punya salah sama kamu.” Syafi dan Bu Jaenab berpelukan.


Syafi langsung mengemas barang-barangnya yang memang sedikit. Tidak butuh waktu lama, semua barangnya sudah siap untuk di bawa. Sedang beberapa barang lain yang tidak mungkin Syafi bawa, dia berikan pada anak kost yang lain.

__ADS_1


 


Alam seakan merestui kepergian Syafi, waktu saja rasanya berjalan lebih cepat. Tidak terasa pagi menyapa. Mobil Pak Said  sudah siap untuk menjelajahi jalan raya, membawa kembali putrinya yang kabur. Di bagian belakang mobil, tiga orang itu sibuk memasukkan barang-barang ke bagasi mobil.


“Fiy, lu nginap dulu di rumah gua, ya ....” pinta Mayfa.


“Dengan satu syarat, kalian sekeluarga nanti, harus datang ke acara akad nikah aku nanti.”


“Insya allah ....” ucap Mayfa.


“Jadi, ini kita langsung pulang ke rumah kita aja Fa?”


“Iya Ayah ....”


Perjalanan panjang di mula. Syafi duduk sendiri di bagian kursi belakang, sedang di depan Mayfa bersama Ayahnya. Kalau lalu lintas lancar kurang dari 4jam perjalanan, mereka bisa sudah sampai di kota Banjarmasin. Tapi kalau macet, tentunya waktu untuk sampai juga lebih lama. Beruntung hari ini jalanan ramai lancar. Berangkat dari jam 6 pagi, sampai di kediaman Mayfa hampir jam 11 siang.


“Eh busyet!” Syafi kaget melihat rumah Mayfa.


“Ada apa Fiy? Tanya Pak Said.”


“Ternyata kalian keluarga Sultan!” oceh Syafi.


“Mana ada! Kami hanya orang biasa,” ucap Pak Said.


“Kakak ....” Seorang anak gadis berlari menghambur dan langsung memeluk Mayfa. Mayfa membalas pelukan gadis imut itu.


“Kakak ....” dia menangis dalam pelukan Mayfa.


Dari dalam rumah terlihat empat orang wanita yang masih muda, dan yang satu wanita yang lebih dewasa, kalau wanita yang satu itu, Syafi sudah bisa menebak, itu adalah mama Mayfa. Tapi empat orang yang lain, Syafi tidak bisa menebak, mereka semua terlihat seumuran. Mereka semua langsung bergantian memeluk Mayfa.


“Ini siapa Ya?” tanya wanita yang diperkirakan Syafi kalau itu mama Mayfa.


“Assalamu alaikum kak,” salam Syafi.


"Wa'alaikumsalam," jawab wanita yang di panggil Syafi kakak.


“Lah, kok kakak!” Mayfa protes.


“Ya iyalah kakak.” Syafi mengukir senyuman di wajahnya.


“Apa sajalah, yang kamu nyaman aja, perkenalkan, saya Rosalina, ibu dari enam anak manis ini, dan istri dari laki-laki paling tampan di sini, yang ada di belakang kamu.” Rosalina mengulurkan tangannya untuk menyalami Syafi.


“Saya Syafi, calon madu Anda,” ucapnya. Seketika tatapan tajam dari semua orang yang ada ter-arah pada Syafi.

__ADS_1


__ADS_2