Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 37 Maunya Ke Hati kamu


__ADS_3

Pekerjaan semakin banyak, kemauan keras Sam untuk mengganti nama perusahaan bukan sebatas wacana saja, semua sudah berproses. Mau tidak mau pekerja yang memiliki jabatan penting di perusahaan milik Sam harus lembur. Jam sudah menunjukkan jam 9 malam, akhirnya beberapa berkas sudah selesai, yang lain bisa di kerjakan besok pagi. Dirga segera membereskan semua berkas yang memenuhi meja kerjanya. Selesai menyimpan semua berkas, dia segera meninggalkan ruangan itu.


Cahaya lampu yang menerangi jalanan, membuat suasana malam terlihat indah. Mobil yang Dirga kendarai membelah jalanan, melaju menuju arah rumahnya. Sesampai rumah, terlihat lampu terang masih menyala. Dirga melirik jam tangannya, memastikan jam berapa ini. Jam 09:30. Dirga mempercepat langkahnya. Segera membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa.  Saat pintu terbuka, terlihat seorang gadis duduk bersandar di sofa. Senyuman terukir di wajah Dirga, menyadari ada yang menunggu kepulangannya, seketika lelah yang menderanya lenyap begitu saja. Perlahan Dirga menutup pintu dan menguncinya.


Dirga mendekati wanita yang tampak nyaman dengan posisinya, alis Dirga tertaut saat melihat kedua mata Syafi terpejam. “Ya salam … dia ketiduran di sini, hanya menungguku?” Dirga merasa bersalah membuat Syafi menunggunya. Dirga mendekati Syafi, mendaratkan telapak tangannya di Pundak wanita itu. “Fiy ….” Panggilnya.


Kedua mata yang tadi terpejam rapat langsung terbuka. “Kak … maaf aku ketiduran.” Syafi memperbaiki posisi duduknya. “Kakak sudah makan?”


“Belum.” Dirga terpaksa bohong, padahal dia sudah makan malam di kantor.


“Kakak mau ke kamar dulu, apa mau makan sekarang?”


“Maunya ke hati kamu.” Dirga tersenyum, dia langsung meninggalkan Syafi.


Syafi menganggap itu hanya candaan Dirga saja, melihat Dirga menuju ruang makan, Syafi segera menyusulnya. Di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan, Dirga duduk dengan nyaman sambil menikmati segelas air putih. Syafi tidak banyak bicara, dia langsung ke dapur mempersiapkan makan malam untuknya dan Dirga.


Keduanya asyik menikmati makan malam mereka. Berulang kali Dirga menghela napas, dia sudah sangat kenyang, tapi melihat Syafi sampai tertidur menunggunya membuatnya harus berkorban untuk makan malam lagi. Dirga melirik kearah Syafi, terlihat gadis itu makan dengan cepat. “Kamu dari tadi tidak makan karena menungguku?”


Pertanyaan Dirga membuat Syafi menghentikan suapannya. “Maaf kak, aku lapar … jadi makannya lahap.” Menundukkan wajahnya karena malu.


“Santai saja, lain kali kalau lapar, kamu makan saja duluan, jangan menyiksa diri hanya untuk menungguku.”


“Kakak saja mampu menyiksa diri bertahan dan memenuhi tanggung jawab untuk ikatan ini, sedang aku hanya menahan lapar untuk menjalankan tugasku, kenapa aku tidak bisa?”


Ya salam, dia masih belum bisa menerimaku. Dia manis semata menjalankan tugas dia.

__ADS_1


Dirga menunduk semakin dalam, ada kekecewaan dalam dirinya, harapannya terlalu tinggi, berharap Syafi menjalankan tugas sebagai istri karena menerima dirinya. Dirga menegakkan Kembali wajahnya. “Ayo habiskan makanan kita, biar bisa istirahat.”


Keduanya kembali melanjutkan makan malam mereka. Dirga berusaha terlihat santai, walau sebenarnya sangat tersiksa karena kekenyangan.


Yang kuat Dirga … ini demi cinta, ayok …. Menyemangati diri sendiri. Masih duduk di kursi, sumpah demi apapun, bernapas saja sulit, rasanya tidak bisa bergerak lagi.


Terlihat di sana Syafi sudah selesai membereskan meja makan, meja itu kini tampak bersih. Syafi menarik salah satu kursi yang berada tepat di seberang Dirga. Keduanya duduk berhadapan, hanya meja makan itu yang menjadi jarak diantara keduanya.


“Kak, dari tadi aku mencari informasi tentang Athan. Dia tinggal di kota ini.”


Ucapan Syafi tentang Athan seketika menghancurkan perasaan Dirga.


“Athan?” Berusaha tampak tegar, walau sebenarnya ingin sekali berteriak. Fiy jangan sebut nama itu.


“Athan, dia teman aku, aku bertemu dia tidak sengaja saat malam acara pernikahan teman kakak, dan aku melakukan kesalahan. Aku—” Syafi tidak berani meneruskan kata-katanya.


“Aku melakukan kesalahan, aku ingin mencari Athan, semata ingin minta maaf padanya. Tadinya aku ingin meminta maaf lewat telepon. Ternyata dia memblokir nomor ponselku.”


Dirga tidak memberi jawaban, dia segera berdiri meninggalkan meja makan. Dia terus melangkah menuju tangga. Syafi hanya bisa memandangi punggung Dirga yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Syafi menghela napasnya begitu dalam. Dia segera berdiri, melangkahkan kaki menyusuri ruangan lain untuk mematikan lampu terang, dan menyalakan lampu temaran. Kembali lagi ke meja makan untuk mengambil handphone-nya. Terlihat beberapa lembar uang dan tiga kartu, juga satu surat ada di balik handphonenya.


Mencari seseorang di kota ini tidaklah mudah, aku hanya punya sedikit uang tunai. Itu kartu debit buat kamu. Pakailah untuk semua keperluan kamu. Tidak perlu minta izin padaku jika kamu menginginkan apa saja, jika kau butuh sesuatu untuk menggunakan kartu-kartu itu. Itu nomer telepon Pak Ajah. Dia akan mengantar kamu kemanapun kamu mau.


Syafi tersenyum setelah selesai membaca surat itu, ternyata dugaannya salah, dia mengira Dirga marah karena dia mencari laki-laki lain. Syafi menoleh kearah tangga. Terlihat Dirga masih meniti anak tangga menuju lantai atas. Syafi berlari kearah Tangga. “Kak Dirga ….”


Panggilan itu seketika menghentikan langkah kaki Dirga, dia merubah arah tubuhnya ke-arah Syafi. “Iya.”

__ADS_1


“Terima kasih banyak, kak.”


Dirga hanya memberikan senyumannya, dan mengacungkan jempolnya. Dia berbalik lagi untuk meneruskan Langkah kakinya menuju kamarnya. Melihat Syafi begitu bahagia, hatinya juga bahagia walau ada duri yang menancap karena kebahagiaan Syafi karena Athan.


Syafi segera mengambil semua yang Dirga beri, dan membawanya ke kamarnya. Syafi sangat bahagia, usahanya mencari Athan akan di bantu oleh Dirga. Sedang Dirga di kamarnya sungguh tersiksa. Perutnya terasa sakit karena banyak makan, hatinya juga sakit, mengetahui Syafi akan memburu laki-laki yang bernama Athan.


"Cinta ... kenapa serumit dan sesakit ini ...." memegangi perutnya yang kekenyangan. "Aku juga bodoh, kenapa tadi sore aku tidak mengabari Syafi kalau aku lembur." Rasanya ingin menangis, tapi air matanya tidak mau keluar. "Cinta memang mengalahkan akal, pantas saja Sam dulu sangat bodoh, saat dia jatuh cinta pada Vania, sekarang aku yang bodoh." Dira duduk bersandar di sofa, rasanya tidak mampu untuk berbaring.


Di sudut kota yang lain. Arnaff dan Alvi menikmati makan malam romantis mereka. Selesai menikmati makan malam, Arnaff memeriksa daftar keperluan resepsi mereka nanti. Arnaff berusaha santai, walau batinnya menjerit melihat nominal yang akan dia keluarkan untuk Baju pengantin dan seragam untuk keluarga Alvi juga keluarganya nanti. Ini belum termasuk hotel tempat resepsi dan konsumsi untuk undangan. Perusahaannya dalam bahaya, sedang dia harus menggelontorkan banyak dana untuk Resepsi pernikahan dia dengan Alvi.


“Vi, ap aini tidak berlebihan? Aku tidak masalah mengadakan pesta pernikahan yang mewah, masalahnya setelah pesta usai, kehidupan yang sebenarnya akan kita jalani. Resepsi nanti hanya langkah awal untuk memulai.”


“Sayang … pernikahan megah itu impianku. Aku ingin dunia tau, kalau aku adalah wanita yang paling beruntung, yang menikah dengan seorang Arnaff, CEO Ohoana Group.” Alvi memandang sayu wajah Arnaff, tangannya menggenggam tangan Arnaff.


“Huuh … baiklah. Vi kapan kamu memperkenalkan diri pada Nadira putriku? Kamu harus memulai pendekatan dari sekarang,”


“Setelah kontrak aku selesai ya sayang, sebentar lagi kok, biar aku punya banyak waktu buat Nadira, pendekatan pada anak-anak memang perlu waktu, makanya aku khususkan waktu luang untuk kamu dan Nadira, nanti sayang. Bagaimanapun, Nadira juga nanti akan jadi anak aku sendiri.”


Arnaff terus menikmati makan malam romantisnya dengan calon istrinya. Berbeda jauh dengan keadaan di rumahnya. Rinto Ayah Arnaff gelisah, sampai saat ini, Sam masih menunda pertemuan mereka.


“Sabar papa, mungkin Sam sedang sibuk.” Leti berusaha memberi semangat pada suaminya.


***


Bersambung.

__ADS_1


Maaf ya sobat, cuma mampu up sebiji. se you papai


__ADS_2