
Selesai mengisi perutnya, akhirnya badannya terasa lebih baik. Syafi membayar makanannya, sambil menikmati cup ketiga es jeruknya, Syafi mengirim pesan pada Mayfa, kalau dirinya sudah sampai di Kalimantan.
Mabuk?
Syafi membalas pesan Mayfa hanya dengan emoticon tertawa, apalagi, sudah bisa ditebak kalau ending dari perjalannya adalah mabuk perjalanan.
Jaga kesehatan, di manapun kamu berada.
Syafi tersenyum membaca pesan Mayfa, dia hanya membalas dengan sticker pelukan.
Syafi segera memesan kamar di sebuah hotel untuk istirahatnya 2 hari kedepan, Syafi ingin merehatkan tubuhnya sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya.
Mabuk perjalanan karena naik pesawat saja belum sepenuhnya hilang, rasanya nyawanya tidak sampai kalau ke desanya juga hari ini. Bukan perjalanan mudah bagi pemabuk perjalanan seperti Syafi, kurang lebih 4 jam perjalanan, rasanya itu sangat menyiksa.
Selesai urusan hotel, Syafi segera meng-order ojek online. Tujuan Syafi saat ini ziarah ke makam Paman Ardhin dan bibi Kamal, juga silaturrahmi pada keluarga bibi Kamal, sebelum dirinya pulang.
Ojek Syafi datang, Syafi segera memulai perjalanannya menuju alamat paman Ardhin. Syafi merasa dirinya ada yang membuntuti. Dia berusaha santai dan bersikap masa bodoh, dia yakin itu adalah orang utusan Dirga.
Motor ojek yang Syafi tumpangi, berhenti di sebuah rumah sederhana, rumah perjuangan Paman Ardhin dan bibi Kamal.
"Aul!" Teriakkan sang pemilik rumah saat ini menggema saat melihat sosok Syafi.
"Assalamu'alaikum cil." Syafi langsung salim pada adik bi Kamal.
"Wa'alaikum salam." Wanita itu begitu bahagia menyambut Syafi.
"Umai bulik mangajut, asa kada parcaya acil." Wanita itu memeluk erat Syafi.
(Waduh, kamu pulang tiba-tiba, rasa tidak percaya bibi.)
"Kaganangan wan abah, mama, lawan kagangan bangat wan nini, imbah di sini, ulun kena ka Barabai cil ai."
(Kangen sama abah, kangen sama mama, kangen sama nenek, setelah dari sini, saya akan pulang ke Barabai, bi.)
"Kaganangan apam Barabai jua kah?"
(Kangen sama apam Barabai juga ya?)
"Kaganagan samua'an cil."
"Bamalam di sini kah?"
(Nginep di mari?)
"Kada cil, sakira nyaman mancari apakah kena, ulun sudah mesan kamar hotel."
(Enggak bi, supaya mudah nantinya, saya sudah memesan kamar hotel.)
"Ayuha, acil asa kada parcaya malihat pian, asaan mimpi."
(Ya sudah, bibi masih tidak percaya melihat kamu, serasa ini mimpi."
"Surangan haja kah?"
(Sendirian saja?)
Syafi berusaha tersenyum, namun dirinya sudah mempersiapkan batin dan jawaban jika keluarganya menanyakan Dirga.
"Inggih cil, ulun surangan haja, kak Dirga auran cil ai, tampulu inya auran digawian, ulun izin bulik cil ai satumat, mun satumat bangat kada pang, uyuh cil lai awak mun tumatannya."
(Iya bi, saya sendirian saja, selagi dia sibuk sama kerjaan, saya minta izin pulang sebentar, kalau sebentar banget tidak juga, capek badan kalau pulang cuma sebentar.)
"Ma ubati kaganangan wan apam barabai, tapi tapisah wan burung halalnya am, ngaran bulik surangan ne."
(Mengobati rindu sama apam barabai, tapi terpisah sama burung halalnya, namanya juga pulang sendiri.)
Syafi tertawa kaku.
...Bahkan aku tidak akan merindukan Dirga bi....
Adik bi kamal menepuk lwmbut pundak Syafi. "Ayuha, kada kawa ai mun laki bagawi tu."
"Ya sudah, gimana lagi kalau suami lagi sibuk begitu "
Syafi segera masuk kedalam rumah, rumah yang sudah 3 tahun dia tinggalkan, semua jauh berbeda, merasa lumayan lama berbincang dengan adik dari bi Kamal dan tetangga sekitar, Syafi izin untuk ziarah ke makam 2 orang yang sangat mencintai dia dan dia cintai, paman Ardhin dan bibi Kamal.
Syafi mengusap batu nisan itu bergantian.
__ADS_1
"Maafin Aul paman, Aul belum bisa jadi istri yang baik, maafin Aul Abah … mama …."
Selesai memberi hadiah bacaan pada paman dan bibinya, Syafi segera bersiap untuk kembali ke rumah bibi kamal. Sekilas mata Syafi melihat orang yang mengikuti dia sebelumnya. Tapi dia pura-pura tidak menyadarinya.
Sambil melangkahkan kakinya, jemarinya terus bermain diatas layar handphone-nya, apalagi kalau bukan memesan ojek online untuk menuju hotel yang sudah dia pesan sebelumnya.
Sesampai di rumah bibi Kamal, Syafi berpamitan pada keluarga bibi Kamal dan tetangga.
"Napa Ul aur ba ujek ha ikam tuh, duit ada haja bayar taksi, pamalar banar datang naik ujek bulik ba ujek pulang!" Oceh tetangga bi Kamal.
(Kenapa Aul, kamu cuma naik ojek saja, uang ada buat bayar taksi, pelit banget, datang naik ojek, pulang juga naik ojek!)
"Inya kada pamala kada, tapi pamauk amun ba mutur taksi"
(Dia bukan pelit, tapi mabuk perjalanan kalau naik mobil taksi."
Syafi hanya tersenyum, dia memberi hormat pada saudara bi Kamal dan tetangga sekitar yang melepaskan kepergiannya. Syafi pun pergi dari sana dengan kuda besi berkaki 2, demi kesejahteraan kepala dan isi perutnya, biar tidak pusing dan tidak mual lagi.
Syafi sangat menikmati pemandangan yang dilewati, hingga dia tidak menyadari kalau dirinya sudah sampai di hotel yang dia tuju.
"Terima kasih paman." Syafi membayar ongkos ojek onlinenya.
Melalui beberapa proses, akhirnya tubuhnya bisa berbaring diatas kasur empuk hotel ini. Syafi langsung menghubungi nomer telepon sepupunya di desa.
"Napa ka Aul, handak babagi zakat kah?"
(Ada apa kak Aul, mau berbagi zakatkah?)
"Aur duit ha dipikiranmu, kam kira aku ni baisi sumur duit!" Syafi kesal, jika menelepon sepupunya pasti tidak jauh dari perkara uang.
(Uang melulu yang kamu pikirin, kamu kira aku ini punya sumur uang!)
"Imbah pang napa te?"
(Terus, apa dong?)
"Rumah nini kaya apa?"
(Rumah nini bagaimana?)
(Tidak terawat.)
"Barasihi akan pank, aku satumat lagi bulik, ada haja kaina bacaannya, nih ku kirimi 500 dulu."
(Tolong bersihin ya, aku sebentar lagi akan pulang, ada aja nanti imbalannya, nih sekarang aku transfer 500 dulu.)
"Ay, kanapa bulik mangajut, perang dunia kah kak?"
(Lah, kenapa pulang tiba-tiba? Perang dunia ya kak?)
"Kada suah bulik, dipadahkan sombong, aku bulik dipadahkan bakalahi, imbah pank mapa baiknya?"
(Enggak pernah pulang, dikata sombong, aku pulang dikata ada perkara, terus bagaimana baiknya?)
"Kada dimapa-mapa ah kak ai, amun bulik jangan kada ingat ulih-ulihnya gasan ulun hp pakaian kak Dirga, amun kawa pilihakan na logo apal ba igut. Bila kadada babakasan kak Dirga, barang haja babakasan urang di ponsel."
(Enggak gimana-gimana lah kak, kalau pulang, jangan lupa oleh-olehnya buat saya, hp bekas kak Dirga, kalau bisa pilihin hp yang ada logo apel digigit. Kalau tidak ada bekas kak Dirga, bekas orang lain yang ada di ponsel juga boleh.)
"Rabah waluh!" Syafi langsung menutup sambungan teleponnya. Saat ini dirinya ingin istirahat dulu.
*
Malam menyapa bumi yang diberi nama 'Kota Bungas'
Syafi terlihat segar, tidur lumayan lama dan sekarang sudah mandi, saatnya mengisi perutnya yang berdendang minta di isi.
Selagi waktunya masih panjang, Syafi ingin menikmati malam ini jalan-jalan di kota Banjarmasin sambil kulineran. Tapi, lagi-lagi moodnya kacau, melihat cctv bernyawa yang terus mengintilinya.
Masa bodoh, Syafi tetap meninggalkan hotel dengan kuda besi milik kang Ojol untuk menuju termpat yang dia inginkan.
Syafi melangkahkan kakinya memasuki sebuah Restoran. Duduk di salah satu tempat yang dia inginkan. Makanan dan minuman pun dia pesan. Hanya menunggu sebentar, makanan dan minuman yang dia pesan sudah ada di mejanya. Tidak membuang waktu, Syafi pun menikmati makanannya.
"Syafi!"
Suara itu membuyarkan konsentrasi Syafi menikmati makan malamnya.
"Iya bener itu Syafi!"
__ADS_1
Dua orang wanita tersenyum bahagia melihat kearahnya. Senyuman Syafi juga mengambang melihat dua sosok itu.
"Dinda, Jana!" Syafi melupakan makanannya, dia berlari kearah dua teman kuliahnya dulu.
"Ya ampun Fiy, kamu semenjak nikah sombong banget, jarang oll di chat group!" Protes Jana.
"Maaf, kan sibuk berproses jadi istri solehah."
"Kamu kenapa sih, 2 bulan yang lalu kita ajak ikut reuni malah nolak?" Tanya Dinda.
"Reuni?" Syafi bingung, selama ini belum ada pembahasan reuni.
"Iya, kamu nggak mau kangen-kangenan sama kita?" Sela Jana.
Syafi meraih handpone-nya, dia memeriknya media logo hijau itu. Tidak ada group kampusnya lagi di sana. "Group bubar ya?" Tanya Syafi.
"Kamu salah bawa handphone kali, kan 2 bulan yang lalu kamu ganti nomer," terang Dinda.
"What?"
...Dirga lagi …...
Syafi berusaha tersenyum, walau batinnya ingin sekali berteriak memaki laki-laki yang menumbuhkan cinta di hatinya juga yang menggoreskan luka ditempat yang sama.
Syafi berusaha bersikap normal. "Handphone itu pasti ketinggalan, cek aja, tu nomer pasti aktif."
"Sebentar." Jana langsung memeriksa handphone-nya, dan membuka group chat mereka. "Ih iya benar, ternyata online, jangan bilang itu laki kamu," ledek Jana.
"Yah … biasa, suamiku terlalu sayang ma aku, jadi posesif gitu biasa …."
"Besok ikut reuni ya, jam 9 pagi," ajak Dinda.
"Kan aku belum daftar, emang boleh ikut?"
"Cuma satu orang, pasti bisa!" Jana meyakinkan.
"Oh oke, kalau boleh aku ikut, aku menginap di hotel." Syafi menyebutkan nama hotel tempat dia menginap.
"Laki kamu masih di hotel?" tanya Dinda.
"Aku pulang sendiri."
"Kamu cerai?" Tanya Jana.
"Idih …." Syafi bingung menjawab apa.
"Lah kan jodoh itu cuma titipan, bukan sebuah keabadian, kalau nggak diambil Tuhan, ya diambil pelakor!" Gerutu Jana.
"Aku baik-baik aja, pulang cuma karena kangen kampung halaman."
Syafi dan kedua temannya terus berbincang sambil menikmati makan malam mereka. Besok pagi mereka sepakat akan bertemu lagi saat acara Reuni kampus Syafi.
***
Matahari mulai menyinari kota seribu sungai itu, Syafi terlihat begitu rapi, setelah sarapan pagi, Syafi langsung menuju sebuah cafe tempat acara Reuni berlangsung.
Pagi yang cerah, hawa panas mulai terasa, tapi tidak sepanas hati Syafi, karena melihat cctv berjalan yang terus memantau pergerakan dirinya. Syafi mengumpulkan tenaganya, dia tidak mau paginya menjadi kacau jika melabrak kaum cctv yang mengawasinya.
Seperti janjinya, dia bertemu dengan dua temannya di depan cafe lebih awal, supaya punya banyak waktu untuk berkumpul.
Di luar dugaan Syafi, ternyata sudah banyak teman-teman kuliahnya di sana.
"Miss dangdut datang gaes …."
Seketika keadaan heboh.
Mereka semua saling melepas rindu, dan menanyakan kabar masing-masing.
"Ini reuni kita gaes, nggak sah kalau miss dangdut nggak nyanyi buat kita!" Teriak Dinda.
"Hilih kalian itu, dulu aja kalian pada syukuran kalau aku nggak mau nyanyi," protes Syafi.
"Lah dulu kita bosen, tiap menit dengar suara kamu nyanyi."
"Kalau sekarang kita malah kangen suara kamu Fiy."
Bertemu dengan teman-teman kuliahnya sesaat Syafi lupa akan lukanya, namun luka itu kembali berdenyut, saat melihat cctv itu mengikutinya sampai di tempat ini.
__ADS_1