
Dirga masih berkutat dengan tumpukkan berkas. Suara deringan ponsel membuat Dirga harus berhenti memandangi kertas yang dia teliti. “Iya ….” sahutnya. Matanya masih fokus memandangi kertas yang dia pegang.
“Bersiaplah, kita akan makan siang di luar,” perintah di ujung telepon itu.
Melepaskan kertas yang dia pegang, kini jemarinya menari pada keayboard laptopnya, memeriksa jadwal Sam siang ini, kedua alisnya tertaut, tidak ada jadwal rapat atau pertemuan di luar hari ini. “Maaf Tuan, tapi hari ini kita tidak ada pertemuan dengan klien ataupun rapat.”
Terdengar hembusan napas yang begitu kasar di ujung telepon sana. “Memang tidak ada pekerjaan kantor, tapi pekerjaan hati! Itu Resa dan Syafi menunggu kita di Restoran. Kita makan siang bersama.”
Seketika semangat Dirga meledak. “Baik Tuan, saya akan segera menemui Tuan.” Langsung membereskan semua berkas penting menyimpannya di tempat aman. Merasa tugasnya selesai, Dirga segera berlari menuju ruangan Sam. Belum sampai di ruangan Sam, terlihat Sam baru keluar dari ruangannya, saling melempar senyum, keduanya segera melangkahkan kaki meninggalkan lantai ini menuju parkiran.
Sam dan Dirga hanya menggunakan satu mobil, mobil Dirga menjadi pilihan keduanya. Perjalanan menuju Restoran tujuan mereka sangat lancar, hingga sampai tepat waktu. Sesampai di tempat tujuan mereka, keduanya sangat semangat melangkahkan kaki memasuki Restoran itu. Tempat khusus untuk keluarga Sam selalu tersedia di sana. Terlihat dari kejauhan seorang gadis mengenakan kerudung pashmina sederhana tengah asyik memandang kearah dua anak laki-laki yang asyik bermain. Gavin dan Gilang, hanya itu yang membuat Syafi tertarik.
Melihat dari kejauhan akan kedatangan Sam dan Dirga, Resa segera izin pada Resa, ada hal yang ingin dia sampaikan. Resa segera memacu Langkah kakinya menghampiri dua laki-laki yang berjalan kearahnya. Syafi belum menyadari kehadiran Sam dan Dirga, dia kembali larut dalam lamunan kosongnya.
Sam dan Dirga menahan langkahnya. Dari kejauan Resa setengah berlari melangkah kearahnya.
“Sayang ….” Ciuman lembut dari Resa mendarat di pipi kanan dan kiri Sam, tanpa memikirkan perasaan laki-laki yang berdiri di samping Sam.
“Ada apa?” tanya Sam.
“Syafi ….” Resa meng-isyarat dengan Gerakan bola matanya kearah Syafi. ”Yang bisa membuat dia lepas, hanya anak-anak.”
“Ayo Dirga, cepat cetak kecebongmu, biar ada yang membuat istrimu semang— aaaakkk!” Sam tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Seketika teriakan kecil lolos dari mulut Sam, saat cubitan dari tangan Resa mengenai bagian pinggangnya.
“Serius!” pinta Resa.
“Iya sayang.” Sam langsung diam. Istrinya memang manis, tapi jika lirikan maut itu tertuju padanya, seketika Sam diam dan patuh.
“Jangan membimbing Dirga pada 'hal yang keliru, jangankan mendekati Syafi, mengajak Syafi bicara saja, Dirga pasti tidak bisa.” Resa sekilas melirik kearah Syafi. “Saat aku hanya berdua dengannya, dia hanya diam. Bagai robot yang hanya bicara jika diajak bicara, sisanya dia selalu diam.” Banyak hal yang ingin Resa sampaikan, tapi tidak tau memulainya darimana.
__ADS_1
“Apa kau punya solusi untuk Syafi?” Sam bisa menangkap sesuatu dari raut wajah istrinya.
“Seperti yang aku bilang barusan, hanya anak-anak. Dunia anak-anak membuat sisi keceriaan Syafi terlihat. Dia banyak bicara pada Gavin dan Gilang, setelah anak-anak pergi, Syafi juga diam.” Resa mengetik pesan di ponselnya, dia mengirim perintah pada salah satu pengasuhnya lewat pesan. Terlihat di arah sana, kedua babysitter itu membawa Gavin dan Gilang mendekati Syafi. Terlihat wajah yang sedari datar yang hanya memandangi layar handphone-nya, seketika mengukir senyuman saat Gavin dan Gilang mendekatinya.
“Lihat, dia terlihat ceria jika bersama anak-anak.” Ketiga pasang mata itu kompak memandang kearah Syafi. Benar saja, senyuman selalu menghiasi wajah Syafi, saat dia ber interaksi dengan Gavin dan Gilang.
“Terus, kita harus bagaimana sayang?” Sam mengaitkan tangannya di pinggang Resa, menariknya agar tubuh istrinya menempel di badannya.
“Memancing keceriaan Syafi dengan anak-anak.” Resa memandang kearah Dirga. “Dirga, Pendidikan terakhir Syafi, apa?” Pertanyaan Resa membuat Dirga harus berhenti mengagumi senyuman seorang gadis yang asyik bercanda dengan Gavin dan Gilang.
“Setau aku S1, seingatku paman pernah cerita kalau Syafi kuliah. Jurusan apa, aku tidak bertanya.” Dirga Kembali mengalihkan pandangan matanya kearah Syafi.
“Kalau begitu nanti kita tanya dia, kalau jurusan yang dia ambil bisa menjadi Guru TK, kirim lamaran dia ke Sekolahan Gavin dan Gilang. Setidaknya ada pemancing agar dia ceria, bukan hanya murung dan melamun terus menerus,” usul Resa.
“Wah … istriku ….” Sam mendaratkan ciuman lembut di pucuk kepala Resa, kagum dengan ide istrinya.
“Ayok, kita ke sana, kita makan siang sama-sama. Ingat ya Dirga, makan siang!" Ucapan Resa penuh dengan nada penekanan. "Makanannya dimakan, bukan hanya memandangi Syafi saat di sana,” sindir Resa.
“Ayo bocah pencinta dalam diam, ayok kita dekati bidadari sorgamu itu.” Sam menepuk punggung Dirga.
Mereka bertiga segera menyusul Syafi. Sesampai di meja makan, mereka hanya saling lempar senyum. Langsung menikmati makan siang yang sudah tersedia. Pemandangan yang begitu indah, sangat sayang untuk di lewatkan
begitu saja. Resa meraih handphone-nya, segera mengabadikan momen ini bersama suaminya, kadang menjepret mengabadikan kelakuan kedua puteranya. Resa mengarahkan mata kamera handphone-nya kearah Dirga dan Syafi, mengambil foto dua orang itu, tanpa mereka sadari. Resa tersenyum melihat hasil tangkapan kameranya.
Resa teringat akan pembicaraannya dengan Sam dan Dirga sebelumnya. “Fiy, di sekolahan Gavin dan Gilang butuh guru, Pendidikan terakhir kamu apa? ‘Kan kalau kamu bisa mengajar di sana, kita jadi sering ketemu. Jangan Cuma suami kita aja yang sahabatan, kita juga dong, jangan kalah sama lak-laki,” ucap Resa.
Apa yang Syafi bisa? Hanya tersenyum. Syafi mulai menjelaskan jurusan apa yang dia ambil. Resa sangat antusias mendengari cerita Syafi.
“Mantap! Kamu lebih baik jadi guru TK di sekolahan Gavin dan Gilang. Mau ya ….” Resa memohon.
__ADS_1
Syafi menoleh kearah Dirga, meminta pendapat laki-laki yang bertanggung jawab penuh atas dirinya. “Aku tidak memaksa kamu, aku juga tidak melarang. Lakukan apa yang kamu mau, ingat jangan anggap hubungan kita ini beban. Saat ini ... anggap saja aku sebagai kakakmu, kedepannya bagaimana, itu urusan nanti.” Jawaban yang Dirga beri membuat Syafi lega.
“Iya, saya mau jadi guru TK,” jawab Syafi.
Resa sangat Bahagia, saatnya Menyusun rencana untuk Dirga agar bisa mendekati wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
****
Flash back Syafi.
Sesampai di Restoran Syafi bingung harus apa, kedua anak laki-laki yang imut itu asyik bermain dengan pengasuh mereka, hanya dia dan Resa yang duduk di tempat ini. Resa izin pergi pada Syafi, Syafi hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Resa pergi, Syafi meraih handphone-nya.
Sejak menjejakkan kaki di wilayah yang baru, dia sangat merindukan Mayfa. Syafi menekan nomer telepon Mayfa, bukan suara temannya yang dia dengar, melainkan suara operator yang mengatakan ’Nomer yang Anda tuju tidak aktif, Syafi tidak putus asa, dia terus menekan nomer telepon yang sama. Tetap saja jawaban operator yang menjawabnya. Syafi mengetikkan pesan di ponselnya.
Woyyy … kamu nggak kangen sama Syafi yang imut dan manis?
Sayang hanya conteng satu pesan yang dia kirimkan di aplikasi hijau itu.
“Ya Tuhan, aku sangat rindu Mayfa, bisakah aku bertemu dengan dia lagi?” gerutunya.
“Aunty Fiy ….” Teriakkkan dua anak kecil itu berhasil membuyarkan kesedihan Syafi yang sangat merindukan temannya. Syafi segera menyimpan handphone-nya, menyambut dua anak gagah itu untuk bercanda. Bersama
anak-anak, Syafi lupa akan kesedihannya. Mereka terus bercanda, hingga candaan mereka terhenti, saat kedatangan Sam, Resa, dan Dirga. Seketika keadaan canggung lagi.
“Wah … pesanan kita sudah lengkap, ayok kita makan siang dulu ….” Ucapan Resa memecah kecanggungan yang ada, mereka langsung meraih makanan mereka masing-masing. Termasuk dua babysitter dan sopir.
Syafi memandangi ketiga pekerja itu, mereka makan dengan lahap. Pandangannya tertuju pada Sam dan Resa, seketika air matanya lolos begitu saja hingga membasahi pipinya. Membayangkan bagaimana perlakuan lembut keluarga Ozage pada Paman dan bibinya di masa lalu. Hanya cerita indah yang pamannya bagi setiap kali bertemu dengannya, tentang keluarga Ozage. Melihat perlakuan Sam dan Resa pada pekerja mereka, seakan Syafi melihat perlakuan baik keluarga itu pada paman dan bibinya dulu. Syafi segera menghapus air matanya, sebelum orang-orang menyadarinya.
Flash back off
__ADS_1
***