Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 100


__ADS_3

Ayah Sean keluar dari mansion miliknya. ia segera masuk dalam mobil. dan Alex segera melajukan mobilnya.


"Kita ke kantor, tuan?.", tanyanya.


"Ya.", jawab ayah Sean, singkat. Alex segera melajukan mobilnya, tanpa banyak bicara lagi. ia tahu, tuannya sedang banyak pikiran. tugasnya, hanya terus berada di samping tuannya, dan tidak lupa untuk mengingatkan agar sang majikan tidak lupa, meminum vitaminnya.


Neysa baru saja selesai mandi dan berganti baju. ia nampak sedang duduk di ranjang ayahnya. dan Sean nampak sedang menyisir rambut panjang putrinya. kabar baiknya, pagi ini infus sudah di lepas dari keduanya. hanya saja, mereka belum di izinkan pulang, dan masih dalam pemantauan dokter, kurang lebih 10-28 hari ke depan.


Belum boleh, keluar dari rumah sakit karena, pada masa itu tubuh Sean dan Neysa masih rentan terkena virus dan penyakit.


"Tolong di ikat ya, ayah?. Neysa, gerah.", pintanya. Sean yang belum pernah mengikat rambut putrinya itupun, sedikit bingung. berulang kali, ia melepas ikatan rambut putrinya, karena terlihat tidak bagus. hingga Neysa bertopang dagu, karena lelah menunggu hasilnya.


"Nona?!.", panggil John penuh tanya karena melihat nona nya cemberut, dan bertopang dagu.


"Paman. bisakah paman mengikat rambut?!.",


"Sudah setengah jam lebih, ayah berusaha mengikat rambutku. dan, belum berhasil.", ujarnya.


"John, bisakah kau membantuku?.", tanya Sean, ia juga nampak sedikit frustasi, karena sedari tadi tidak berhasil mengikat rambut putrinya.


John mendekat. ia mengambil sisir, dan mencoba menyisir serta mengikat rambut nona muda nya. mungkin, karena anak John adalah seorang pria, ia pun gagal memenuhi permintaan majikannya.


"Sudah, sudah.", ujar Neysa, sembari menggelengkan kepalanya ke kanan - kiri, yang membuat rambutnya semakin berantakan. ia kesal karena kedua pria di sampingnya tidak bisa mengikat rambutnya. ia nampak cemberut dan menopang dagunya sebal.


"Tok...",


"Tok...",


Pintu terbuka, nampak Ellyana dan David masuk untuk menjenguk keponakan dan iparnya.


"Selamat pagi.", sapa Ellyana. begitu masuk, ia melihat keponakannya cemberut.


"Aih, apa ini?!.",


"Aunty, baru datang dan melihat keponakan aunty cemberut?!.",


"Ayo!, kenapa?. katakan pada aunty, Ney kenapa?.", tanya aunty nya. gadis itu, menghela nafas panjang.


"Aunty, lihat rambutku?.",


"Pasti sekarang, tampilan ku seperti singa.", ujarnya kesal.


"Aku meminta ayah, untuk mengikat rambutku. tapi, apa yang terjadi?!.",

__ADS_1


"Ayah dan paman John hanya bisa mengolak-alik rambutku. dan ini hasil akhirnya.", kesalnya. Ellyana melirik pada Sean, dia hanya tersenyum canggung, sementara John tertunduk karena takut pada ibu angkat nona mudanya ini.


"Sini, biar aunty yang ikat.", bujuknya. Neysa menggeser duduknya. ia mendekat pada Ellyana, dan Ellyana segera menyisir rambut keponakannya lagi.


"Mau diikat satu atau dua?.", tanya Ellyana, saat bersiap mengikat rambut Neysa.


"Terserah, aunty. Ney hanya sering merasa gerah akhir-akhir ini, kalau rambut enggak gak di ikat.", jawab Neysa. tanpa banyak bicara lagi, Ellyana segera mengikat rambut Neysa.


"Selesai.", ucap Ellyana riang.


"Apa sudah sarapan?. aunty membawa sarapan untuk semuanya.",


"Ayo, sarapan bersama dulu.", ajaknya. ya, David sudah menyiapkan semua makanan di meja, di bantu oleh John yang ketakutan melihat ibu angkat Neysa, tadi.


"Ayo!. semua sudah siap.", timpal David. Neysa segera turun di bantu oleh aunty nya, ia segera berlari menuju ke sofa untuk menikmati sarapan bersama. begitu juga dengan Sean.


......................


"Aunty, dan uncle kerja dulu ya?.", ucap Ellyana, saat akan pergi. Neysa mengangguk.


"Kaka, cepat sembuh ya?!. biar bisa main-main lagi sama adik Kai.", imbuh David.


"Apa adik Kai, sudah semakin gemuk?.", tanya Neysa.


Ellyana memperlihatkannya layar ponsel yang menampilkan video Kai tengah mengoceh, dan memainkan air liurnya. ia menyemburnya kemana-mana. Neysa mengambil ponsel itu, untuk melihat lebih jelas. dia tersenyum melihat adiknya semakin gendut dan menggemaskan.


"Cepat sehat, bro.", ujar David sembari menepuk pundak Sean. Sean tersenyum dan mengangguk.


Akhirnya, mereka pun pergi untuk bekerja di kantornya masing-masing.


Jam makan siang datang. seperti biasa, ibu mertuanya datang bersama asistennya. ia membawakan camilan untuk cucu dan menantunya.


Ia mengintip pintu kamar rawat Neysa dan Sean karena, perawat bilang mereka sedang tidur siang.


alhasil, ibu Cellya pun hanya duduk di sofa sembari mengerjakan pekerjaan kantornya, dengan asisten Han.


Pintu terbuka, nampak wajah yang tidak asing memasuki ruang rawat cucu dan menantunya. ibu Cellya segera berdiri. ia siap berjaga - jaga jika ada keributan yang terjadi.


"Selamat siang, besan.", sapa ibu Sean, yang baru saja masuk dan melihat cucu serta putranya tidur terlelap dalam satu ranjang. ia membungkuk hormat bertemu besannya. ibu Cellya membalasnya, begitu juga dengan asisten Han.


"Aku, ingin melihat kondisi cucuku.", ucapnya. ibu Cellya mengangguk.


"Mereka sedang tidur. tunggulah sebentar, bersama kami.", jawab ibu Cellya. ibu Sean mengangguk. ia segera ikut duduk bersebelahan dengan besannya.

__ADS_1


Ibu Cellya memberi isyarat pada asistennya, untuk pergi meninggalkan mereka berdua. ada yang ingin ia bicarakan dengan besannya.


Asisten Han yang paham, mengangguk. dan, pamit pergi untuk membawa pekerjaannya keluar. asisten Han, menutup pintu kamar rawat Neysa, dan memilih untuk bekerja di kantin rumah sakit, sembari memesan makan siangnya.


Suasana hening untuk sesaat. ibu Sean tidak tahu harus mengatakan apa pada besannya, setelah kejadian kemarin.


"Besan....", ucap mereka bersamaan. membuat mereka terdiam seketika.


"Ah, besan duluan saja.", ucap ibu Sean.


"Tidak. besan saja, dulu.", ujar ibu Cellya. ibu Sean nampak menghela nafas dalam, sebelum berucap.


"Besan, aku minta maaf atas kejadian kemarin.",


"Aku sudah kelewat batas, dan keterlaluan.", ucapnya, merasa bersalah. ibu Cellya tersenyum. ia mengusap paha besannya, sekilas.


"Aku yang harus minta maaf. mungkin, tindakanku kemarin, membuat besan sedih, dan terluka.", ujarnya. ibu Sean tersenyum lega, mendengarnya.


"Terimakasih. aku merasa lega.", ucap ibu Sean.


"Aku harap, hubungan kita yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya, tidak terpengaruhi oleh apapun.", sambungnya. ibu Cellya hanya tersenyum.


Lagi-lagi suasana menjadi hening. helaan nafas ibu Cellya bahkan bisa terdengar oleh ibu Sean.


"Besan. jika nanti mereka bangun, dan besan tidak ingin bertemu dengan Sean. aku akan membawanya pergi ke taman. jadi, besan bisa leluasa melepas rindu dengan Neysa.", ucap ibu Cellya. matanya, tak lepas dari kedua sosok yang tengah terlelap bersama.


Ada rasa sakit, saat ia mendengar besannya mengatakan hal itu. tapi, memang ia sudah jahat dan tega selama ini, dengan putra kandungnya.


"Tapi, coba lihat!.",


"Pemandangan langka dan indah seperti ini. sudah lama, di inginkan oleh cucuku.",


"Aku Pun, juga sangat ingin melihat momen ayah dan anak seperti ini.", ujar ibu Cellya. ia berusaha mati-matian menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Beberapa hari ini. Neysa sangat bahagia bisa dekat dan melakukan banyak hal bersama ayahnya.",


"Ia bercerita banyak hal tentang dirinya.",


"Mereka tertawa bersama, makan bersama, dan bahkan tidur pun tidak mau dipisahkan.",


"Sean, belajar merawat putrinya. menyisir dan mengikat rambutnya, serta menemani putrinya bermain, agar Neysa tidak jenuh dan merengek meminta untuk pulang. karena mereka masih dalam perawatan dan pantauan dokter selama 28hari ke depan.",


"Jika kau melihat kedekatan mereka. mungkin, kau tidak akan tega menjauhkan mereka lagi.", ucap ibu Cellya, menceritakan kedekatan Neysa dan ayahnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2