Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 63


__ADS_3

"Maaf, momy baru bisa datang.", ucapnya lirih, menahan sakit.


Rasa bahagia, haru, bersyukur dan bangga bercampur menjadi satu. membuat ia tak kuasa menahan air matanya.


Sean hanya mengusap punggung istrinya, agar Cellya lebih tenang sehingga tidak berpengaruh pada bekas jahitan operasi nya.


"Jangan menangis.", ucap Sean, saat mulai melihat istrinya terisak.


"Kontrol emosi, by. menangis seperti ini tidak baik untuk jahitan mu.",


"Dan lagi, kau bisa membangunkan baby.",


"Dia tertidur, pasti karena lelah sedari tadi bermain bersama Oma, nenek serta kakeknya.", ujar Sean, mencoba menenangkan istrinya.


Cellya mengatur nafas, dan berusaha menenangkan diri serta mengontrol emosi nya. ia baru saja di izinkan keluar dari kamar rawatnya. jadi, ia tidak ingin secepatnya kembali dengan alasan untuk istirahat. ia masih ingin disini menemani putri kecilnya.


Cellya meraih tangan Sean yang sedari tadi mengusap punggung dan bahunya. membuat pria itu kini berjongkok di samping kursi roda nya.


"Dia sangat imut dan cantik.", ucap Cellya.


"Dia cantik seperti ibunya.", sahut Sean. Cellya tersenyum.


"Tapi hidung dan bibirnya, itu milik mu by.", ujarnya. Sean tersenyum.


"Ya, tapi pasti dia sebaik dan secantik ibunya.", ujar Sean.


Mereka mengamati putrinya yang masih berada di inkubator itu. nampak bayi itu tertidur lelap. sesekali ia nampak menggeliat ataupun menguap. benar-benar lucu dan menggemaskan.


Cellya nampak mengulurkan tangannya dari lubang yang berada di inkubator itu. ia menyentuh tangan mungil milik putrinya. membuat baby kecil itu merespon dengan menggeliat kan tubuhnya.


"Hai, baby. ayah datang lagi kesini, kali ini bersama momy.", ucap Sean.


"Apa baby masih lelah?!. masih ngantuk?!.",


"Coba buka mata. ada, momy disini. baby tidak mau lihat momy?!.", ujarnya lagi. sementara Cellya masih terus memainkan tangan mungil putrinya.


Baby nampak menggeliat dan membuka matanya perlahan. membuat Cellya tersenyum sumringah.


"By, dia bangun.", ujar Cellya, spontan. membuat Sean tersenyum melihat reaksi istrinya.

__ADS_1


Dengan mata yang nampak berat, malas dan ngantuk itu. baby butter mencoba merespon. seolah-olah ia tahu ibu dan ayahnya ingin mengajak nya mengobrol.


Cellya tidak melepaskan senyuman dari bibirnya. ia begitu takjub dengan baby mungilnya.


Ya, baby yang ia pertahankan mati-matian. kini, telah lahir dengan selamat meskipun dalam keadaan prematur.


"Matanya, indah. seperti milikmu, by.", ujar Sean. Cellya masih tetap tersenyum menatap baby nya. tangannya masih terus bermain, memberi respon pada sang baby.


"Neysa.", ucap Cellya tiba-tiba. ia terus menatap baby kecilnya.


"Apa, by?!.", tanya Sean. ia ingin Cellya mengulang ucapan nya, karena tidak terlalu mendengar ucapan istrinya.


"Namanya Neysa.", ujar Cellya.


"Neysa?!.", ucap Sean, mengulang dan meyakinkan. Cellya mengangguk.


Sean memandang putrinya, bahagia. "Neysa Xavier Kamasean.", ujar Sean, memberi nama lengkap pada putri mereka. Cellya tersenyum mendengar nya.


Tiba-tiba pandangan Cellya kabur, ia merasa sedikit pusing. darah segar keluar menetes dari hidungnya. dan Sean baru menyadari saat istrinya terlihat semakin melemah hingga Cellya menyandarkan kepalanya pada inkubator baby mereka.


"By?!.", panggilnya, khawatir. Sean segera menarik tangan Cellya yang masih menggenggam tangan putrinya.


Terdengar tangis baby Neysa memenuhi ruangan saat ayah nya membawa ibunya menjauh. mungkin, bayi kecil itu merasakan ke khawatiran yang sama dengan sang ayah.


......................


Dokter dan beberapa perawat berlarian ke kamar rawat Cellya untuk memeriksa, sementara semua anggota keluarga menunggu di luar, begitu juga dengan Sean.


Ya, mereka panik dan khawatir mengingat, Cellya masih tertawa dan sangat bahagia beberapa jam yang lalu, saat melihat putrinya.


Harapan dan doa, tak henti-hentinya mereka ucapkan, mereka panjatkan. tak ada permintaan lain, kecuali anak menantunya itu selamat dan segera sembuh, sehingga mereka bisa berkumpul kembali.


Setelah 30 menit lebih, dokter Jeno keluar menemui Sean dan keluarga nya.


"Operasi akan segera di lakukan, saat ini juga.",


"Kita tidak bisa menunggu lagi. kondisi nona semakin menurun.",


"Apalagi kanker laring tidak hanya merusak saluran pernapasan, tapi juga merusak anggota tubuh yang lain, di sekitar saluran pernapasan itu sendiri.", ujarnya, menjelaskan.

__ADS_1


"Kami akan melakukan operasi itu bersama-sama. jadi akan melibatkan banyak dokter. kami harap, tindakan ini bisa menyelamatkan nyonya.", sambungnya.


"Lakukan apapun yang bisa menyelamatkan putriku.", ujar ibu Cellya.


"Tolong pastikan dia selamat. kami tidak akan melupakan jasa anda.", sahut ibu Sean yang juga tidak kalah cemas.


"Tolong usahakan semaksimal mungkin.", ucap ayah Sean.


"Kami akan berusaha. mohon bantuan doanya.", ujar dokter Jeno.


"Tuan. mari ikut saya, untuk menandatangani beberapa berkas dan surat pernyataan.", ajak dokter Jeno pada Sean.


Ia mengangguk, dan segera mengikuti dokter Jeno ke ruangan nya.


Ibu Cellya dan kedua orang tua Sean segera memasuki ruangan putrinya. mereka ingin melihat keadaan Cellya.


"Sayang, bertahan lah!. kami semua disini menunggumu.", bisik ibu Cellya, di telinga putrinya.


"Kau harus semangat, nak!. ingat, putri kalian.", sahut ibu Sean, sembari mengusap punggung dan bahu besannya, untuk menenangkan.


"Sebentar lagi, dokter akan melakukan operasi. jadi tolong jangan menyerah.", pinta ibunya. suaranya benar-benar pilu menahan sesak.


"Kau adalah wanita hebat. kau memberiku cucu yang cantik. kalian bahkan bisa melewati masa-masa sulit saat kehamilan. pasti sekarang, hanya melewati ini bukanlah hal yang sulit bagimu. apalagi, sekarang bukan hanya kami yang menunggu mu, tapi juga ada putrimu. jadi, kau harus bertahan.", ujar ayah Sean, yang berdiri di sisi lain ranjang Cellya.


Sean sudah kembali setelah menyelesaikan beberapa prosedur untuk operasi istrinya. semua nampak memberikan ruang, agar ia bisa duduk dan mendekat pada Cellya.


Wajahnya nampak kacau. ia tidak bisa menyembunyikan rasa cemas dan khawatir dalam hatinya. semakin kacau karena kini, istrinya menggunakan oksigen untuk bernafas.


Di raihnya tangan Cellya. ia mengecup dan menempelkan tangan lembut istrinya di pipinya. tatapan matanya, fokus pada wajah pucat yang terbaring lemah di ranjang itu.


Pikiran nya kalut, sehingga tidak ingin menjauh sedikit pun dari istrinya. berulang kali, ia melakukan hal itu. mengecup tangan Cellya.


Hingga akhirnya, mata indah itu terbuka. "By.", panggilnya, lemah. membuat Sean beranjak dari duduknya, dan beralih duduk di tepi ranjang.


"Apa ada yang tidak nyaman?.", tanya Sean. membuat semua orang menyadari bahwa Cellya telah siuman, sehingga mereka segera mendekat untuk melihat keadaan Cellya.


"Sayang, ada yang sakit?. mau mama panggilkan dokter?!.", tanya ibu Cellya.


"Iya. biar Dady mu yang memanggilnya.", ujar ibu Sean. ayah Sean mengangguk, mengiyakan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2