Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 108


__ADS_3

Hari ini, mereka merayakan natal dengan hangatnya keluarga dan sukacita. dan jangan lupakan tentang bertukar kado dan angpao yang di bagi-bagikan pada seluruh anggota keluarga.


Semua anggota keluarga dan juga di tambah keluarga John berkumpul untuk menikmati hidangan. sesekali, mereka nampak bersenda gurau.


Sementara Sean dan Neysa, hanya bisa melihat kelucuannya dan kekompakan serta kebersamaan keluarga ini dari tempat tidur. sesekali, nampak Neysa sumringah menatap sang ayah dengan senyum manisnya, dan Sean pun membalasnya.


Mereka semua yang datang nampak berbaris, bersiap menerima angpao dan kado dari ayah, ibu Sean dan ibu Cellya. Kai, yang masih baby juga mendapatkan angpao dan kado, tentunya.


Hari menjelang siang. kebersamaan itu, harus berakhir saat semua orang satu-persatu pamit pulang, untuk berkunjung ke sanak saudara masing-masing. hanya John sekeluarga yang tersisa.


"Semoga lekas sehat, nona.", ucap bocah lelaki itu, penuh harap.


"Terimakasih.", jawab Neysa, dengan senyum manisnya.


"Tuan, selama libur natal dan tahun baru. saya, harap anda bisa menjaga kesehatan anda sendiri.",


"Karena, saya tidak bisa selalu disisi tuan, saat ini.", ujar John, Sean tersenyum dan mengangguk. ia menepuk pundak John, agar pria itu tidak perlu mengkhawatirkannya.


"Paman tenang saja. aku, yang akan menjaga ayah. jadi, paman, bibi, dan Reynold bisa liburan dan berkunjung ke sanak saudara dengan tenang.", ucap Neysa lembut. membuat istri Reynold tersenyum dan sedikit merendahkan tubuhnya, agar wajahnya sejajar dengan Neysa.


"Terimakasih, nona.", ucap istri John. Neysa tersenyum manis.


"Nona, anak yang manis dan cerdas. sama, seperti....", kata-katanya terhenti, karena menyadari satu hal. ia takut apa yang di ucapkannya, menyakiti hati putri majikan suaminya.


"Seperti momy?!.", sahut Neysa, saat melihat istri John berhenti bicara. perlahan istri John mengangguk.


Di luar bayangan, putri manis Sean itu tersenyum sumringah dan bersorak senang, walau masih berada di ranjangnya. membuat semu orang menatapnya heran.


"Yes!!.", ujarnya bersemangat. ia kembali duduk, sang ayah segera mendekat. mengecek apakah ada darah yang keluar dari infus putrinya, saat Neysa baru saja banyak bergerak.


"Kenapa, baby melakukan itu?!.",


"Infusnya bisa rembes, sayang.", ujarnya khawatir. namun, putrinya hanya tersenyum manis.


"Kenapa?!, coba jawab!.", tanya Sean pada putrinya.


"Ayah, baru kali ini ada yang bilang kalau aku mirip, momy.", ujarnya, masih dengan mata yang berbinar.


"Memangnya, biasanya orang-orang bilang bagaimana?.", selidik Sean.


"Biasanya, orang-orang bilang aku mirip ayah.", jelasnya.


"Baby, tidak senang mirip dengan ayah?.", Sean, menyelidik.

__ADS_1


"No, ayah. Ney, senang. hanya Ney, ingin sekali ada yang bilang kalau Ney, cantik mirip seperti momy.", ujarnya, menjelaskan. Sean tersenyum tipis. ia mengusap pipi putih putrinya.


"Mata Ney, mirip momy.", ucapnya.


"Mata momy, juga bulat seperti mata Bemby. lucu, dan menggemaskan.", ujarnya, di akhiri sedikit cubitan di pipi putih bakpao itu. Neysa tersenyum manis.


Istri John merasa lega, saat ia tahu bahwa ucapannya tidak menyinggung dan membuat Neysa sedih. mereka pun segera berpamitan dan pulang.


"Ayo, baby. waktunya tidur siang.", ajak ayahnya, saat kamar sudah sepi.


"Apakah ayah akan menemaniku?.", tanyanya. mata itu membulat, membuat Sean tidak bisa menolak permintaan putrinya.


"Ok. ayah, akan menemani bayi besar ayah.", ujarnya, sembari naik keranjang dan merebahkan tubuhnya, lalu memeluk putrinya.


"Aku bukan bayi besar, ayah.", rengeknya.


"Benarkah?!.", tanya Sean dengan nada tidak percaya.


"Benar. aku bukan bayi besar.", kesalnya.


"Kalau bukan bayi besar. kenapa tidurnya minta ditemani?.", tanya Sean, yang masih memeluk putrinya.


"Aku princess.", ujarnya setelah diam beberapa saat.


......................


Mereka nampak berbaring di ranjang, sembari masih mengobrol karena Neysa belum juga tidur.


"Ternyata benar kata momy, ayah kalau tersenyum lebar gummy smile nya terlihat, sampai mata ayah menyipit.", ucapnya. Sean terdiam sejenak, mendengar ucapan putrinya.


"Kapan momy bilang?.", tanya Sean.


"Momy, sering datang mengunjungi ku. ayah, saja yang tidak tahu.", jawabnya. Sean, menatap putrinya yang masih asyik bercerita sembari berbaring terlentang.


Gadis kecil itu menceritakan bahwa, ibunya sering datang menemuinya di alam mimpi. ibunya, sering mengingatkan untuk menjaga ayahnya dan sering untuk menghiburnya.


"Benarkah?.", tanya Sean, tidak percaya.


"Iya. itu sebabnya, aku berusaha menyempatkan diri membuat sarapan untuk ayah, dan menitipkan nya pada paman John.", jelasnya.


"Itu karena pesan dari momy?. bukan, karena baby sayang ayah?", tanya Sean.


"Ahh, tentu karena Ney sayang ayah, juga.", jawabnya, kesal. Sean gemas, dengan ucapan putrinya. ia pun mencium pipi bakpao itu, hingga merah.

__ADS_1


"Ahh, ayah!.", Sean baru berhenti saat Neysa merasa kesal dengan tingkah ayahnya. Sean tertawa melihat bibir manyun putrinya.


"Itu adalah, ungkapan sayang ayah pada princess, ayah.", ujarnya, menjelaskan. Neysa, melirik ayahnya kesal dengan mata bemby nya.


"Ayah, minta maaf.", ucap Sean. tapi, Neysa tidak berkutik.


"Cepat tidur!.", ujar Neysa, dengan nada kesal dan pipi mengembungnya. membuat Sean, menurut karena tidak ingin putrinya, lebih marah lagi.


'Cup' tiba-tiba putrinya mencium pipi Sean. membuat pria itu diam ditempatnya.


"Ney, sayang ayah.",


"Janji, jangan pergi tinggalkan Ney lagi, ya?!.", pintanya, sembari memeluk ayahnya yang berbaring di sampingnya. Sean menoleh dan tersenyum pada putrinya.


"Janji.", jawab Sean, yakin. membuat gadis kecil itu tersenyum manis.


"Ayah, kapan Ney bisa keluar dari rumah sakit?!.", tanyanya.


"Saat, baby sudah membaik. baby, akan segera keluar dari rumah sakit.",


"Memangnya, kenapa?.", ujar Sean, balik bertanya.


"Ney, ingin mengajak ayah ke makam momy.",


"Ney, ingin ini jadi perayaan natal pertama, ayah, Ney dan momy.", jelasnya. Sean tersenyum getir, memeluk putrinya.


Sejak kejadian itu, ia tidak pernah mau datang berkunjung ke makam mendiang istrinya.


Bukan tanpa alasan. ia merasa malu, kecewa dan gagal karena tidak bisa menjaga putri mereka saat itu. meski demikian, Sean tidak lupa mengirimkan bunga kesukaan Cellya setiap harinya, lewat kurir atau John.


"Ayah, kenapa diam?.", tanya Neysa, yang tidak melihat ataupun mendengar ayahnya menyetujui idenya.


Pria itu nampak menghela nafas dalam sebelum menjawab putrinya.


"Apakah, momy tidak marah pada ayah?.", ucapnya. Neysa menggeleng di pelukan ayahnya.


"Kenapa ayah berpikir seperti itu?.",


"Justru, momy sangat ingin kita berkunjung bersama ke sana.", ujarnya. ia mengatakan hal itu dengan tenang dan lembut, seolah-olah momy nya telah mengatakan hal itu padanya. Sean, diam.


"Ini sudah saatnya istirahat. ayo!, tidur siang dulu. kita bicarakan itu lagi, nanti.", ucap Sean, mengalihkan pembicaraan. Neysa yang paham hanya mengangguk. ia bersiap memejamkan matanya. namun, tangan kecilnya tiba-tiba terulur dan merangkup kedua pipi ayahnya.


"Ayah. dari semua cerita momy, padaku. momy, paling mencintai ayah.", ujarnya, dengan tatapan mata bemby nya. ia lantas membenarkan posisinya dan bersiap tidur. Sean terdiam mendengar penuturan putrinya. namun, ia memilih memejamkan matanya dan mereka pun saling berpelukan hingga tertidur.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2