Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 54


__ADS_3

"Bukan hal besar. kita saudara, bukan?!.", ujar David. Sean mengangguk.


"Sering-seringlah menghubungi kami dan jangan sungkan melaporkan kondisinya pada kami, jika kami tidak kesini.", ucap Ellyana. sekali lagi Sean mengangguk.


Mereka menyelesaikan sarapan nya, dan segera bersiap ke kantor.


"Aku ke kantor dulu, oke?!. segeralah sehat, agar kita bisa berkumpul bersama.", pamit Ellyana, pada saudarinya yang masih tertidur. ia mengecup kening Cellya lama, sebelum akhirnya pergi bersama David.


Sepeninggal Ellyana dan David, Sean segera membersihkan diri di kamar mandi agar kepenatannya sedikit hilang. begitu keluar dari kamar mandi, Sean sudah melihat istrinya membuka mata.


"Pagi, sayang.", ucapnya, sembari mendekat pada Cellya.


"Mau makan?.", tawarnya, yang di angguki oleh istrinya.


Ya, dia harus banyak makan jika ingin segera pulih dan keluar dari rumah sakit hari ini.


"Ada yang sakit?!. mau aku panggilan dokter?!.", tanya Sean, karena istrinya hanya menjawab dengan bahasa isyarat sejak keluar dari ruang tindakan untuk biopsi.


"Aku mau makan dulu, by. setelah itu, mandi.", ucapnya lirih, yang membuat senyum Sean mengembang seketika.


"Oke.", Sean segera mengambil makanan yang sudah di siapkan perawat untuk Cellya di atas nakas.


Dengan telaten dan lembut, Sean menyuapi istrinya.


"By, hari ini boleh pulang?!.", tanya Cellya di sela suapan dari Sean.


"Kita cek dokter dulu ya, by. kalau memang bisa pulang, kita akan pulang hari ini.", jawabnya, mencoba memberi pengertian istrinya.


Cellya yang setengah duduk, menyandarkan kepalanya pada besi yang menjadi pendamping di kanan-kiri ranjang.


"Aku mau pulang, by.",


"Mau lihat kamar baby, sudah selesai belum renovasi nya?!.", ujarnya, lirih.


Sean tersenyum, mengusap surai istrinya lembut. "Iya, nanti kita pulang, ya?!.",


"Tapi, habisin dulu maem nya.", sambungnya, membujuk sang istri.


Cellya menurut. setelah sarapan, Sean membantu Cellya untuk menyeka tubuhnya, dan segera mengganti baju istrinya setelah selesai menyeka.

__ADS_1


Selanjutnya, jam kunjungan dokter dan perawat ke kamar untuk mengecek kondisi Cellya hari ini.


"Hasil biopsi keluar kapan, dok?!.", tanya Sean, di sela-sela pemeriksaan istrinya.


"Dua sampai tiga hari, dari hari tindakan.", jawab dokter. ia nampak melepaskan stetoskop yang berada di telinga nya dan membiarkan stetoskop itu tergantung di leher nya.


"Berarti, besok?!.", tanya Sean. dokter mengangguk.


"Bisa besok, atau dua hari lagi.",


"Gampang lah, kalau keluar pasti di hubungi, kan?!.", ujar dokter.


"Apakah hari ini saya boleh pulang, dok?!.", tanya Cellya, tiba-tiba. dokter nampak menghela nafas panjang.


"Boleh. tapi, sebaiknya tetap dalam pantauan dokter.", jawab dokter Jeno.


"Tapi saya pengen pulang.", ucap Cellya, lirih. dokter yang tahu bahwa Cellya bersikeras untuk pulang akhirnya mengizinkan.


Ya, menahan pasien seperti Cellya untuk terus tinggal di rumah sakit, tidak akan baik untuk kesehatan nya. apalagi, dia sedang hamil.


"Tidak apa-apa pulang. tapi, harus banyak istirahat.", ucap dokter Jeno kemudian, dengan berat hati.


Setelah dokter Jeno pergi. Sean segera mengemasi barang-barang Cellya, sesuai permintaan istrinya. tidak lupa setelah nya, ia juga ke bagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran sebelum keluar dari rumah sakit.


Sean datang dengan mendorong kursi roda yang di duduki istrinya. begitu sampai di dekat mobil, Sean segera meraih tubuh Cellya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. mereka pun, segera pulang ke mansion.


......................


Tidak lupa Sean memberi tahu semua anggota keluarga nya bahwa Cellya sudah pulang hari ini.


Ia khawatir anggota keluarganya ke rumah sakit dan tidak menjumpai mereka berdua di sana.


"Istirahat ya, by.", ucapnya, sembari membaringkan tubuh istrinya yang sedari tadi di gendong menuju kamarnya. Cellya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.


Begitu istrinya mulai tertidur, Sean segera ke ruang kerjanya. ya, untuk saat ini ia hanya bisa menghandle kantor dari rumah.


Rapat pun, bila kehadiran nya tidak terlalu penting. ia hanya akan mengikutinya dari rumah. ia tidak ingin meninggalkan Cellya di rumah sendirian, selama belum ada kejelasan tentang penyakit istrinya.


Apalagi, Cellya baru saja keluar dari rumah sakit dan keadaan nya masih lemah.

__ADS_1


Dua hari berlalu. dokter Jeno, menghubungi Sean karena hasil biopsi sudah keluar. Sean segera membuat janji dengan dokter Jeno, bahwa ia akan ke sana dengan istrinya untuk mendengarkan hasil biopsi itu.


Cellya sudah nampak segar. ia juga sudah nampak ceria sejak di izinkan pulang dua hari lalu dari rumah sakit.


Ya, mungkin memang benar. berada di lingkungan yang positif dan banyak mendukung nya, berpengaruh pada kesehatan dan semangatnya. dan untungnya, mereka memiliki keluarga yang sangat mensupport.


"Sudah siap, by?!.", tanya Sean, pada istrinya saat melihat Cellya beranjak dari meja rias. Cellya menghampiri suaminya dan mengangguk.


"Semoga hasilnya baik.", ucap Sean penuh harap, sembari meraih tangan Cellya dan mengecup nya.


"Aamiin.", sahut Cellya, dengan senyum manisnya yang membuat Sean gemas dan segera berdiri dari ranjang lalu mencium bibir istrinya sekilas. Cellya tersenyum dengan perlakuan suaminya.


Mereka bergandengan tangan keluar kamar dan menuruni tangga. hari ini Sean menyetir sendiri karena John harus membantunya mengurus perusahaan.


Lamanya perjalanan tidak terasa karena mereka terus bergurau dan mengobrol. sesekali Sean mencium tangan istrinya yang terus ia genggam sepanjang perjalanan.


"Memang supir ahli. menyetir dengan satu tangan pun, bisa selamat sampai tujuan.", ucap Cellya, ketika mobil mereka sudah terparkir di halaman rumah sakit. Sean yang mendengar itu, hanya tersenyum.


Sean membantu melepaskan seat belt istrinya, setelah melepaskan miliknya. mereka segera turun dari mobil dan memasuki rumah sakit.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di ruangan dokter Jeno. sedikit mengantri hari ini, karena saat mereka datang dokter Jeno sedang memeriksa pasien di dalam.


"Nyonya Kamasean.", panggil asisten dokter Jeno, setelah menunggu beberapa saat, dan pasien yang di dalam keluar.


Sean dan Cellya segera berdiri dari kursi dan berjalan memasuki ruangan dokter Jeno.


"Selamat pagi, dok.", sapa Sean dan Cellya bergantian. dokter Jeno tersenyum.


"Lebih segar dan sehat, nampaknya.", ujar dokter Jeno. ia senang melihat pasien nya lebih baik. Cellya tersenyum.


Dokter Jeno menerima hasil biopsi dan catatan medis Cellya, yang di berikan oleh asisten nya.


Ia membuka berkas itu, dan mengambil laporan hasil biopsi. sesaat dokter terdiam melihat hasil biopsi Cellya.


"Bagaimana, dok?!.", tanya Cellya, memecah kesunyian di ruangan itu.


Dokter memberikan hasil itu pad Sean, dan mencoba menjelaskan.


"Maksudnya?!.", tanya Sean, setelah dokter Jeno menjelaskan panjang lebar dan ia hanya menatap foto hasil MRI dan selembar kertas, yang sedari di tunjuk-tunjuk oleh dokter Jeno. ia sudah paham, sebenarnya. hanya, ingin memastikan.

__ADS_1


"Ini bukan jenis tumor biasa.", jawab dokter Jeno, lirih dengan nada penuh penyesalan.


...----------------...


__ADS_2