Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 69


__ADS_3

Sean pergi untuk membersihkan diri. sementara kedua ibunya sedang menunggu cucu mereka yang nampak tertidur pulas.


Pagi masih menunjukkan pukul tujuh pagi. tapi, kedua nenek baby Neysa sudah berada di rumah sakit untuk putra dan cucunya.


Ya, mereka tidak pernah meninggalkan Sean apalagi di saat masa-masa terpuruknya. mereka berusaha selalu ada untuk Sean dan baby Neysa sebagai bentuk dukungan, dan perhatian.


Cukup Cellya yang pergi, dan mereka sepakat untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan itu. masih ada Sean dan baby Neysa yang perlu di perhatikan dan di jaga.


Sean kembali setelah membersihkan diri dan nampak lebih segar. ia memasuki ruang rawat putrinya.


Nampak Nani, menata sarapan di meja untuk majikannya. ya, ibu Sean meminta Nani untuk melakukan hal itu. bagaimana pun juga, mereka harus saling memperhatikan kesehatan satu sama lain, agar tetap bisa menjaga dan bersama-sama merawat baby Neysa.


"Kau sudah kembali?!.", ucap ibunya. Sean hanya mengangguk dan mendekati ranjang putrinya.


"Apa dokter sudah kesini lagi?!.", tanya Sean. ibu Cellya, yang duduk di kursi samping ranjang hanya menggeleng.


"Kita sarapan dulu, sebelum dokter datang.", ajak ibu Sean, yang di setujui oleh ibu Cellya dan Sean. mereka pun segera beralih ke sofa dan melakukan sarapan bersama.


Selesai sarapan, Nani membersihkan semua sisa makanan di meja.


Tak berapa lama setelah mereka menyelesaikan sarapan nya, dokter masuk ke kamar rawat baby Neysa untuk memeriksa sekaligus memberitahu hasil lab dari sampel darah yang mereka ambil tadi.


"Bagaimana keadaan putriku?.", tanya Sean, segera menghampiri dokter Tya, saat dokter itu nampak menyelesaikan pemeriksaan nya.


Seorang perawat memberikan map berisi hasil rekam medis baby Neysa. sejenak, dokter Tya membaca hasil nya.


"Hasil lab menunjukkan adanya bakteri yang menyebabkan nona demam.", ucap dokter Tya.


"Apa itu pengaruh dari suntikan imunisasi?.", tanya ibu Cellya. dokter Tya, terdiam sejenak.


"Nona kecil, baru saja melakukan imunisasi?.", tanya dokter Tya. mereka mengangguk.


"Kami membawanya ke posyandu, karena kami pikir, dia harus mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitar, agar dia mudah bergaul dan memiliki teman sejak kecil.", ujar ibu Sean. ibu Cellya mengangguk mengiyakan.


"Ada nomor telepon bidan yang bertanggung jawab di posyandu itu?!.",

__ADS_1


"Kami akan mengkonfirmasi nya.", ucap dokter Tya. ibu Sean mengangguk dan mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim nomor telepon yang di minta dokter Tya.


"Terimakasih.", ujar dokter Tya, setelah menerima pesan dari ibu Sean.


"Nyonya sekalian, dan tuan. saya harap, untuk imunisasi di lakukan di rumah sakit tempat nona di lahirkan saja.",


"Kenapa?. karena, rekam medis nona jelas disini. jadi, tidak takut salah penanganan.",


"Apalagi, maaf. nona kecil, lahir secara prematur dan tidak mendapatkan ASI pertama yang mengandung colostrum/ kekebalan tubuh dari ibunya.",


"Penyakit apa saja, bisa dengan mudah menghampirinya.",


"Jadi, mohon untuk di perhatikan lagi.", ucap dokter Tya, ia menunduk dan memberi hormat sebelum pergi. membuat ibu Cellya dan ibu Sean, hanya diam. mereka nampak merasa bersalah pada baby.


Sean melangkah masuk. baby nya masih nampak tidur terlelap. tapi, kata dokter bukan karena dia sedang tidur seperti kebanyakan orang.


Baby tidur karena lemah, ada bakteri dan virus menyerang tubuh nya, sehingga baby mengalami demam tinggi.


......................


"Dady, loves you!.", bisiknya.


Baru saja Sean mulai bersemangat menjalani hari-harinya, setelah kepergian istri tercinta. kini, ia mulai nampak murung lagi karena putrinya tengah sakit.


Ia mengatakan pada John, untuk mengambil alih semua kerjaan kantor saat ini. ia hanya ingin fokus pada kesehatan putrinya.


Tiada waktu terlewati tanpa kehadiran nya di sisi baby Neysa. ia tidak pernah meninggalkan baby Neysa, walau sebentar saja.


Ia hanya akan meninggalkan baby nya saat tiba waktunya mandi, dan makan. untuk beristirahat, ia istirahat di sofa kamar rawat putrinya. selebihnya, ia terus duduk di kursi samping ranjang putrinya, dan hanya akan pergi saat ibu, mertua atau ayahnya menggantikannya. itupun, ia hanya akan berpindah ke sofa.


"Nona kecil, terkena sepsis.", ucap dokter Tya. wajahnya, nampak sedih, menyampaikan hal itu.


Dokter Tya baru saja masuk ke ruangan dan memeriksa baby Neysa, serta membaca hasil lab lanjutan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit.


"Apa itu?.", tanya Sean. dokter Tya, nampak menghela nafas dalam, lalu mengalungkan stetoskop nya di lehernya.

__ADS_1


"Sepsis atau keracunan darah merupakan komplikasi akibat infeksi atau luka yang berpotensi mengancam nyawa.", ucap dokter Sean. membuat semua mata tertuju padanya.


"Sepsis terjadi karena, zat kimia yang masuk ke dalam pembuluh darah untuk melawan infeksi yang memicu respon peradangan dalam tubuh.",


"Peradangan ini mampu memicu sejumlah perubahan yang dapat merusak berbagai sistem organ, bahkan menyebabkan kegagalan organ tubuh.", ujar dokter Tya, menjelaskan.


Ya, dokter telah mengatakan bahwa putrinya terkena sepsis. sepsis adalah suatu penyakit yang di sebabkan bakteri atau virus yang masuk dalam aliran darah.


Penyakit ini memerlukan pemeriksaan dan pengawasan dari beberapa ahli medis, sesuai dengan gejala dan sakit yang muncul pada bayi. Sean dan anggota keluarga lainnya hanya bisa menahan sesak mendengar hal itu.


Ini adalah hari kedua, dan baby belum juga banyak perkembangan. untuk minum, bayi sekecil itu harus menggunakan selang lagi, selain selang oksigen.


Kekhawatiran dan ketakutan jelas terlihat di mata Sean. ya, ia merasa takut kehilangan seseorang yang berharga lagi bagi dirinya, setelah mendiang istrinya.


Ia mengusap-usap rambut baby Neysa, lembut. tidak lupa, ia selalu membisikkan kata-kata pada putrinya, agar baby Neysa segera bangun dan sembuh. ia yakin, putrinya mendengar semua ucapan nya.


Untuk sementara ini, dokter hanya memberi antibiotik selama 7-10hari ke depan, sembari memantau perkembangan organ vital baby.


Bila tak ada yang serius. kemungkinan baby untuk selamat sangat besar. namun, bila di temukan pertumbuhan bakteri dalam pembuluh darah, maka cerita akan berbeda lagi.


Sean terdiam di balkon kamar rawat putrinya. matanya, menatap gemerlap lampu dan lalu lalang kendaraan yang melintas di area rumah sakit, karena kamar rawat putrinya berada di lantai atas.


Entah apa yang dipikirkannya. yang jelas, ia sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Ayo masuk. udara malam semakin dingin.", ajak ibunya. Sean hanya diam. ia tidak bergeming.


"Jangan terlalu di pikirkan!.",


"Dokter sudah melakukan penanganan. baby, pasti baik-baik saja.", ujar ibu Sean, mencoba menenangkan dan membujuk putranya.


"Apa yang dikatakan mama mu, benar. jadi, ayo kita masuk. angin malam tidak baik untuk kesehatan.",


"Lagipula, selain fokus pada baby. kita juga harus fokus pada kesehatan, agar bisa terus menjaga baby Neysa.", sahut ibu Cellya, yang tiba-tiba datang.


"Seharusnya, dia tidak perlu dilahirkan ke dunia. karena aku, bukanlah orang yang bisa menjaganya.", ucap Sean.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2