Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 21


__ADS_3

Pagi ini, Sean sudah siap untuk terbang. ia menggunakan pesawat pribadi, atas nama perusahaan nya.


"Ma, Sean berangkat.", pamit nya, ketika berdiri di depan ibunya. tanpa kata, ibu Sean hanya merengkuh tubuh putranya dan memeluk nya erat.


"Jaga kesehatan di sana.",ucap ibunya, setelah melepaskan pelukan Sean. Sean hanya tersenyum dan mengangguk.


"Mama, tidak perlu khawatir. aku pergi ke sana dengan John. setidaknya, ada yang mengawasi ku dan melaporkan nya pada mama, jika aku tidak menurut.", ucapnya, berusaha menggoda untuk menenangkan ibunya.


Ya, pada akhirnya senyum tipis terukir di bibir ibunya. membuat Sean lebih tenang dengan keputusan nya kini.


"Berjanjilah, untuk membawanya pulang.", ucap ibu Sean.


"Janji.", jawab Sean, dan sekali lagi mereka berpelukan.


Sean beralih memeluk ayahnya yang berdiri di samping ibunya.


"Jika lelah, berhenti sebentar. ambil langkah mundur, untuk melompat lebih tinggi. tapi, jangan menyerah.", pesan ayahnya. Sean mengangguk dan berlanjut memeluk ayahnya.


Setelah berpamitan, Sean segera masuk dalam mobil. kali ini Alex, sekertaris kepercayaan sang ayah yang mengambil alih kemudi.


Ia mendapat tugas, memastikan tuan muda dan asisten nya sampai di bandara dan terbang tepat waktu.


Pukul 09.00 pagi waktu setempat, pesawat Sean mulai lepas landas. Alex yang sudah memastikan tuan mudanya terbang menuju Singapura segera pergi meninggalkan bandara menuju perusahaan majikannya.


Sean menatap sekitar dari jendela nya. hanya ada tumpukan awan putih, langit biru dan sinar terang dari sang Surya.


"*Bisakah, kita tidak sering terbang nanti?!.",


"Aku lebih senang kita berada di rumah. menikmati waktu berdua atau dengan keluarga kecil kita.",


"Menjadi istri dan ibu yang baik, yang selalu ada untukmu dan anak-anak kita.",


"Mungkin, saat dirimu sibuk di kantor dan anak-anak sibuk di sekolah nya, aku bisa belajar menanam bunga, menanam sayur hidroponik, sehingga kita bisa hidup lebih sehat?!. atau mungkin sibuk di dapur, membuat camilan sambil menunggu kalian pulang*.",


"Bisakah kita mewujudkan mimpimu?!.", gumam Sean, ketika mengingat obrolan nya bersama sang istri, saat penerbangan terakhir mereka ketika libur semester.


"By..., tunggu sebentar aku segera datang.", ia tertidur setelah nya.


Hingga pesawat mendarat dengan selamat dua jam kemudian.


"Tuan, kita sampai.", ucap John, membangun kan Sean pelan.


Sean segera melepaskan sabuk pengaman nya, merapikan pakaiannya dan segera beranjak dari kursinya.


Nampak seorang pramugari membuka pintu sebelum Sean melangkah keluar.


Bandara Changi Singapura, disinilah dia berdiri sekarang. ia memejamkan matanya sesaat, seperti merasakan sesuatu.

__ADS_1


"By, kita menghirup udara yang sama sekarang.", gumamnya.


Sean membuka matanya, ia segera melangkah kan kakinya di ikuti oleh John.


Sementara di sebuah ruangan. nampak jari lentik berkulit putih cerah mulai bergerak perlahan.


Perawat yang sedang mengecek kondisi dan infus pasien itu, terus mengamati wanita yang tengah terbaring di ranjang nya selama kurang lebih dua bulan ini.


Pasien itu perlahan membuka mata. ia terdiam menatap langit-langit kamar tempatnya berada. pandangan nya kosong, raut wajahnya menampakkan ia lemah.


"Are you awake?!.",


"I'll call the doctor, just a minute.", ucap perawat itu, lantas segera pergi meninggalkan ruangan itu dan memanggil dokter.


Sementara wanita itu hanya diam memandang punggung perawat yang berlalu meninggalkan nya.


Tidak berselang lama, perawat itu kembali lagi. kali ini bersama seorang dokter laki-laki.


......................


Dokter itu selesai memeriksa.


"Hai, Miss. What's your name?.", tanya dokter itu. tapi, gadis itu hanya diam dan mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. matanya nampak mencari sesuatu.


"What's your name?!.", tanya dokter sekali lagi. dan lagi-lagi wanita yang tengah terbaring dalam keadaan hamil itu, masih tetap sama, tidak merespon dan terus melihat ke sekitar ruangan, seperti mencari seseorang.


Mereka bertanya-tanya, apakah pasien yang di kirim dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu ini, bisu.


"Husband....?!.", ucapnya lirih.


"What?!.",


"Try again!.", ucap dokter, ketika mendengar wanita itu mulai berucap.


"Husband.", ucapnya lagi. suaranya masih terdengar lemah.


"Your husband?!.",


"Do you have family?!.",


"Where do you live?!.", tanya dokter lagi. ia berusaha mengorek dan mencari informasi tentang keluarga wanita itu. tapi, lagi-lagi wanita itu tak merespon. ia diam, matanya terpejam menerawang menatap langit-langit kamar.


Membuat dokter menghela nafas dan memandang perawat yang berdiri di depannya.


"Let him rest first.",


"We will ask him again, later.", ucap dokter, dan perawat itu mengangguk setuju.

__ADS_1


Dokter itu segera keluar ruangan, sementara perawat membantu wanita itu merapikan selimut nya.


"Take it easy!.",


"We will talk again later, when you feel better.", ucap perawat itu, dengan senyum ramah sebelum akhirnya pergi meninggalkan wanita itu.


POV of Sean


Ia baru saja memasuki apartemen keluarga nya yang berada di Singapura.


Sean menatap ke sekitar ruangan. bayangan kebersamaan dan candaan bersama istrinya tergambar jelas di setiap sudut ruangan itu.


Ya, mereka pernah tinggal beberapa hari di sini saat Sean sedang bertugas di kantor cabang.


Sekaligus menikmati waktu bersama sebagai pasangan suami istri saat mereka baru selesai menikah.


"Istirahat lah dulu, tuan.",


"Kita bisa ke kantor cabang besok. saya, akan menyiapkan berkas yang kita perlukan untuk besok.", ucap John. Sean mengangguk.


Ia masih memandangi kamar apartemen yang pernah ia tinggali bersama istrinya.


Sean melangkah masuk. ia duduk di tepi ranjang, memandangi ranjang dengan bad cover warna putih polos itu.


Sean mengusap nya lembut, merasai aroma istrinya di ranjang itu. ia merebahkan tubuhnya perlahan dan tidak lama terpejam karena lelah.


Sore menyambut langit negeri yang dulu juga di sebut dengan "Sea town" itu.


Sean berjalan menikmati suasana sunset di kota itu. ia mengunjungi cafe tempat biasa berkunjung bersama istrinya.


Memesan beberapa cake dan minuman favorit istrinya juga. Sean juga duduk di tempat mereka biasa menikmati sunset, sambil menatap jalanan sekitar.


Ia merindukan setiap momen dan kebersamaan bersama istrinya. sesekali ia tersenyum, mengingat momen-momen manis mereka.


"Boleh aku duduk disini, tuan?!.", tanya seorang pria yang tiba-tiba, menyapa Sean. Sean menatap orang itu.


"Hai.", sapa nya. pria itu menyapa Sean dengan tersenyum. Sean juga tersenyum, dan segera berdiri lalu berjabat tangan dengan pria itu.


"Tidak di sangka bertemu disini.",


"Ada pekerjaan di kantor cabang kah?!.", tanya pria itu. Sean mengangguk tersenyum, lalu mempersilahkan pria itu duduk.


"Ada penerbangan ke sini?!.", tanya Sean pada pria itu. pria itu mengangguk.


"Oh, ya. dimana istrimu, kita sudah lama tidak bertemu kan?!.", tanya pria itu, membuat Sean terdiam seketika.


Ya, dia adalah teman satu kampus Cellya. istrinya, adik adalah adik sepupu Sean. Hans, itu nama pria yang kini tengah duduk bersama Sean.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2