
Makan malam baru saja selesai. kedua orang tua Sean berusaha bersikap biasa saja dan tidak tahu tentang hasil biopsi dan pemeriksaan hari ini.
Mereka sepakat untuk diam, dan memilih hanya fokus untuk lebih menjaga kesehatan dan semua asupan yang masuk ke tubuh menantunya.
"Nani, siapkan vitamin nona!.", ucapnya, pada asisten rumah tangga yang baru saja meletakkan buah buahan di meja ruang keluarga sebagai camilan malam mereka.
Tidak lama, Nani segera kembali dengan beberapa botol vitamin di tangannya. tidak lupa juga air putih nya.
"Ini, nyonya.", ucapnya sembari meletakkan nampan itu.
"Terimakasih.", jawab ibu Sean.
Mertua Cellya segera menyiapkan semua vitamin yang harus di konsumsi menantunya.
"Bangun, sayang. minum dulu.", ujar ibu Sean, yang membuat Cellya segera duduk di bantu Sean.
"Terimakasih, ma.", ucapnya, tersenyum sembari menerima beberapa butir obat dari tangan mertuanya.
Cellya segera meneguk semua vitamin itu sekaligus, lalu meneguk segelas air. setelah nya, ia segera berbaring lagi di sofa, dengan paha Sean sebagai bantal nya.
Mereka menikmati waktu luang malam ini bersama dengan menonton film di ruang keluarga.
Sesekali, ayah atau ibu Sean menerima telepon dari asisten nya yang membahas pekerjaan. tapi, mereka mengatakan bahwa semua pekerjaan di bahas besok di kantor.
Ibu Sean, nampak memijit dan sesekali mengusap kaki menantunya dengan minyak dan lotion. ya, kaki itu nampak sedikit bengkak.
"Sudah, ma.", ujar Cellya. ia merasa tidak enak hati dengan mertuanya.
"Ini sedikit bengkak. mertua mama dulu juga sering memijat kaki mama, saat mama hamil Sean.", ucapnya, sembari terus memijit telapak kaki Cellya.
"Tapi, ma...
"Mama mu, benar. memijit kaki ibu hamil, bisa membuat sedikit rileks. jadi biarkan saja.",
"Toh nanti, jika mama mu lelah pasti ia juga akan menyudahi sendiri. tidak usah sungkan.", sahut ayah Sean memotong ucapan Cellya.
Cellya menoleh pada Sean, memberi isyarat dengan tatapan matanya agar ia mau membujuk mertuanya untuk berhenti memijat kakinya.
Tapi Sean hanya tersenyum tipis, penuh arti. seolah berkata pada Cellya untuk membiarkan ibunya melakukan itu.
Cellya hanya bisa pasrah menerima perhatian dan perlakuan hangat dari ibu mertuanya. sampai waktu menunjukkan pukul sembilan malam, jam istirahat sudah tiba.
__ADS_1
"Ma, sudah malam. waktunya mama dan Dady untuk istirahat.", ujarnya. membuat ibu Sean menoleh melihat jam dinding klasik di ruang keluarga itu.
"Ahh, benar. waktunya untuk istirahat.",
"Sean, bawa istrimu untuk beristirahat.", ujarnya pada putra semata wayangnya.
Sean mengangguk, ia segera membantu Cellya yang sedari tadi tidur di pangkuannya untuk bangun dan duduk.
"Ayo, by. pelan-pelan.", ujarnya. dengan penuh hati-hati ia membantu istrinya bangun dan berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Cellya segera berganti baju setelah mencuci wajah, tangan, kaki serta menggosok gigi.
Setelahnya, ia segera berbaring di ranjang. Sean segera naik ke ranjang dan masuk dalam selimut, setelah membersihkan diri.
Ia mengecup kening Cellya dalam, lalu menatap wajah dan kedua manik sang istri.
"Sehat terus ya, by?!.", ujarnya, setelah terdiam cukup lama karena terpaku pada pemandangan indah, wajah ayu istrinya. Cellya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
Selanjutnya ia beralih ke perut istrinya. mengusap lembut perut buncit istrinya, dan mengecup nya cukup lama.
"Baby, sehat-sehat di dalam perut momy. oke?!.",
"Jangan buat momy sakit. jangan nyusahin momy. ayah sayang kalian.", bisiknya.
Sean beralih posisi. ia tidur di sisi sang istri, dan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Berulang kali, ia mengusap dan menciumi surai hitam milik Cellya. ia sedang menyalurkan rasa cinta dan sayang yang teramat besar pada sang istri, lewat sentuhan itu. hingga pada akhirnya, mereka pun terlelap dengan saling memeluk.
Pagi dan malam silih berganti mereka lewati dengan bahagia setelah hari pemeriksaan itu.
Cellya yang selalu ceria membuat Sean merasa cukup baik dengan kesehatan dan kondisi sang istri.
Sampai tepat lima hari sebelum hari persalinan di laksanakan.
Sean di kejutkan dengan kondisi istrinya di pagi hari saat mereka sedang sarapan.
Cellya sudah duduk dan memulai menikmati hidangan di depan nya. namun, apa yang terjadi?!.
Saat Cellya menyuapkan suapan pertama ke dalam mulutnya, dan selesai mengunyah. ia nampak kesulitan dan kesakitan menelan makanan.
"By, are you ok?!.", tanyanya, begitu menyadari ada sesuatu pada istrinya.
__ADS_1
"Seperti nya, aku mau batuk, by. tenggorokan ku sedikit sakit untuk menelan.", jawabnya.
"Nani, tolong buatkan minuman hangat untuk nona.", pintanya.
Tak berapa lama kemudian, seorang asisten rumah tangga datang membawakan permintaan Sean.
Ia segera meraih gelas itu dan membantu istrinya untuk minum. tapi yang terjadi di luar dugaan.
Semua air minum yang masuk ke mulutnya tumpah begitu saja. Sean begitu terkejut dan terdiam di tempatnya. ia menarik gelas yang ada di bibir istrinya.
Buru-buru ia mengambil tisu dan mengusap bibir serta bekas tumpahan yang mengenai baju Cellya.
Cellya yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, hanya terdiam menatap suaminya.
Sementara Sean terlihat sedikit panik dan khawatir.
"By, kita periksa ke rumah sakit setelah ini.", ucapnya. membuat Cellya tak bisa membantah.
Ada apalagi ini?!. ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya, terlebih ingatannya tentang kondisi istrinya saat dokter Jeno menyarankan untuk menggugurkan kandungannya, kembali berputar di pikiran nya.
Setelah selesai membersihkan tumpahan minuman yang mengenai baju, lengan dan tangan sang istri. Sean segera mengajak Cellya untuk ke kamar dan ganti baju.
Namun, saat mulai menaiki tangga keanehan kembali terlihat. beberapa kali Cellya sempat hampir jatuh karena tersandung.
Ya, pandangan nya kabur dan tidak begitu jelas melihat sesuatu di sekitarnya dengan jarak satu-dua meter.
"By?!.", panggil Sean lirih. ketakutannya semakin menjadi. tidak ingin membuang waktu lama, Sean segera mengangkat tubuh istrinya menuju kamar dan segera membantu Cellya berganti baju.
Setelah nya, mereka segera keluar kamar dan menuruni tangga. beberapa kali Cellya nampak hampir jatuh saat menuruni anak tangga, yang membuat Sean lagi-lagi langsung mengangkat istrinya menuruni tangga dan berlalu masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara mereka. tangan Sean hanya memegang erat tangan Cellya sementara tangan satunya menyetir.
Cellya, tahu suaminya sedang tidak baik-baik saja dan dalam suasana hati yang tidak baik.
"By.", panggilnya lirih. saat mobil Sean sudah berhenti di parkiran rumah sakit.
"Jangan terlalu khawatir. semua akan baik-baik saja.", ujar Cellya. ia tidak ingin suaminya terlalu khawatir dengan nya.
"Baik atau tidak?!. kita akan segera tahu, by.",
"Kali ini, aku mohon untuk mengikuti semua kata-kata dokter.", pintanya.
__ADS_1
...----------------...