Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 58


__ADS_3

Setelah acara makan siang beberapa anggota keluarga pamit pulang, dan akan kembali pada malam hari kecuali, ibu Cellya.


Ya, ibu Cellya ingin menemani putrinya. jadi, ia menyerahkan urusan kantor pada Ellyana.


Hari ketiga di rumah sakit. waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Sean nampak sedang menyuapi istrinya, sedangkan ibu Cellya, sedang memijit kaki putrinya.


"Tok....


"Tok....


"Tuan Xavier, dokter meminta anda ke ruangannya.", ujarnya di depan pintu kamar Cellya yang terbuka.


Sean mengangguk "Terimakasih.", ujarnya. perawat itu mengangguk dan segera pergi.


"Ma, bisa tolong suapi, Cellya?!.", tanyanya, yang segera di iyakan oleh ibu mertua nya.


Sean segera pergi menuju ruangan dokter, sementara ibu Cellya melanjutkan tugas Sean menyuapi anaknya.


Sean sudah duduk berhadapan dengan dokter Jeno dan dokter Tya. mereka sempat melakukan pemeriksaan menyeluruh sejak Cellya masuk rumah sakit kemarin dan hasilnya, baru keluar pagi ini.


"Bagaimana?!.", tanya Sean. raut wajahnya di penuhi ke khawatiran yang nyata.


"Kita harus melakukan tindakan malam ini. ini sangat riskan dan berbahaya bagi ibu serta bayinya.", jawab dokter Jeno.


Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan yang sudah mereka tunggu selama tiga hari ini.


Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sel tumor itu sudah hampir menyebar ke batang otak.


Sedangkan hasil pemeriksaan terbaru tentang Cellya yang kesakitan saat menelan dan berbicara, adalah di sebabkan oleh kanker laring.


Ya, jenis tumor ganas yang muncul pada daerah yang menjadi bagian dari saluran pernapasan, yaitu tempat di mana berada pita suara yang posisinya terletak setelah tenggorokan dan berada sebelum trakea.


"Kanker laring adalah kanker langka ketika sel-sel ganas tumbuh pada laring (kotak suara). Tumor kanker jenis ini adalah sekelompok sel kanker yang dapat tumbuh dan menghancurkan jaringan di sekitarnya. Juga dapat menyebar (bermetastasis) ke bagian tubuh yang lain jika tidak segera diobati.", ucap dokter Jeno, menjelaskan.


"Untungnya, kanker laring nyonya belum parah dan kemungkinan untuk sembuh, bisa.", sambungnya.


"Sementara untuk baby, kita harus melakukan tindakan.",

__ADS_1


"Kami rasa, tidak apa untuk melahirkan baby lebih awal dari hari perkiraan. karena, kami juga melihat gerakan baby berkurang.",


"Mungkin, karena nyonya tidak bisa makan dengan baik beberapa hari ini. sehingga, baby juga kurang mendapatkan asupan.", sambung dokter Tya.


Ya, kalau di hitung 32 minggu berarti hanya kurang dua hari lagi. benar, tidak masalah jika baby harus di lahirkan. toh, dari hasil pemeriksaan, berat badan baby sudah cukup untuk di lahirkan.


Mereka hanya khawatir, semakin lama menunda pengobatan semakin memperburuk keadaan Cellya.


"Saya, akan membicarakannya dengan istri dan keluarga lebih dulu.", jawab Sean lemas. kedua dokter yang duduk di depannya, hanya mengangguk.


Ya, mereka tahu pasti sulit berada di posisi Sean saat ini. apalagi mendengar keadaan istrinya yang semakin menurun.


Sean kembali ke ruang perawatan istrinya. saat hendak masuk kamar. ia nampak memperhatikan mertua nya sedang membersihkan selimut, baju dan wajah Cellya yang penuh dengan luberan makanan dari mulutnya, di bantu oleh perawat.


Ia terdiam di tempatnya. semua ucapan dokter Jeno dan dokter Tya kembali berputar di telinga dan pikirannya.


Mungkin sudah waktunya. ya, sudah waktunya mengakhiri keteguhan hati istrinya untuk mempertahankan baby mereka.


Sean nampak mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. ia berusaha bersikap normal, sebelum akhirnya memutuskan masuk untuk menemui mertua dan istrinya.


......................


Perawat segera membawa baju kotor beserta selimut yang terkena luberan makanan dan keluar dari kamar Cellya.


Sean menghela nafas. ia duduk di tepi ranjang istrinya, sementara Cellya masih duduk bersandar.


"Ma, aku ingin meminta pendapat mama.", ucapnya, saat melihat mertuanya hendak pergi. ibu Cellya mengangguk.


"Mama, cuci tangan sebentar.", ucapnya, lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi yang juga berada di ruangan itu.


Tak berapa lama kemudian, ibu Cellya sudah kembali. Sean mempersilahkan ibu mertuanya untuk duduk di kursi samping ranjang istrinya.


tangan kanannya menggenggam tangan ibu mertua nya. sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan istrinya.


"By, ma. Sean minta maaf.", ucapnya, lirih. kedua wanita yang sedang berada di hadapannya itu hanya diam, menunggu ucapan Sean berikut nya.


"Sean tadi bertemu dengan dokter Jeno dan dokter Tya. karena hasil pemeriksaan Cellya baru keluar hari ini.", sambungnya.

__ADS_1


Ia pun menceritakan semua yang di katakan kedua Dokter itu, tadi.


Tentang kondisi kesehatan Cellya yang semakin menurun dan kondisi baby mereka. juga tentang kanker laring, yang baru di ketahui dokter dari pemeriksaan menyeluruh sejak Cellya di haruskan menjalani perawatan di rumah sakit.


"Kita tidak bisa menunda pengobatan lebih lama lagi, ma, by.",


"Kanker laring dapat merusak dan menyebar ke bagian tubuh lainnya, jika tidak segera di obati.",


"Dokter juga bilang, tidak bisa menahan baby lebih lama lagi. karena, keadaan baby semakin lemah.",


"Baby, tidak mendapatkan asupan makanan dan nutrisi cukup selama beberapa hari ini. dan itu di khawatirkan akan membawa pengaruh buruk pada kesehatan, baby.",


"Jadi, dengan sangat terpaksa baby harus segera di keluarkan.", ucapnya. air mata Cellya meluncur begitu saja. pikiran nya langsung tertuju pada bayinya.


Tapi ini belum genap 32minggu, dan dia di paksa lahir secara prematur. mungkin awalnya, dia setuju jika memang sudah genap 32 minggu. tapi, ini.....


"Aku tidak setuju. 32minggu hanya kurang dua hari lagi. tidak bisakah kita menunggu sebentar lagi?!.", ucap Cellya susah payah, dengan menahan sakit di tenggorokan nya. ia nampak emosional, begitu juga dengan ibunya.


Ibu Cellya beranjak dari duduknya, dan membawa Cellya dalam pelukannya. ia berusaha menenangkan putrinya yang menangis.


Sean hanya bisa memalingkan wajahnya. menghela nafas dalam. menyakitkan baginya, melihat Cellya menangis dan mengalami kesulitan, tapi ia tidak bisa banyak membantu.


Setelah cukup lama menenangkan Cellya, ibu mertuanya izin keluar untuk mencari udara.


Ia melihat menantunya, yang tengah termenung menatap pemandangan sekitar rumah sakit dari balkon. ya, kamar Cellya berada di lantai tiga.


"Sayang.", panggilnya. membuat Sean menoleh. nampak wanita itu berjalan menghampiri menantunya.


"Mama tahu, kalian sedang tidak baik-baik saja. tapi, mama harap kalian bisa membicarakan ini dengan kepala dingin.", ujarnya. Sean menghela nafas dan mengangguk.


"Bolehkah aku sedikit keras kali ini, ma?!.",


"Aku takut kehilangan mereka karena tidak bisa mengambil keputusan yang tegas.", ujar Sean. ibu Cellya hanya menghela nafas dalam.


Ya, menjadi Sean dan mengambil keputusan rumit seperti ini bukanlah hal yang mudah. nyawa taruhannya, ada dua nyawa yang sedang menunggu keputusannya.


"Mama, percaya. lakukan apapun yang menurut mu baik untuk anak dan cucu, mama.", ujar ibu Cellya, meyakinkan menantunya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2