Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 95


__ADS_3

Beberapa dokter dan perawat berlarian masuk ke ruangan Neysa. ya, tombol nurse call memanggil berulang. membuat dokter mengambil tindakan cepat. semua keluarga menunggu di luar. seketika suasana menjadi tegang. hening, tidak ada suara sama sekali. semua nampak fokus menatap pintu. berharap pintu segera terbuka dan dokter mengatakan bahwa, cucunya baik-baik saja.


Pintu terbuka. semua anggota keluarga langsung datang berkumpul, menghampiri dokter Jeno.


"Katakan sesuatu!. bagaimana keadaan cucuku?.", tanya ibu Sean. yang begitu sangat terlihat kecemasan di wajahnya. dokter Jeno menghela nafas. ia tahu akan ada percekcokan setelah dia mengatakan keadaan Neysa.


"Maaf, nyonya, tuan!.", ucapnya, menunduk. ibu Sean tanpa aba-aba langsung menampar dokter Jeno yang belum menyelesaikan ucapannya.


"Aku akan menuntut dan memenjarakan mu!.",


"Aku akan menutup dan menghancurkan rumah sakit ini.", teriaknya, mewakili rasa kecewa dalam hatinya. ayah Sean merangkup tubuh istrinya dengan kedua tangannya kuat-kuat. ibu Sean semakin memberontak dan menggila.


"Tolong, beri suntikan penenang.", teriak ayah Sean, sembari terus memeluk istrinya dari belakang.


"Kau sama gilanya dengan mereka.", umpatnya, setelah mendengar suaminya meminta suntikan obat bius agar istrinya tenang. ibu Sean terus memberontak, sementara para perawat berusaha menyuntikkan cairan penenang itu ke tubuh ibu Sean.


Dalam hitungan menit, tubuh wanita paruh baya itu melemah dan akhirnya, tidak sadarkan diri setelah terus meracau dan mengumpat tidak jelas.


Perawat membawa ibu Sean untuk istirahat, terlebih dahulu. membiarkannya tenang dengan reaksi obat, serta menunggu emosinya stabil.


"Maaf, dokter.", ucap ayah Sean, sembari menunduk hormat.


"Dia kurang istirahat akhir-akhir ini, sehingga mempengaruhi emosi dan suasana hatinya.", sambungnya. dokter Jeno mengerti.


"Tolong, lanjutkan!. kami, ingin tahu bagaimana keadaan cucu kami sekarang?!.", tanya ayah Sean, yang di angguki oleh ibu Cellya. ya, ia juga menunggu penjelasan lebih lanjut dari dokter Jeno.


"Untuk saat ini, nona sedang melewati masa kritis. ini terjadi, karena reaksi awal dari transplantasi.",

__ADS_1


"Kita doakan, semoga kondisi nona tidak semakin menurun. yang mampu, membahayakan nyawanya.", jelas dokter Jeno. ibu Cellya dan ayah Sean mengangguk, mengerti dengan penjelasan dokter.


Sepeninggal dokter Jeno, ibu Cellya menunggu di luar ruangan, sementara ayah Sean memilih menunggui istrinya. ya, istrinya dalam perawatan juga karena setelah menerima suntikan penenang, merasakan pusing.


"Tenanglah!. semua akan baik-baik saja.",


"Kau tidak bisa terus menyalahkan dokter. mereka sudah berbuat semaksimal mungkin.", ucap suaminya, menenangkan ibu Sean, yang masih menangis ingin bertemu cucunya. namun, kondisi badannya melemah. ya, sejak Neysa di rawat, ia kurang memperhatikan asupan makanannya.


"Ayo, berdoa agar lebih tenang.", ajaknya, membujuk sang istri. ibu Sean menggeleng, namun suaminya setia membimbing. ia menangkupkan kedua tangan istrinya dan mulai mengajaknya berdoa, agar hati sedikit tenang.


Dan benar saja, setelah berdoa, ibu Sean nampak lebih tenang.


Sementara ibu Cellya menunggu cucunya sendiri. ia memandangi wajah imut cucunya yang nampak sedikit tirus. helaan nafas berat, terdengar dari bibirnya. ia begitu prihatin melihat kondisi Neysa yang tidak kunjung sadarkan diri dan stabil.


Lagi-lagi Neysa bereaksi. kali ini, ia kejang. dengan cepat, ibu Cellya menekan tombol nurse call. nampak dokter dan perawat berlarian menuju kamar gadis itu. sementara, Omanya menunggu di luar ruangan.


......................


Dokter keluar, ia nampak menunduk. sementara, ibu Cellya sudah menunggu penjelasan dokter tentang apa yang terjadi pada cucunya.


"Maaf, nyonya.", kata yang terdengar sangat menyakitkan di telinga dan mampu membuatnya membeku seketika.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi nona....", terasa kelu untuk di ucapkan. dokter Jeno, menghela nafas. sementara ibu Cellya sudah meneteskan air matanya. ia berjalan melewati dokter Jeno, dan masuk untuk melihat cucunya. langkah kakinya terasa berat dan tidak terarah. ia segera memeluk Neysa yang diam terbaring di ranjang. Isak tangisnya terdengar begitu lara. mungkin, karena tak kuasa menahan kesedihannya, ibu Cellya akhirnya terjatuh di samping ranjang cucunya, dan pingsan. perawat dan dokter segera memberikan pertolongan, dan mengangkat tubuhnya.


Kurang lebih, setengah jam ibu Cellya pingsan. begitu, sadar ia segera bangun dan berlari ke kamar rawat cucunya. pemandangan tak biasa terlihat oleh kedua matanya. ia melihat seorang pria yang sangat tidak asing baginya, tengah berdiri di samping ranjang cucunya. entah, apa yang dilakukan pria itu. ia terlihat sedang mengatakan sesuatu dan terkadang berbisik di telinga Neysa.


"Hai, ayah datang.",

__ADS_1


"Ini kan, yang sudah lama Neysa mau?!.",


"Sekarang, buka mata Neysa!.",


"Bukankah, sebelum operasi kita saling berkirim surat?!. Neysa, janji akan berusaha dan bertahan sekuat, mungkin. kita telah berhasil berjuang bersama.", bisiknya, sembari mengusap rambut putrinya.


Ya, benar. Sean yang menjadi pendonor sumsum tulang belakang putrinya. ia melakukan serangkaian check kesehatan di rumah sakit Singapore, sembari menyelesaikan pekerjaannya. dokter Jeno dan dokter di Singapore saling berkomunikasi dan berusaha mencocokkan sel punca keduanya. hingga, akhirnya tes keluar dan dinyatakan cocok. baru, Sean pulang untuk melakukan transplantasi sumsum tulang belakang.


"Ayo, bangun!.",


"Banyak, yang ingin Neysa lakukan bersama ayah, kan?.",


"Ayah, tidak akan sibuk bekerja lagi. kita, akan banyak memiliki waktu bersama.",


"Ayah, akan lebih banyak waktu untuk menemani Neysa kemanapun. dalam hal apapun.",


"Ayo, bangun!, nak.",


"Bangun!.", ucapnya. ibu Cellya, menangis di balik pintu kamar rawat cucunya, yang sedikit tertutup itu. benar dugaannya, menantunya hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk cucunya.


Tiba-tiba nafas Sean terdengar memburu. ia merasakan pusing dan mual bersamaan. terdengar suara seseorang seperti ingin muntah, tapi di tahan.


John, yang menemani tuannya hendak mengajak Sean untuk duduk. tapi, pria itu menolaknya. sementara diluar mulai ricuh. ibu dan ayah Sean datang, setelah mendengar kabar tentang cucunya. namun, ibu Cellya menghadang mereka. ia ingin membiarkan Sean dan Neysa memiliki waktu bersama untuk terakhir kali. dan terjadilah saling dorong, karena ibu Sean tahu bahwa, putranya berada di dalam bersama cucunya. ia terus melawan besannya karena, tidak ingin Sean menyakiti Neysa. sementara ayah Sean, berusaha melerai.


Sampai Sean tidak bisa bertahan, ia terjatuh dan pingsan di lantai. tangannya, yang sedari tadi menggenggam tangan putrinya perlahan terlepas begitu saja.


"Tuan.", ucap John, yang kaget melihat majikannya jatuh ke lantai. membuat kedua orang tua yang berdebat di luar ruangan segera menghentikan aksinya, dan berlari melihat ke dalam. mereka kaget melihat kondisi Sean. tapi, tepat pada saat itu juga, monitor tanda vital atau monitor detak jantung, kembali berbunyi. dokter dan perawat segera masuk untuk mengecek kondisi Neysa dan memberi pertolongan pada Sean.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2