
Sean keluar dari ruang kerjanya, yang untuk sementara ini di pegang dan di tempati oleh John.
Ia segera menaiki lift menuju lobi kantor. nampak semua karyawan sudah kembali ke tempat kerjanya masing-masing saat ia sampai di lantai dasar.
Begitu sampai di lobi, Sean segera masuk ke dalam mobilnya. ia mengambil alih kemudinya.
Ya, Sean menyetir sendiri. ia melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang ia datangi bersama Hans semalam.
Perjalanan selama kurang lebih dua jam itu akhirnya, usai setelah Sean sampai di depan sebuah rumah sakit.
Ia segera memarkirkan mobilnya dan turun. dengan semangat baru, ia yakin akan mendapatkan informasi tentang istrinya kali ini.
"Excuse me.", ucap Sean, menyapa perawat yang menjaga menjaga meja resepsionis.
"Yes, sir. Can I help you?.", tanya penjaga itu ramah.
"Yes. I'm looking for my wife. she's a beautiful girl of asian descent.", jawab Sean.
"Ok. What's his name?.", tanya penjaga tersebut. jari-jari nya bersiap mengetik keyboard komputer nya.
"Her name is Cellya. but I don't think you'll find his name on the patient rosters.", jawab Sean, membuat penjaga itu menatap Sean ragu dan penuh tanda tanya.
Sean pun akhirnya menjelaskan cerita Cellya saat pingsan di bandara dan dugaan nya bahwa, Cellya di bawa ke salah satu rumah sakit terdekat dari bandara. dan itu, menjadi alasannya datang ke rumah sakit ini.
"Ok. I understand.", jawab penjaga itu, setelah mendengar cerita Sean.
"So, what can we do to help you?.", sambungnya. Sean mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri.
"Have you seen this girl?, this my wife.",ucap Sean seraya menunjuk kan beberapa foto Cellya pada penjaga itu.
Penjaga resepsionis yang sedikit ragu itu, juga nampak memanggil rekan-rekannya.
Berharap semakin banyak orang melihat foto Cellya, bisa membantu Sean menemukan istrinya.
Mereka menunjukkan foto Cellya dari satu orang ke orang lain, hingga ponsel Sean berpindah tangan.
"Sorry. but, I think he's been in this hospital.", jawab penjaga itu setelah, hampir semua temannya melihat foto Cellya di ponsel Sean.
Ia mengembalikan ponsel Sean. nampak sedikit kecewa di raut wajah mereka, karena tidak bisa membantu Sean sepenuhnya.
"Ok. no problem, thanks.", ucap Sean, sembari menerima ponselnya.
"There any other hospital around here?.", sambung Sean. ia masih berharap ada yang tau keberadaan istrinya. mungkin, istrinya di bawa ke rumah sakit terdekat lainnya.
__ADS_1
"Ya. You can try Mount Elizabeth hospital.", ucap penjaga itu memberi saran.
"Ok. thank you.", ucap Sean, dengan senyuman nya. ia juga membungkuk kan badannya, sebagai rasa hormat dan terimakasih kepada para perawat di rumah sakit Changi hospital ini.
Tanpa pikir panjang, Sean segera berlari keluar dari rumah sakit menuju tempat parkir.
Dengan semangat, ia segera masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang di maksud.
perjalanan itu, tidak lebih dari tiga puluh menit. Sean telah sampai dan segera memarkirkan mobilnya.
Ia turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah sakit menuju meja resepsionis.
Sean membungkuk kan badannya. ia menyapa dengan sopan dan hormat.
Menanyakan hal yang sama dan menceritakan hal yang sama pula, saat ia berada di rumah sakit sebelumnya.
......................
Sean juga menunjukkan photo sang istri kepada petugas resepsionis itu. dan petugas resepsionis pun membantu sebisanya.
Ia memberikan ponsel Sean pada teman-teman nya, agar temannya juga bisa membantu Sean.
"Sorry.", pada akhirnya, kata itu juga yang di ucapkan oleh penjaga itu. ia nampak menyesal tidak bisa membantu Sean lebih banyak.
Sean nampak menghela nafas dalam. tapi, dari raut wajah nya ia tidak berputus asa.
Pria itu segera menaiki mobilnya. dan mendatangi rumah sakit berikutnya.
Hingga senja datang, Sean sudah mendatangi tujuh sampai delapan rumah sakit di kota itu. tapi, semua hasilnya nihil.
Ia menghentikan mobilnya di sebuah jembatan. Sean keluar mobil dan duduk di kap mobil nya.
Senja yang indah, tapi tak seindah harinya ini. ia belum juga mendapatkan petunjuk ataupun informasi keberadaan sang istri.
"Anda dimana, tuan?!.", sebuah notif pesan masuk ke ponselnya.
"Saya, sudah pulang dari kantor dan mencoba mampir ke rumah sakit umum dekat bandara.",
"Ada jejak medis, nona disini.",
Melihat pesan itu, Sean segera masuk ke dalam mobilnya menuju rumah sakit yang di maksud.
Sean sampai di sana pada pukul delapan malam, lebih. ia melihat John yang sudah menunggu nya di lobi rumah sakit.
__ADS_1
Sean segera turun mobil dan menghampiri John.
"Tuan.", ucap John, begitu Sean mendekat.
"Mari, masuk!.", ajaknya.
Sean dan John segera masuk menghampiri meja resepsionis.
John menceritakan kembali dan memperkenalkan Sean sebagai suami Cellya.
Sean juga tidak lupa membawa buku catatan pernikahan mereka sebagai bukti.
Penjaga resepsionis itu, segera mencari berkas Cellya dan memberikannya pada Sean.
Sean membaca dengan seksama dan teliti, rekam medis istrinya. tapi, di akhir catatan ternyata Cellya sudah di pindahkan ke dinas sosial dan di setujui oleh kepala rumah sakit ini.
"Why transferred to social services?.", tanya Sean.
"Because the patient's identity is unknown, and no one is willing to take responsibility as collateral.", jawab petugas itu, menjelaskan.
"Where is the social service located?.", tanya John. perawat itupun, menjawab dan memberikan arahan lokasi dinas sosial tempat Cellya di rawat.
John yang paham, segera mengajak Sean pamit undur diri. ia tak lupa membungkuk kan badannya, sebagai tanda hormat dan ucapan terimakasih.
John meraih kedua pundak Sean, yang masih diam mematung menatap berkas medis istrinya.
Ia hanya berdiam diri dan mengikuti langkah kaki John, ketika asisten kepercayaan nya itu, menariknya.
John membawa Sean masuk mobil. setelah nya, ia beralih masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Tuan. tenangkan dirimu, kita akan segera pergi menjemput nona.", ucapnya. membuat Sean kembali tersadar. ia menghela nafasnya dan mengangguk pelan.
John segera menyalakan mesin mobil. ia mulai mengendarai mobil itu keluar dari area parkir rumah sakit, dan melaju menembus jalan menuju dinas sosial yang di maksud.
Malam itu, John meminta Sean untuk istirahat di kursi mobil dengan baik. ia tidak ingin tuannya sakit karena kelelahan.
"Istirahat lah, tuan.",
"Anda bisa tidur dengan nyaman dan cukup sebelum kita sampai.",
"Jangan biarkan, nona sedih melihat kondisi anda.",
Sean memalingkan wajah. melihat gemerlap lampu di sepanjang jalan, hingga akhirnya ia tertidur.
__ADS_1
...----------------...