Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 81


__ADS_3

Suasana mansion Sean pagi hari sudah ramai. para pekerja yang mendekorasi mansion untuk ulang tahun Neysa sudah berdatangan dan memulai pekerjaannya. sementara Neysa sudah di antar ke sekolah oleh asisten Han.


Neysa nampak fokus mengikuti pelajaran di kelasnya. ia menyimak penjelasan guru dengan seksama. sesekali, gadis itu nampak mencatat hal yang belum di mengerti atau hal yang tidak ada di buku.


Tiba-tiba, ia merasakan ada sesuatu yang menetes dari hidungnya. Neysa mengusap cairan yang keluar dari hidungnya dengan tisu. namun, ia sedikit terkejut saat melihat cairan berwarna merah itu menempel di tisu berwarna putih yang di pegangnya.


Neysa mengangkat tangan nya, memberi isyarat pada gurunya untuk izin keluar, sementara tangan satunya masih menutupi hidungnya.


Begitu mendapat izin, gadis itu segera berjalan dan sesekali berlari kecil menuju toilet. ia begitu panik dan terburu-buru masuk ke toilet.


Neysa mengambil air dengan tangannya dan beberapa kali membasuh hidungnya. ia berharap, mimisan itu cepat berhenti.


Gadis itu terdiam menatap kaca di depannya. ia bertanya - tanya pada dirinya, apa yang terjadi dengan tubuhnya?!. ini adalah kali pertama Neysa mengalami mimisan.


"Mungkin, tadi terlalu lama bermain basket. kepanasan, jadi mimisan.", pikirnya.


Begitu darah terhenti dari hidungnya, ia segera keluar dari toilet dan kembali ke kelas nya. sekembalinya dari toilet, wajah Neysa tampak sedikit pucat. ia memasuki kelas dan duduk kembali di tempatnya.


"Neysa, are you oke?!.", tanya teman sebangkunya. Neysa tersenyum dan mengacungkan jempol nya.


"Ok.", jawabnya, sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Setelah ini, pelajaran olahraga kan?!.",


"Lanjut seleksi untuk lomba lari, pemilihan masuk atau enggak nya.",


"Kita harus masuk, ya?!. biar bisa sama-sama terus.", ujar Naina, teman sebangku Neysa.


"Siap.", jawabnya, membuat kedua sahabatnya itu saling melempar senyum lagi.


Ya, Naina adalah teman sebangku dan teman yang pertama kali berkenalan dan akrab dengan nya di sekolah baru ini. sama seperti Neysa, Naina adalah anak yang periang, ramah dan cerdas. mereka selalu menjadi tim, baik untuk tugas sekolah maupun lomba di luar sekolah.


"Ngomong - ngomong, besok kamu masuk sekolah?.", tanya Naina. Neysa nampak berpikir sejenak.


"Memangnya kenapa aku nggak masuk?!.", Neysa balik bertanya.

__ADS_1


"Kan, besok birthday kamu.", jawab Naina, mengingatkan. Neysa tersenyum.


"Tetap sekolah, kok.", jawabnya.


Bel sekolah berbunyi, pertanda jam ganti pelajaran. ya, mereka harus berganti baju olahraga karena, hari ini adalah penentuan siapa-siapa saja yang akan di pilih untuk mengikuti lomba lari estafet, mewakili sekolah mereka.


Neysa dan Naina sudah berganti baju olahraga. mereka segera keluar dari toilet dan berjalan menuju lapangan bersama temannya yang lain.


Sementara di mansion Sean, nampak ibu Cellya repot mengawasi dan memberi arahan pada para pekerja dekorasi.


Ia nampak sesekali terlibat pembicaraan dengan para pekerja itu. ya, ibu Cellya menyiapkan pesta ulang tahun untuk cucunya sendiri. ia ingin memberikan yang terbaik untuk cucunya. ia tidak ingin, Neysa merasa kurang kasih sayang dari keluarganya, meski ibunya telah tiada.


Omanya mengusung tema Wonderland. ya, negeri impian sesuai dengan mimpi cucunya, ia ingin hidup di negeri impian. dimana semua yang tidak mungkin menjadi mungkin. semua yang tidak bisa di gapai, menjadi mudah.


Entahlah, dari mana gadis sekecil itu memiliki impian nya sendiri.


......................


Pesawat Sean baru saja mendarat di bandara. tidak lama kemudian, pria itu nampak menuruni tangga pesawat, di ikuti John di belakangnya.


Setelah menyelesaikan semua prosedur di bandara, akhirnya mereka segera keluar dari bandara dengan menaiki mobil, menuju apartemen Sean.


Ia tidak memilih pulang, karena ia tahu rumah akan sangat ramai oleh banyak orang, dan ia tidak bisa istirahat dengan tenang saat hal itu terjadi. ya, Sean sudah hafal dengan aktivitas tahunan, sebelum ulang tahun putrinya. kedua neneknya, pasti sangat sibuk menyiapkan pesta ulang tahun untuk putrinya.


Pelajaran olahraga selesai, pada akhirnya Neysa dan Naina serta beberapa murid yang lain terpilih untuk mewakili sekolahnya untuk bertanding, minggu depan.


Neysa nampak terburu-buru meninggalkan Naina dan teman-teman lainnya. ia berlari ke toilet sembari menutup hidung dan mulut nya. Naina dan teman-teman lainnya yang melihat hanya menatap heran kepergian Neysa dan bertanya-tanya.


"Neysa kenapa, ya?!.", tanya salah seorang dari mereka pada Naina. gadis kecil itu hanya mengangkat bahunya.


"Aku susul dulu, ya?!.", pamit Naina pada teman-temannya. ia berlari kecil setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.


Sementara di toilet, Neysa sedang sibuk membersihkan hidung nya dengan air. ya, ini kedua kalinya ia mengalami mimisan.


"Neysa, are you oke?.", suara Naina menyeruak masuk ke dalam toilet tempatnya berada.

__ADS_1


"Ya.", jawabnya dari dalam kamar mandi.


"Masih lama?.", tanya Naina, lagi.


"Sebentar lagi.", jawab Neysa. ia lantas cepat-cepat membersihkan hidung nya dengan air dan berusaha menghentikan mimisannya.


Setelah dirasa berhenti, Neysa segera mencuci wajahnya dan mengambil tisu untuk mengeringkannya. ia membuka pintu toilet, nampak temannya sudah berdiri di samping pintu menunggunya.


Sesaat, Naina memperhatikan wajah sahabatnya itu. wajah Neysa tampak sedikit pucat.


"Kamu sakit?.", tanya Naina. Neysa menggeleng dan tersenyum.


"Tapi, kamu kelihatan pucat.", ujarnya. membuat Neysa berjalan menghampiri cermin. ia melihat wajahnya sekilas di kaca. ya, terlihat pucat dan ada sedikit lebam di sekitar mata. ada apa dengan nya?, padahal dia tidak jatuh atau mengalami benturan. tapi, kenapa ada lebam di sekitar matanya.


"Mungkin karena kepanasan saat latihan lari estafet tadi.", jawabnya, setelah lama diam dan mengamati wajahnya. ia tidak ingin temannya khawatir.


"Kamu nggak bisa kena panas matahari, ya?!.", tanya Naina lagi. Neysa tersenyum.


"Ya udah, ayo balik ke kelas!. sebentar, jam pulang sekolah.", ajak Naina. Neysa mengangguk.


Mereka berjalan keluar toilet menuju kelasnya. tidak lama berselang, bel sekolah berbunyi yang menandakan bahwa pelajaran hari ini telah usai, dan waktunya pulang.


Neysa dan Naina berjalan beriringan. mereka berpisah di depan gerbang karena Naina sudah lebih dulu di jemput oleh orangtuanya. sementara, Neysa di jemput oleh paman Han.


"Apakah Oma sibuk hari ini, paman?.", tanya Neysa, saat mobil sudah menyusuri jalan menuju mansion.


"Iya, nona. karena nona Ellyana sedang dalam masa pemulihan, jadi nyonya besar yang mengambil alih semua pekerjaan di kantor.", jawab paman Han. Neysa mengangguk paham.


Tidak ada pertanyaan lagi dari bibir mungil gadis itu. membuat paman Han melirik nya sekilas dari spion mobil.


"Nona, mau bertemu nyonya besar?!.",


"Mari, saya antarkan ke kantor.", tawarnya. tapi, Neysa menggeleng dan tersenyum.


"Tidak perlu, paman. pulang saja, Neysa bisa ketemu Oma di rumah, nanti.", jawabnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2