
Malam datang. karena Cellya sudah boleh di jenguk dan di tunggu. maka, Sean memutuskan untuk menemani istrinya malam ini di ruang perawatan.
"Baiklah. Mama, istirahat di ruang sebelah ya?!.",
"Kalau ada apa-apa. kau bisa memanggil kami.", ucap ibu Cellya. Sean tersenyum dan mengangguk.
Ibu Sean, beserta suami nya mengajak besannya dan saudara Cellya untuk istirahat di ruang sebelah.
Sementara John menunggu di luar ruangan, dan Sean menunggu istrinya di dalam.
Seperti biasa, Sean pasti menyapa Cellya terlebih dahulu. baru kemudian duduk dan mulai mengajak istrinya berbincang.
Ya, walaupun tidak ada satupun dari ucapan maupun pertanyaan dan cerita nya yang mendapat balasan dari sang istri. tapi, Sean tidak menyerah. ia tetap menceritakan hari-harinya pada Cellya.
Malam semakin larut, membuat Sean tak kuasa menahan rasa kantuk dan lelah yang menyerangnya. ia pun memutuskan tidur di kursi samping ranjang istrinya.
Tangannya, ia jadikan tumpuan kepalanya yang berada di dekat tangan sang istri. posisi tidurnya duduk membungkuk.
Pada akhirnya, hingga pagi datang Sean baru terbangun. seorang perawat nampak masuk dalam ruangan sembari membawa buku catatan dan beberapa alat medis. Ya, perawat itu hendak mengecek kondisi Cellya pagi ini.
Berikut nya seorang perawat masuk, membawa baki berisi air hangat. ia meletakkan baki itu di atas nakas.
"Is it warm water for wiping?.", tanya Sean pada perawat itu.
"Ya?!.", jawab perawat itu, dengan tanya.
"Can i do it?!. I want to clean my wife's body.", ucap Sean, menjelaskan.
"Oh, ya. ofcourse!.", jawab perawat, sembari mempersilahkan Sean melakukan tugasnya.
Kedua perawat itu segera pergi, setelah menyelesaikan tugas nya. sementara Sean mulai menyeka tubuh istrinya.
"Sudah berapa lama aku tidak memanjakan mu seperti ini?!.", tanyanya. ia mengusap wajah istrinya dengan handuk dan air hangat.
"Seingat ku, sudah sangat lama ya?!.", sambungnya. Sean tersenyum, menatap wajah Cellya sembari terus menyeka istrinya.
"Sejak aku hilang ingatan, kau pasti sangat kesusahan.",
"Karena aku tidak mengingat mu. tidak memperlakukan mu dengan baik dan selalu menyakiti mu.", Sean tersenyum perih, mengingat waktu itu.
Waktu dimana ia dengan tega membentak istrinya. waktu dimana ia menyeret, menjambak, bahkan menampar ataupun menghukum Cellya.
"By, aku minta maaf....,". suaranya serak menahan sesak. air mata mulai menetes, tapi ia tetap melanjutkan menyeka tubuh sang istri.
Ia berganti menyeka tangan sang istri. sesaat, di pandangnya lengan tangan yang sedikit kurus itu.
__ADS_1
Tak terbayangkan, betapa sulit dan beratnya ia hamil dalam kondisi seperti ini.
"Dokter mengatakan dua hal padaku. satu hal membahagiakan, dan lainnya adalah hal yang membuat ku sedih.", Sean menarik nafas dalam.
"Hal membahagiakan nya adalah, aku akan menjadi seorang ayah.", sambungnya, ia mencoba ber ekspresi tersenyum namun tiba-tiba raut wajahnya berubah seperti ingin menangis.
Sean mencoba menahan Isak tangis nya. ia menunduk sejenak dan menghela nafasnya lagi. kemudian, melanjutkan menyeka kaki istrinya.
"Dan hal yang menyedihkan adalah, tentang sakit mu.", ucapnya lirih. ia nampak sedikit tenang sekarang.
"Aku tidak tahu sejak kapan kau sakit?!.",
"Aku sungguh minta maaf, by.", ucapnya. ia telah menyelesaikan menyeka tubuh Cellya.
Sean menaruh baki itu di atas nakas lagi. ia lalu kembali duduk di kursi samping ranjang. menatap wajah istrinya yang nampak segar, dan tersenyum.
......................
"By, maaf aku sedikit terlambat untuk menemukan mu. tapi bisakah beri aku kesempatan?!.",
"Aku janji akan memberikan yang terbaik.", sambungnya.
Ya, menikah selama dua tahun lebih. dan selama setahun lebih mengurus semua sendiri. tetap memilih bertahan walaupun suaminya tidak mengingat nya, dan sering menerima sikap serta perilaku kasar.
Ketika Sean mengingat itu semua. tentu, dia menyesal dan hanya ingin memperbaiki semuanya.
Saat pagi, melakukan aktivitas bersama, sebelum sibuk dengan pekerjaan masing-masing. membuat sarapan hingga makan bersama.
Mengantar istrinya sampai masuk ke dalam kantor. jika siang, mereka bertemu di cafe favorit dekat kantor sang istri hanya untuk sekedar, makan siang.
Berlanjut saat pulang kerja, Sean menjemput istri nya dengan membawa bunga, coklat ataupun sesuatu lain kesukaan Cellya.
Dan sampai di rumah, Cellya akan segera menyiapkan air mandi untuk Sean, lalu pergi memasak sembari menunggu Sean selesai mandi dan menunggu giliran nya.
Setelah selesai makan malam, biasanya mereka menghabiskan waktu berdua. bercerita, tentang kejadian-kejadian hari ini.
Mereka jarang bahkan hampir tidak pernah membawa masalah pekerjaan ke dalam rumah.
Ya, bagi mereka rumah adalah tempat pulang untuk melepaskan penat dari pekerjaan sehari-hari.
Jikalau Cellya terpaksa membawa pekerjaan ke rumah karena suatu hal. pasti Sean membantu nya, agar cepat selesai dan mereka bisa menikmati waktu berdua.
Namun, selama setahun lebih ini hal itu tidak pernah ia lakukan lagi untuk sang istri, karena ia hilang ingatan.
"Bangunlah, ku mohon!.",
__ADS_1
"Melihat mu tertidur beberapa hari ini, sungguh membuatku sangat sedih.",
Sean berdiri di samping ranjang istrinya. ia mengusap surai istri nya, sembari terus membisik kan kata-kata di telinga sang istri.
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kau mau membuka mata, by?!.",
"Tolong jangan terus seperti ini.", mohon nya.
"Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan.", sambungnya, setelah diam sesaat.
Ia menatap wajah Cellya lekat, penuh harap sembari terus mengusap surai istri nya. berharap Cellya membuka matanya, segera.
"By. sekarang, bukan hanya aku yang menunggu di sini.", ucapnya pelan.
"Tapi, ada kedua mama kita, Ellyana dan juga Dady.", sambung nya, menyebut siapa-siapa saja yang terus menemani istrinya, sejak masuk rumah sakit.
"Ya. semuanya disini, menunggumu.",
"Mereka menunggumu bangun, untuk menyapa mereka seperti biasa.", jelasnya.
"Mereka sama seperti ku. sedih dan bahagia bercampur satu.",
"Alasannya, seperti yang sudah aku katakan tadi.",
"Bahagia karena hadirnya baby di perutmu. tapi, juga bersedih karena sakit mu.", ucap Sean.
"By. bisakah kau bangun?!.",
"Setidaknya, itu akan menjadi tanda bagi kami bahwa, kau benar-benar ingin putra kita selamat. dan lahir ke dunia.", pintanya.
"Karena jujur, by. dokter, menyarankan dia untuk di aborsi dengan alasan kesehatan mu.", cerita Sean. suara dan raut wajahnya terlihat sendu, menatap wajah Cellya.
Sean melihat tangan nya, yang masih terus mengusap rambut sang istri. itu adalah favoritnya. Cellya sendiri juga sangat suka, saat rambut nya di belai oleh suaminya. ia merasa begitu di cintai, menurut nya.
"Jadi, ku mohon. bangunlah, sebagai bentuk tidak setuju mu terhadap tindakan yang akan di ambil dokter.", pinta Sean.
"Aku juga menginginkannya. jadi, ayo berusaha bersama.", ucap Sean.
Sean melihat ibu mertua nya di jendela luar ruangan Cellya. Sean, tahu pasti mertuanya juga ingin segera masuk menemui putri nya, pagi ini.
"Seperti nya, mama ingin mengucapkan selamat pagi padamu.",
"Kita sambung nanti, ya. ngobrol nya?!.", bisik Sean.
Sean mulai menjauh kan wajahnya dari wajah Cellya. ia meraih tangan istrinya, dan mengecup nya.
__ADS_1
Namun saat Sean meletakkan tangan itu, perlahan tangan istrinya bergerak lembut beberapa kali.",
...----------------...