Sebuah Janji

Sebuah Janji
Tidak peka


__ADS_3

Beberapa minggu setelah itu sasa dan jaya semakin dekat. Sebatas teman.


Siang itu setelah bel pulang sekolah berbunyi, jaya terlihat tidak baik baik saja. Mukanya semakin murung, entah kenapa ia selalu terlihat begitu.


Jaya sedang terlihat kebingungan. Ia menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Jay" itulah panggilan akrab sasa untuk jaya.


"Kamu kenapa sih, dari tadi keliatannya kebingungan." Ucap sasa menghampiri jaya.


"Tidak sa, aku tidak apa apa" jawab jaya pelan.


"Kalau ada apa apa cerita aja ya jay, aku dengerin kok" ucap sasa tersenyum.


"Aku pulang duluan ya jay, jangan melamun nanti kamu bisa dirasuki setan haha" ucap sasa sambil tertawa kecil.


Sasa pun pergi meninggalkan jaya yang sedang berdiri memperhatikan senyum sasa yang entah kenapa membuat nya begitu bahagia.


***


"Sa, bisa temenin aku jalan ga malam ini?" Tanya kris saat sedang bel Istirahat berbunyi.


" kemana?" Tanya sasa Penasaran.


"Makan malam" jawab kris Sambil semakin dekat berdiri kedekat sasa.


Kini mereka berhadapan.


Kris yang memiliki ukuran badan tinggi, membuat sasa mendongkak ke atas.


"Aku ga pernah keluar malam kris, maaf ya" tolak sasa tersenyum kecil.


"Kamu ga asik banget sih sa, cuma makan malam doang kok ga bisa, dasar anak mama" sambil mengelus rambut sasa.


"Ih jangan pegang rambut aku kris" ucap sasa memanja.


" kenapa? Aku ga boleh pegang rambut kamu" tanya kris.


" um ga boleh" jawab sasa ketus.


" haha, kamu lucu ya sa" ucap kris.

__ADS_1


Ya setelah beberapa pekan, mereka sudah saling kenal, ternyata kris dan sasa merasa cocok jika mereka saling bercanda.


Karna mereka duduk satu meja,kris selalu saja mengganggu sasa.


Di seberang meja sebelah kanan, jaya senang sekali memperhatikan sasa yang sedang menulis.


Entah kenapa semakin hari ia semakin suka memperhatikan sasa.


"Kenapa sih jay kamu suka liatin sasa? " tanya difa teman satu meja jaya.


Jaya hanya diam, tidak menjawab sepatah katapun.


Difa kesal, Mungkin saja difa menyukai jaya.


Difa terlihat memaling kan wajahnya.


Pelajaran pun terus berlangsung.


Ketika bel pulang berbunyi, jaya terlihat mengobrol dengan teman lelaki lainnya.


"Bro,jadi ga?" Tanya pino teman sekelasnya.


"Nanti aku kabarin jay" jawab pino pelan.


Percakapan mereka berakhir saat sasa menghampiri jaya.


"Jay, temenin aku jajan dulu yuk di mini market dekat sekolah" ajak sasa dengan memanja.


Pino pun pergi setelah kedatangan sasa ke hadapan mereka.


"Jajan apa sa?" Tanya jaya pelan.


"yuk jay" ajak sasa semakin manja memegang tangan jaya.


"Iya iya sabar sasa ku sayang" ucap jaya kecoplosan.


"Apa jay? Kamu sayang sama aku?" Tanya sasa Sambil terpingkal-pingkal tertawa.


"E.. ngga, bukan, salah, bercanda kok, GR deh kamu sa" balas jaya Sambil tertawa.


"Yaudah deh ayok jajan, kita jalan kaki aja ya, kan kesitu dekat" ucap sasa.

__ADS_1


"Iya terserah kamu aja sa" sambil membalas gandengan sasa.


"Cie gandeng tangan aku ya" ucap sasa mengejek.


"Iya udah ayok jalan, biar cepet pulang sa" ucap jaya terkekeh.


Setelah sampai di mini market, sasa membeli semua jajan kesukaannya.


"Ini mba" sasa nemberikan barang nya ke kasir.


"Ini total semuanya" ucap kasir.


"Sini aku yang bayarin sa" ucap jaya.


" eh jangan" Sambil menarik tangan jaya.


"Aku aja" tambah sasa.


Setelah keluar dari mini market jaya menggandeng tangan sasa.


Sasa tersenyum manja.


"Kamu aneh sa, kamu ajak aku, terus aku mau bayarin malah ga boleh, kamu gimana sih sa?" Tanya jaya sambil menyeberangi jalan.


"Kan aku minta temenin, bukan minta bayarin jay, kamu juga aneh, aku kan ga minta bayarin" jawab sasa.


"Oh gitu ya sa" jawab jaya.


"Bagus deh biar uang aku hemat" ucap jaya sambil tertawa.


Sasa juga terkekeh.


"Kamu mau dianterin sa?" Tanya jaya.


"Um gausah deh jay" ucap sasa Sambil melirik difa.


"Mungkin difa mau pulang sama kamu tuh" ucap sasa pelan.


"Ooh yaudah deh aku duluan ya sa" ucap jaya sambil melambaikan tanganya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2