
"Selamat makan, ayah. maaf, Neysa selalu terlambat bangun sehingga tidak pernah bisa sarapan pagi bersama, ayah.
Maaf juga, Neysa hanya bisa menitipkan bekal pada paman John, dan tidak bisa mengantar nya sendiri. itu, karena Neysa selalu terburu-buru berangkat sekolah. hehehe....
Ayah, hari ini Neysa awal masuk dan pendaftaran di sekolah dasar. Oma yang mengantar. awalnya, Neysa ingin ayah yang mengantar, tapi nenek bilang seperti biasa ayah sedang sibuk.
Ayah sibuk mencari uang untuk memenuhi semua kebutuhan Neysa. hemm.... sebenarnya, Neysa sedih. tapi, Oma bilang Neysa harus bangga dan bahagia, karena itu berarti ayah sangat menyayangi Neysa. jadi, Neysa akan belajar dengan sungguh-sungguh.
Ayah, meskipun sibuk. jangan lupa sarapan, minum vitamin olahraga dan jaga kesehatan. aku mencintaimu. ❤️ Neysa."
Neysa selesai menulis. ia segera merobek buku itu, lalu melipatnya.
"Ini, paman. sebelum nya, terimakasih.", ucapnya, tersenyum sembari menyodorkan buku, pulpen serta surat kecil untuk ayahnya.
"Sama-sama, nona.", ucap John. Neysa tersenyum dan membungkuk hormat. ia lantas segera berlari menuju mobil Oma nya yang sedari tadi sudah menunggu dirinya.
"Dada, paman.", teriaknya, sembari mengeluarkan kepalanya dari balik jendela mobil. John membalas lambaian tangan bocah kecil itu.
"Oma, seperti biasa. kita jenguk momy dulu, ok?.", pintanya. dan ibu Cellya hanya tersenyum dan mengangguk.
Ya, Neysa terbiasa ke makam mendiang ibunya sebelum pergi ke sekolah. entah karena didikan kedua Oma nya, atau karena kurang perhatian dari ayahnya?!, gadis mungil itu tumbuh dengan pemikiran dewasa di usianya yang masih tujuh tahun.
Ia selalu memikirkan segala sesuatu nya dengan matang. jika tida mendapatkan apa yang di inginkan, dia hanya akan mengatakan "Tidak apa-apa. lain kali, juga pasti dapat.",
Terkadang, sebagai seorang nenek. ibu Cellya, sedih jika mendengar nya mengucapkan kata-kata itu. tapi, melihat senyuman tulus bocah itu, ia hanya bisa tersenyum agar Neysa tidak merasa berbeda dengan anak lainnya.
Mobil terparkir di area pemakaman San Diego hills, pemakaman elit tempat mendiang ibunya beristirahat.
"Selamat pagi, Neysa.", sapa salah seorang yang bertugas merawat makam disana. ya, karena setiap hari Neysa kesini saat pagi, banyak dari mereka yang mengenal gadis kecil itu. mereka pun menyapanya bergantian setiap berpapasan.
"Selamat pagi.", jawab Neysa, dengan senyum ceria setiap di sapa.
Ia segera menghampiri pusara sang bunda yang selalu bersih. ya, bunga yang sudah layu dibuang oleh para penjaga makam. jadi, setiap pagi saat Neysa datang ke makam ibunya, makamnya sudah bersih dari bunga sisa kemarin.
__ADS_1
Gadis itu meletakkan bunga mawar dan bunga Lily di atas nisan dan pusara ibunya. sejenak kemudian, ia nampak menyatukan kedua tangannya dan memejamkan mata, mulai berdoa. begitu juga dengan Oma nya.
Selesai berdoa, ia nampak tersenyum lalu mengusap nisan ibunya. "Momy, hari ini aku masuk sekolah dasar. Oma, yang mengantar.", ucapnya, mulai bercerita dengan senyum manisnya.
"Seperti biasa, ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya. jadi momy, tolong terus jaga ayah agar selalu sehat.", sambungnya.
Gadis itu menatap Oma nya yang perlahan mulai berdiri. ia tersenyum manis, membuat wanita pemimpin utama sebuah perusahaan itu, gemas dan mencubit pipi cucunya.
Neysa tersenyum. "Momy, aku harus segera pergi. aku tidak ingin terlambat di hari pertama ku masuk.",
"Momy, jangan lupa selalu doakan aku, ya?!. minta pada tuhan agar aku bisa selalu membuat Oma, nenek kakek, keluarga dan terutama ayah, terus bahagia.",
"Minta pada tuhan juga, untuk selalu memberi Oma, nenek, kakek, keluarga, ayah serta aku sehat.",
"Luvyu, momy.", tutup nya, sembari mengecup nisan ibunya. lalu, membungkuk hormat sebelum benar-benar perlahan pergi menjauh dan keluar dari area pemakaman elit itu.
......................
"Bye.", ucap ibu Cellya, saat Neysa mulai menjauh darinya dan masuk dalam kerumunan siswa sekolah dasar yang lain.
Ya, selain mendaftarkan cucunya. ibu Cellya ada beberapa hal yang harus di sampaikan pada kepala sekolah dan wali kelas cucunya, sekarang.
"Tok...
"Tok...
Asisten Han mengetuk pintu kantor kepala sekolah untuk majikannya, sebelum ibu Cellya masuk.
"Selamat pagi, nyonya. silahkan masuk dan duduk.", ucap kepala sekolah, begitu melihat ibu Cellya berdiri di tengah pintu.
Ibu Cellya melangkah masuk, menunduk hormat dan mulai duduk. sementara asisten Han, nampak menunggu di luar ruangan.
"Selamat pagi, ibu wali kelas, dan bapak kepala sekolah.", sapa ibu Cellya.
__ADS_1
"Saya, adalah nenek dari murid pendaftaran baru tahun ini. atas nama Neysa Xavier Kamasean.", sambung ibu Cellya, yang di angguki oleh kepala sekolah dan guru wali kelas satu.
"Saya disini, selain ingin mengurus pendaftaran cucu saya. saya, juga ingin menyampaikan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan pada cucu saya.",
"Maaf, bukan saya bertindak seenaknya. tapi, ini demi kebaikan bersama.", ucap ibu Cellya, memperjelas maksud nya.
Wanita paruh baya itu nampak mengeluarkan surat-surat rekam medis cucunya. ya, ini adalah hasil pemeriksaan kesehatan Neysa rutin tiap tiga bulan sekali.
"Cucu saya, mempunyai riwayat sepsis.", ucap ibu Cellya, saat melihat kedua orang di hadapannya, sibuk membaca hasil rekam medis cucunya.
"Jadi....
"Kami mengerti, nyonya.", ucap kepala sekolah, memotong ucapan ibu Cellya. ibu Presdir itu tersenyum. ia senang ada yang langsung mengerti keadaan putrinya. ya, tentu saja ini adalah sekolah internasional. mereka cukup profesional dalam menangani masalah kesehatan.
"Terimakasih.", ucap ibu Cellya. Asisten Han, nampak masuk dan menyodorkan cek yang sudah di siapkan ibu Cellya. ia menyerahkan cek itu pada kepala sekolah.
"Ini adalah rasa terimakasih nyonya, atas pengertiannya untuk nona kami. mohon di terima dan di gunakan dengan baik.", ujar asisten Han. mereka nampak terkejut menerima cek bernominal tiga digit itu.
"Saya, dengan senang hati mendaftarkan diri sebagai donatur tetap di sekolah ini.", ucap ibu Cellya. membuat kedua orang di depannya hampir tidak percaya, kalau-kalau mereka tidak melihat status nya.
Ya, ini kali pertama ada donatur yang dengan mudahnya mengeluarkan uang begitu banyak untuk sekolah mereka.
"Nyonya, tapi ini terlalu banyak.", ucap kepala sekolah.
"Anda bisa memanfaatkan nya untuk yayasan panti yang juga masih satu pengelolaan dengan sekolah ini, bukan?.", sahut ibu Cellya.
"Terimakasih, nyonya. Tuhan memberkati.", ucap mereka bersahutan, mendoakan ibu Cellya.
"Aamiin.", sahut ibu Cellya.
Setelah cukup bertemu dengan semua guru dan pengurus sekolah serta yayasan anak yatim yang di kelola oleh sekolahan ini. ibu Cellya, pun pamit undur diri.
"Ke kantor.", ucap ibu Cellya, begitu duduk di kursi penumpang. asisten Han, mengangguk paham dan segera melajukan mobil menuju kantor.
__ADS_1
...----------------...