Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 77


__ADS_3

Hari ini pelajaran olahraga. Neysa dan teman-temannya sudah berada di lapangan. mereka akan melakukan latihan lomba lari, hari ini.


Ya, beberapa minggu lagi akan ada kompetisi lomba lari di sekolah. siapa yang menang, akan di tunjuk untuk mewakili sekolahnya untuk bertanding dengan sekolah lainnya.


Neysa dan teman-temannya sudah terbagi menjadi beberapa team. satu team terdiri dari empat orang anak. ya, ini adalah lomba lari estafet.


Mereka sudah bersiap di tempatnya masing-masing sembari menunggu aba-aba dan instruksi dari pelatih mereka.


"1,2...... priittt.......", peluit di tiup, semua murid berlari pada jalurnya masing-masing. mereka bekerja team dengan apik semaksimal mungkin. Neysa, berada pada garis akhir untuk menyelesaikan pertandingan sampai garis finis.


Jam pelajaran olahraga sudah selesai, belum di tentukan siapa yang mewakili sekolah karena mereka beberapa kali seri.


"Neysa, mau makan siang bersama kami?.", tanya salah seorang anak yang menghampirinya. Neysa tersenyum dan menggeleng.


"Maaf. aku masih harus menyelesaikan gambarku.", tolaknya, halus.


"PR menggambar mu kemarin belum selesai, ya?.", tanya salah seorang dari mereka lagi. Neysa menggeleng.


"Ini bukan PR. aku menggambar sesuatu untuk ayahku, dan akan menitipkan nya pada asisten ayah.", ujarnya, menjelaskan. temannya mengangguk paham.


"Baiklah. kalau begitu, kami pergi ke kantin dulu, ya?!.", ujar mereka, lalu pergi meninggalkan Neysa yang masih sibuk dengan gambar nya sendiri.


Neysa masih serius melanjutkan gambarnya sampai bel masuk berbunyi lagi. ia pun segera menyimpan gambarnya, dan bersiap mengeluarkan buku pelajaran selanjutnya.


Sementara di rumah sakit. Ellyana baru saja keluar dari ruang operasi. ya, ini kali pertama Ellyana memiliki seorang putra, setelah dua kehamilan sebelumnya bermasalah yang mengakibatkan keguguran.


Nampak ibunya, sudah menunggu di kamar rawatnya bersama David serta kedua orang tuanya. sementara baby mereka di ruang intensif untuk sementara waktu.


Ellyana menjadi putri tunggalnya kini. nampak wanita itu, belum sadar dari pengaruh obat bius saat melahirkan tadi. namun, kondisi tubuhnya menunjukkan hal yang baik.


Jam menunjukkan pukul tiga sore, John sudah menunggu di depan gerbang sekolah Neysa, untuk menjemput nya.


"Nona, tadi Oma menelpon untuk mengantarkan nona ke rumah sakit.", ucap John, menyampaikan pesan ibu Cellya.


"Kenapa, memang nya?.", tanya Neysa.


"Aunty El sudah melahirkan. nona, harus melihat saudara nona.", ujar John, membuat gadis itu tersenyum dan nampak bersemangat.


"Ayo!.", ucapnya, bersemangat. John tersenyum dan segera membukakan pintu mobil untuk nona mudanya. ia menutup pintu mobil setelah nya, dan beralih masuk serta duduk di belakang kemudi, untuk melajukan mobil.


"Anak aunty El, laki-laki atau perempuan?.", tanya Neysa, mulai mengawali topik di perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Saya, kurang tahu nona. tapi, kita akan segera tahu setelah sampai.", jawab John.


"Tapi aunty El dan baby nya sehat, kan?.", tanya Neysa, mengingat ia pernah melihat tantenya kesakitan dan menangis saat kehilangan baby, sebelum nya.

__ADS_1


"Nyonya bilang, sangat sehat.", jawab John. membuat Neysa tersenyum lega, mendengar nya.


Tidak lama kemudian, mobil yang di kendarai John dan Neysa sudah berhenti di parkiran sebuah rumah sakit. John yang sudah turun terlebih dahulu, segera membukakan pintu mobil untuk Neysa. selanjutnya, mereka berjalan beriringan memasuki rumah sakit, menuju kamar tempat Ellyana di rawat.


......................


"Tok...


"Tok...


Neysa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. nampak Oma nya dan kedua orang tua David menyambut nya begitu melihat Neysa.


Seperti biasa, gadis itu membungkuk hormat dan mengucap salam pada David dan kedua orang tuanya.


"Selamat sore, uncle. nenek dan kakek.", sapanya, membuat semua orang tersenyum dan membalas nya bergantian.


Ibu Cellya segera menarik Neysa untuk lebih dekat dengan nya. wanita itu nampak berbahagia, senyum yang tidak lepas dari bibirnya, menggambarkan semuanya.


"Bagaimana keadaan aunty?.", tanyanya, saat ibu Cellya mendudukkan gadis kecil itu di kursi samping brankar Ellyana.


Ellyana yang masih terlihat lemah, tersenyum dengan kehadiran keponakan tercintanya.


"Aunty, baik.", jawab Ellyana.


"Mana adik bayi?.", tanyanya.


"Apakah adik bayi juga sehat?.", tanyanya, yang mendapat anggukan dari Ellyana. Neysa tersenyum manis.


"Syukurlah.", ujarnya, terlihat lega.


"Neysa, senang?.", tanya Ellyana. membuat gadis itu mengangguk.


"Sekarang, Neysa punya saudara.", ujarnya, membuat Ellyana tersenyum gemas, dengan kelembutan hati ponakan nya.


Semua pandangan tertuju pada seorang perawat yang masuk dengan mendorong box baby. mereka semua terlihat antusias. hingga akhirnya, box baby itu di letakkan di dekat brankar Ellyana.


Wanita itu nampak berusaha duduk di bantu oleh mertuanya. sedangkan yang lainnya, memilih untuk melihat baby yang tengah tertidur pulas di box nya.


"Wow, baby boy?.", seru Neysa. membuat senyum David dan lainnya yang juga ikut melihat baby tersenyum.


"Selamat, uncle.", ucap Neysa, membuat David yang berdiri di samping nya tersenyum dan merangkul pundak keponakannya.


"Terimakasih.", ucap David.


"Neysa, akan menyayangi baby boy, kan?.", tanya David.

__ADS_1


"Tentu.", jawab Neysa, mengangguk kuat. membuat David semakin bahagia dan mengecup puncak kepala keponakan nya itu.


"Siapa namanya, uncle?.", tanya Neysa.


"Kai.", jawab David singkat.


"Kai?!.", ucap Neysa, memperjelas. David mengangguk.


"Kai David Guetta.", jawabnya. mengucapkan nama panjang bayinya.


Mereka benar-benar bahagia dengan momen kelahiran baby Kai. "Neysa, jadi kakak ya sekarang?!. kakak, harus bisa jaga adeknya, nih.", ucap ibu David, yang membuat Neysa dan semuanya tersenyum.


Setelah cukup menjenguk aunty dan baby Kai, Neysa pamit.


"Oma, Neysa mau pulang dulu, ya?!.", ucapnya. membuat ibu Cellya yang sedang duduk berdampingan dengan nya menoleh.


"Kenapa?. tunggu, Oma sebentar lagi.", ucap neneknya.


"Neysa, mau mandi Oma. Neysa, juga sudah capek. ingin istirahat.", jawabnya. ibu Cellya mendengus mendengar ucapan cucunya. tapi, memang Neysa terlihat sangat lelah.


"Apa hari ini banyak kegiatan di sekolah?.", tanya Oma nya. Neysa menggeleng.


"Hanya olahraga, latihan lomba lari estafet.", jawabnya.


"Baiklah. pamit dulu pada kakek-nenek Kai, dan aunty juga uncle, ya?.", ucap Oma nya, yang segera di angguki bocah itu.


Neysa meraih tas sekolah nya lalu memakai nya. setelahnya, ia menghampiri Ellyana yang masih terbaring di temani suaminya di sisi ranjang nya.


"Aunty, uncle. Ney pamit dulu, ya?!.",


"Besok, Ney kesini lagi jenguk baby Kai.", pamitnya.


"Ok, hati-hati di jalan, ya?!.", jawab Ellyana, Neysa mengangguk.


Ia segera mendekat pada aunty nya, lalu memeluk sejenak dan mengecup kedua pipi aunty El, begitu juga yang di lakukan Neysa pada uncle David nya.


Selanjutnya, ia beralih pamit pada kedua orang tua David.


"Nenek, kakek. Neysa pamit dulu.",


"Besok, Neysa kesini lagi jenguk adek.", ujarnya.


"Hati-hati di jalan, ya?!.", ucap ayah David.


"Sampai rumah, segera mandi makan dan istirahat. ok?.", pesan ibu David, yang di angguki dengan senyum oleh Neysa.

__ADS_1


Ia membungkuk hormat kepada semuanya, sebelum pergi keluar kamar rawat aunty nya.


...----------------...


__ADS_2