Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 88


__ADS_3

Sean menatap gedung-gedung tinggi di sekitar kantor nya dari jendela kaca, ruang kerjanya. pria itu baru saja melakukan panggilan telepon pada asisten nya. ia nampak menghela nafas dalam, dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya.


Sampai detik ini, ia belum pernah mendengar langsung Neysa memanggilnya dengan sebutan ayah. itu karena, memang dia yang tidak memberikan kesempatan putrinya untuk dekat dengan dirinya. ia tidak ingin putrinya terkena teguran neneknya. karena ia tahu, sejak hari itu ibunya membenci putranya sendiri.


Tapi jauh di lubuk hati, sebenarnya Sean ingin sekali memeluk dan memanjakan putrinya, putri satu-satunya. putri yang membuatnya bersemangat sepeninggal istrinya. putri yang menjadi harapan dan kebahagiaan nya. tapi ia sadar, semakin ia berusaha dekat maka, ibunya akan semakin membuat Neysa menjauh darinya.


Sean memutar kursi kerjanya. ia melihat jam yang berada di atas meja kerjanya. sudah menunjukkan waktu makan siang.


Bila di kantor pusat dulu, pasti John akan membawakan kotak makan berisi makanan ataupun camilan yang di titipkan Neysa untuknya.


Sean paling senang saat mendapatkan kiriman itu. dan itu, hampir setiap hari. hal kecil itu yang membuatnya semakin semangat bekerja hingga ia menyiapkan banyak bisnis untuk putrinya, kelak.


Ya, walaupun sekarang ia tidak bisa memeluk dan memanjakan putrinya. tapi, Sean sudah menyiapkan masa depan untuk Neysa. bisnis kuliner, bisnis kosmetik dan bisnis parfum, serta beberapa bisnis produk BNIB ( baju, tas dan aksesoris lainnya).


Mungkin, hanya dengan itulah nanti putrinya bisa tahu bahwa, ayahnya peduli padanya. bahwa ayahnya begitu menyayangi nya sehingga, ia benar-benar memastikan putrinya tidak akan kesulitan dan kekurangan apapun.


Ponsel berdering, hingga membuyarkan lamunannya. Sean melihat layar ponsel. tertulis jelas di layar ponsel "Dokter", membuat Sean segera mengangkatnya.


"Iya, selamat siang.", jawab Sean.


"Oh, ok.",


"I'll be there soon.",


"Ok, thank you.", ucap Sean, mengakhiri panggilan telepon nya.


Pria itu mengambil jas yang tergantung di kursi kerja dan memakainya. ia segera keluar dari ruangan nya dan berjalan menyusuri lorong hingga berhenti di depan lift.


Tak lama, lift terbuka. Sean segera masuk dan menekan tombol turun. ya, ia harus segera menemui dokter yang baru saja menelepon nya.


Sekitar sepuluh sampai lima belas menit, pintu lift kembali terbuka. membuat pria itu melangkahkan kakinya keluar dan berjalan melewati meja resepsionis hingga sampai di lobi.


Sean segera menghampiri mobilnya yang terparkir rapi di parkiran perusahaan nya. ia menyetir sendiri menuju rumah sakit tempatnya melakukan medical check up.

__ADS_1


Jalanan cukup lenggang di jam istirahat makan siang. Sean sampai di rumah sakit setelah berkendara kurang lebih 30 menit.


Pria itu segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit. ia terus berjalan dan menaiki tangga menuju ruangan dokter menanganinya.


"Tok....",


"Tok....",


Sean mengetuk pintu dulu, sebelum masuk. nampak asisten dokter membukakan pintu untuknya.


"Selamat tengah hari, tuan.", sapa perawat dalam bahasa Melayu. Sean hanya mengangguk.


"Sila, masuk.", ucapnya, membuat Sean segera melangkahkan kakinya.


Sean menghampiri dokter, mereka saling berjabat tangan sebelum mempersilahkan Sean duduk. perawat nampak meletakkan beberapa berkas di meja dokter, sebelum kemudian pamit undur diri.


"Bagaimana?.", tanya Sean, saat perawat baru saja keluar dan terdengar pintu ruang dokter baru saja di tutup.


......................


"Tapi, dokter sudah sampaikan hal ini pada dokter Jeno, kan?.", tanya Sean memastikan. dokter mengangguk, mengiyakan.


"Ok. jika, ada berita terbaru dari dokter Jeno. please, call me!.", ucap Sean, berpesan.


"Oo right!.", jawabnya. mereka saling berjabat tangan, sebelum Sean pamit.


Mereka tinggal menunggu dokter Jeno mengkonfirmasi hasil lab yang dikirimkan dokter Singapura. baru setelahnya, bisa di ambil keputusan untuk melakukan operasi.


Sean berjalan keluar ruangan dokter. ia memilih memakai lift untuk turun. ya, meskipun ia terlihat diam dan tidak perduli pada putrinya. tapi rupanya, ia selalu mendapatkan informasi tentang keadaan dan kesehatan neysa dari orang-orang kepercayaannya.


Pria itu melangkah keluar dari lift, melewati informan dan berjalan ke lobi hingga sampai di parkiran. ia segera menaiki mobilnya dan berputar sejenak di jalanan menuju cafe favoritnya bersama mendiang sang istri, dulu.


Sean duduk di kursi dekat jendela. ya, itu juga adalah tempat duduk favorit mereka ketika makan dan menikmati aneka cake disini.

__ADS_1


Favorit karena, dari tempat mereka duduk. mereka bisa melihat orang berjalan berlalu lalang menyusuri taman kota yang indah dengan aneka warna hijau pohon dan warna-warni bunganya.


Ia harus sehat dan menjaga tubuhnya tetap prima hingga saatnya tiba. apalagi dokter yang menanganinya di sini sudah mengirimkan beberapa file lab kesehatannya pada dokter Jeno.


Ia memesan steak dan jus serta salad. seorang pelayan menghampirinya dan meletakkan semua pesanan Sean di mejanya.


"Thank you.", ucap Sean. membuat pelayan itu membungkuk hormat, sebelum pergi. Sean segera menikmati semua pesanan nya. ia tidak punya banyak waktu untuk bersantai. banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum, ia meninggalkan Singapore dan melakukan kewajibannya sebagai seorang ayah.


Kurang lebih 30 menit Sean duduk dan memakan semua hidangan di mejanya. ia sudah berdiri dan berjalan ke kasir. pria itu nampak menyerahkan black card nya, sebelum akhirnya pelayan itu mengembalikan kartunya, sebagai tanda Sean telah menyelesaikan pembayaran nya.


Sean segera keluar dari cafe, menghampiri mobilnya dan naik, lalu bergegas menuju kantor lagi.


Sesampainya di kantor, ia juga langsung naik ke ruangan nya dan mengerjakan serta mengecek semua file yang dikirimkan oleh manager perusahaan nya.


Telpon kantor berdering. membuat Sean segera mengangkatnya.


"Baik. aku akan segera turun.", jawabnya. ia segera meletakkan gagang telepon di tempatnya, dan beranjak dari tempat duduknya.


Sean keluar ruangan dan menyusuri lorong. ia berhenti di depan lift. saat lift terbuka ada manager yang sudah berdiri di dalam lift.


"Tuan.", sapanya, saat lift terbuka dan melihat Sean berdiri di sana. ia mempersilakan tuannya masuk ke dalam lift, dan turun bersamanya.


"Kau, mau keruangan ku?.", tanya Sean, saat pintu lift telah tertutup dan lift mulai berjalan turun.


"Iya.",


"Saya, ingin mengantarkan beberapa berkas yang tuan minta.", jawabnya, sembari menyerahkan map berisi laporan yang di minta Sean. Sean menerima nya.


Sesaat pintu lift terbuka, membuat mereka segera keluar dari lift dan berjalan melewati resepsionis, hingga lobi.


Seorang supir membawakan mobil dan turun saat mobil berada di depan Sean serta manager nya.


"Saya, yang bawa mobil tuan.", ucap manager. Sean mengangguk. ia segera masuk, setelah manager membukakan pintu mobil untuk nya.

__ADS_1


Setelahnya, manager segera berjalan dan membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri, setelah menutup pintu mobil untuk Sean. dan segera duduk di kursi kemudi.


...----------------...


__ADS_2