
"Tapi, untuk saat ini kita sedang mencoba pengobatan radioterapi atau terapi radiasi menggunakan sinar-X atau sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel leukemia dan menghentikan pertumbuhannya.",
"Lakukan apapun!. lakukan apapun, sebisa kalian untuk menyelamatkan cucuku.", ucap ayah Sean, membuat kedua wanita yang duduk bersamanya hanya bisa memandang ayah Sean, dan berharap.
"Kami akan terus berusaha semaksimal mungkin, tuan.",
"Tapi, jika radiologi ini gagal. maka, kita harus mencari pendonor sumsum tulang belakang untuk nona.",
"Itu adalah cara terakhir, dan potensi keberhasilan nya cukup besar.", ujar dokter Jeno.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita melakukan tes sumsum tulang belakang.",
"Ini untuk mengantisipasi kalau hasil radiologi tidak memuaskan.", ucap ibu Cellya, memberi saran. ibu Sean mengangguk setuju.
"Benar. kita tidak boleh membuang-buang waktu. kita juga harus berusaha dan menyiapkan antisipasi untuk keadaan darurat.", ujar ibu Sean, setuju dengan usulan ibu Cellya. ayah Sean pun mengangguk setuju.
"Dokter, prosedur dan syarat apa yang harus kami lakukan untuk menjadi pendonor tulang sumsum?.", tanya ibu Sean.
"Pertama, kalian harus melakukan serangkaian tes kesehatan, dan tes kecocokan sumsum tulang belakang.",
"Sumsum tulang yang di donorkan, harus benar-benar cocok untuk pasien. ini untuk mengurangi resiko adanya komplikasi atau penolakan pada tubuh pasien yang menerima donor sumsum.", jawab dokter, menjelaskan.
"Kalau begitu, ayo kita lakukan!.", ucap ibu Sean. ia nampak sedikit bersemangat. begitu juga dengan ibu Cellya. ya, harapan mereka untuk melihat cucunya sembuh, kembali tumbuh.
Sementara Neysa dalam perawatan intensif mereka bertiga melakukan pemeriksaan kecocokan tulang sumsum belakang.
"Mama.", panggil Ellyana yang baru saja datang bersama David di temani supir nya. ya, ibu Cellya memberitahu Ellyana perihal sakit yang di derita keponakannya. dan ia juga memberi tahu bahwa, mereka akan melakukan tes kecocokan tulang sumsum belakang. oleh sebab itu, Ellyana dan David datang. mereka juga ingin memeriksa kecocokan tulang sumsum mereka. siapa tahu, mereka bisa membantu.
Hampir sepekan Neysa di rawat. namun, belum juga ada kemajuan. radioterapi yang di lakukan juga, obat-obatan yang di suntik kan lewat infus tidak banyak membantu.
"Tuan, nyonya.", panggil dokter, saat mereka sudah duduk berhadapan.
Kedua orang tua Sean juga besannya menatap dokter dengan harap cemas, tentang perkembangan kesehatan cucunya.
__ADS_1
"Perkembangan kesehatan nona selama sepekan ini, dengan metode radiologi juga obat yang di suntik kan lewat infus, untuk memecah dan membunuh sel kanker darah. belum membuahkan hasil.",
"Sementara, kondisi nona muda semakin menurun karena leukimia nya mulai menyebar kemana-mana.", ucap dokter. membuat semua yang ada diruangan itu menghela nafas berat dan kecewa seketika.
Sesaat suasana hening, semua diam dengan pikirannya masing-masing.
"Saya benar-benar minta maaf.", ucap dokter Jeno, berusaha mencairkan suasana. terdengar helaan nafas berat dari ibu Cellya. ia menatap dokter Jeno dengan sebuah harapan.
"Lalu, apakah ada cara lagi?!. untuk menyelamatkan cucu kami?.", tanyanya. pikirannya kacau, suaranya berat dan parau. tapi, ia masih berusaha tenang demi mencari solusi terbaik untuk cucunya.
"Cara terakhir adalah, pencangkokan sumsum tulang belakang.", jawab dokter. ketiga orang itu, ibu Cellya, ibu Sean dan suaminya saling melihat sekilas.
"Lalu, adakah diantara kami, yang cocok sebagai pendonor?.", tanya ibu Cellya. dokter Jeno nampak menghela nafas. ia mengambil beberapa laporan hasil lab yang telah di terima nya pagi ini. membaca kembali semua hasil lab mereka sekilas.
......................
"Maaf, tuan, nyonya.", ucapnya dengan berat hati, setelah selesai menjelaskan hasil lab mereka bertiga.
Seketika, ibu Sean lemas mendengar penuturan dokter Jeno. ya, diantara mereka bertiga tidak ada yang cocok untuk menjadi pendonor. begitu juga dengan Ellyana dan suaminya.
"Aku pergi dulu. aku akan kembali dengan membawa kabar baik. aku, janji.", ujarnya pada kedua besannya. ia membungkuk hormat sebelum berlalu.
"Maaf, nyonya.", terdengar suara John di ujung lorong. ya, ia tidak sengaja menabrak ibu Cellya. wanita itu, hanya mengangguk dan melanjutkan langkah nya.
Mendengar suara John, membuat manik ibu Sean membulat seketika. entah apa penyebabnya, ia segera berdiri dan menghampiri pria yang sedang berdiri di ujung lorong itu.
Ibu Sean menarik lengan John, lalu menampar pipi pria itu setelah pria itu menghadapnya. John yang kaget hanya bisa diam, apalagi melihat nyonya besar yang menampar nya. ayah Sean yang mengikuti langkah kaki istrinya pun, terkejut dengan perlakuan sang istri pada asisten putranya.
"Kenapa kau ada disini?.", teriaknya pada pria bertubuh besar dan tegap itu. John hanya menunduk.
"Kau ingin tahu keadaan cucuku lebih lanjut, sehingga bisa memberi kabar pada majikan brengsek mu itu, kan?.",
"Ku beritahu kau!.",
__ADS_1
"Sekarang cucuku sudah kritis. cucuku, sedang berjuang diantara hidup dan mati.",
"Semua pengobatan yang kami lakukan tidak membuahkan hasil.",
"Cucuku terancam tidak tertolong.", ibu Sean semakin menggila. ia bahkan terus-menerus memukul dada bidang John. membuat ayah Sean berusaha memeluk dan menenangkan nya.
"Katakan pada anak sialan itu bahwa, cucuku hampir mati.",
"Katakan!.",
"Katakan padanya!.", teriaknya. ayah Sean berhasil menghalau pukulan istrinya pada John. membuat pria paruh baya itu, memberi isyarat pada John untuk pergi menjauh.
Pria itu sempat membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan ayah Sean serta ibunya. sementara ibu Sean sudah terkulai lemah di lantai dengan tangisan dan racauannya yang tidak jelas.
Samar-samar hanya terdengar suara di sela tangisnya. "Cucuku, kenapa harus cucuku?!.", rengeknya beberapa kali. ayah Sean, membantu istrinya berdiri dan kembali menunggu di kursi.
"Kau ke kantor saja. biar nanti, Alex yang menjemput ku.", panggilan telepon terputus, setelah nya. John segera masuk ke dalam mobil dan menuju kantor.
Ya, ia bisa berada di rumah sakit karena harus mengantarkan ayah Sean, tadi. Alex sedang ada pertemuan dengan klien, jadi ayah Sean meminta nya untuk mengantar.
"Dimana kau?.", tanya suara di seberang, saat John mengangkat panggilan telepon.
"Baru dari rumah sakit mengantar tuan besar, tuan.", jawabnya.
"Tuan, sudah tahu perkembangan nya?.", John balik bertanya.
"Eem...", jawabnya.
"Begitu semuanya selesai, aku akan meminta manager untuk mengatur pesawat.", ucap Sean.
Sesaat panggilan itu hening. ya, Sean tidak tahu harus berkata apa?!. sedang John pun, sedang fokus menyetir.
"Tolong, jaga mama dan Dady. katakan itu juga pada Alex dan asisten mama.", ucapnya.
__ADS_1
"Mengerti, tuan.", jawab John, sebelum panggilan berakhir.
...----------------...