Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 59


__ADS_3

Seharian ini, Sean memilih untuk tidak menemui istrinya. ia ingin benar-benar tenang untuk saat ini. agar, ketika membicarakan masalah ini tidak terbawa emosi nantinya.


Dia juga sedang memberikan waktu pada istrinya agar berpikir lebih terbuka untuk kali ini, demi keselamatan bayi dan dirinya sendiri.


Malam datang, semua sudah selesai menikmati makan malam. Ellyana dan David memilih untuk bersantai di taman rumah sakit, sembari mencari udara segar.


Sementara ibu Cellya, ibu Sean dan juga ayahnya memilih pergi keluar, melihat sekeliling rumah sakit untuk memberikan waktu berdua pada Sean dan Cellya, berbicara.


"By, bisakah sekarang kita bicara?!.", bujuknya pelan. ya, sedari tadi Cellya tidak mau bicara ataupun menyapanya. ia kekeuh mempertahankan baby dua hari lagi agar berusia pas 32minggu.


Ia memikirkan dan mengkhawatirkan hal buruk, jika baby lahir prematur kurang dari 32minggu.


"Jangan mengatakan apapun kalau tetap memaksa untuk melahirkan baby lebih awal.", jawabnya lirih, dengan susah payah. tapi penuh penekanan.


Sean membuang muka. ia tidak tahu harus bagaimana lagi berbicara dengan istrinya ini?!. dengan cara lembut pun Cellya tidak juga mau mengerti.


"By, masalahnya jika baby tidak segera di lahirkan. mungkin saja, baby juga tidak akan tertolong. mengertilah sedikit, apa maksud ku!.", ucapnya, dengan nada sedikit tinggi.


"Aku tahu kau menginginkan baby lahir sehat. tapi, pikirkan juga dirimu!.",


"Kau pikir aku senang, kau memilih mempertahankan nya?!.",


"Kalau tahu akhirnya seperti ini, aku tidak akan pernah mengizinkan dirimu untuk hamil saat itu.",


"Aku akan lebih memilih, agar kau menggugurkan kandungan dan fokus pengobatan.", ujarnya emosional. ia meluapkan semuanya.


"Tidak ada yang penting selain kesehatan mu.", sambungnya, setelah terdiam sesaat.


Cellya menatap Sean yang sedang berdiri di samping jendela dengan tatapan tidak percaya.


Ya, mendengar suaminya mengatakan hal demikian seperti asing dan begitu menusuk telinga serta hatinya. ia tidak menyangka dan tidak mengira, suaminya berucap demikian.


"Aku hanya berusaha memenuhi janjiku.", ucapnya, pelan.

__ADS_1


"Kau selalu menginginkan suara anak-anak kita ramai memenuhi rumah.",


"Aku pikir, kesempatan hamil tidak akan terulang kedua kali. jadi saat tahu aku hamil, aku memutuskan untuk menunda pengobatan.",


"Tapi kenapa sekarang kau berkata demikian?!.", ujarnya. beberapa kali suaranya terbata, terputus dan hilang saat ia berusaha mengucapkan semua itu pada suaminya.


"Tapi sekarang semuanya berbeda, by.", jawab Sean. ia masih bersandar di jendela kamar rawat istrinya.


"Dulu, itu bukan penyakit yang berbahaya, by. tapi sekarang apa?!.",


"Sekarang dia berubah menjadi tumor ganas. berkembang dan menyebar dengan cepat ke seluruh kepala, bahkan sekarang sampai membuat mu susah makan dan bicara. maka dari itu, aku berharap baby di lahirkan segera.",


"Tolong, hargai nyawa mu. sayangi dirimu dan pikirkan kami.",


"Kita bisa memiliki baby lagi, nanti. tapi kesempatan untuk sembuh dari penyakit ini tidak datang kedua kali.", ucap Sean, masih berusaha memberi pengertian.


"Maaf, by. aku tetap ingin mempertahankan nya.", ujar Cellya, lirih. membuat Sean menoleh ke arahnya dan menggeleng tidak percaya. ia tersenyum kecut.


"Bahkan kau tidak mau mendengarkan ku lagi?!.", Cellya menggeleng pelan mendengar pertanyaan suaminya. sungguh, ia tidak bermaksud begitu. ia hanya tidak ingin baby nya lebih banyak menanggung resiko akibat kelahiran prematur.


......................


"Jika memang ini adalah perjuangan terakhir ku. aku sama sekali tidak keberatan.", lagi-lagi Sean tersenyum kecut mendengar ucapan Cellya.


"Lantas menurut mu, apakah aku bisa hidup dan merawat baby seorang diri?!.",


"Jangan membuat dia sedih dengan usahamu, by. melihat wajahnya, itu akan mengingatkan ku bahwa, kehadirannya lah yang telah membuat mu pergi.", ujar Sean, dan langsung berlalu meninggalkan Cellya sendiri di ranjang nya.


Ia menangis mendengar ucapan Sean yang terakhir. sedih sudah pasti. ia sudah lama tahu resikonya, tapi tidak dengan suaminya.


"Setidaknya, kau masih memiliki separuh diriku yang hadir dalam anak kita.", ucapnya, di sela Isak tangis melihat kepergian suaminya.


Malam itu, Sean tidak kembali ke ruang perawatan istrinya. entah, ia tidur dimana?!. sementara Cellya, belum bisa memejamkan mata, walaupun Ellyana dan David sudah tidur di sofa, untuk menemaninya malam ini.

__ADS_1


Pagi datang, setelah mandi dan bersiap. Ellyana dan David pamit untuk ke kantor. Cellya tersenyum, pada saudarinya.


Mereka berpelukan sesaat, begitu juga David. setelahnya mereka pergi keluar dari kamar rawat Cellya.


Pukul delapan pagi, sepeninggal Ellyana dan David. Sean berinisiatif untuk melihat keadaan istrinya, sekaligus meminta maaf masalah semalam dan mencoba membujuk Cellya lagi. tapi ternyata, sesampainya di depan pintu kamar istrinya, pintu kamar Cellya tidak bisa di buka.


Sean nampak kebingungan. ia mencoba mengetuk pintu dan berjalan mengelilingi kamar istrinya, sembari mengetuk jendela. namun, Cellya hanya diam dan tidak merespon.


Ya, sepeninggal saudaranya pergi bekerja dan setelah Cellya di periksa oleh dokter dan perawat ia segera mengunci pintu kamar nya.


Bukan tanpa alasan. dokter yang memeriksanya tadi mengatakan agar Cellya menjalani puasa untuk persiapan operasi nanti sore.


Mendengar hal itu, ia mengunci pintu kamar karena khawatir mereka akan membawanya ke ruang operasi.


Tidak. ia tidak ingin bayinya lahir sangat prematur, kurang dari 32minggu. ia khawatir dengan semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi pada baby nya di masa pertumbuhan mendatang.


"By, buka pintunya!.", ujar Sean sesekali sembari mengetuk pintu ataupun jendela. tapi Cellya tetap diam di atas kasur dan tidak menjawab maupun merespon panggilnya.


Akhirnya, Sean meminta bantuan pada OB di rumah sakit tersebut. tapi dokter menyarankan untuk tidak menganggu Cellya, agar pasien nya lebih tenang.


Sean akhirnya menuruti semua perkataan dokter. ia memilih duduk di kursi ruang tunggu istrinya, berjaga-jaga jika kalau istrinya tiba-tiba membutuhkan atau menginginkan sesuatu.


Cellya sudah memperjelas pada dokter Jeno, saat memeriksa nya tadi bahwa, ia akan melakukan persalinan sesuai jadwal pertama, dan tidak kurang satu hari pun dari 32minggu. oleh sebab itu, dia mengunci pintu kamar rawatnya dari dalam.


Sementara Sean menunggu di luar. Cellya nampak menyibukkan diri dengan menulis pada buku yang sebelumnya ia minta dari perawat.


Entah apa-apa saja yang ia tulis. yang jelas, ia ingin mengalihkan pikirannya agar tidak bersedih mengingat sikap suaminya.


Siang datang, Sean melihat Cellya dari balik jendela. istrinya nampak tertidur pulas.


Ia kembali duduk di ruang tunggu. beberapa kali ia melihat perawat mengantarkan makan siang pada semua pasien di kamar sebelah istrinya. tapi tidak ada satu pun yang datang untuk mengetuk dan memberi istrinya makan.


"Permisi. apa Cellya sudah makan siang ini?!.", tanya Sean. perawat itu menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kami sudah mengetuk pintu dan menawarkan makanan tadi. tapi, nona menolak.", jawabnya,


...----------------...


__ADS_2