Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 47


__ADS_3

"Tolong jagalah diri dengan lebih baik.", pintanya.


"Jangan merasa tidak butuh. kalau sakit, katakan sakit.",


"Jangan menutup-nutupi hal yang tidak perlu di tutupi.",


"By?!....", Cellya memanggil suaminya yang masih menunduk di depannya, sembari mengusap-usap plester yang sudah menempel di lukanya sedari tadi.


Suara Sean yang bergetar benar-benar membuat hatinya sakit. ya, ia tahu suaminya sedang menangis sekarang.


"Kenapa selalu berusaha menunjukkan diri baik-baik saja, padahal nyatanya tidak?!.", ucapnya. suaranya semakin merendah, dan ia tahu itu adalah puncak suaminya menahan amarah.


"Aku diam, by. aku menuruti semua maumu tanpa syarat.",


"Berharap bahwa kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa, kau sedang tidak baik-baik saja.", ujarnya. Cellya terdiam mendengar penuturan suaminya.


"Pandangan matamu terkadang buram beberapa hari ini, aku tahu itu.",


"Aku tahu, karena saat kau menatapku. tatapan itu tidak sepenuhnya terarah kepadaku.", lanjutnya.


"By, aku suamimu. kau tidak perlu merasa tidak enak atau sungkan meminta bantuan dan menyuruhku.",


"Kau juga tidak perlu menutupi apapun dariku.", ucapnya, mulai menatap Cellya.


"Kita bersumpah dan berjanji. berikrar sehidup semati, saling menerima di kala suka dan duka, saling menjaga di saat sehat dan sakit.",


"Jangan anggap aku orang lain, by.", ujarnya, suaranya memelas, membuat Cellya tak lagi bisa membendung air matanya.


Dengan sekali senggukan, air mata itu terjun tanpa permisi. Sean yang melihat istrinya yang mulai menangis. ia segera menaikkan badannya agar tinggi mereka sejajar. membiarkan lututnya sebagai tumpuan, dan mulai merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Maaf by, aku hanya khawatir. aku tidak marah padamu.", ujarnya, menenangkan Cellya yang kini sedang menangis di pelukannya.


"Berhentilah menangis. itu tidak baik untuk baby.", sambungnya. tapi Cellya masih menangis.


"By, jangan menangis lagi aku mohon!. kau boleh marah padaku, tapi berhentilah menangis.", ucapnya.


Perlahan Cellya berhenti menangis. "Maaf.", hanya itu yang keluar dari bibir mungilnya, membuat Sean melepaskan pelukannya.


Sean menangkup wajah istrinya. "Jangan meminta maaf padaku. bagiku, itu semua tidak penting.", ujarnya. ia beralih menggenggam kedua tangan Cellya dan menatap jari mereka yang bertaut.


"Berjanjilah, untuk tidak menyembunyikan apapun dariku. oke?!.", ujarnya, menatap kedua mata Cellya, hingga membuat wanita pujaannya itu mengangguk, setuju.


"Ok. sekarang haus semua air mata ini, kita akan makan malam dengan tamu.", ucap Sean, sembari menghapus sisa-sisa air mata di kedua pipi istrinya.


Setelah merapikan diri, mereka segera turun untuk makan malam. ya, Nani sudah mempersilahkan kedua tamu Sean untuk menunggu di ruang makan lebih dahulu.


"Maaf, membuat kalian menunggu lama.", ucap Cellya, yang segera duduk di kursi yang sudah di ambilkan oleh suaminya. setelah nya, Sean pun menyusul duduk di kursi samping istrinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. kami sempat berkeliling tadi bersama, John.",


"Kami melihat interior dan desain di setiap sudut rumah. semuanya, sungguh luar biasa.", ujar mereka bergantian, memuji betapa mewah, megah dan elegan nya mansion mereka.


Sean tersenyum, tangannya terulur meraih tangan istrinya yang sedari tadi berada di atas paha.


"Ini semua desain istriku.", ujarnya, sembari menatap Cellya, dan tersenyum manis padanya. membuat kedua tamunya takjub, mendengar penuturan Sean.


"Istriku dulunya seorang desainer, di perusahaan 'Desain Gramedia'. dia berhenti karena sedang hamil dan aku memintanya fokus pada kehamilan pertama ini.", sambungnya. sekali lagi, penuturan Sean membuat tamunya tidak percaya.


......................


"Rasanya, kami tidak percaya. seorang istri CEO mau bekerja di perusahaan orang lain?!.", Cellya tersenyum mendengar ucapan kolega suaminya.


"Menjadi desainer adalah impiannya. aku mengizinkannya, selama dia mau.", ujar Sean. membuat mereka bersorak dan tepuk tangan karena takjub.


Setelah banyak mengobrol, mereka akhirnya menikmati makan malam bersama.


Setelah menikmati makan malam, Sean mengajak mereka ke taman. mereka mengobrol di gazebo di temani suara gemericik air kolam ikan koi. menambah suasana semakin santai dengan obrolan kerja sama bisnis, yang mereka bahas.


Sementara Cellya segera menuju kamar. ya, Sean mengatakan pada koleganya bahwa istrinya mudah lelah akhir-akhir ini. jadi, ia meminta Cellya untuk istirahat di kamar.


Untungnya, mereka paham jika nyonya rumah tidak ikut menemani obrolan mereka.


Pukul delapan malam tepat. Sean mengantarkan mereka, hingga mereka masuk mobil dan meninggalkan pelataran mansion.


"Senang juga bekerja sama dengan anda.",


"Bolehkah lain kali kami membawa istri kami kemari, untuk berkenalan dengan istri anda?!.", tanya salah seorang dari mereka.


"Tentu, tuan. kami merasa sangat terhormat.", jawab Sean.


"Baiklah. sampai jumpa, tuan.", ucapnya, sebelum kaca mobil di naikkan. Sean mengangguk ramah, mengiyakan.


Setelah mobil mereka benar-benar menghilang di balik tembok besar mansion nya, Sean segera masuk dan menaiki tangga menuju kamar.


Ia membuka pintu dan melihat istrinya keluar dari kamar mandi. ya, Cellya baru saja berganti baju tidur.


"Mereka sudah pulang?!.", tanya Cellya. Sean tersenyum dan mengangguk. ia mendekati istrinya, lalu memeluk Cellya dalam.


"Kenapa?!.", tanya Cellya. tidak biasanya Sean bersikap demikian.


"Aku merindukanmu.", ucapnya. Cellya tersenyum.


"Kita bertemu setiap hari. bagaimana mungkin kau rindu?!.", ujar Cellya.


"Entahlah, bagiku bertemu setiap hari tetap tidak cukup.", jawab Sean. Cellya melepaskan pelukannya, ia menatap suaminya intens.

__ADS_1


"Kenapa?!.", tanya Sean, pada istrinya. Cellya mengalungkan kedua tangannya, di leher suaminya.


"Entah kenapa?!. sepertinya, tuan Xavier Kamasean sedang menginginkan sesuatu.", ucap Cellya.


"Kau tahu?!.", tanya Sean, mendekatkan wajahnya pada Cellya.


"Kalau begitu, bersiaplah!. aku mau membersihkan diri dulu.", bisiknya, lalu meninggalkan Cellya.


Wanita itu menoleh pada Sean yang berjalan ke arah kamar mandi. ia tersenyum, melihat suaminya menggoda dirinya sebelum masuk kamar mandi.


Setelah hampir setengah jam Sean berada di kamar mandi. ia akhirnya keluar.


Dengan semangat, ia mendekati istrinya yang nampak sedang membaca artikel di ponsel.


Sean segera naik ke ranjang dan lebih mendekat pada Cellya. ia meraih tubuh istrinya agar berada dalam pelukannya.


"Sedang membaca apa?!.", tanyanya.


"Sebuah artikel menulis, hubungan badan pada trisemester kedua, bisa menyebabkan perut kram, by.", ujar Cellya, membaca artikel itu.


Sean yang sedang menciumi bahu dan leher istrinya, seketika menghentikan aksinya dan ikut melihat artikel itu.


"Apa-apaan?!. ini artikel tidak benar.", gerutunya.


"Kita harus menanyakan pada dokter besok.", ujar Cellya.


"Lalu haruskah kita menunda sampai dokter mengatakan boleh?!.", tanya Sean.


"Aku rasa begitu, by.", jawab Cellya, polos.


"Oh, sial.", kesalnya.


Ia segera beranjak menjauh dari Cellya dan turun dari ranjang. berjalan ke lemari penyimpanan untuk mengambil selimut, dan kembali ke ranjangnya untuk mengambil bantal.


"Mau kemana, by?!.", tanya Cellya.


"Aku akan tidur di kamar bawah.", jawabnya. membuat Cellya menarik tangan suaminya seketika.


"Yakin mau tidur di kamar bawah?!.", tanyanya, dengan pose menggoda. membuat Sean memalingkan wajahnya.


"Oh, ****!!.", kesalnya.


"Jangan lakukan itu, by.", ujar Sean, memberi peringatan dengan wajah kesalnya.


"Kalau aku yang mau, bagaimana?!.",


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2