
Oma memalingkan wajahnya. "Jikalau, Sean datang. apa ibunya, akan membiarkan dia bertemu putrinya di situasi seperti ini?!.", batinnya.
Proses pertama dari transplantasi sumsum tulang belakang di mulai. nampak beberapa dokter dan perawat sudah berada di ruangan itu. semua alat sudah siap, dan anestesi mulai di suntikkan. dalam hitungan menit, pendonor mulai hilang kesadaran dan tertidur.
Setelahnya, dokter menusukkan beberapa jarum ke tulang panggul, untuk menarik sel-sel punca atau steem cell yang akan di bekukan lebih dulu, sebelum di berikan pada pasien. proses selesai, dan tinggal menunggu pendonor siuman.
Sementara, Neysa mulai di bawa ke ruang intensif. semua keluarga mengantar hingga depan pintu. gadis, itu nampak tenang walau sebenarnya, masih ada seseorang yang ia harapkan kedatangannya.
Proses operasi untuk pendonor sudah dilakukan pagi tadi. dan sekarang, saatnya untuk mentransfer sel punca dari pendonor ke pasien.
Proses selanjutnya adalah ahli bedah atau ahli radiologi akan menanamkan tabung tipis panjang (kateter intravena) ke dalam vena besar di dada atau leher, Neysa. Kateter, sering disebut jalur sentral, biasanya tetap di tempatnya selama perawatan berlangsung. Tim transplantasi akan menggunakan jalur sentral untuk memasukkan sel induk yang ditransplantasikan, obat-obatan dan produk darah ke dalam tubuh Neysa.
Setelahnya, sel-sel punca yang di masukkan dalam tubuh Neysa, akan mulai melakukan perjalanan melalui darah ke sumsum tulang. Pada waktunya, sel-sel induk ini akan berkembang biak dan membuat sel darah baru yang sehat, yang disebut engraftment.
Proses operasi berlangsung biasanya berlangsung antara 1-5 jam. tergantung kondisi tubuh pasien.
Semua menunggu dengan segala perasaan dan harap cemas yang melanda. begitu juga, pendonor Neysa. ia tampak menunggu info lebih lanjut, apakah cangkok tulang sumsum ini berhasil atau tidak?!. padahal, ia sendiri baru saja sadar dari proses pengambilan sumsum,.tadi pagi.
Setelah hampir lima jam, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. semua segera berdiri, untuk melihat Neysa yang di bawa keluar dari ruang operasi.
Wajah gadis kecil itu, nampak terlelap. mungkin, efek anestesi. selanjutnya, para perawat membawa Neysa ke ruang intensif. ya, ia mendapatkan perawatan ekstra agar tidak mudah terkena virus selama pengobatan.
"Bagaimana?.", tanya ayah Sean, pada dokter Jeno yang keluar paling akhir. sedangkan istri dan besannya, sudah tidak mempedulikannya. mereka segera mengikuti Neysa dan para perawat yang membawa cucunya, ke ruang perawatan.
"Operasi berhasil, tuan.", jawabnya. membuat wajah tua itu langsung tersenyum lebar. ia begitu lega, mengetahui kondisi cucunya.
"Terimakasih.", ujar ayah Sean, begitu bahagia. dokter Jeno tersenyum.
"Tapi, bukan berarti tidak akan ada masalah lagi, tuan.", lirihnya. membuat CEO perusahaan Xavie corp itu, seketika merubah ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Maksudnya?.", tanya ayah Sean.
"Nona, dalam pengawasan setelah operasi. kita akan melihat, apakah ada penolakan atau reaksi yang lain pada tubuh, nona setelah operasi ini.", ujar dokter Jeno. ia kemudian pamit undur diri dan berjalan meninggalkan ayah Sean di sana.
Pria itu, diam mematung di tempatnya dengan penuturan dokter Jeno.
Dua jam pasca operasi, tapi Neysa belum juga sadarkan diri. semua masih setia menunggu dan berharap gadis itu segera membuka mata.
......................
Tiba-tiba lima jam setelah operasi, tubuh Neysa mulai bereaksi. badannya tiba-tiba demam dan ia menggigil kedinginan. nafasnya pun, mulai terdengar memburu. semua yang sedang menunggunya panik dan memencet tombol nurse call.
Tidak lama kemudian, dokter dan perawat datang. mereka segera mengecek kondisi Neysa, sementara anggota keluarga menunggu di luar.
Semua nampak tegang menunggu dokter keluar dari ruangan Neysa. mereka benar-benar berharap cucunya baik-baik saja.
Hampir satu jam, dokter dan perawat berada di dalam sana. dan ketika dokter keluar, mereka pun segera menghampirinya dengan wajah cemas.
"Kondisinya menurun.",
"Ada tanda-tanda penolakan terhadap sumsum tulang belakang yang masuk ke tubuhnya.", jawab dokter, membuat mereka semua lemas seketika, dengan pernyataan dokter. ibu Sean, bahkan terlihat menangis dan bersuara.
"Kami sudah memberikan obat, dan akan mengevaluasi serta melihat reaksi berikutnya.",
"Kami harap, ini adalah awal tubuh nona menunjukkan hal yang positif terhadap sumsum tulang yang baru.", ujar dokter Jeno.
"Kau, terus saja berharap dengan memberi obat atau apapun itu. jangan gunakan cucuku sebagai bahan uji coba Atau malpraktek. aku bisa melepas gelar dokter mu, dan menghancurkan rumah sakit ini, jika mau.", bentak ibu Sean kesal. ia tidak tahu lagi, harus berbuat apa untuk menyelamatkan cucunya. ayah Sean segera memeluk dan menarik tubuh ibu Sean menjauh, sebelum semakin brutal.
"Maaf, dokter. juga, terimakasih.", ucap ibu Cellya, mewakili. dokter Jeno mengangguk, dan segera undur diri.
__ADS_1
Entah mengapa?!. pikirannya tiba-tiba terbersit untuk mencari tahu siapa pendonor cucunya. jadi, ibu Cellya pun pergi meninggalkan mereka dan memilih mengikuti dokter Jeno.
Pada awalnya, dokter hanya pergi ke ruangannya, lalu pergi ke kamar pasien - pasien lainnya. membuat ibu Cellya, akhirnya memilih untuk tidak mengikuti dokter lagi, dan memilih pergi ke taman untuk menenangkan diri. ya, ia butuh udara segar dan suasana yang berbeda untuk membuatnya lebih tenang menghadapi situasi saat ini.
"Bagaimana keadaannya?.", tanya seseorang yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, setelah tindakan operasi. pada seorang dokter yang datang untuk memeriksa perkembangannya.
"Tubuh nona mengalami reaksi demam dan menggigil.",
"Dokter sudah memberikan beberapa obat lewat infus. selanjutnya, masih tahap evaluasi dan melihat reaksi berikutnya pada tubuh, nona.", jawabnya, menjelaskan.
"Demam dan menggigil, apakah itu tanda dar reaksi tubuhnya?.", tanyanya lagi. dokter mengangguk.
"Itu bisa jadi, tanda penolakan terhadap sumsum tulang yang baru.",
"Itu sebabnya, kami masih terus melakukan evaluasi dan melihat reaksi tubuh nona, setelah pemberian obat ini.", jawabnya. orang itu mengangguk paham.
"Tolong, lakukan apapun yang terbaik.", pesannya, yang di angguki oleh dokter.
Selesai memeriksa, dokter segera undur diri dan pergi memeriksa pasien lainnya.
Ibu Sean dan ayahnya, masih setia menunggu Neysa di ruangannya. ibu Sean benar-benar tidak mau beranjak dari samping cucunya. ia takut, jika Neysa akan drop lagi tanpa ada yang mengetahui.
Sementara ibu Cellya, baru saja kembali dari taman. ia berjalan melewati lorong rumah sakit, menuju kamar rawat cucunya.
Nampak, dokter Jeno keluar dari ruangan lain dan memberi hormat pada seseorang yang berdiri di depan pintu. ibu Cellya nampak memperhatikan. lagi-lagi sosok tak asing, yang merasa ia kenal dan ia jumpai di malam itu. orang yang tak lain, katanya teman dokter Jeno yang baru pulang dari luar negeri.
Siapa sebenarnya mereka?!. kenapa begitu misterius sekali, bahkan saat dirumah sakit pun, memakai pakaian seperti itu. bahkan, kali ini sampai memakai masker juga.
Ibu Cellya, pura-pura lewat untuk lebih dekat dan lebih tahu. tapi, dengan cepat pria itu menyadari kehadirannya. dan dia memilih segera masuk dalam ruang perawatan, serta menutup pintu, setelah membungkuk hormat pada dokter Jeno.
__ADS_1
...----------------...