
Malam menunjukkan pukul sebelas lebih, dan gadis itu masih berusaha menyelesaikan sketsa nya.
Ya, dia ingin sekali menyelesaikan sketsa nya malam ini juga, sehingga besok bisa ia titipkan pada John untuk ayahnya.
"Hoaam....", Neysa nampak menguap beberapa kali, sebelum menyelesaikan sketsa miliknya. sesaat kemudian, gadis itu nampak tersenyum puas dengan hasil sketsa di tangan nya. ya, sketsa yang ia buat di sela waktunya belajar dan sekolah beberapa hari ini akhirnya selesai, dan hasilnya cukup memuaskan.
Ia melihat jam yang menghiasi dinding kamar nya, hampir tengah malam. cepat-cepat gadis itu membereskan buku serta alat tulisnya, lalu menyiapkan buku pelajaran untuk jadwal hari esok.
Setelah semuanya selesai, ia segera ke kamar mandi untuk menyikat gigi, cuci wajah, juga tangan dan kakinya. barulah ia beralih ke walk in closet, dan keluar setelah berganti piyama.
Neysa naik ke ranjang nya pelan. ia nampak menyelimuti kakinya, lalu berdoa. begitu menyelesaikan doanya, gadis itu segera menarik selimut dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
Pagi menunjukkan dirinya. cahaya matahari perlahan merangsak masuk melewati jendela kamar Neysa. nampak gadis itu tengah menyisir rambut panjang nya di depan cermin rias nya.
Ya, dia nampak sangat bersemangat pagi ini. terbukti, meskipun begadang dan tidur larut malam, ia bangun pagi seperti biasa nya.
Selesai merapikan rambutnya, Neysa mengecek kembali buku pelajaran nya hari ini. ia nampak memakai tas ranselnya dan memeluk sebuah buku gambar. lantas dengan senyum riang, gadis itu menuju ruang makan untuk sarapan bersama dengan kakek dan neneknya.
"Selamat pagi, nenek.",
"Selamat pagi, kakek.", sapanya, lantas memeluk dua orang tua itu bergantian.
Neysa mengambil tempat duduk setelah nya. ia meminum jus, sembari menunggu piring nya di isi sarapan oleh neneknya.
"Bersemangat sekali hari ini?!.", tanya kakeknya.
"Iya.", jawab Neysa antusias dan mengangguk. kakeknya nampak memandang wajah Neysa intens.
"Kenapa, kek?.", tanya gadis kecil itu, sembari menerima piring berisi menu sarapan pagi dari neneknya.
"Neysa, jatuh?.", tanya kakeknya. gadis itu nampak bingung dan menunjukkan ekspresi tidak mengerti.
"Maksud, kakek. Neysa, tadi jatuh?.", tanya kakeknya, mengulang ucapan nya, yang membuat neneknya menoleh dan menatap gadis kecil di depannya. Neysa menggeleng.
"Tidak, kek. memangnya kenapa?.", tanya Neysa.
__ADS_1
"Di sekitar mata Neysa, seperti lebam dan terlihat sedikit membiru.", jawab kakeknya. ibu Sean menyipitkan matanya, menatap wajah cucunya.
"Iya, sedikit biru sayang.",
"Apa Neysa, sakit?.", tanya neneknya, membuat gadis itu menggeleng.
"Tapi kenapa, bawah mata terlihat membiru, sayang?.", tanya neneknya.
"Sebenarnya, semalam Neysa tidur larut malam, nek, kek.",
"Neysa tidur jam sebelas lewat. mungkin, karena itu mata Neysa terlihat sedikit lebam dan membiru.",
"Kalau bahasa orang yang peduli dengan perawatan itu namanya, mata panda.", ujarnya, membuat kedua orang tua di depannya mengernyit, dan tersenyum karena melihat senyum manis Neysa.
"Memangnya, kenapa cucu nenek tidur larut malam?.", tanya ibu Sean.
"Neysa ada sesuatu yang harus di kerjakan dan selesai hari ini, nek. jadi, Neysa menyelesaikan nya sebaik mungkin.", jawabnya.
"Baiklah. kalau begitu, ayo kita segera sarapan. sehingga, bisa cepat berangkat.",
Mereka pun segera menikmati sarapan pagi, sebelum sibuk dengan aktivitas nya masing-masing.
......................
Neysa berdiri dari kursinya dan mengambil tas sekolah nya. ia berjalan menghampiri nenek dan kakeknya.
"Nek, kek, Neysa berangkat dulu ya?.", pamitnya. membuat kakeknya meletakkan sendok dan garpu lalu memeluk cucunya, begitu juga dengan ibu Sean.
Selanjutnya, gadis itu berjalan ke teras mansion. menunggu John disana.
"Sayang, maaf. nenek lupa, hari ini nenek dan supir nenek yang akan mengantarkan mu.", ucap ibu Sean, sembari berjalan menghampiri cucunya.
"Memangnya, paman John kemana nek?.", tanyanya.
"Paman John, terbang ke Singapura pagi ini. ayahmu, menelpon dan meminta nya untuk membantu ayahmu sementara di sana.", jawab ibu Sean, sembari membuka tas nya.
__ADS_1
"Oh.", ada sedikit rasa kecewa tersirat di wajah nya.
"Sayang, sebentar ya?!. ponsel nenek tertinggal di dalam.", ucap ibu Sean, berlalu meninggalkan Neysa. gadis itu hanya mengangguk.
Ia menatap buku yang sedari tadi ia peluk dan bawa di tangannya, selepas neneknya masuk ke dalam mansion. padahal, dia bersusah payah menyelesaikan sketsa nya karena ia ingin John membawa gambar itu untuk di tunjukkan pada sang ayah.
Neysa nampak menghela nafas dalam. "Sayang, maaf membuat cucu nenek menunggu.", ucap ibu Sean, sembari berjalan menghampiri Neysa. gadis itu, segera menyimpan buku gambar nya dalam tas.
"Ayo, kita berangkat. jangan sampai terlambat.", ujar neneknya yang di angguki oleh Neysa.
Mereka segera masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan oleh asisten ibu Sean. tak lama kemudian, mobil yang di tumpangi nenek beserta cucunya itu, segera keluar dari gerbang mansion dan melaju membelah jalanan, menuju sekolah Neysa.
Tidak banyak obrolan di antara nenek dan cucu kesayangan nya itu. begitu sampai di depan gerbang sekolah, Neysa segera turun setelah pintu di bukakan oleh supir neneknya.
Neysa menjabat serta mencium tangan neneknya dan saling memeluk, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam gerbang sekolah nya. setelah di rasa cukup, ibu Sean segera mengajak supir nya untuk segera pergi menuju butik nya.
Neysa masuk ke dalam kelas nya. ia duduk di bangku dengan lesu. bocah itu, lantas mengambil buku gambar yang sudah ia siapkan sejak semalam. ia membuka lembar demi lembar dan memandangi hasil sketsanya.
Ia ingin sekali ayahnya melihat sketsa yang ia buat. ya, sketsa itu adalah sketsa wajah ibunya, wajah dirinya dan wajah ayahnya.
Ia tidak pernah memiliki foto bertiga bersama ibu dan ayahnya. oleh sebab itu, ia membuat sketsa wajah ibu, dirinya yang berada di tengah dan ayahnya yang berada di samping kanan.
Gadis itu tetap diam sembari memandang sketsa itu. apakah ada kesempatan baginya untuk bisa foto bersama ayahnya?.
"Neysa, terimakasih undangan nya.", ia mendengar suara bersahutan mengucapkan terimakasih, yang membuyarkan lamunan nya. ternyata, sudah ada banyak temannya yang berkerumun mengitarinya.
"Undangan apa?.", tanyanya, tidak tahu apa maksud teman-temannya. mereka menunjukkan undangan ulang tahun Neysa yang sudah di sebar oleh seseorang. Neysa mengambil undangan itu dan melihatnya.
"Kalian dapat dari mana?.", tanyanya, setelah selesai membaca dan melihatnya. mereka menunjuk ke arah pintu kelas. membuat gadis itu menoleh dan melihat sosok yang sangat ia sayangi.
"Oma?!.", ucapnya, tidak percaya. ia nampak tersenyum dan berlari kecil menghampiri Oma nya.
"Oma menyiapkan semua undangan ini?.", tanyanya, tidak percaya. ya, bukankah Oma sedang sibuk membantu aunty El menjaga adik Kai?. ia tidak percaya Oma nya tidak lupa dengan hari ulang tahunnya, bahkan saat Oma nya sibuk. tapi anggukan dari Oma nya seolah menjawab bahwa, Oma tidak pernah melupakan nya, walau sebentar saja.
...----------------...
__ADS_1