
Semua sedang menunggu di depan ruang operasi. tidak ada yang menunjukkan wajah tenang. semua sedang khawatir dengan pemikirannya sendiri-sendiri.
Sean nampak terus berdiri di samping pintu, sementara yang lainnya duduk di kursi tunggu. wajahnya, benar-benar menunjukkan ke khawatiran yang sangat besar.
Ia menyesal berdebat dengan istrinya, yang akhirnya membuat Cellya mengurung diri di kamar rawatnya. terlebih dokter Jeno mengatakan kondisi ibu dan bayi nya melemah begitu cepat.
Bagaimana bila terjadi sesuatu pada mereka?!. apa yang harus dia lakukan?!. pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepalanya. begitu juga rasa bersalah, terus berputar di pikiran nya.
Suara tangis bayi membuyarkan keheningan di malam itu. ya, baby Cellya dan Sean sudah lahir. suara tangis nya terdengar hingga keluar ruangan operasi.
Mereka bereaksi dengan memeluk keluarga satu sama lain. Sean menangis haru sembari memeluk ayahnya. ia benar-benar tidak percaya bisa mendengar tangis baby nya.
Nampak beberapa orang perawat keluar dengan mendorong inkubator berisi baby mungil berjenis kelamin perempuan itu.
Mereka segera mendekat untuk melihat keadaan baby butter.
"Dia mungil sekali.", ucap ibu Cellya, penuh rasa haru.
"Dia cantik seperti ibunya.", sahut ibu Sean.
"Hai, baby. proud of you!.", ucap Ellyana, yang tidak bisa menyembunyikan air mata bahagia nya, melihat keponakan nya lahir dengan selamat.
"Maaf, baby.ini semua karena kami menyayangimu.", ujar Sean. mereka belum di izinkan menyentuh baby butter, karena baby sedang dalam perawatan intensif.
Ya, begitu lahir baby harus segera di masukkan inkubator. ada beberapa selang yang terpasang di badannya, termasuk CPAP ( alat bantu pernapasan bagi bayi ), selang infus dan selanjutnya, baby akan di bawa ke ruang NICU, untuk memantau perkembangannya setelah lahir prematur.
Para perawat membawa baby butter pergi menuju ruang NICU. sementara mereka masih menunggu Cellya di depan ruang operasi.
Tak berapa lama kemudian, Cellya juga menyusul keluar dari ruang operasi. ia di bawa ke ruang pulih sadar untuk mendapatkan perawatan dan pengamatan secara intensif.
Karena malam sudah semakin larut, dan operasi Cellya sudah di nyatakan berhasil. mereka bisa sedikit beristirahat dengan tenang.
David mengajak Ellyana pulang, sementara ibu Cellya dan ibu Sean serta ayahnya, memilih untuk tidur di ruang rawat Cellya. Sean sendiri, memilih menemani istrinya di ruangan steril itu.
Pagi datang, Cellya belum sadarkan diri. dokter juga terus mengawasi perkembangan nya. sementara operasi tumor otak sendiri, belum bisa di lakukan karena, menunggu pasien sadar terlebih dahulu.
Hari kedua setelah operasi, Sean masih setia menunggu Cellya di ruangan nya. ya, keadaannya sudah semakin membaik, dan bisa di pindahkan ke ruang perawatan. hanya saja, ia belum juga mau membuka mata.
__ADS_1
Sean mengunjungi putrinya. betapa ngilu hatinya, melihat baby kecil yang hanya berbobot 1,8 kilo itu terbaring di dalam inkubator.
Kali ini, bukan hanya selang infus dan selang alat bantu pernapasan saja yang terpasang di tubuh mungilnya. tapi, juga ada selang di bibir mungilnya. ya, itu adalah selang untuk memberikan ASI pada bayi yang terlahir prematur.
Detak jantung dan semuanya terekam jelas di monitor. semuanya stabil. Sean sedikit lega mendengar penjelasan dokter Tya.
Baby butter nampak menggeliat. meskipun dia kecil, tapi kata dokter dan perawat dia sangat lincah. tangisnya pun lebih keras dari bayi lainnya, yang juga sedang dalam perawatan.
......................
"Hai.", sapa Sean. ia benar-benar merasa bahagia sekaligus haru melihat perjuangan bayi kecil yang lahir prematur itu.
Sean mensejajarkan wajahnya dengan inkubator yang menghangatkan tubuh kecil baby nya.
"Hello, my prince. are you, oke?!.", tanyanya.
"Maaf, ayah baru melihat baby hari ini.", ujarnya. seolah mengerti dengan apa yang di ucapkan ayahnya. bayi itu menggeliat lalu, berpose imut menopang dagu dengan tangan nya.
Sean tersenyum melihat tingkah baby nya. "Momy, pasti bahagia dan gemas melihat tingkah mu.",
"Cellya, sudah bangun. dia mencari mu.", ucap ibu Cellya yang sudah masuk ke ruangan baby, dan berdiri di belakangnya bersama ibunya dengan pakaian medis, lengkap.
"Biar mama dan Oma nya yang menemani baby, di sini.", ucap ibu Cellya. Sean mengangguk dan tersenyum. ia lantas segera pergi untuk menemui istrinya.
"By.", panggilnya, di sertai senyuman yang mengembang di bibirnya, saat melihat istrinya sudah siuman. Cellya, menatap suaminya lemah.
Ia berjalan mendekati istrinya. Sean segera duduk dan meraih tangan Cellya. ia mencium tangan dan kening istrinya, bergantian penuh dengan rasa haru.
"Apa ada yang tidak nyaman?!.", tanya Sean. Cellya menggeleng pelan.
"Apa dokter sudah kesini, tadi?!.", tanya Sean lagi. membuat Cellya mengangguk. ia menatap sekeliling, mencari sesuatu.
"Kenapa, by?!.", tanya Sean.
"Mana, baby?!.", tanyanya, berat.
"Apakah dia baik-baik saja?!. aku ingin melihat nya.", ujarnya lagi, lemah.
__ADS_1
"Baby, sedang dalam perawatan intensif. kau bisa kesana jika, kondisi mu membaik dan sudah stabil.", jawab Sean lembut. ia mengusap surai Cellya, dan memandang wajah istrinya yang masih terlihat pucat.
Cellya terdiam, ia seperti memikirkan sesuatu. menyadari hal itu, Sean segera mengeluarkan ponselnya.
"Aku punya sesuatu, untukmu.", ujarnya sembari membuka galeri ponselnya.
Sean memutar sebuah video yang membuat Cellya membulatkan matanya, senang dan haru.
Ya, tadi saat Sean mengunjungi putrinya. ia sempat merekam saat baby mereka menggeliat dan berpose imut.
Sean mengusap air mata yang jatuh dari sudut netra sang istri. membuat kedua pandangan mereka bertemu.
"Jangan menangis, by. dia sangat hebat. persis seperti dirimu.", ucapnya, mencoba menenangkan istrinya.
"Kapan aku boleh menemuinya?.", tanya Cellya. ia terlihat antusias, meski suaranya terputus.
"Saat keadaan mu sudah stabil. aku janji akan mengajakmu untuk menemuinya.", jawab Sean.
Cellya menatap Sean, dalam. ia mengulurkan jari kelingkingnya. "Janji?!.", ujarnya.
"Janji.", jawab Sean, sembari menyatukan kelingking mereka. Sean mendekatkan wajahnya pada wajah Cellya. ia menyatukan keningnya dan kening istrinya, hingga kedua hidung mereka beradu.
"Cepatlah membaik. agar kita bisa segera pulang, dan merawat baby bersama. oke?!.", ucapnya, yang di angguki Cellya.
Untuk sesaat mereka hanya saling memejamkan mata dan menikmati suasana itu. hingga akhirnya, Sean menjauhkan wajahnya perlahan.
"Siapa nama baby butter?!.", tanya Sean. membuat Cellya nampak berpikir.
"Jangan katakan, kau belum memikirkan nya, by.", ujar Sean.
"Aku belum memikirkan nya, karena kau dan mama selalu memanggilnya dengan, baby butter.",
"Lagi pula, kemarin kita belum mengetahui jenis kelamin nya. jadi, aku belum memikirkan nya.", ucapnya terbata dan sesekali suaranya hilang.
"Kalau begitu sekarang, pikirkanlah!.", ujar Sean, sembari menyentuh ujung hidung istrinya. Cellya menggeleng pelan.
"Pikirkan!. sudah seharusnya, ayahnya yang memberi nama.", ucapnya, meskipun tenggorokannya masih terasa sakit saat berucap.
__ADS_1
...----------------...