Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 82


__ADS_3

Mobil terparkir di depan mansion. Neysa segera keluar dari mobil, setelah paman Han membuka pintu untuknya.


Gadis itu memasuki rumah, nampak para pekerja penata dekorasi untuk ulang tahunnya sedang sibuk mengerjakan tugas mereka.


Ia melihat sekilas, lalu segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti baju. setelahnya, Neysa hanya duduk di tepi ranjang. entahlah, badannya terasa lemah dan tidak berdaya, membuat nya memilih untuk merebahkan tubuhnya sejenak di kamarnya. namun, gadis itu malah tertidur pulas.


"Tidak!!!........", teriak Sean bersamaan dengan dia terbangun dari tidurnya. nafasnya terengah-engah, ia menatap sekeliling apartemen nya. tidak ada siapa-siapa, John juga pamit pulang ke rumah melihat istri dan anaknya tadi.


Ya, Sean tertidur pulas begitu sampai di apartemen miliknya setelah pesawat mendarat di bandara.


Ia memejamkan matanya, mengingat kembali mimpi buruk yang baru saja ia alami. Sean menghela nafas dalam, perasaannya menjadi gusar.


Pria itu keluar dari kamar menuju dapur yang berada di apartemen nya. ia membuka lemari es dan mengambil air. ia menuangkan air dalam gelas dan meminumnya.


Pria itu berjalan ke balkon apartemen. ia meneguk air di tangannya sembari mencari udara segar untuk menenangkan hatinya.


Sean menyandarkan tubuh dan kepalanya di dinding. ia menatap gemerlap lampu kota dari balkon apartemen nya. entahlah, kenapa akhir-akhir ini ia sering memimpikan mendiang istri dan juga Neysa putrinya.


Apa karena ia tidak pernah mengunjungi makam Cellya?!, pikirnya. ya, semenjak putrinya sakit Sean tidak pernah datang ke makam mendiang istrinya. alasannya?!, entah. hanya Sean yang tahu. tapi, setiap hari dia selalu mengirimkan bunga kesukaan sang istri ke pusaran nya. meskipun, John yang menjadi pengantar bunga itu setiap hari.


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, dan kini ia merasakan lapar. karena malas keluar, Sean pergi ke dapur untuk membuat makan malam nya sendiri.


Sean membuka lemari es, ia melihat beberapa bahan di lemari pendingin itu. ada daging sapi yang masih tersimpan apik di lemari pendingin nya.


Ia mengambil daging itu dan mengambil bahan-bahan lainnya. tidak lupa, ia juga menanak nasi di rice cooker untuk mempermudah dan mempercepat matang masakannya.

__ADS_1


Pria itu nampak piawai memotong daging dan menyiapkan bumbunya. tangannya nampak cekatan memasak semua bumbu dan memasukkan daging ke dalamnya. sembari menunggu daging empuk, ia membuat jus buah terlebih dahulu. setelah dirasa cukup empuk, Sean menambahkan saus dan kecap lalu mengaduknya sebentar dan membiarkan bumbu lebih meresap, baru setelah nya ia mematikan kompor dan menghidangkannya di meja bersama dengan nasi yang baru matang.


Sean mengambil nasi secukupnya. dan membawa semangkuk nasi serta daging ke meja makan. ia mulai melahap makanan itu, dan mengunyahnya pelan.


Pria itu nampak memejamkan mata, karena teringat sesuatu. ya, ini adalah masakan favorit Cellya yang sering ia masak untuk mendiang istrinya dulu. Sean tersenyum kecut, sejenak raut wajahnya berubah sendu.


Tak ingin berlarut-larut dengan sedihnya lagi, ia memutuskan untuk segera menghabiskan makanannya dan mengerjakan pekerjaan kantor nya yang belum selesai.


Kini pria itu tengah duduk di kursi sembari menatap layar laptopnya di balkon. nampak raut wajahnya begitu serius membaca semua file dan laporan yang masuk. untuk merilekskan pikiran nya, Sean nampak sesekali meminum kopi yang berada di samping laptopnya.


......................


Neysa baru saja menyelesaikan makan malam bersama Oma, nenek dan kakeknya. ya, ia dibangunkan oleh Oma nya tadi.


"Neysa mau buah?.", tanya Oma nya. gadis itu meletakkan gelas bekas susunya di meja, lalu menggeleng.


"Neysa hanya kelelahan, kakek. tadi di sekolah ada pelajaran olahraga, seleksi untuk lomba lari estafet mewakili sekolah minggu depan.", jawabnya. ia berusaha menjelaskan, agar kedua nenek dan kakeknya tidak khawatir.


"Baiklah. kalau begitu, Neysa cepat istirahat saja.", ujar neneknya, dan Neysa tersenyum menyetujui saran sang nenek.


Neysa segera kembali ke kamarnya. tapi, ia tidak tidur. ia nampak sedang membuat sesuatu dengan benang dan sebuah aksesoris batu - batuan.


Ia duduk di ranjang. tangannya sibuk merangkai benang dan batu berwarna merah dan hijau. ia nampak membuat tali simpul yang bisa di longgarkan dan di kencang kan.


Sementara di apartemen Sean nampak telah selesai membungkus sesuatu. entah apa yang tersimpan di dalam kotak kado berwarna putih itu. setelah selesai dan mengemasnya rapi, Sean segera menyimpan kotak itu di atas meja kamarnya.

__ADS_1


Pria itu merebahkan tubuhnya setelah selesai. bayangan dalam mimpinya kembali muncul. si mimpi itu, Sean nampak tertawa lepas, sembari berlarian mengejar istri dan anaknya. ya, mereka bermain kejar tangkap. namun, yang terjadi setelahnya adalah, istri meninggal dan di susul oleh Neysa, karena mereka sama-sama jatuh ke jurang. di dalam mimpi, Sean gagal menyelamatkan mereka.


"Hahhh!....". lagi-lagi Sean terbawa mimpi dan sadar dari tidurnya. ia terengah-engah lagi. ada apa sebenarnya?. apa yang akan terjadi?. kenapa ia memimpikan hal yang sama secara berulang.


Sean bangun dari tidurnya. ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Apa yang sedang di lakukan putriku?.", tanya Sean, setelah panggilan telepon itu tersambung.


"Nona, baru saja selesai makan dan sekarang sedang berada di kamarnya, tuan.", jawab suara di seberang.


"Apakah dia baik-baik saja?", tanya Sean lagi.


"Iya, tuan. nona nampak baik-baik saja.",


"Hanya sedikit terlihat pucat. tapi, kata nona mungkin, nona hanya kelelahan setelah seleksi lomba untuk mewakili sekolahnya.", jelasnya.


"Baiklah, terimakasih.", ujar Sean, . mengakhiri panggilan nya.


Mendengar penuturan orang kepercayaan nya, Sean sedikit merasa lebih lega. ia berusaha mengalihkan pikirannya dari mimpi buruk. apalagi, bukankah ia baru saja menelepon orang kepercayaan nya. dan dia mengatakan bahwa, Neysa sedang baik-baik saja. jadi, itu hanyalah bunga tidur. bukan hal lainnya.


Malam semakin menampakkan dirinya. ia tidak ingin terpejam lagi. sementara Neysa baru saja menyelesaikan Sesuatu. ia meletakkan gelang yang ia buat dari bebatuan tadi di meja riasnya.


Ya, ia nampak membuat gelang couple tadi. ia membuat dari benang dan bebatuan alam. satunya batu berwarna hijau dan satunya warna putih.


Selanjutnya Neysa segera naik ke ranjang setelah membersihkan diri, menyikat gigi, dan mencuci kedua tangannya serta kaki.

__ADS_1


Gadis itu nampak sedang memakaikan selimut pada tubuhnya, sebelum merebahkan diri. selanjutnya, tidak lupa Neysa berdoa terlebih dahulu sebelum tidur. barulah saat semua sudah selesai, Neysa baru merebahkan tubuhnya dan bersiap terpejam menjemput mimpinya. perlahan tubuh mungil itu terbaring, mata indahnya terpejam. pertanda gadis itu masuk ke alam mimpi.


...----------------...


__ADS_2