Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 32


__ADS_3

Ellyana mengetuk pintu kamar rawat Cellya, sebelum masuk. ia lantas membuka nya, dan masuk di temani calon suaminya.


"How are you, ma?!. om, Tante?!.", sapa nya pada calon mertua dan kedua orang tua Sean.


"Baik.", jawab ibu Cellya.


"Baru datang?!.", sambungnya.


"Tadi pagi, ma. langsung kesini.", jawab David.


"Hai, your ok?!.", tanyanya. lalu, menghampiri Cellya dan memeluknya sekejap. ya, siapa yang berani lama-lama?!, mengingat Sean adalah type pencemburu.


"I'm, ok.", jawab Cellya, tersenyum.


"Aku membelikan sesuatu untuk mu. semoga lekas sehat, dan bisa segera pulang. aku merindukan waktu berkumpul bersama keluarga, seperti dulu.", ucap David. ia menyodorkan paper bag di tangan nya, dan Sean segera membantu istrinya, untuk mengambil paper bag itu.


"Aku dengar ginseng sangat baik untuk kesehatan. jadi, kau harus sering merebuskan untuk nya.", ucap David, memberi saran. Sean mengangguk.


"Terimakasih.", hanya itu yang di katakan Sean.


Setelah puas bertanya kabar dengan Cellya dan suaminya. David pun bergabung dengan ayah Sean, yang sedan duduk di sofa.


Ya, bisa di tebak kemana arah pembicaraan mereka jika tidak seputar bisnis.


Memang begitulah jika para pria pekerja keras sedang berkumpul. tidak ada yang di bicarakan selain tender dan projek perusahaan lainnya.


"Aku akan pulang hari ini bersama, David.", ucap Ellyana, yang sedang menyuapi buah Cellya.


"Kenapa buru-buru?.", tanya Cellya.


"Apanya yang buru-buru?!. aku cukup lama disini, begitu juga dengan mama.",


"Kami semua meninggalkan perusahaan begitu mendapat kabar tentang mu.",


"Sehari, dua hari jika tidak ada pekerjaan yang harus membuat kami melakukannya sendiri, sekertaris Queen masih bisa mengatasinya.",


"Tapi kalau ada janji temu dengan pimpinan perusahaan besar dan rapat, mau tidak mau, aku atau mama harus hadir, bukan?!.", ucap Ellyana, ia kembali memasukkan potongan buah ke mulut saudaranya.


"Ellyana yang akan pulang. Mama, masih disini.", ucap ibunya, memastikan pada putrinya, bahwa ia masih akan menemani sang putri dan menantunya disini. Cellya menghela nafas. sebenarnya, ia masih rindu dengan suasana seperti ini.


"Cepatlah membaik, sehingga bisa segera pulang. bukankah kau juga harus menghadiri pernikahan kami?!.", ucap Ellyana, paham bahwa saudara nya masih ingin di temani olehnya.


"Ya, cepatlah pulang. kami sangat mengharapkan kehadiran kalian.", sahut David, dari tempat duduknya.


"Kami pasti akan datang. ya kan, by?!.", tanya Cellya pada Sean, yang membuat suaminya mengangguk seketika.

__ADS_1


Akhirnya diputuskan, hari ini Ellyana kembali ke rumah bersama David.


Ya, bukan hanya masalah pekerjaan yang menantinya. persiapan pernikahan nya juga belum sepenuhnya selesai.


Meskipun menyerahkan semua pada WO (wedding organizer) tapi, mereka harus beberapa kali mengecek untuk memastikan semua sesuai dengan mau mereka, terutama Ellyana.


Ya, bagi mereka pernikahan hanya sekali seumur hidup, jadi harus di buat se berkesan dan seindah mungkin, sesuai pernikahan impian mereka.


"Begitu sampai rumah, makan dan istirahat lah lebih banyak. kau nampak terlihat sedikit kurus.", pesan Cellya pada saudarinya.


"Hei, seharusnya aku yang mengatakan hal ini padamu.",


"Lihatlah dirimu!. kau bahkan terlihat lebih kurus dariku. satu-satunya yang terlihat menonjol hanya perut mu.", ucap Ellyana kesal, yang malah membuat mereka semua tertawa.


"Kenapa kalian semua tertawa?!. aku serius!.", Ellyana nampak bersungut, kesal.


"Sean, kau harus memberinya makan yang banyak. mengerti?!.", pesannya pada Sean. dan Sean hanya tersenyum sembari mengangguk.


......................


Keesokan harinya, Ellyana sudah bersiap mengemas kopernya.


Ya, hari ini ia akan pulang bersama calon suaminya. mengurus pekerjaan kantor, menggantikan ibunya sementara, dan menyelesaikan persiapan pernikahannya yang hanya tinggal beberapa hari lagi.


"Kau harus hadir di pernikahan kami.", ucapnya, ketika pamit sembari memeluk saudaranya.


"Aku pasti datang.",


"Kau lihat, kan?!. hari ini infus ku di lepas.",


"Itu artinya, aku akan segera menyusul mu pulang.", jawab Cellya.


Ellyana melepaskan pelukannya. "Berjanjilah!.", pintanya.


"Janji.", ucap Cellya. ia nampak mengulurkan jari kelingkingnya, yang langsung di sambut oleh saudarinya. mereka nampak melempar senyum satu sama lain, dan menyatukan kening mereka.


"David, untuk sementara mama minta maaf karena tidak bisa membantu menyiapkan pernikahan kalian. tapi, mama janji akan segera pulang dan tidak membiarkan Ellyana sibuk dengan pekerjaan di hari pernikahan nya.", ucap ibu Cellya, pada calon menantunya.


"It's ok, ma. no problem.",


"Mama tidak perlu khawatir atau merasa tidak enak.",


"Karena ini adalah pernikahan impian kami, jadi sudah sewajarnya kami yang menyiapkan semua untuk para tamu.",


"Mama tinggal lihat hasilnya saja.", ucap David, menenangkan mertuanya. ibu Cellya tersenyum.

__ADS_1


"Sekali lagi, mama minta maaf. dan terimakasih untuk semuanya.", ucap ibu Cellya, lantas memeluk calon menantunya.


John di tugaskan untuk mengantar mereka ke bandara. mereka akan terbang dengan jet pribadi, agar lebih cepat dan mereka bisa beristirahat lebih leluasa selama perjalanan.


Sementara tuan Xavier, yang merupakan ayah dari Sean juga akan terbang untuk pulang sore nanti, setelah menyelesaikan projek dan menemui klien di perusahaan cabang nya yang berada di Singapura.


Sean mendorong kursi roda Cellya di taman. ya, beberapa saat yang lalu, gadisnya merasa jenuh di kamar setelah Ellyana pamit pulang. jadi, Sean mengajaknya untuk melihat taman dan pemandangan sekitar.


"By, kita duduk di sana saja.", ucap Cellya sembari menunjuk kursi taman di bawah pohon bunga sakura. Sean mengangguk dan langsung mendorong Cellya ke tempat yang di maksud.


Sean segera duduk di bangku taman, setelah mengunci roda kursi.


"By, kata dokter kapan aku boleh pulang?!.", tanya Cellya.


"Tunggu hasil pemeriksaan terakhir. baru bisa di putuskan apakah bisa pulang, atau harus tinggal disini beberapa hari lagi?!.", jawab Sean.


Jawaban yang kurang memuaskan tentunya bagi Cellya.


"Tapi by, aku ingin hadir di acara pernikahan Ellyana.",


"Dia pasti sedih jika aku tidak ada di sana.",


"Maka dari itu, kau harus makan yang banyak, minum obat yang teratur dan istirahat yang cukup agar cepat pulih. mengerti?!.", pesan Sean. Cellya hanya menghela nafas.


"Aku mencintaimu.", ucap Sean beberapa saat kemudian, ketika melihat raut wajah istrinya sedikit kesal. tapi Cellya hanya meliriknya.


"Apa kau sudah tidak mencintai ku?!.", tanya Sean, karena tidak mendapatkan balasan dari Cellya.


"Tentu saja. apa harus di ucapkan?!.", gadisnya balik bertanya.


"Tentu saja.",


"Aku mengungkapkan nya, dan sudah seharusnya kau menjawab nya kan, sayang?!.",


"Aku lebih mencintaimu.", ucap Cellya, di sertai senyumnya. membuat pria yang duduk di sampingnya itu, segera memeluk nya mesra dan mengecup kening serta rambutnya beberapa kali.


"Cepatlah sehat kembali.", ucapnya sembari merangkup kedua pipi istrinya.


Ia lalu beralih ke perut buncit Cellya. mengecup dan mencium serta mengusap nya lembut.


"Hai sayang. ayah dan ibu menyayangimu, jadi berjanjilah untuk selalu sehat, ok?!.", bisiknya pada perut Cellya. membuat bayi itu menendang.


Tangan Cellya meraih tangan Sean, lalu meletakkannya di atas perut, sehingga Sean bisa merasakan gerakannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2