
"Maaf aku terlambat.", ucap seorang gadis manis yang baru saja datang, saat mereka selesai berdoa dan hendak menyantap makan malamnya.
"Bianca, selamat datang. mari, segera bergabung bersama kami.", ucap Ellyana, sembari menghampiri calon adik ipar nya.
Ia menarik kursi dan mempersilahkan adik David duduk di antara kakak dan ayahnya.
"Karena semua sudah berkumpul, mari segera kita mulai acara makan malam nya.", ajak ibu Cellya, ramah sebagai nyonya rumah.
Mereka segera menyantap semua hidangan di meja. menikmati makan malam dengan tenang dan di lanjutkan mengobrol di ruang keluarga.
Tentunya, itu adalah pembahasan para orang tua. sedangkan Cellya, Sean, David, Ellyana dan Bianca, membuat acara sendiri bersantai sembari mengobrol di taman rooftop rumah.
Mereka terlihat bercanda dan menghabiskan waktu bersama untuk mengurangi rasa tegang Ellyana dan David yang akan mengucap janji.
Suasana yang ia rindukan. suasana yang sudah lama tidak mereka lewati bersama.
Ya, Cellya merasa bahagia berada di antara mereka, bahkan hatinya cukup merasa damai saat melihat suami dan saudara serta calon suami dan calon adik Ellyana tersenyum dan tertawa renyah.
Bisakah ini terus terulang?!. pertanyaan yang tidak pasti di ketahui jawabannya.
Entahlah, tiba-tiba saja matanya berembun dan segera ia mengalihkan pandangannya, sebelum yang lain menyadari kesedihannya.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam lewat. seorang maid datang, untuk mengingatkan.
"Tuan David, dan nona Bianca. Anda berdua di tunggu oleh kedua orang tua anda di bawah.", ucap maid. yang segera di angguki oleh David.
David memeluk Ellyana sejenak, lalu bergantian memeluk Cellya dan Sean, begitu juga dengan Bianca.
"Tidurlah yang nyenyak malam ini. esok, kita tidak bisa bertemu, jadi aku akan mengirim pesan teks saja.", ucap David, membuat Ellyana tersenyum manja.
"Kau juga, istirahatlah dengan baik. kita akan bertemu kurang dari 48 jam, lagi.", ucap Ellyana. ia lantas memeluk David erat.
"Ohh... aku pasti sangat merindukan mu nantinya.", ucap Ellyana, David mengusap surai kekasihnya lalu mengecup kening Ellyana sekilas.
Mereka segera turun dari rooftop, di ikuti Bianca dan Cellya serta Sean.
"Pelan-pelan, by. aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu.", ucap Sean, sembari memegangi tangan sang istri, saat menuruni tangga.
"Setelah ini, langsung istirahat ke kamar saja, oke?!.",
"Ada mama dan Ellyana yang mengantar mereka sampai teras.", Cellya mengangguk, menuruti perintah sang suami.
Mereka berpisah di balkon. Ellyana mengantar calon suami dan adik ipar nya turun. sementara, Sean segera mengajak Cellya ke kamar untuk istirahat.
__ADS_1
Sudah lama, sejak ia menikah jarang sekali tidur di kamar ini. dan malam ini, ia kembali tidur disini di temani sang suami. tentunya, semua tatanan kamarnya tetap sama, tidak ada yang berubah.
"Aku ganti baju dulu, ya?!.", ucap Cellya setelah masuk kamar. Sean mengangguk.
Cellya segera masuk ke kamar mandi, sementara Sean menyiapkan bantal untuk tidur istrinya.
Ya, dia sama seperti dulu. selalu memastikan hal-hal kecil bagi istrinya, agar Cellya merasa nyaman.
"Mau ganti baju tidur juga, by?!.", tawarnya pada sang suami, setelah keluar dari kamar mandi. Sean mengangguk.
Cellya segera masuk ke ruang penyimpanan baju. ia mengambilkan piyama untuk suaminya.
"Ini, by.", ucapnya, menyerahkan satu set piyama pada Sean setelah keluar dari walk in closet.
"Aku ganti baju dulu, oke?!.", pamitnya, yang hanya di balas senyuman oleh Cellya.
......................
Pagi datang. Sean tidak ke kantor pagi ini, dan lebih memilih untuk menemani istrinya di rumah mertua.
Bukan tanpa alasan. hari ini semua orang sibuk menyiapkan acara pernikahan Ellyana, besok. jadi, ia tidak ingin istrinya kesepian.
Lagi pula, Sean sudah membuat janji dengan dokter untuk pemeriksaan Cellya.
"Selamat pagi, semua.", sapa Sean, ketika sampai di meja makan.
"Pagi, ma, El.", sapa Cellya, sembari duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh suaminya.
"Pagi.", jawab ibu Cellya dan Ellyana bergantian.
"Tidurmu nyenyak, semalam?!.", tanya ibu Cellya. Cellya mengangguk senang.
"Mama, tidak ke kantor hari ini. semua urusan kantor, mama serahkan pada sekertaris Queen dan asisten Han. Mama, akan pergi ke tempat pemberkatan dan ke tempat acara resepsi bersama Ellyana, untuk melihat semua persiapan.",
"Bagaimana dengan kalian?!.", tanya ibu Cellya.
"Hari ini aku juga tidak ke kantor, ma.",
"Aku mau membawa Cellya untuk medical check up.",
"Aku ingin memastikan bahwa, dia dalam keadaan baik untuk mengikuti acara Ellyana, besok.", jawab Sean.
"Baiklah. kalau ada waktu, dan ingin menyusul mama. kau bisa menelepon mama, lebih dulu sayang.", pesan ibu Cellya, sembari memegang tangan putrinya. Cellya tersenyum, setuju.
__ADS_1
"Maafkan mama, karena tidak bisa memperhatikan mu.", ucap ibu Cellya, sedih.
"It's ok, ma. tidak perlu sedih. ada suamiku, yang selalu siaga menjagaku.", ucap Cellya, sembari melirik Sean, sehingga membuat pria itu tersenyum.
"Baiklah. mari kita sarapan!.", ajak Ellyana, membuyarkan adegan ibu dan anak itu.
Mereka pun menikmati sarapan pagi bersama. begitu selesai, Ellyana dan ibunya segera berpamitan untuk pergi ke lokasi di adakan acara besok.
Mereka nampak berpamitan dan memeluk Cellya bergantian sebelum pergi menaiki mobil Porsche seri Cayenne berwarna putih, milik Ellyana.
Tidak lama setelah kepergian ibu dan saudaranya, Cellya dan Sean juga pergi meninggalkan rumah menaiki mobil Porsche Panamera milik Sean.
Ya, mereka harus bertemu dokter hari ini. Sean segera menyetir mobilnya ke rumah sakit, tempat biasa istrinya melakukan check up.
Begitu sampai, Sean segera turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. ia dengan siaga terus berjalan di samping istrinya, dan menggandeng Cellya.
"Permisi. dokter Camila dan dokter Jeno sudah ada?!.", tanya Sean pada resepsionis.
"Oh, ada tuan. silahkan langsung ke ruangan nya.", ucap perawat, ramah.
Sean tersenyum. " Terimakasih.", ucapnya, sebelum pergi menghampiri istrinya, yang sedang duduk di kursi tunggu.
Dokter Jeno adalah dokter yang menangani penyakit Cellya, setelah ia pulang dari Singapura.
Sedangkan dokter Camila, adalah dokter spesialis kandungan.
Sean segera mengambil nomor antrian, dan duduk di samping istrinya m, setelah nya.
Sama dengan pasien yang lain. mereka tertib mengikuti antrian.
Satu persatu sudah di panggil. kini, giliran mereka.
"Miss Cellya.", panggil asisten dokter Jeno.
Sean dan Cellya segera berjalan menghampiri asisten, yang langsung mempersilahkan mereka masuk ke ruangan praktek dokter.
Dokter spesialis saraf itu, segera memeriksa Cellya begitu istri CEO itu, berbaring di brankar.
"Masih sering pusing?!.", tanya dokter Jeno, setelah selesai memeriksa.
"Hanya saat kelelahan saja, dok.", jawab Cellya. dokter Jeno, tersenyum lalu meninggalkan Cellya yang sedang merapikan bajunya ketika akan turun dari brankar. dan dokter itu, memilih berbicara dengan Sean, tentang hasil check up hari ini.
...----------------...
__ADS_1