
"Sayang, jangan bicara seperti itu. ini baru satu bulan. kau masih harus terus banyak belajar, agar bisa menjaga baby dengan baik.", ucap ibu Cellya.
"Benar. jangan merasa bersalah atau berucap demikian. baby, akan sedih jika mendengar nya.", timpal ibu Sean.
"Ssttt.....", ucap Sean, sembari meletakkan jari telunjuk di bibirnya. membuat kedua pasang mata terbelalak dengan respon yang di tunjukkan Sean.
"Kenyataan nya memang seperti itu. dan memang seharusnya, dia tidak lahir ke dunia karena ibunya juga tidak ada.", teriaknya penuh emosi.
Ibu Sean refleks menampar wajah putranya. kecewa jelas terlihat di wajahnya. ia tidak menyangka putranya berkata seperti itu.
Padahal, selama ini ia melihat putranya adalah sosok ayah yang cukup baik untuk cucunya.
Sean terdiam sesaat, matanya masih menatap wajah ibunya sebelum akhirnya, ia menyahut jaketnya dan pergi keluar dari ruang rawat putrinya.
Ibu Sean terdiam di tempatnya, hatinya sesak. bukan hanya karena cucunya yang belum menunjukkan hal yang positif tentang perkembangan kesehatan nya. tapi, juga karena putranya.
Ibu Cellya mendekat. ia mencoba membujuk besannya untuk mengejar Sean, mumpung belum jauh. tapi ibu Sean hanya menggeleng dan pergi meninggalkan nya. jadilah, ibu Cellya hanya duduk di kursi samping ranjang baby Neysa.
Sean mengemudi mobil Porsche Panamera nya membelah jalanan. tidak tahu, kemana ia akan pergi dan apa yang akan dia lakukan. sampai ia menghentikan mobilnya di depan sebuah area pemakaman.
Sean turun dari mobil. ia berjalan cepat dan sesekali berlari kecil, sementara buliran bening meluncur begitu saja dari kedua matanya.
Ia menjatuhkan diri tepat di atas pusara istrinya. tangisnya pecah disana, mewakili jerit dan ketakutan hatinya saat ini.
Untuk sesaat dia hanya tertunduk di atas nisan istrinya, sementara bahunya bergoncang hebat karena tangisnya. ia benar-benar rapuh dan lemah kali ini.
Ya, siapa yang tidak hancur?!. saat ia mulai bisa menata kembali kehidupan nya bersama sang putri, saat ia mulai memutuskan untuk terus berjuang melanjutkan hidup seperti keinginan istrinya, dengan baby Neysa. dan saat ia mulai menikmati waktu menjadi singel parent bagi putrinya. sekarang, ia harus menghadapi kenyataan yang sedemikian menyakitkan baginya.
Putrinya di vonis terkena sepsis dan membutuhkan perawatan dan penanganan khusus. sesak, hatinya tak terkira.
Bila bisa di tukar, ia ingin menggantikan tempat baby Neysa terbaring. setidaknya, ia masih bisa mengeluh. sedangkan, baby nya?!, hanya bisa merengek, menangis tanpa bisa memberi tahu apa yang di rasakan, dan apa yang harus di lakukan orang-orang di sekitar nya, agar membuat ia nyaman.
__ADS_1
"Aku gagal, by.", ucapnya, di sela Isak tangisnya.
"Aku gagal.", ucapnya lagi. ia memukul-mukul dirinya sendiri. lalu menyandarkan kepalanya di nisan istrinya. ya, Sean merebahkan tubuhnya di samping makam mendiang istrinya.
Air matanya tak henti mengalir dari sudut netranya, ia merasa gagal menjadi seorang ayah untuk putrinya. Sean meratap sendu, ia ingin berbagi cerita pada mendiang istrinya.
Tiga hari berlalu, Sean tidak pernah datang ke rumah sakit. ya, entah mengapa?!. ia tidak datang menjenguk putrinya sejak kejadian malam itu
Hanya ibu dan mertua serta ayahnya yang berjaga bergantian di sana. sedangkan, ia malah memilih untuk aktif bekerja lagi di kantor pusat milik keluarganya.
Entahlah, apa yang ada di pikiran seorang, Sean?!. yang jelas, keputusan nya untuk bekerja kembali saat putrinya sedang di rawat intensif di rumah sakit membuat ibunya kecewa.
......................
Keadaan baby Neysa mulai menunjukkan perkembangan yang positif. kedua neneknya tentu saja merasa lega dengan hal itu.
"Aku akan memberi tahu, Sean.", ucap ibu Cellya, yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. wanita itu nampak mengambil ponsel dari tas nya, tapi urung di lakukan karena di cegah besannya.
"Tidak perlu, besan.", ucap ibu Sean, membuat ibu Cellya menghentikan aksinya.
"Sejak saat itu, aku sudah putuskan. aku, akan mengasuh cucuku sendiri tanpa bantuan ayahnya.", sambung ibu Sean.
"Itu tidak baik, besan.",
"Bagaimanapun, Sean adalah ayahnya.", ucap ibu Cellya, mencoba meredam kekecewaan ibu Sean.
"Ayah mana?!, yang tega mengatakan bahwa, dia tidak seharusnya di lahirkan?!.",
"Ayah mana?!. yang dengan mudahnya mengatakan seolah-olah, dia penyebab ibunya meninggal?!.",
"Katakan padaku!. ayah, yang mana?!.", ucapnya, sedikit berteriak karena emosi. ibu Cellya, terdiam mencerna ucapan besannya.
__ADS_1
"Dia mengatakan hal itu, karena dia sedang sedih dengan keadaan putrinya.", ucap ibu Cellya, lembut. mencoba memberi pengertian pada besannya.
"Dia pasti tidak bermaksud.....
"Katakan!. dimana perkataan yang tidak di sengaja itu?!.",
"Bahkan saat aku mencoba untuk menenangkannya, dia dengan lantang mengatakan hal itu?!.",
"Masihkah kau mengira bahwa, putraku orang baik?!.",
"Dia tidak lebih dari seorang pecundang.", ucap ibu Sean, memotong ucapan ibu Cellya, penuh amarah.
Ibu Cellya terdiam mendengar penuturan besannya. ia tidak ingin menjawab lagi, atau keadaan akan semakin memanas. ibu Sean akan lebih murka lagi, jika ia terus berusaha membujuk besannya untuk mencoba mengerti keadaan menantunya.
"Aku permisi, sebentar.", pamitnya, pada besannya. ya, ibu Cellya perlu mencari udara dan suasana luar untuk menenangkan hatinya.
Sebenarnya, saat cucunya di vonis menderita sepsis. bukan hanya Sean, ibunya, atau ayahnya saja yang terguncang dan sedih. ia pun juga demikian.
Tapi, ia yakin Tuhan maha adil. setelah kepergian putri nya, tuhan telah menggantikan dengan kebahagiaan atas kehadiran cucunya. dan ia yakin, hal itu tidak akan berlangsung sebentar.
Ia yakin, tuhan mengirimkan kebahagiaan nya lewat cucunya. sebab itu, ia yakin cucunya akan segera sehat kembali.
Ibu Cellya, nampak sedang duduk di taman rumah sakit sendirian di malam hari. ia nampak melihat sosok yang tidak asing, berjalan memasuki area rumah sakit.
Ibu Cellya mengikuti pria itu yang ternyata berdiri di depan kamar rawat baby Neysa. ibu Cellya masih bersembunyi di balik tembok. ia penasaran apa yang di lakukan asisten John disini?!. kenapa ia tidak masuk?.
John bahkan nampak mengeluarkan ponselnya dan merekam baby Neysa yang mulai mengoceh dengan neneknya. ya, baby itu nampak lebih baik dan aktif hari ini.
Setelah nya, John memasukkan ponsel itu ke sakunya. ia segera pergi dari depan ruang rawat baby Neysa. membuat, ibu Cellya sedikit kelabakan, hingga akhirnya ia memasuki salah satu kamar pasien begitu saja.
Semua orang yang berada di ruangan itu, merasa aneh dengan kehadirannya yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat mereka.
__ADS_1
"Ahh, maaf. aku salah masuk kamar.", ujarnya, meminta maaf sembari membungkuk hormat, dan keluar setelah memastikan John sudah benar-benar pergi.
...----------------...