Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 40


__ADS_3

"Apakah lampu ini aman untuk baby?!.", tanya Sean. ia nampak memegangi lampu kelap-kelip karakter lucu untuk dekorasi baby.


"Aman, tuan.", jawab pegawai toko. Cellya hanya menatap suaminya, yang nampak sibuk dan sesekali bertanya pada pegawai.


Ia juga sesekali bertanya pada istrinya ketika bimbang memilih sesuatu.


Hatinya menghangat. ia yakin suaminya akan menjadi ayah yang baik untuk anaknya kelak.


Ya, entah apa sebabnya?!. Cellya takut jika baby nya kekurangan kasih sayang dari sang ayah. tapi, melihat Sean hari ini, rasa khawatir itu sirna seketika.


"By.", panggilnya. membuat pria yang tengah sibuk berbincang dengan pegawai itu, seketika menoleh.


"Ayo pulang. aku ingin istirahat.", ajaknya. mendengar ucapan istrinya, ia segera datang menghampiri.


"Ada yang sakit kah?!.",


"Atau merasa kurang nyaman?!.", tanyanya, penuh rasa khawatir.


Cellya tersenyum memandang suaminya, yang tengah berjongkok di samping kakinya, sembari mengusap perut buncitnya.


"Aku baik-baik saja, by.",


"Sebaiknya kita pulang. aku khawatir kau akan membeli seluruh isi toko, jika terus aku biarkan.", ucapnya, tersenyum.


"Ahh, aku masih ingin melihat-lihat dan memilih yang lain, by.", jawabnya.


"Sudah, ya?!. besok lagi.", ucapnya lembut, sembari mengusap rambut suaminya.


"Benar-benar lelah?!.", tanyanya lagi, memastikan. Cellya mengangguk.


"Baiklah. tunggu disini sebentar, aku akan menyelesaikan pembayaran nya. oke?!.", Cellya mengangguk, mengiyakan perintah suaminya.


Sean segera menghampiri pegawai, yang segera di arahkan ke kasir.


Tidak butuh waktu lama, ia sudah kembali lagi menemui istrinya.


"Ayo!.", ucapnya, sembari meraih tangan istrinya.


"Sudah?!.", tanya Cellya, memastikan.


"Mm.", jawab Sean, sembari mengangguk pasti.


Mereka segera menuju lantai dasar, berjalan menuju parkir. setelah menemukan mobilnya, mereka segera masuk dan keluar dari pusat perbelanjaan.


"Mau mampir beli cemilan atau sesuatu, by?!.", tanya Sean pada istrinya, saat mobil mereka mulai melaju di jalanan.


"Mm.", jawab Cellya, menggeleng setelah beberapa saat diam dan berpikir.

__ADS_1


"Kenapa?!.", tanya Sean.


"Aku harus menjaga tubuhku agar sehat saat acara pemberkatan Ellyana, besok. jadi, aku tidak mau makan camilan apapun hari ini.", jawabnya.


Sean tersenyum melirik istrinya, yang nampak menunjukkan wajah sedikit badmood.


"Jangan untuk hari ini dan untuk Ellyana saja.",


"Kau harus menjaga dirimu setiap hari untuk ku dan untuk baby, kita. mengerti?!.", ucap Sean. ia mencium tangan lembut istrinya yang sedari tadi ia genggam. Cellya tersenyum dan mengangguk.


Mobil berhenti di depan mansion ibu Cellya. seorang penjaga rumah dengan sigap membuka pintu untuk Sean dan Cellya.


"Terimakasih.", ucap Cellya, pada penjaga rumah ketika ia baru saja keluar dari mobil. penjaga itu, membungkuk hormat.


Sean segera menghampiri istrinya dan menggandeng tangan Cellya untuk masuk ke rumah.


"By, sejak keluar dari kantor. aku merasa kesepian dan jenuh.", ucap Cellya, membuat Sean menoleh menatap nya, menuntut penjelasan lebih.


"Aku ingin mendesain....


"By.", ucap Sean memotong ucapan istrinya.


"Kau adalah nyonya Xavier, aku bisa memberimu apa saja. tanpa kau harus bekerja keras.", ucap Sean mencoba memberi pengertian pada istrinya.


"Maksud ku bukan begitu, sayang.",


"Setelah desain selesai, baru kita memanggil tukang untuk merenovasi. bagaimana?!.", tanyanya.


"Perhatikan jalanmu, sayang.", ucap Sean. ia nampak terus memegang lengan istrinya, karena saat ini mereka sedang naik tangga menuju kamar mereka.


......................


Pada akhirnya, Sean menyetujui permintaan istrinya yang ingin mendesain sendiri kamar untuk baby mereka.


"Jangan terlalu lelah, sayang.", ucap Sean, yang baru selesai mandi dan hanya memakai handuk kimono nya.


Ia menghampiri istrinya yang tengah duduk menghadap layar komputer. Sean nampak mengecup pucuk kepala istrinya beberapa kali.


"Ayo, hentikan itu.",


"Kau harus segera istirahat untuk acara besok.", bujuknya. kedua tangannya mengusap lembut bahu istrinya. ia benar-benar tidak ingin Cellya kelelahan.


"Sebentar lagi, ya?!.", bujuk Cellya.


"By, berhenti sekarang. atau aku tidak akan mengizinkan mu lagi, mengerti?!.", ancam nya.


Cellya menghela nafas dalam, lalu segera menutup laptopnya saat ia sudah menyimpan file.

__ADS_1


Ia beranjak dari duduk, dan segera memeluk pinggang Sean dari belakang. "Maaf, aku hanya terlalu senang bisa mendesain kamar untuk, baby.", ucapnya lembut. ia khawatir Sean marah padanya.


"Aku tidak marah, by.",


"Sama seperti dirimu, aku juga sangat senang dan bahagia mempersiapkan semua kebutuhannya. tapi, kau juga harus ingat, bahwa terlalu lelah itu tidak baik untuk kalian. oke?!.", Cellya mengangguk.


"Aku harap, kejadian seperti ini tidak terulang lagi, by.", sambungnya. ia nampak memeluk istrinya, dan Cellya pun menyembunyikan wajah damai nya di dada bidang sang suami.


"I love you.", ucap Cellya lirih.


"I love you more.", jawab Sean, yang di lanjutkan dengan memberi kiss di bibir mungil Cellya, sekilas.


"Baiklah. time to sleep.", ujarnya, sembari melepaskan pelukan hangat istrinya.


Sean segera menyelimuti Cellya setelah istrinya berbaring di ranjang. setelah nya ia segera menyusul naik dari sisi ranjang yang lain. mematikan lampu dan segera menarik selimut lalu memeluk Cellya agar tidur nya semakin pulas.


Pagi datang, suasana rumah terlihat sangat sibuk.


para koki tengah sibuk memasak sarapan untuk mereka. sementara ada beberapa maid yang sibuk keluar masuk kamar Ellyana untuk mengantar kan gaun, sepatu, buket, tudung kepala, bahkan ada juga yang terlihat membawa nampan berisi sarapan untuk Ellyana.


"Pagi.", sapa Cellya ragu, dengan senyum manisnya di pintu kamar Ellyana.


Ya, melihat banyak orang di kamar saudaranya yang tengah sibuk, membuat nya ragu untuk menyapa. ia khawatir, akan mengganggu.


"Hai, masuklah!.",


"Tenangkan aku. oh, aku sangat gugup.", ucap Ellyana, yang tahu saudaranya datang.


Dengan senyum lembutnya, Cellya masuk ke dalam dan mendekat pada saudarinya, yang sedang duduk di depan meja rias dengan beberapa MUA yang sedang merias nya.


"Duduklah, nona.", ucap salah seorang maid yang berada di kamar Ellyana, sembari membawa kursi agar Cellya bisa duduk di dekat Ellyana.


Ya, Ellyana terus menggenggam tangan Cellya begitu ia mendekat. sampai maid yang khawatir melihat Cellya kelelahan berdiri segera mengambilkan tempat duduk.


"Aku sangat gugup.", ucap Ellyana beberapa kali. Cellya tersenyum manis.


"Tidak perlu gugup. karena kau terlihat sangat cantik.", ujar Cellya menenangkan saudaranya.


"Apa hari-hari biasa aku terlihat jelek?!.", tanyanya, sedikit kesal. Cellya tersenyum lembut mendengar nya.


Ya, sifat mereka memang sangat berbeda. Cellya dengan sikap lembut dan manjanya. sementara Ellyana dengan sikap savage dan cueknya. sifat hangat Ellyana hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakannya.


"Hari-hari biasa kau sangat cantik. tapi hari ini, kau lebih cantik. karena apa?!.",


"Karena kau pemeran utama hari ini. kau ratunya, kau yang tercantik hari ini.", ucap Cellya, tulus. membuat Ellyana merentangkan tangannya, dan Cellya segera memeluk saudaranya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2