Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 106


__ADS_3

"Are you oke?.", tanya ayahnya, setelah Sean benar-benar bangun. ya, dia tertidur. mungkin karena efek obat.


Sean terbangun dengan wajah cemas dan gelisah. apa arti mimpi itu?!. ia sudah lama tidak memimpikan mendiang istrinya. dan kenapa Neysa mengucapkan selamat tinggal?!.


Pesawat mendarat dengan sempurna. Sean, tuan Xavier dan John segera beranjak dari kursi dan turun dari pesawat. saat mereka sampai, hari sudah sore.


"Pulang dulu, bersihkan diri dan ganti baju. baru temui Neysa.", ujar ayahnya. ketika mereka sudah duduk di dalam mobil. Sean mengangguk.


Mobil jemputan yang di sopiri oleh Alex segera meluncur menuju apartemen Sean. mereka berencana akan ke rumah sakit setelah petang. sekaligus, agar Sean bisa sedikit beristirahat.


Sementara ayahnya segera ke rumah sakit, begitu selesai mengantarkan putranya ke apartemen.


Malam datang, mobil Sean baru saja parkir di depan sebuah rumah sakit. ia bergegas turun tanpa menunggu John. perasaannya sudah kalang kabut. ia menahannya, sejak kedatangannya.


Tanpa bertanya pada resepsionis, ia berlari kecil memasuki lift untuk sampai di lantai tempat putrinya di rawat.


"Tuan, tolong sedikit tenang.", ujar John. ia bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan Sean pasca operasi kemarin. pria itu nampak menghela nafas, untuk melegakan dadanya yang sesak.


Pintu lift terbuka, Sean segera keluar diikuti John. pria itu, selalu setia mendampingi Sean kemanapun. untungnya, istri dan anaknya sangat mengerti akan hal itu. dan lagi, mereka merasa berhutang budi pada Sean, yang banyak membantu dan menolong mereka di saat masa-masa sulit.


Langkah kaki Sean terhenti, saat melihat ibunya berdiri di depan sebuah ruangan bersama mertuanya. ia ragu untuk melangkah, tapi ia juga ingin bertemu dan melihat keadaan putrinya.


"Ma, maaf se....", belum sempat ia menyelesaikan ucapannya. ibunya sudah mendekat dan menamparnya. Sean terdiam berdiri di tempatnya. ia tidak mau membuat keributan. besannya terkejut, melihat perlakuan ibu Sean. tapi, tidak bisa berbuat banyak.


"Kenapa pergi?.", teriaknya, di depan Sean. pria itu mengangkat pandangannya seketika.


"Dia sakit, dia mencarimu. tapi, kau malah pergi meninggalkannya.", ujarnya. Sean masih diam. ia tidak tahu harus berbuat apa?!.


"Kenapa masih diam disini?!. cepat masuk, dan temui putrimu!.", perintahnya. membuat Sean menatap ibunya penuh haru. bulir bening dari kedua netranya meluncur begitu saja. ia ingin memeluk ibunya. tapi, ibu Sean mendorong tubuh putranya untuk segera masuk ke ruangan tempat Neysa di rawat.


Sean melihat ibu dan mertuanya, sebelum masuk. namun ibu Sean, yang masih menangis. dan mertuanya, yang tersenyum dengan tangis bahagia. memberi isyarat, pada Sean untuk segera masuk.


Sean membuka pintu. ia melihat dokter Jeno sedang menangani putrinya. perlahan ia mendekat, setelah menghapus air matanya.


"Dokter.", sapanya. dokter Jeno, membungkuk hormat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya?.", tanya Sean. dokter Jeno nampak menghela nafas.


"Nona, mengalami infeksi organ dalam. tapi, setelah melakukan serangkaian tes kesehatan. tidak di temukan hal yang membahayakan dan beresiko. entah itu dari bakteri, virus, atau efek samping dari operasi kemarin.",


"Jadi, kami hanya memberinya obat lewat infus.", ujar dokter.


"Sebenarnya, suhu tubuh nona sudah mulai stabil. hanya, yang membuat kami bingung. nona, belum mau membuka mata dan kondisinya naik turun.", ujar dokter.


"Apa dia mengalami koma?.", tanya Sean. dokter menggeleng.


"Seharusnya, tidak.",


"Jauh di bawah alam sadarnya, sepertinya nona tidak memiliki semangat untuk bangun, dari istirahatnya.", jawab dokter.


"Coba di rangsang, tuan. sering-sering diajak bicara. itu akan sangat membantunya dalam merespon.", ujar dokter Jeno, sebelum pamit pergi.


......................


Sean duduk di samping ranjang putrinya. ia menatap wajah mungil itu. rasa bersalah sudah pasti menggerogoti hati dan perasaannya. ayah macam apa yang tega meninggalkan putrinya melewati rasa sakitnya sendiri?!.


Di raihnya tangan mungil milik Neysa. ia menundukkan kepalanya dan mengusap halus rambut putrinya. ia pikir, semuanya akan baik-baik saja, saat ia pergi karena memang kondisi Neysa mulai membaik.


"Hai, baby.",


"Ayah is here", bisiknya.


"Ayah, sudah kembali. maaf, ayah tidak pamit pada baby karena ada pekerjaan mendadak disana.", sambungnya.


"Ayo, bangun!.",


"Banyak yang belum kita lakukan bersama.", lanjutnya.


Malam datang. Sean setia menunggu di rumah sakit bergantian dengan ibunya atau ibu mertuanya. sesekali ayahnya dan John datang menjenguk dan membawakan beberapa baju ganti, atau makanan. tidak lupa, John selalu mengingatkan Sean untuk meminum obatnya. ia tidak ingin tuannya, sakit.


"John.", panggilnya. membuat pria yang sudah sangat lama mengikutinya itu berjalan mendekat.

__ADS_1


"Besok adalah malam natal. tolong, hias kamar ini dengan beberapa dekorasi natal.",


"Aku ingat, Neysa begitu menginginkannya.", ujarnya.


"Baik, tuan.", jawabnya.


John bergegas pergi, mencari orang yang bisa di andalkan untuk mewujudkan perintah majikannya. sementara Sean, kembali duduk di samping ranjang putrinya. ia mencoba mengajak Neysa berbincang lagi. ini sudah hari kedua, sejak kedatangannya. dan putri kecilnya, masih terus nyenyak dalam tidurnya.


"Hai, nak. besok adalah malam natal.",


"Ney, pernah bilang. ingin melewati natal tahun ini bersama ayah.",


"Sekarang, ayah sudah disini. paman John, juga sedang menyiapkan dekorasi. tidak maukah, Ney melihatnya?!.",


"Ney, bisa protes pada paman John, jika dekorasinya tidak sesuai dengan yang Ney, mau.", ujarnya.


Lagi dan lagi, gadis itu hanya diam terbaring. sama sekali tidak merespon. Sean tiba-tiba merasa takut. takut, jika putrinya tidak mau bangun lagi. apalagi, mimpinya kemarin terlihat begitu nyata. ia mengusap bulir air mata yang membasahi sudut matanya. hatinya pilu, tapi ia tidak bisa menyerah begitu saja. ia tidak akan membiarkan Ney, berjuang sendirian.


"Ok, Ney mau istirahat dulu, kan?!.",


"Ayah, akan menunggu disini.",


"Saat, Ney bangun. kita akan merayakan natal bersama.", ucapnya, yakin.


Hari berikutnya, masih sama. kamar rawat Neysa mulai di dekorasi oleh orang suruhan John. sementara, John sibuk di rumahnya, menyiapkan natal bersama istri dan putranya. ya, Sean memberinya waktu libur dari pekerjaan dan dari menjaganya. ia menyadari, waktu John untuk keluarganya sangatlah sedikit. jadi, ia membiarkan John melewati momen natal bersama keluarga kecilnya.


"Sean, mengawasi para penata ruang itu sembari menunggu putrinya, dan membungkus semua kado-kado natal untuk putri dan keluarganya.


"Permisi, tuan.",


"Kami pamit undur diri.", ujar salah seorang dari mereka, saat selesai mendekorasi ruangan itu. Sean mengangguk.


"Apa pembayarannya, sudah di lunasi?.", tanya Sean.


"Sudah, tuan. terimakasih.", jawabnya. lagi-lagi Sean mengangguk.

__ADS_1


"Aku juga berterimakasih.", ujarnya.


...----------------...


__ADS_2