Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 28


__ADS_3

"Berbincang lah dengan Dady, dulu.",


"Mama mau mengantar besan dan Ellyana untuk membersihkan diri dan makan, sebentar.", ucap ibu Sean. setelah suaminya selesai membersihkan diri dan bergabung bersama mereka.


"Yes, ma.", jawabnya.


Ibu Cellya segera mengajak Ellyana dan besannya untuk istirahat sejenak dan membersihkan diri, sebelum mereka masuk ke kamar perawatan Cellya.


Tidak lupa tentunya, menyiapkan makanan karena mereka terbang pagi-pagi buta.


"Biar John yang menghandle kantor untuk saat ini.", ucap ayah Sean. Sean mengangguk.


"Dady, yakin dia melakukan tugasnya dengan baik.", sambungnya.


"I now, dad. itu sebabnya, aku merasa sedikit tenang.", ujar Sean.


"Dady, sudah mencari tahu banyak hal tentang penyakit tumor.",


"Penyakit ini, bisa di sembuhkan. jadi, kau tidak perlu khawatir.",


"Kita akan mencari dokter terbaik.", sambungnya. ia berusaha menenangkan hati putranya.


"Aku tahu, dad. dalam hal ini, aku akan banyak berkonsultasi dan berbicara dengan beberapa dokter.", ucap Sean.


"Jadi, semangat lah!. tidak ada alasan bagimu, untuk tidak bersemangat.",


"Menantuku juga pasti tidak suka melihat mu, sedih seperti ini.", ucap ayahnya. dan Sean berusaha tersenyum.


"Mr. Xavier Kamasean. doctor wants to see you.", ucap seorang perawat yang baru saja datang.


"Ok. thank you.", jawab Sean.


"Kalau begitu, Dady akan masuk untuk menemui nya.", ucap ayah Sean, yang segera mengikuti perawat untuk masuk ke ruang steril. memakai pakaian steril sebelum menemui menantunya.


Sean berlalu menemui dokter di ruangannya.


"Hai nak. bagaimana kabarmu?!.", tanya ayah Sean, begitu duduk di samping ranjang menantunya.


"Dady, datang untuk memberimu semangat dan mengucapkan terimakasih.",


"Terimakasih, sudah bertahan sekuat ini. terimakasih, karena telah mengandung cucu yang akan menjadi teman Dady di hari libur.",


"Dady, harap kau segera bangun dan sehat kembali.", ucapnya. nampak tangan tua itu, menggenggam tangan menantunya. menatap wajah Cellya penuh kasih sayang.


"Kau terlihat sedikit kurus. setelah bangun, kau harus makan dengan benar. makan yang banyak, karena sekarang kau tidak makan sendiri. tapi ada cucu ku juga.",


"Dengar kan, Dady. kita akan mencari dokter terbaik untuk kesembuhan mu. kau dan cucu ku pasti segera sehat.",


Banyak hal yang di bicarakan mertua itu pada menantunya yang masih belum sadar.


Ibu Cellya dan besannya serta saudara Cellya nampak mengamati dari luar jendela.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, ayah Sean nampak berdiri dan keluar dari ruangan Cellya.


"Ma, aku mau masuk.", ucap Ellyana.


"Masuklah, setelah ini.", jawab ibu Cellya.


Begitu ayah Sean keluar, Ellyana segera berganti masuk ke ruangan saudara nya. tentu nya, setelah memakai pakaian steril.


Bahagia bercampur haru, ia mendekati tubuh saudaranya nya yang tergeletak tak sadarkan diri.


Hal yang pertama ia lakukan adalah mencium kening Cellya, sembari menggenggam tangan saudara kembar nya erat.


"I Miss so bad.", ucapnya sendu, sembari duduk di kursi samping ranjang.


"Kau tahu?!. pernikahan ku kurang dari seminggu lagi. jadi, bangun lah!.",


"Hari bahagia ku tidak akan lengkap tanpa dirimu.", ucap Ellyana.


"Kau menghilang hampir dua bulan. selama itu, kami selalu mencari mu. mengerahkan semua orang kepercayaan untuk melacak keberadaan mu. tapi pada akhirnya, tetap cinta mu yang bisa menemukan mu.",


"Kau tidak berubah. bahkan, saat-saat seperti ini. kau hanya mau menemui nya lebih dulu. selalu menjadikan dia yang pertama untuk mu.",


Ellyana mengalihkan tangan Cellya di pipinya. mencoba merasakan sentuhan tangan saudara nya yang terasa sedikit kurus.


"Oh, ya. aku dengar, aku akan segera memiliki keponakan.",


"Tidak bisakah, kau bangun dan mengenalkan nya padaku?!.",


Ellyana keluar setelah melepas rindu dengan Cellya. begitu keluar, ia hanya berhambur ke pelukan ibunya.


Sean nampak berjalan lesu di lorong rumah sakit. ibu, ayah dan mertuanya melihat pria itu semakin mendekat.


Sean duduk, diam tanpa kata. ia menunduk lemas. membuat ibunya segera menghampiri putra semata wayangnya itu.


"Ada apa?!.", tanya ibunya. Sean berulang kali menghela nafas. seolah dadanya penuh dengan segala rasa yang bergemuruh.


"Dokter bilang. untuk mengobati penyakitnya, kemungkinan bayinya tidak bisa di pertahankan.", ucapnya lirih. membuat semua yang mendengar mengerutkan dahi dan terkejut, menangkap maksud ucapan Sean.


"Apa tidak ada cara lain?!.", tanya ibu Cellya. emosinya sedikit lepas.


"Kenapa dokter seenaknya mengatakan itu?!.",


"Dia bukan tuhan, yang bisa memutuskan hidup mati seseorang. apalagi bayi itu tidak bersalah.",


"Dimana ruangan dokter?!.",


"Mama akan menemui nya. dokter harus tahu, kita hanya perlu menemukan pengobatan yang tepat untuk keduanya.",


Ellyana yang melihat ibunya sedikit lepas kontrol, hanya bisa memeluk tubuh sang ibu.


Ya, Ellyana tahu. berperan menjadi sosok ibu sekaligus ayah bagi ibunya bukan hal mudah.

__ADS_1


Itu sebabnya, ibunya selalu bersikap tegas. ada banyak hal yang harus dilakukan ibunya untuk memberi rasa aman, nyaman serta menjamin kehidupan, pendidikan, kebutuhan serta hal lainnya agar ia dan saudaranya tidak merasakan satu kekurangan.


"Mama, jangan seperti ini. Ellyana, takut.", bisiknya di telinga sang ibu, yang langsung meredakan emosi ibunya.


"Maaf. Mama, minta maaf.", ucapnya. sembari memeluk putrinya.


"Jangan takut. lihat, mama. jangan takut, ok.", ucapnya sembari menangkup ke dua pipi putrinya, lalu memeluk nya lagi.


Ibu Cellya, membawa Ellyana untuk duduk. ia terus memeluk putrinya, untuk menenangkan amarah nya.


Sore datang. semua orang pergi ke kamar untuk istirahat kecuali, ibu Cellya.


Ia memilih menemani sang putri di dalam ruangan sembari menunggu yang lain datang untuk bergantian menjaga.


"Mama, kangen.", ucapnya, berbisik di telinga Cellya.


"Apa Cellya, tidak kangen mama?.",


"Kenapa pergi lama tanpa kabar?!.",


"Mama, terus mencari. tapi, tetap saja Sean yang jadi pemenang nya.",


"Bisakah, segera bangun?!.",


"Mama kangen suara Cellya.", ucapnya. ibunya masih menggeletak kan kepalanya di dekat kepala putri nya.


Tangan ibu Cellya beralih turun, mengusap perut putrinya yang membuncit.


"Dia sudah ada sejak lima bulan lalu, kan?!.",


"Kenapa tidak mengatakan pada, mama?!.",


"Kalau mama tau, mama pasti akan menjaga kalian lebih baik lagi.",


"Katakan pada mama. dia laki-laki atau perempuan?!.",


"Mama ingin memberi nya nama panggilan, agar dia tahu kami semua menyayangi nya.",


"Agar dia tahu, kami semua mengharapkan ia selalu sehat. lahir dengan selamat.",


"Dan agar dia tahu bahwa, ada banyak cinta menantinya di sini.",


"Bangunlah, sayang!.",


"Kami benar-benar merindukan mu.", sambungnya.


Sean menatap mertua dan istrinya dari balik jendela. nampak ibu mertua nya yang menempelkan pipinya di pipi putrinya. ibu mertua nya terus berbincang dan mengusap-usap perut Cellya.


Sedih memang. bukan hanya Sean sendiri, tapi kedua keluarga juga. saat ini yang bisa dilakukan hanya saling menguatkan satu sama lain.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2