Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 49


__ADS_3

"Tok...


"Tok...


Perawat mengetuk pintu lebih dulu, sebelum mempersilahkan Sean dan Cellya masuk, melewati pasien lain yang sedang antri.


"Masuk.", sahut dokter Tya dari dalam. sepasang suami istri keluar dari ruangan dokter Tya, saat perawat membukakan pintu untuk Sean dan Cellya.


Mereka saling menyapa sebelum akhirnya, masuk dan duduk di hadapan dokter.


Seperti biasa, dokter Tya menyapa mereka ramah sebelum memulai USG pada baby.


Cellya sudah terbaring di ranjang. asisten dokter Tya, menyelimuti bagian bawah tubuh Cellya dan membuka sebagian perutnya, dan mengoles gel di atasnya.


Sesaat kemudian, dokter Tya datang dan mulai melakukan tugasnya.


Nampak mulai muncul gambar di layar monitor. beberapa gerakan nampak terlihat, pada baby.


"Apa yang sedang dia lakukan?!.", tanya Sean, penasaran melihat pergerakan baby nya.


"Dia sedang bahagia, tuan.", jawab dokter Tya.


"Apa dia baik-baik saja?!.", tanya Sean.


"Baby sangat baik dan sehat, tuan.", jawab dokter.


"Apa kau yakin?!.", tanya Sean, lagi. membuat Cellya menoleh kepadanya, dengan tatapan tidak mengerti. sementara Sean fokus menatap monitor dan sesekali melihat dokter.


"Ya, saya yakin. memangnya kenapa, tuan?!.", tanya dokter Tya. Sean menghela nafas, membuat Cellya yang terbaring di sampingnya menatap prianya.


"Semalam, kami melakukan itu.", ucap Sean ragu. membuat kedua mata istrinya melotot tak percaya dengan apa yang di dengar. ia menutup mulut Sean dengan tangannya.


Dokter Tya yang paham hanya tersenyum. "Tidak apa, tuan. asal pelan-pelan.", ujar dokter Tya.


"Tapi dari artikel yang pernah saya baca, melakukan hubungan badan bisa menyebabkan kram perut saat hamil. apakah itu benar?!.", tanya Cellya.


"Itu benar, jika posisi berhubungan salah. sehingga membuat baby tidak nyaman dan akhirnya menimbulkan kram.",


"Untuk berhubungan badan, tidak masalah. boleh, juga di sarankan. tapi ada beberapa posisi yang tidak di perbolehkan.", lanjut dokter Tya, menjelaskan.


"Kita jelaskan nanti, setelah pemeriksaan ya?!. untuk konsultasi masalah ini. sekarang, kita fokus pada pemeriksaan baby.", ucap dokter Tya yang segera di angguki oleh Cellya.

__ADS_1


Dokter Tya kembali memutar-mutar alat yang berada di tangannya di atas perut Cellya.


"Semua normal ya, bunda.",


"Tidak ada kekurangan satu apapun. jari-jari tangan dan kaki lengkap. hidungnya, mancung nih.", ujar dokter Tya, terus memberi info tentang kesehatan dan perkembangan baby mereka.


"Nah, kali ini kita bisa lihat jenis kelamin nya, nih.", ucap dokter Tya, yang di sambut senyuman oleh Cellya dan Sean dengan penuh antusias.


"Mau tahu sekarang?!. atau biar surprise aja di baby shower nanti?!.", tanya dokter Tya, membuat keduanya penasaran.


"Di baby shower saja.", jawab Cellya. membuat Sean seketika menoleh padanya.


"Kenapa tidak sekarang?!.", tanya Sean.


"By, dia adalah cucu pertama dari keluarga kita. aku ingin tahu jenis kelamin nya apa bersama dengan keluarga kita juga.",


"Lagi pula, baby shower tidak lama lagi, bukan?!.", ujar Cellya. yang seketika membuat Sean diam dan pasrah dengan keputusan istrinya.


Ya, padahal ia sudah sangat penasaran dengan jenis kelamin putranya. walaupun sebenarnya, ia tidak peduli baby itu laki-laki atau perempuan. ia hanya ingin bisa berbelanja lagi sesuai dengan jenis kelamin putranya.


Pemeriksaan selesai. Sean nampak membantu Cellya bangun. sedangkan asisten dokter Tya, sedan melipat selimut saat ia, sudah membersihkan cairan gel di perut Cellya dengan tisu.


Setelah memeriksakan kehamilan, konsultasi dan mendapatkan resep obat. Sean dan Cellya segera menuju ke ruangan dokter Jeno.


Ya, mereka sudah membuat janji. jadi sama seperti tadi, mereka tidak perlu mengantri seperti pasien yang lain.


"Tok...


"Tok...


Seorang perawat yang mengantar Sean dan Cellya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum mempersilahkan kedua pasutri ini masuk.


"Masuk.", sahut dokter Jeno dari dalam. Sean dan Cellya segera masuk dan duduk di kursi, berhadapan dengan dokter.


Setelah nya, asisten dokter Jeno mengajak Cellya ke dalam untuk berbaring di brankar. mereka melakukan pengecekan tensi darah, dan sebagainya sebelum dokter Jeno menyusul masuk dan mulai memeriksa.


Sean dengan setia berdiri di samping ranjang istrinya untuk mengikuti setiap pemeriksaan yang di lakukan Cellya.


"Keluhan yang di rasakan apa, nona?!.", tanya dokter Jeno. Cellya menggeleng pelan, sementara dokter masih memeriksa denyut jantungnya.


"Masih sering pusing?!.", tanya dokter. Cellya mengangguk.

__ADS_1


"Tapi aku rasa, pusing itu di sebabkan karena akhir-akhir ini aku sering mengerjakan sesuatu dengan laptop ku.", jawabnya.


"Tidak ada masalah dengan yang lainnya?!.", tanya dokter Jeno, memastikan. Cellya menggeleng.


"Oh ya, dua hari ini tepatnya. pandangan nya sering kabur tiba-tiba dan membuat nya jatuh karena tidak bisa melihat dengan jelas.", ujar Sean. Cellya mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya, karena baru ingat.


"Sebelumnya, merasa pusing?!.", tanya dokter Jeno, sembari memasukkan ujung stetoskop ke saku jas dokter nya.


Cellya menggeleng. membuat dokter Jeno meninggalkan nya, di ikuti Sean duduk di meja kerjanya. sementara Cellya di bantu asisten dokter Jeno untuk bangun dan turun dari brankar.


"Jadi bagaimana?!.", tanya Sean. Cellya nampak menyusul dan duduk di samping suaminya. dokter Jeno menghela nafas, ia ragu untuk mengatakan perkiraan nya.


"Kita perlu melakukan tindakan MRI.", ujarnya. Sean menatap dokter berumur 40 an tahun itu, dengan banyak pertanyaan di pikiran nya.


"Untuk apa?!.", tanya Sean.


"Kita perlu tahu, kondisi terbaru dari tumor yang berada di otaknya.", jawab dokter, singkat.


"Apakah MRI tidak bahaya bagi ibu hamil?!.", tanya Sean. ia ingin memastikan bahwa tindakan ini aman untuk baby mereka.


"MRI lebih aman dari X-ray maupun CT-scan, karena tidak menggunakan radiasi pengion. jadi lebih aman untuk wanita hamil.", jelasnya.


Tanpa kata lagi, dokter Jeno membuat surat rujukan ke bagian radiologi untuk Cellya.


"Tolong hari ini juga pergi ke bagian radiologi, dan melakukan MRI.", ucapnya, sembari menyerahkan surat itu pada Sean. Cellya menoleh, melihat suaminya menerima surat itu. dalam hatinya, ia hanya berharap yang terbaik untuk semua, terlebih untuk baby nya.


"Baik. terimakasih.", ucap Sean, setelah cukup lama terdiam dan memandangi surat itu.


Mereka segera pamit, berjabat tangan dengan dokter Jeno dan segera keluar dari ruangan itu.


Selanjutnya, mereka di arahkan ke ruang radiologi. lagi-lagi tanpa antri dan mendaftar lebih dulu, mereka dengan mudah segera di tangani.


Cellya segera mengikuti perawat untuk berganti pakaian lebih dulu. ya, proses MRI tidak di perbolehkan memakai logam berbentuk apapun seperti, kancing baju, kancing bra sampai kawat gigi. itu semua harus di lepaskan dulu.


Setelah berganti baju, ia segera di bantu dokter untuk naik ke ranjang. perawat mengikat kedua tangan dan kakinya agar tidak bergeser saat proses berlangsung.


Sean masih setia menunggu istrinya, tak jauh dari alat itu.


"Nona, pejamkan mata saat ranjang mulai masuk. karena cahayanya bisa merusak mata.", ujar perawat. yang di jawab anggukan oleh Cellya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2