Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 65


__ADS_3

Pria itu menangis sembari terus mengguncangkan tubuh istrinya. berharap masih mendapat respon yang menjadi tanda istrinya belum pergi.


Ayahnya, yang melihat putranya begitu terpukul segera menghampiri putra semata wayangnya.


Ia memeluk Sean erat, sembari mengusap-usap punggung putranya, meskipun awalnya Sean memberontak. tapi, dekapan kencang penuh cinta dan hangat dari ayahnya, akhirnya membuat pria itu lemas dan jatuh terkulai di lantai.


Ia masih menangis, bahkan kini Sean nampak tersungkur ke lantai, sembari menutupi wajah nya. ayahnya, berusaha kuat. ia berjongkok di samping putranya. masih berusaha menenangkan dengan mengusap-usap punggung Sean.


Sementara ibu Cellya, hanya terduduk di samping ranjang putrinya. tidak ada reaksi lain dari ibunya kecuali, diam menatap wajah putrinya yang semakin memucat.


Tatapannya kosong, tapi air matanya mengalir tanpa permisi begitu saja. mungkin, itulah puncak lara hati seorang ibu yang melihat putrinya lebih dulu pergi menemui sang ilahi.


Ibu Sean, terduduk di lantai samping kursi besannya. ia nampak menangis menerima kenyataan menantunya telah tiada.


Ya, mereka hancur dan bahagia di saat bersamaan. tapi, selebihnya tidak ada yang tahu.


Malam datang. semua keluarga, kerabat dan rekan kerja nampak hadir memberi penghormatan terakhir pada Cellya.


Ibu Cellya, Ellyana, David, dan kedua orang tua Sean serta orang tua David. membantu ibu Cellya untuk menyambut para pelayat yang datang mengucapkan belasungkawa.


Mereka berterima kasih pada setiap pelayat yang datang, dan meminta maaf mewakili Cellya atas semua salah dan khilaf Cellya selama hidup.


Sementara Sean belum sadarkan diri. ya, dia pingsan saat para perawat melepaskan semua alat bantu yang melekat di tubuh istrinya.


Ia menolak dan tidak mengizinkan mereka melepaskan alat-alat itu. ia yakin istrinya masih hidup.


"Jangan di lepas!. aku mohon, jangan di lepas. dia hanya sedang lelah, jadi tertidur sebentar. aku mohon jangan!.",


Tapi ayahnya, memeluk tubuhnya erat. sekuat apapun ia memberontak, ayahnya menguatkan lagi pelukan itu. hingga pada akhirnya, Sean kehabisan tenaga dan pingsan di pelukan ayahnya.


Mereka segera membawa jenazah Cellya ke rumah duka, agar mudah bagi keluarga, kerabat serta rekan kerja maupun relasi bisnis mereka memberi penghormatan terakhir pada mendiang.


"Mama, lebih baik duduk dulu.", ucap Ellyana, yang melihat ibunya terhuyung. ia segera menahan tubuh ibunya agar tidak jatuh.


Ibu Cellya menurut. Ellyana berpamitan pada suaminya, akan mengajak ibunya ke kamar sebentar untuk istirahat. David yang paham, mengangguk mengiyakan bisikan istrinya.


Ellyana menuntun ibunya menuju kamar agar bisa istirahat. tapi, saat melewati kamar tempat Sean istirahat. mereka mendengar suara gedoran pintu.


Ya, Sean sudah bangun. John nampak berdiri tegap, berjaga di depan pintu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?.", tanya ibu Cellya, pada John. asisten Sean itu membungkuk hormat pada mertua majikannya.


"Kemungkinan, tuan sudah siuman, nyonya. tapi, saya mendapat perintah dari tuan besar untuk mengunci pintunya.",


"Tuan dan nyonya besar khawatir, tuan akan merusak proses penghormatan kepada nona.", jelasnya. ibu Cellya menghela nafas dalam, mendengar penjelasan John.


"Buka pintunya. aku akan masuk, dan berbicara dengan nya.", perintah ibu Cellya.


"Tapi, nyonya..


"Ini perintah.", tegasnya. membuat John mengangguk dan segera membuka pintunya.


Sean terlihat kacau saat pintu terbuka. ia hendak keluar, tapi di tahan oleh ibu Cellya. entah kekuatan dari mana?!. ibu Cellya mampu membawa Sean masuk dan duduk di ranjangnya lagi, setelah beberapa saat pria itu memberontak.


......................


"Mama hanya ingin bertanya.", ucap ibu Cellya, membuka percakapan saat melihat Sean sudah benar-benar tenang dan bisa mengendalikan diri nya.


"Kau mencintainya, bukan?!.", tanya ibu Cellya. membuat Sean seketika menatap tajam ibu mertuanya.


"Apa maksud, mama?.", ujarnya, kembali bertanya saat ia mulai merendahkan pandangan nya.


Terdengar ibu Cellya menghela nafas. itu adalah nafas terberat di situasi saat ini.


"Dia tidak akan kesakitan lagi. dia tidak akan berusaha lagi menahan semua rasa sakit yang dia rasakan.",


"Dia...


"Ma.", Sean memotong ucapan ibu mertua nya.


"Dia hanya lelah. dan dia sedang tidur.",


"Aku mohon jangan lakukan apapun, ma!.",


"Dia tidak kemana-mana. jadi, kenapa mama bilang, mama merelakan nya?!.", ucapnya. hatinya, sakit mendengar ibu mertua nya berucap demikian.


"Dia sedang berjuang. dan sudah seharusnya, sebagai suami dan keluarga, kita juga mendukung agar dia semangat.",


"Tapi, kenapa malah mama ikut-ikutan dokter dan perawat?!. mama, benar-benar ingin Cellya menyerah dan pergi kah?!.", tanyanya.

__ADS_1


Ucapan dan perkataan yang sangat menusuk untuk seorang ibu yang telah bertaruh nyawa melahirkan putrinya, yang kini terbujur kaku di dalam peti.


Ibu Cellya menahan sesak tangis di dadanya, hingga bahunya terguncang. wanita singel parent itu menunduk, sementara kedua matanya terpejam. Ia berusaha menenangkan diri dengan mengatur nafasnya.


"Ma?!.", Sean memangil ibu mertua nya yang masih menundukkan kepalanya.


"Ma?!. are you, oke?.", tanyanya, sekali lagi karena kini terdengar suara isak tangis dari ibu Cellya.


Sean mendekat. ia memeluk ibu mertuanya erat. "Maaf, jika ucapan ku menyakiti, mama.", ucapnya. membuat ibu Cellya melihat wajah menantunya.


"Tolong dengar kan, mama sebentar.", ucap ibu Cellya, pelan. Sean mengangguk, ia menatap kedua manik ibu mertua nya. berusaha mencari tahu apa yang akan di katakan ibu Cellya.


"Mama, sangat menyayangi mu seperti anak kandung mama sendiri.",


"Mama tidak pernah membeda-bedakan, rasa sayang mama kepada kedua putri dan kedua menantu mama. baik itu, ada atau tidaknya salah satu di antara kalian.", ucap ibu Cellya, pelan. berusaha mencari celah untuk meraih hati menantunya, agar Sean bisa menerima apa yang telah terjadi.


"Mama bangga dan bahagia dengan pribadi dan pencapaian kalian masing-masing.",


Ibu Cellya terdiam sejenak, untuk mengucapkan intinya.


"Kau adalah suami yang hebat. dimana pun Cellya berada, kau pasti bisa menemukannya.",


"Kapanpun dia membutuhkan mu, kau selalu ada.", ucapnya dengan hati-hati.


"Sekarang, sudah waktunya kau menjadi ayah yang hebat juga untuk baby kalian. karena apa?!.",


"Karena sekarang Cellya sudah pergi.....", tangisnya tak dapat di bendung lagi. untuk sesaat ibu Cellya membiarkan tangisnya menggema, agar hatinya sedikit tenang.


"Dia memang pergi. tapi, dia selalu ada disini.", ucapnya menunjuk dada Sean.


"Sebagian dirinya, ada pada baby.", sambungnya.


"Jika kau terus begini. lantas, siapa yang akan menjaga baby?!.",


"Kau tahu?!. perawat menelfon berulang kali, baby menangis seharian ini. mungkin, karena dia merasa jauh dari ayah serta momy nya.",


"Bayi sangat peka dengan perasaan dan apapun yang terjadi pada kedua orang tuanya.",


"Jadi, masihkah kau tidak ingin menerima kenyataan dan terus menganggap ini mimpi?!.",

__ADS_1


"Setidaknya, tolong bangun demi baby kalian.", pinta ibu mertuanya. membuat Sean terdiam, karena ingat baby Neysa.


...----------------...


__ADS_2