Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 111


__ADS_3

"Lihat ayah!.",


"Bunga sakuranya banyak yang jatuh.",


"Ney, akan mengambilnya sebentar dan meletakkannya di makam momy.", ujarnya, ia berlalu pergi. Sean tersenyum dan melihat putrinya sekilas. ia lalu, menatap nisan di depannya.


"Hai.", ucapnya, lembut. menyapa nisan istrinya.


"Maaf, baru berani kesini. kau sudah tau pasti, alasannya.", ucap Sean.


"Untuk menjadi suami dan ayah yang baik serta bertanggungjawab. aku harus bisa menjaga putri kita.",


"Tujuh tahun lalu, aku gagal. tapi, kemarin aku berhasil. itu sebabnya, aku baru berani menemui mu.",


"Sekali lagi, maaf ya?!.", Sean mengusap nisan Cellya lembut.


"Tapi, mulai sekarang aku berjanji, akan terus disampingnya dan terus menjaganya.",


"Oh, ya. aku berencana membawanya ke tempat yang sudah lama ingin kita kunjungi bersama,sebagai penggantimu.",


"Boleh kan?!.",


"Kebetulan, ini masih libur natal dan tahun baru.", ucapnya.


"Ayah, lihat!. aku membawa banyak bunga sakura.", ujarnya saat kembali. Neysa lantas segera menaburkan bunga itu di pusara ibunya.


"Nah, lebih cantik kan, ayah?.", ujarnya, yang di angguki oleh Sean.


"Hari, sudah semakin siang. ayo, kita pulang.", ajak Sean pada Neysa. gadis kecil itu mengangguk. ia nampak berjongkok dan mengusap nisan ibunya.


"Momy, Ney pulang dulu.",


"Besok, Ney kesini lagi dengan ayah, ok!.", ucapnya. ia mengecup nisan ibunya, setelahnya. Sean pun, juga melakukan hal yang sama.


Mereka berjalan menjauh meninggalkan makam Cellya, menuju mobil dengan bergandengan tangan.


"Apa baby, mau berlibur bersama ayah?.", tanya Sean, sembari fokus menyetir.


"Kemana ayah?.", tanya Neysa.


"Ke Kanada.", jawab ayahnya.


"Dimana itu?!.", tanyanya lagi, ingin tahu.

__ADS_1


"Di suatu tempat yang jauh.",


"Kita kesana untuk mewujudkan keinginan momy.", ujarnya. bocah itu nampak mengerutkan keningnya sesaat, sebelum menjawab.


"Ok.", jawab Neysa bersemangat. ya, ini adalah kesempatan berlibur bersama ayahnya, seperti yang sudah lama ia impikan. apalagi, liburan kali ini untuk mewujudkan impian momy nya. jelas, ia langsung setuju dan tidak berpikir dua kali lagi.


"Apakah nenek, kakek dan juga Oma akan ikut?.", tanyanya lagi. Sean menggeleng.


"Belum tahu, sayang.",


"Ayah belum membicarakannya pada mereka.", jawab Sean. Neysa mengangguk paham.


"Kalau kita bisa pergi bersama, pasti sangat menyenangkan, ayah.", ucapnya, polos. Sean mengerti, putrinya memang senang berkumpul dengan keluarga yang lain, sehingga suasana menjadi lebih meriah.


"Nanti, akan ayah bicarakan.", ucapnya, yang di angguki anak gadisnya.


Mobil Sean memasuki gerbang mansion nya. ia nampak berputar mengelilingi taman di depan mansion, sebelum memarkirkan mobilnya.


"Selamat datang, tuan.", ucap penjaga yang membukakan pintu mobil untuk Sean. ia mengangguk sekilas dan menghampiri putrinya.


"Selamat datang, nona.", sapa penjaga yang membuka pintu mobil untuk Neysa.


"Terimakasih, paman.", jawabnya, ramah. Sean mengulurkan tangannya pada Neysa, dan mengajak putrinya untuk masuk, agar bisa segera beristirahat.


"Baby, istirahat dulu ya?!.",


"Nanti, kita makan siang bersama.", ujarnya.


"Ok, ayah.", jawab Neysa, yang segera meminta pelukan ayahnya dan segera menaiki tangga menuju kamarnya saat sudah mendapatkan pelukan itu. mata Sean mengikuti kemanapun langkah kaki putrinya pergi, hingga sosok kecil itu menghilang di balik pintu kamarnya. ia tersenyum tipis, mengakhiri pandangannya.


Sean masuk ke ruang kerjanya. ia harus menyelesaikan beberapa berkas, saat libur natal dan tahun baru tanpa bantuan John. agar, saat libur selesai John tinggal melakukan tugasnya.


......................


"Wow!, Oma dan nenek serta kakek juga datang?!.", ucapnya sumringah saat melihat mereka datang, ketika bersiap untuk makan siang.


"Apa kau senang?.", tanya Oma. Neysa mengangguk senang. ayahnya nampak berdiri di ujung tangga dan hendak turun.


"Ayah, lihat siapa yang datang?!.", ujarnya, dengan senyum manisnya.


"Kakek, nenek dan Oma?!.", tanyanya, sembari menuruni tangga. Neysa mengangguk. ia nampak begitu bahagia, senyumnya tidak lepas dari bibir mungilnya.


Pria itu mengambil kursi dan bergabung untuk makan siang bersama.

__ADS_1


"Kenapa baby terus tersenyum?!.", tanya Sean.


"Ney senang, ayah.",


"Kita bisa makan bersama seperti ini.", jawabnya. Sean tersenyum, dan mengusap rambut putrinya.


"Ney, ayo pimpin doa. kakek, sudah lapar.", pinta ayah Sean. gadis kecil itu mengangguk. ia menyatukan kedua tangannya dan memejamkan mata diikuti anggota keluarga yang lain. mereka berdoa dalam hati.


"Aamiin.", ucap Neysa, mengakhiri doanya. membuat semua membuka mata dan bersiap menyantap hidangan di meja.


Suasana rumah yang hangat dan harmonis, yang telah lama hilang akhirnya kembali lagi. ya, ayah Sean merasa bangga dan terharu melihat cucunya yang bisa menyatukan istri dan anaknya seperti dulu.


Hadirnya bocah kecil di keluarga ini adalah berkah. lahirnya Neysa, kepergian Cellya dan perselisihan antara istri dan anaknya, semua ia pikir adalah berkah dari Tuhan sebagai pengajaran. ia tidak menyesal dengan semua yang terjadi karena, semua memiliki hikmah. yang jelas, sekarang mereka telah berkumpul lagi, menjadi keluarga utuh walau tanpa kehadiran mendiang menantunya, Cellya.


"Dady, mama, dan mama mertua.", panggilnya, saat makan siang mereka selesai. semua mengalihkan pandangannya pada Sean.


"Aku ingin meminta izin.", sambungnya.


"Izin apa?.", tanya ibu Sean.


"Karena ini, masih libur natal dan tahun baru. aku ingin mengajak putriku ke Kanada.", ucapnya. semua nampak diam dan melirik satu sama lain.


"Untuk apa ke Kanada?.", tanya ibu Cellya. bukannya apa-apa, tapi Neysa baru saja sembuh. haruskah melakukan perjalanan jauh itu?!.


"Aku dan ayah ingin mewujudkan impian momy, Oma.", jawab Neysa. ibu Cellya menoleh pada cucunya. ia diam mendengar penuturan Neysa.


"Boleh, ya Oma?!. nenek, kakek?.", pintanya. ibu Sean, ibu Cellya dan ayah Sean saling bertukar pandangan. tidak ada yang memberi izin atau berani mengambil keputusan.


"Lakukan medical check up dan tunggu pemeriksaan dokter. kalau cucu kakek dalam kondisi baik, kakek, nenek dan Oma akan izinkan.", ucap ayah Sean, pada akhirnya.


Ya, bagaimanapun ini adalah pertama kalinya Neysa meminta izin pergi bersama ayahnya. dan ia tidak ingin mengecewakan cucunya dengan langsung mengatakan tidak. itu sebabnya, ayah Sean mengatakan hal itu.


"Apa yang dibilang kakek, benar. lakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum pergi. kalau dokter bilang, keadaan Neysa bagus, dan memungkinkan. tentu, nenek, kakek dan Oma, mengijinkan.", sahut nenek.


"Kali ini, Oma setuju dengan nenek dan kakek.", imbuh ibu Cellya.


"Ok.", jawab Neysa, bersemangat.


"Ayah, kapan kita pergi untuk pemeriksaan?!.", ucap Neysa, langsung bertanya pada ayahnya. Sean nampak berpikir sejenak.


Em, ayah akan membuat janji terlebih dahulu dengan dokter.", jawabnya.


"Baiklah, ayah. aku menunggu.", ujarnya, yang membuat semua anggota yang masih duduk di kursi meja makan itu tersenyum melihat antusias bocah kecil itu.

__ADS_1



__ADS_2