
Hari pemakaman. Sean sudah lebih baik dari hari kemarin. pagi tadi, ia sempatkan diri di antar John kerumah sakit untuk menemui putri nya.
"Ayah, hanya bisa menjenguk sebentar karena, ayah harus mengantar momy pergi ke surga.", ucapnya, sembari memberikan dot berisi ASI pada putrinya.
Baby Neysa nampak menghisap kuat ujung dot itu. sementara Sean hanya memandangi wajah yang belum mengerti bahwa, ibunya telah tiada.
Ada rasa sedih di hatinya, namun ia harus menguatkan hati dan menguasai dirinya, untuk tetap tenang agar tidak berpengaruh pada baby nya.
Puas minum ASI, Baby Neysa tertidur lelap. seorang perawat nampak mengambil baby untuk di tidurkan di box inkubator.
"Ayah pergi dulu, ok?. nanti, ayah kesini lagi.", ucapnya, berpamitan pada putrinya, yang sudah mulai nampak berisi itu.
Sean berterima kasih pada perawat. ia membungkuk hormat sebelum pergi.
John segera melajukan mobilnya ke rumah duka. nampak di sana, para keluarga, kerabat serta pelayat yang datang cukup banyak untuk mengantar kan Cellya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Sean keluar mobil dengan memakai kacamata hitam. ia tidak ingin ada yang tahu kesedihan yang membuat matanya bengkak karena terus menangis.
Ia berjalan menunduk di ikuti oleh John, dan segera masuk ke rumah duka.
Kini, mereka akan melakukan prosesi penutupan peti jenazah. Sean, dan ayahnya serta beberapa kerabat yang akan melakukan nya.
Sesak menyerangnya, saat peti itu tertutup sempurna. ia nampak memejamkan mata di balik kacamata hitam nya.
Ingin rasanya menolak semua fakta yang ada bahwa, istrinya telah pergi. tapi, janji kepada ibu mertuanya membuatnya harus ikhlas dan kuat untuk melepas istrinya.
Ya, ibu Cellya memintanya untuk melakukan kewajiban terakhir nya sebagai seorang suami. mengantarkan istrinya ke peristirahatan terakhir dengan damai.
Peti Cellya telah di pindahkan ke mobil. Sean memilih untuk ikut masuk di mobil yang membawa jenazah istrinya. sementara John, membawa mobil pribadi milik tuannya. melaju lebih dulu di depan mobil jenazah untuk membuka akses jalan.
Semua keluarga, kerabat dan pelayat mengikuti mobil itu. mereka ingin mengantarkan Cellya.
San Diego hills, tempat peristirahatan elit yang di pilih keluarga mereka. tidak hanya penataan makamnya. tapi perawatan makamnya juga sangat eklusif.
Mobil berhenti. pintu belakang mobil terbuka. Sean segera memakai kacamata hitam nya lagi sebelum turun.
Nampak para perawat makam menghampiri untuk membawa peti istrinya.
__ADS_1
Upacara pemakaman di mulai. Sean berdiri di kejauhan. bukan tidak rela, ia hanya tidak sanggup melihat istrinya di kubur dalam tanah.
Bagaimana nanti?!. Cellya sangat takut dengan gelap. ia jijik dengan cacing dan hewan melata lain nya.
Pria itu hanya menunduk saat peti mulai turun. ia memalingkan wajahnya, berusaha mengontrol emosi nya agar pemakaman berjalan dengan lancar.
Sampai pada puncaknya. ia memutuskan untuk masuk ke mobilnya. Sean meletakkan kedua tangannya di setir sebagai tumpuan kepalanya. pria itu sudah tidak sanggup lagi menahan Isak tangis nya.
Hancur, dunianya benar-benar hancur saat ini. ia bahkan tidak tahu apakah masih ada pelangi setelah awan gelap ini menghilang.
Peti mulai di timbun. semua yang datang menaburkan bunga bergantian sampai, tanah itu selesai di timbun. nisan sudah di tancapkan dan keluarga serta kerabat menaburkan bunga lagi untuk terakhir kalinya.
Setelah nya para kerabat dan pelayat serta rekan kerja berpamitan pada kedua orang tua Sean, ibu Cellya, Ellyana, David dan kedua orang tua David yang ada di sana.
......................
"Dimana Sean?.", tanya ibu Cellya.
"Tuan, di mobil, nyonya.", jawab John.
"Perlu saya panggilkan?!.", tanya John. ibu Cellya menggeleng.
Sampai para pelayat pulang semua, Sean belum juga mau turun dari mobilnya. membuat John harus ikut mobil tuan besarnya bersama Alex karena, mereka sepakat untuk membiarkan Sean sendiri lebih dulu.
Langit yang cerah itu, tiba-tiba turun mendung dan menurunkan gerimis lembut. Sean yang sedari tadi berdiri di depan makam istrinya mendongak ke langit.
"Bahkan, langit pun bersedih karena mu, by.", ujarnya. ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping nisan sang istri.
Makam yang di penuhi bunga itu menjadi tempatnya mengadu saat ini. ia berulang kali meminta maaf sembari memeluk nisan sang istri, sementara hujan semakin deras.
Saat Sean bangun, ia sudah berada di rumah sakit dengan infus di tangannya. nampak, ibu dan ayahnya sedang beristirahat di sofa.
"Ma.", panggilnya. membuat kedua orang itu, bangun dan segera mendekat.
"Sayang, kau sudah bangun?!.", tanya ibunya. suara nya nampak bergetar.
"Dady, akan panggilkan dokter sebentar.", ucap ayahnya, sembari berlalu, keluar ruangan untuk memanggil dokter.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?.", tanyanya.
"Kau pingsan di makam istrimu. untungnya, Dady mu dan John segera menyusul kesana setelah mendapat kabar dari pihak makam.",
"Waktu di temukan, suhu tubuh mu panas, dan kau menggigil kedinginan. jadi, Dady mu segera membawamu kesini.", jawab ibu Sean menceritakan kronologi putranya bisa berada di rumah sakit.
Dady kembali ke ruang perawatan Sean dengan seorang dokter dan perawat. mereka akan mengecek kondisi tubuh Sean saat ini.
Ayah dan ibu Sean menunggu di luar. "Maaf, baru datang besan. tadi masih ada acara peringatan hari kematian, Cellya.", ucap ibu Cellya, yang baru datang di dampingi Ellyana dan suaminya.
Ibu Sean tersenyum. ia mempersilakan mereka duduk sembari menunggu dokter keluar.
"Bagaimana keadaan putraku?.", tanya ibu Cellya. ya, Sean tetap lah putranya, karena meskipun Cellya sudah tidak ada, tapi kini ada baby Neysa yang kini menjadi penghubung dan pengikat mereka.
"Dokter masih memeriksa nya. tapi, demamnya sudah turun.", jawab ibu Sean. terdengar helaan nafas dari besannya.
"Pasti berat untuk nya melewati semua ini. kita harus selalu ada untuk mereka.",
"Untuk anak dan cucu kita.", ucap ibu Cellya. yang di angguki oleh kedua besannya.
Meskipun masih sedih, namun ibu Cellya tampak lebih tenang sekarang. ia berniat untuk fokus membesarkan cucunya, seperti ia membesarkan mendiang putrinya, dulu.
Dokter keluar dari ruang rawat Sean. ia segera menghampiri kedua keluarga Sean yang sudah menunggu di ruang tunggu depan kamar.
"Bagaimana keadaan nya?.", tanya ayah Sean, menyambut dokter.
"Tuan mengalami pneumonia. tapi, syukurlah ini masih tingkat awal.", jawab dokter.
"Apakah dia bisa sembuh?.", tanya ibu Sean, ia nampak khawatir.
"Pneumonia bisa sembuh dalam waktu 1-2minggu dengan penanganan yang tepat.", jawab dokter, membuat semua anggota keluarga lega.
"Pneumonia itu di sebabkan apa?.", tanya ibu Cellya.
"Biasanya di sebabkan oleh bakteri atau virus. tapi melihat kondisi tuan, seperti nya itu hanya di sebabkan imun tuan yang menurun, sehingga penyakit mudah masuk.
"Syukurlah.", ujar ibu Cellya, lega.
__ADS_1
...----------------...