Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 67


__ADS_3

Pada akhirnya, Sean di rawat secara intensif sampai benar-benar sehat dirumah sakit selama dua minggu.


Hari ini, ia sudah di izinkan pulang bertepatan dengan kepulangan putrinya.


Ya, kondisi baby sudah membaik. ia bisa menghisap dot dengan kuat. berat badan nya terus bertambah, hingga baby itu terlihat gembul dan berisi sekarang.


Baby Neysa juga semakin aktif dan lincah. ia bahkan sudah mengerti di ajak bicara ataupun bercerita.


Terkadang, baby akan dnegan lincah menggerakkan tangan dan kakinya serta tersenyum dengan mata bulatnya. atau terkadang, ia juga mengoceh, menyahut pembicaraan orang-orang yang sedang menggendongnya.


Dia adalah semangat baru bagi Sean serta kedua keluarga untuk hidup lebih baik dan lebih sehat. untuk terus hidup walaupun belum bisa melupakan istrinya.


Bukan hanya sebagian, tapi semua. semua yang ada pada diri baby, adalah diri Cellya dalam wujud lain. membuat ibunya merasakan dan mengingat momen mengasuh putri kecilnya dulu.


Hari pertama baby Neysa di rumah. Sean masih belajar mengasuh putrinya, sekaligus pemulihan tubuhnya yang baru keluar dari rumah sakit.


Ya, meskipun ada Nani, pengasuh ibunya dulu yang siap membantu dan selalu standby menjaga nona kecil. tapi, Sean juga ingin bisa mengurus putrinya.


Ia nampak sedang mengganti popok putrinya, tentunya ada Nani di sampingnya, yang membetulkan bila Sean melakukan hal yang salah.


"Wah, tuan sudah bisa, rupanya.", ujar Nani, memberi tepuk tangan pada Sean, saat melihat tuan mudanya berhasil mengganti popok putrinya. Sean tersenyum senang, bisa melakukan hal ini untuk putrinya.


Ia berharap, dengan melakukan semua apa yang di lakukan oleh seorang ibu pada umumnya, Neysa tidak akan merasa kehilangan sosok mendiang ibunya.


Selanjutnya, ia belajar membuat susu untuk putrinya. ia membuat takaran yang pas, sesuai yang di ajarkan Nani. tidak lupa, Sean juga memperhatikan kebersihan botol dan suhu temperatur air yang digunakan untuk menyeduh susu.


"Cek dulu dengan tangan, tuan. apakah susunya terlalu panas atau tidak?!.", ujar Nani, sembari memberi contoh.


Sean pun melakukan hal yang sama. ia menumpahkan beberapa tetes susu di telapak tangannya, dan mengira-ngira suhunya.


"Apa suhunya sudah pas?.", tanya Sean, saat baru saja mengulang hal yang sama, di tangan Nani.


"Iya.", jawab Nani, dengan senyumnya. Sean terlihat senang, ia segera menghampiri baby Neysa dan memberikan susu itu pada bayi mungil nya.

__ADS_1


Baby Neysa nampak lahap menghisap dot di tangan ayahnya. Sean bahagia melihat putrinya minum dengan lahap.


"Sedang apa kalian?.", tanya ibu Sean, yang baru saja datang dan di ikuti oleh suaminya.


"Tuan muda, belajar merawat baby Neysa hari ini, nyonya.", jawab Nani. ibu Sean tersenyum, melihat putranya mulai terbiasa tanpa Cellya.


"Wah, cucu kakek lahap sekali.", ujar ayah Sean, saat mendekat. ia melihat cucunya begitu kuat menghisap ujung dot itu.


"Kalau begini, Neysa pasti tumbuh jadi anak sehat dan cerdas.", ujarnya lagi. Sean hanya tersenyum mendengar ayahnya terus mengajak bicara putrinya. sementara, putrinya tidak merespon dan terus menikmati susunya.


"Nani, tolong bilang pada maid untuk membawa koper mama dan Dady ke kamarnya.", ucap Sean, yang segera di angguki oleh Nani. Nani pun segera pamit pergi untuk memberi tahu maid yang lain.


Ya, sudah di putuskan. ibu dan ayahnya sepakat tinggal di mansion Sean, untuk membantu merawat baby Neysa sesuai permintaan Sean, dan persetujuan ibu Cellya.


......................


Sebulan berlalu. Sean sudah kembali bekerja seperti biasa, sementara baby Neysa di rumah bersama neneknya.


Bila hari Kamis tiba, ibu Cellya yang menjadi Oma dari baby Neysa, juga akan datang dan menginap di mansion Sean untuk membantu merawat putri Sean.


Ibu Cellya, juga memilih untuk mengurangi pekerjaan kantor, demi bisa lebih dekat dengan cucunya. dan Ellyana pun setuju.


Ya, beruntung nya Cellya memiliki saudara seperti Ellyana yang sangat paham dan mengerti bahwa keponakannya, lebih butuh perhatian banyak orang, terutama ibunya ketimbang perusahaan mereka.


Sementara ibu Sean, lebih banyak membuat desain gaun dan menemui klien di mansion Sean. ia menyerahkan semua urusan kantor pada asisten nya.


Ya, bila ada klien. ibu Sean meminta sekertaris nya untuk membawa tamunya ke mansion. bersyukur nya, banyak klien serta relasinya yang paham akan keadaannya. sehingga, mereka pun tidak mempermasalahkan hal itu.


Yang terpenting adalah, semua kerjasama desain dan pesanan sesuai permintaan customer dan selesai tepat waktu.


Sean baru saja memasuki mansion nya saat pulang dari kantor. tangis putrinya menyambut dengan suara nyaring.


"Ada apa, ma?.", tanya Sean, pada Oma dan nenek Neysa. ya, seharian ini mereka berdua yang menjaga putrinya.

__ADS_1


"Entahlah. mungkin dia merindukan mu.", jawab ibu Sean.


"Lekas mandi, dan segera temui dia.", perintah ibu Cellya. Sean mengangguk paham.


Ia segera naik ke kamar dan membersihkan dirinya. tidak berselang lama, ia sudah kembali dengan berganti pakaian bersih dan nampak lebih segar setelah mandi.


"Ayo. sini ikut, ayah.", ucapnya, sembari mengambil alih Neysa dari gendongan Oma nya.


"Mama sudah makan malam?.", tanya Sean. ibu Cellya dan ibu Sean menggeleng.


"Oma dan nenek bisa makan dulu. biar aku yang menjaga baby.", ucap Sean. ia lantas membawa baby ke kamar istrinya, sewaktu ia hilang ingatan dulu.


Kamar itu masih sama seperti dulu, tidak berubah sedikit pun. Nani setiap hari membersihkan nya karena terkadang Sean dan baby tidur di kamar ini.


"Apa cucu kakek, sudah merasa lebih baik?.", tanya ayahnya, yang ikut menyusul Sean dan putrinya masuk kamar.


"Sepertinya, iya. hanya saja, dia tidak mau di ajak duduk.", jawab Sean. terdengar helaan nafas ayah Sean, menghampiri mereka.


"Hari ini, sepulang imunisasi dia terus merengek.",


"Oma dan neneknya sampe kewalahan karena, semua yang di lakukan mereka tidak membuat baby, diam.", cerita ayahnya.


"Benarkah?.", tanya Sean. tapi, bersamanya baby berhenti menangis dan bahkan, kini mulai tertidur.


"Ya, seperti nya dia ingin mengadu ke ayahnya bahwa, Oma dan neneknya membuat dia kesal karena mengajak nya pergi imunisasi.", ujar ayah Sean. Sean tersenyum.


"Baby, anak baik. imunisasi, adalah untuk kesehatan baby. jadi, baby tidak boleh marah ataupun kesal pada Oma dan nenek.",


"Mereka adalah wanita-wanita hebat. kelak, baby harus menjadi lebih hebat dari Oma dan nenek. mengerti?!.", ucapnya, sembari mengusap-usap punggung putrinya.


Setelah dirasa cukup terlelap. Sean mulai meletakkan baby Neysa di ranjang secara perlahan. ia juga menyelimuti baby, dengan selimut favorit mendiang ibunya.


Ya, Sean ingin baby bisa mencium aroma tubuh mendiang ibu nya, yang masih melekat di kasur dan selimut nya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2