
"Dia bilang, dia ingin merasakan keluarga yang hangat.",
"Sarapan pagi bersama, makan malam bersama. berkumpul dan berbincang dengan semuanya di ruang keluarga.", sambungnya.
"Bahkan, selama ini dia bisa merasakan dan melihat bahwa kita berjarak.",
"Dia tidak tahu sebabnya, tapi dia bisa membaca ada sesuatu hal yang membuat kita seperti itu.",
"Dia bahkan mengira-ngira, mungkin itu yang membuat ayahnya tidak sering berada di rumah. pergi pagi buta dan pulang larut malam, saat dia sedang tidur.", lanjutnya.
"Mendengarnya, mengatakan bahwa aku tidak menyukaimu... ", ibu Sean, menelan ludahnya Kelu dan menarik nafas yang mulai memburu. sungguh berbicara berdua dengan cucunya tadi, membuat ia sadar satu hal bahwa, semua yang ia usahakan selama ini. ternyata, tidak sama dengan apa yang di inginkan Neysa.
Ia merasa bahwa, selama ini telah menyakiti cucunya karena mengadakan jarak antara Sean dan Neysa. ia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri.
"Ma.", Sean beranjak dari tempat duduknya. ia bahkan berada di kaki ibunya.
"Maafkan, Neysa. dia masih kecil, dan tidak bermaksud berkata seperti itu.", pinta Sean. ibu Sean menggeleng.
"Tidak. dia bahkan lebih dewasa dari usianya. dia bisa membaca situasi dan keadaan. dia bahkan tahu dan mengatakan bahwa, neneknya tidak menyukai ayahnya.", jelasnya. Sean sedikit terkejut dengan semua penuturan ibunya. tapi, ia sendiri juga menyadari bahwa putrinya lebih dewasa dari anak-anak seusianya.
"Sekarang, dia lebih dekat denganmu karena kau mendonorkan sumsum tulang belakang mu untuknya.",
"Mungkin juga, dia menganggap kau baik dan berhati malaikat. itu sebabnya, dia menyalahkan ku.",
"Semua pengorbanan, kasih sayang dan apapun yang aku berikan tidak ada nilainya lagi dimatanya. baginya, sekarang semua hanya ada ayahnya. adilkah?.", teriaknya. seolah-olah, ia ingin meluapkan kekesalan dan sakit hatinya.
"Adil.",
"Itu semua, adil.", sahut seseorang, yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Sean. mereka segera menoleh ke sumber suara. ya, ibu Cellya nampak datang dan segera menghampiri mereka. ia bahkan kini berdiri di depan besan dan menantunya.
"Maaf. aku lancang ikut masuk, dan ikut campur urusan kalian. tapi, ini karena Sean sudah terlalu lama masuk dan belum keluar juga.", ucap ibu Cellya.
"Apakah urusan ini sudah selesai?.", sambungnya. Sean dan ibunya sama-sama diam.
"Besan, bisakah anda tidak bersikap seperti anak kecil?!.", tanyanya, yang masih tidak mengerti jalan pikiran besannya. ia pikir, pikiran besannya sudah lebih terbuka saat berbincang dengannya tadi.
"Pernahkah kau bertanya pada menantuku, kenapa dia bersikap seperti itu, waktu itu?.", tanya ibu Cellya. ibu Sean terdiam.
__ADS_1
"Hanya orang yang pernah merasakan kehilangan seorang anak, yang bisa merasakannya.",
"Kau tidak pernah merasakannya. itu sebabnya kau menuduhnya dan berprasangka buruk padanya.", ujar ibu Cellya.
"Berprasangka?.", tanya ibu Sean, memotong ucapan besannya.
"Aku berprasangka?. kau sendiri juga jelas mendengar, dia mengatakan tidak seharusnya, Neysa hidup.",
"Itu yang kau katakan aku berprasangka?.", geramnya.
"Dan kau, kenapa semua membelamu?. jelas-jelas kau yang salah dalam hal ini.",
"Kenapa?!, kenapa?!, kenapa?....",
"Bahkan sekarang cucuku menganggap ku sebagai orang jahat yang memisahkan dia dan ayahnya.", teriaknya.
"Berhentilah, berteriak dan menyalahkan orang lain. apa kau tidak khawatir, kalau Neysa menyusul kesini dan mendengar semuanya?!.", sahut ibu Sean.
"Tidak bisakah kau lebih tenang dan mendengarkan sebabnya, lebih dulu?!.", tanya ibu Cellya.
......................
"Kecewa pada diri sendiri, karena tidak bisa melakukan apapun untuk keselamatan putriku.",
"Merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga Neysa seperti permintaan istriku.",
"Itu sebabnya, aku mengatakan hal itu.",
"Tidak seharusnya dia hidup, kalau hanya merasakan kesakitan, tanpa ibunya yang berada di sisinya.",
"Ma, sakit ku setelah kepergian Cellya. sampai kapanpun, akan menjadi ketakutan tersendiri bagiku.",
"Andai saat itu, aku bisa melakukan banyak hal untuk Neysa, seperti saat ini. aku tidak akan mengatakan hal itu.",
"Tapi, nyatanya tidak. keberadaan ku tidak membantu ataupun menyelamatkannya. aku hanya bisa menangis melihat kondisinya yang semakin menurun. jadi, aku hanya bisa mengucapkan hal itu, lalu pergi ke makam Cellya untuk meminta maaf.",
"Kini, tuhan memberiku kesempatan. dan aku tidak mau melewatkannya, begitu saja.",
__ADS_1
"Maka, diam-diam aku melakukan tes sumsum tulang di Singapore. dokter Neysa dan dokter yang menangani ku, berhubungan lebih intens. dan aku memilih menyembunyikan identitas ku sebagai pendonor. agar tidak menimbulkan masalah lain.",
" Bukan ingin di anggap sebagai malaikat atau penyelamat. aku, hanya ingin menjalankan kewajibanku sebagai seorang ayah.",
"Aku tahu, saat ini akan tiba.",
"Jadi, ma. aku meminta maaf, atas semua kesalahanku.",
"Aku bersikap acuh dan membisu pada mama selama bertahun-tahun, hanya karena aku tidak ingin semakin berdebat dengan mu.",
"Cukup sekali itu, ucapanku menyakiti mama. dan aku, tidak ingin mengulangnya.", ujarnya. Sean menghela nafas dalam. sementara ibunya sudah berlinang air mata. sedangkan mertuanya, hanya bisa diam dan berharap semua perselisihan karena salah paham ini segera berakhir dan keluarga kembali hangat seperti dulu.
"Ma, jika mama tidak mengizinkan Neysa untuk ikut denganku, itu tidak masalah. aku tahu, mama akan menjaga dan merawatnya, sebaik mungkin.",
"Aku tidak pernah meragukan kasih sayang dan perhatian, mama.",
"Yang perlu mama, tahu. donor sumsum tulang belakang ini, bukan untuk mengambil Neysa dari mama.",
"Ini adalah, murni karena hati nurani ku sebagai seorang, ayah.", ucapnya.
"Aku tidak ingin mengulang hal yang sama, membiarkan putriku melewati masa kritis sendiri. andaikan tujuh tahun yang lalu, ada yang bisa aku lakukan. untuk menyelamatkan putriku. maka, saat itupun aku akan melakukan hal yang sama dengan saat ini.",
Sean bersikap sedikit menjauh dari kedua ibu yang berada di depannya. kemudian ia berlutut serta bersujud kepada ibunya.
"Terimakasih.",
"Terimakasih, karena bersedia merawat, menjaga dan mendidik Neysa dengan setulus hati.", ucapnya. ia lalu bangun, dan berlutut serta bersujud kepada mertuanya.
"Mama, terimakasih telah menjadikan Neysa gadis yang berjiwa besar dan lembut, seperti momy nya. bahkan, ketidak hadiran ku selama bertahun-tahun, tidak membuatnya membenciku karena telah mengabaikan tugasku sebagai seorang ayah.", ibu Cellya, membuang muka menatap ke sembarang arah, ia tidak ingin air matanya jatuh di hadapan menantunya. meskipun, kini air mata itu telah meluncur bebas dari kedua matanya.
Sean bangun. ia menatap kedua ibunya, bergantian.
"Aku rasa, yang aku katakan sudah cukup.",
"Aku berterimakasih, dan memohon maaf. jika perkataan dan tindakan ku menyinggung atau menyakiti perasaan kalian.",
"Yang perlu mama tahu. aku tidak akan membawa Neysa, tanpa izin kalian.", ucapnya. ia membungkuk hormat, dan pamit undur diri. Sean lebih khawatir, putrinya menyusul karena ia dan Oma nya tidak kunjung kembali.
__ADS_1
...----------------...