Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 64


__ADS_3

"Tidak perlu, dad.", ucapnya, pelan.


"Aku hanya ingin istirahat, di temani suamiku.", ucapnya, meskipun tidak begitu jelas. semua mengangguk mengerti dan memberi ruang pada Sean dan Cellya.


"Baik. istirahatlah!.",


"Kalau merasa ada yang tidak enak. jangan sungkan, bilang pada, Dady.",


"Dady, akan secepatnya berlari memanggil dokter untukmu.", pesan ayah Sean. membuat menantunya itu, masih berusaha tersenyum manis, di balik selang oksigen yang menghiasi wajah nya.


Dady Sean memberi isyarat pada istri dan besannya, untuk menunggu di luar. ya, meskipun ayah Sean tahu istri dan besannya itu sebenarnya, tidak ingin menunggu diluar.


"Biarkan mereka berbicara sebentar, sebelum operasi.", bujuknya pada kedua wanita hebat di depannya, yang akhirnya membuat ibu Sean dan ibu Cellya menyetujui untuk melangkah, menunggu di luar kamar rawat putri menantu nya.


"By.", panggil Cellya, lemah sepeninggal ibu dan kedua mertua nya. Sean segera beralih duduk di samping ranjangnya.


"Iya, sayang.", jawabnya. Cellya tersenyum menatap wajah suaminya lekat.


"Aku pengen di temenin tidur sama kamu.", ucapnya, beberapa kali kalimat itu terputus. suara Cellya benar-benar susah untuk keluar.


Sean mengangguk. ia paham permintaan istrinya. perlahan, Sean merebahkan tubuhnya di samping tubuh Cellya. membuat bed itu penuh seketika dengan kehadirannya.


Ia memeluk Cellya dari samping. sesekali, pria itu nampak mencium kening dan puncak kepala istrinya. Cellya merasa tenang. ia menikmati, perlakuan hangat suaminya.


"Bertahanlah sebentar lagi. dokter sedang menyiapkan operasi nya.",


"Kau akan segera membaik. lalu, kita bisa pulang bersama baby.",


"Kita akan merawat baby bersama. kita....


"Neysa.", sahut Cellya lirih, menyebutkan nama putrinya.


"Iya, baby Neysa.",


"Kita akan pulang ke mansion bersama baby Neysa.", ujar Sean.


"Sesuai namanya, dia bukti cinta abadi dariku, by.", ucap Cellya, pelan. Sean mengangguk, tiba-tiba hatinya merasa sakit dan nyeri tak tertahan melihat dan mendengar istrinya semakin sulit untuk berbicara.


Mata Cellya sedikit terpejam. "Jangan tidur, by.", pintanya. ia khawatir sang istri kehilangan kesadarannya lagi.

__ADS_1


"By, jangan tidur.", ucapnya beberapa kali. Cellya, berusaha tersenyum dan membuka matanya yang sedikit berat.


"Agar aku tidak tidur. ceritakan sesuatu tentang dirimu, atau tentang kita.", pinta Cellya dengan suara lirih dan beberapa kali sempat hilang. tapi, Sean paham ucapan nya.


Ia mengangguk, menyetujui permintaan sang istri. Sean pun mulai bercerita.


"Dari kecil kita bersama, berawal sebagai teman. seperti kedua orang tua kita. ya, walaupun kedua Dady kita berteman karena bisnis, awalnya.", ucap Sean, memulai ceritanya.


"By, apakah kau benar-benar sudah mengingat semua tentang kita?.", tanya Cellya, dengan mata dan suara beratnya. Sean mengangguk. "Iya.", jawabnya singkat.


"Ceritakan, agar aku bisa mencontoh nya.", pintanya, dengan menahan rasa sakit di tenggorokan nya.


"Aku tidak mau kehilangan ingatan tentang kita, sampai akhir waktu.", sambungnya. membuat hati Sean teriris dengan permintaan istrinya. ia hampir saja menangis, tapi berusaha tetap tenang dan kuat di depan Cellya.


"Ok.", jawab Sean, setelah membuang sesak di dadanya.


"Aku tak tahu pasti, sebenarnya. bagaimana bisa aku tiba-tiba mengingat semua tentang kita.",


"Yang aku tahu, saat aku terbangun pasca operasi. hati dan pikiran ku sudah terkoneksi untuk mencari dirimu.",


"Awalnya, aku tidak mengingat semua sikap dan perlakuan ku padamu, selama aku hilang ingatan, by.",


......................


"Aku berusaha mencari mu karena, beberapa hari setelah aku pulang dari rumah sakit, kau tidak bisa di hubungi.",


"Aku datang ke kantor, dan bertemu dengan rekan kerjamu.",


"Sehari, pencarian ku nihil. hari berikutnya, aku datang lagi ke kantor. dan di hari itu, aku mendapat informasi bahwa, istriku ternyata sudah pulang, tiga hari sebelum hari ulang tahun ku.",


"Awalnya, aku hanya menduga-duga dan berprasangka yang membuat diriku terpuruk.",


"Ucapan rekan-rekan kerjamu, yang membuatku seketika mengingat semua perlakuan buruk, selama aku hilang ingatan padamu.",


"Berbekal info dari John, aku bangkit dan bersemangat lagi untuk mencari mu.",


"Intinya, pada saat itu. hati dan pikiran ku hanya terhubung dengan mu. seperti sebuah telepati, di manapun kakiku melangkah. itu adalah petunjuk keberadaan mu. menjadi awal titik terang bagiku bisa menemukan mu.",


"Aku sangat bahagia, kar......

__ADS_1


"Tuuuutttttttt.........", monitor yang berada di samping ranjang istrinya berbunyi kencang. membuat nya tersadar bahwa kondisi istrinya menurun drastis.


Sean segera turun dari ranjang. ia menekan tombol nurse call. membuat dokter dan beberapa perawat berlarian masuk menuju kamar Cellya.


Suasana benar-benar tegang. kedua orang tua Sean dan ibu Cellya hanya bisa menunggu di luar ruangan, karena dokter sedang melakukan tindakan emergency.


Sean berusaha untuk terus membuat istrinya sadar. berulang kali, memanggil-manggil istrinya.


Dokter terus melakukan penyelamatan di bantu beberapa suster. tapi pada akhirnya, monitor detak jantung Cellya berbunyi nyaring.


Ya, usaha dokter melakukan penyelamatan agar Cellya bisa di operasi sia-sia. dalam sekejap mata, sekian detik monitor itu menunjukkan penurunan angka yang signifikan.


Detak jantung, saturasi oksigen, dan tanda-tanda kehidupan dalam diri istrinya benar-benar tidak terbaca lagi di monitor itu.


"Maaf.", ujar dokter Jeno. membuat Sean menggeleng tidak percaya.


Ya, bagaimana ia bisa begitu saja percaya istrinya telah tiada?!. saat baru saja, mereka bercengkrama dan saling bercerita.


Ia bahkan baru saja mengatakan bahwa, kondisi istrinya segera membaik, begitu juga dengan baby. sehingga, mereka bisa segera pulang dan tinggal di mansion untuk merawat baby bersama.


"Ayo, periksa lagi!. jangan menyerah, dok. aku mohon!.", pintanya. dokter Jeno, hanya menggeleng. ia meminta maaf dan berusaha menenangkan Sean. tapi pria itu memberontak.


Ia menghampiri tubuh istrinya yang sudah terbaring tak berdaya di ranjangnya.


"By, ayo bangun!.",


"Jangan buat lelucon seperti ini. ini sama sekali tidak lucu.",


"Ayo bangun!. aku dan baby Neysa sangat membutuhkanmu.",


"Kau menginginkan nya, aku pun juga menginginkan kehadirannya. jadi, tolong jangan tinggalkan kami.",


"Aku tidak pernah berpikir bagaimana aku tanpamu, by. ayo bangun!. kumohon, bangunlah!.", Sean terus meminta Cellya untuk bangun demi baby mereka. ia terus mengguncangkan tubuh tanpa nyawa itu.


Sementara dokter Jeno, sudah keluar ruangan dan sudah memberi tahu kepergian Cellya pada kedua orang tua Sean dan ibu Cellya.


Ibu Cellya yang shock, sempat ingin pingsan. tapi, segera sadar saat dokter Jeno yang menopang tubuh ibu Cellya, segera mengguncangkan tubuh ibu Cellya.


Ia bahkan membantu ibu Cellya berjalan memasuki ruangan untuk melihat putrinya terakhir kali, di ikuti oleh kedua orang tua Sean.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2