
Neysa berjalan beriringan dengan Oma menyusuri lorong rumah dan koridor rumah sakit, dengan di ikuti John serta asisten Han di belakang mereka.
"Neysa, yakin ikut lomba lari?.", tanya Oma nya, gadis kecil itu, mengangguk.
"Jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah, kalau begitu. oke?.", pesan Oma, membuat Neysa mengangguk dan tersenyum.
Akhirnya, mereka sampai di lobi rumah sakit. John segera pergi untuk mengambil mobil, sementara Neysa menunggu di temani Oma dan asisten Han di lobi.
Mobil Hyundai palisade itu berhenti tepat di depan Neysa. gadis itu segera berpamitan pada Oma nya. nampak Oma Nesya mencium kedua pipi cucunya bergantian, lalu memeluknya.
John sudah membukakan pintu mobil untuk Neysa. setelah berpamitan, gadis itu segera naik dan John segera menutup pintu mobil kembali.
"Bye, Oma.", ucapnya, sembari melambaikan tangan dari jendela mobil, sebelum mobil itu benar-benar pergi dari tempatnya. setelah memastikan mobil yang di tumpangi cucunya berlalu, ibu Cellya segera kembali masuk ke rumah sakit, di ikuti oleh asisten nya.
"Paman, bisakah mampir ke makam, momy?.", tanyanya, di sela perjalanan pulang.
"Baiklah. kita mampir beli bunga dulu ya, nona?!.", tawar John, yang di angguki oleh Neysa.
Mobil berhenti di depan toko bunga, tak lama kemudian. Neysa segera turun dan membeli bunga mawar serta Lily untuk mendiang ibunya.
Setelah selesai, ia segera naik mobil dan menuju pusara sang bunda. perjalanan kurang lebih lima belas menit di tempuh, sampai akhirnya mereka sampai di depan pemakaman elit San Diego hills.
Neysa segera turun dari mobil, ia nampak merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan sebelum memasuki area makam. setelahnya, ia segera mengambil bunganya dan mulai berjalan memasuki area pemakaman.
Langkah kakinya mulai terhenti saat melihat makam ibunya. ya, ada bunga lain di makam ibunya selain bunga darinya.
Seperti biasa, Neysa selalu ke makam ibunya sebelum berangkat ke sekolah. dan ia selalu membawakan bunga mawar merah serta bunga Lily.
Bunga yang ia bawa tadi pagi, masih terlihat di pusara ibunya. tapi, ada bunga mawar putih juga di sana. siapa kira-kira yang menjenguk ibunya tadi?. ini adalah kali pertama ia tahu, ada orang lain yang membawakan ibunya bunga selain dirinya. itu artinya, setiap hari mungkin ada orang lain selain dirinya, aunty El, uncle David, dan Oma, atau neneknya yang datang ke sini. tapi siapa?!.
"Nona, kenapa hanya berdiri di sini?.", tanya John. ia menghampiri Neysa, yang diam mematung agak jauh dari makam ibunya.
"Paman John, siapa yang baru ke sini ya?!.", tanyanya polos.
"Memangnya kenapa?.", ujar John, balik bertanya.
__ADS_1
"Lihat!.", ucap Neysa, sembari menunjuk makam ibunya. John melihat sekilas.
"Ada yang salah?.", tanya John. Neysa menggeleng.
"Kalau begitu, ayo segera temui momy. hari sudah semakin sore, nenek pasti akan segera menelpon, paman.", ujar John, yang di angguki Neysa. gadis itu segera berlalu menuju makam mendiang ibunya.
Neysa berjongkok di samping makam yang tertata rapi dengan rumput hijau di atasnya. ia meletakkan bunga yang di bawa, di atas pusara ibunya. lalu, berdoa.
"Momy, hari ini Ney sangat bahagia.", ucapnya, mulai bercerita setelah selesai berdoa.
"Aunty El, sudah melahirkan. Ney, jadi seorang kakak. jadi, Ney tidak kesepian lagi.",
Ia nampak mengambil ponsel dari saku baju seragam sekolahnya. membuka kunci ponsel itu dan menunjukkan sesuatu pada nisan ibunya.
"Lihat, momy!.",
"Ini adik Kai. anak aunty El dan uncle David. nama panjangnya, KAI David Guetta. tampan kan, momy?.", ujarnya, penuh senyum.
......................
"Sayang, kenapa pulang se sore ini?.", tanya neneknya, saat ia baru saja turun dari mobil dan hendak memasuki mansion. ya, neneknya tidak bisa tenang dan terus menunggu di teras sejak tadi.
"Maaf, nek. tadi, aku pergi menjenguk aunty El, dulu. lalu, pergi ke makam momy.", jelasnya.
"Lalu, kenapa John tidak mengangkat telfon ku?.", hardiknya, pada asisten anaknya, yang berdiri di belakang Neysa.
"Aku yang meminta paman John, untuk tidak mengangkat telfon nya, nek.", sahut Neysa. ia tidak ingin John kena amukan neneknya.
"Kenapa?.", tanya neneknya.
"Karena, saat nenek menelpon paman sedang mengemudi.", jawabnya. membuat neneknya mendengus.
"Baiklah, karena cucu nenek tidak apa-apa. sebaiknya, kita segera masuk.",
"Ayo, bersihkan diri dulu lalu bersiap makam malam.", ajak neneknya, yang di angguki oleh Neysa.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan memasuki mansion. selanjutnya, Neysa segera pergi ke kamarnya, untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. ia juga segera menuju meja makan untuk menikmati makan malam bersama nenek kakek nya.
"Nenek, apa hari ini nenek ke makam momy?.", tanyanya, saat makan malam sudah selesai, dan kini sedang menikmati buah sembari menunggu nenek dan kakeknya selesai makan. ibu Sean meletakkan sendok dan garpu nya.
"Tidak.", jawab neneknya.
"Kakek mengunjungi, momy?.", tanyanya pada sang kakek. dan ayah Sean hanya menggeleng sembari melanjutkan makannya.
Neysa tampak terdiam dan berpikir, membuat neneknya menatap gadis kecil itu.
"Kenapa memangnya?.", tanya neneknya. Neysa menggeleng pelan.
"Tidak mungkin, tidak ada apa-apa kalau cucu nenek sudah bertanya.", ujar ibu Sean. Neysa menghela nafas pelan.
"Tadi, Neysa ke makam momy setelah pulang menjenguk aunty El dan adik Kai. sampai di makam momy, Neysa melihat bunga mawar putih di atas makam momy.", ujarnya, bercerita.
"Makanya, Neysa bertanya pada nenek dan kakek.", lanjutnya.
Ibu Sean nampak terdiam dan berpikir. apa mungkin itu Sean, putranya?!. ia ingat betul, kalau Sean selalu memberi bunga mawar putih pada istrinya. dan lagi, mawar putih adalah kesukaan Cellya. tapi untuk apa?, bukankah sejak pertengkaran mereka, Sean sudah tidak mau tahu tentang Neysa dan mendiang istrinya?!.
"Nenek?!.", panggilnya. membuat neneknya tersadar dari lamunannya.
"Iya, sayang. kenapa?.", tanya ibu Sean.
"Nenek memikirkan sesuatu?.", tanya Neysa, membuat orang tua itu menggeleng.
"Tidak. nenek, hanya teringat ada pekerjaan yang mendesak tadi.", jawab ibu Sean, membuat gadis itu mengangguk paham.
"Nenek, kakek. Neysa, ke kamar dulu ya?!. Neysa, harus menyelesaikan sesuatu.", ucapnya, lalu berdiri dari kursinya dan segera pergi menuju kamarnya.
Begitu masuk kamar, Neysa segera duduk di meja belajar nya. ia mengambil buku gambar serta peralatan tulisnya yang lain.
Neysa membuka lembar demi lembar bukunya, hingga nampak lah sebuah sketsa yang sedang ia coba selesaikan. ya, ini adalah pertama kalinya, ia membuat sketsa.
Neysa menyalakan ponselnya. ia mencari foto sebagai contoh sketsa nya.
__ADS_1
...----------------...