Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 101


__ADS_3

Sean bangun lebih dulu. ia sedikit terkejut, melihat ibunya sudah duduk di samping ranjangnya. sementara mertuanya duduk di sofa.


"Mama, ingin bermain dengan Neysa?. kalau begitu, aku akan keluar sebentar.", kata yang pertama terucap dari Sean, saat bangun dan melihat ibunya duduk disamping ranjangnya.


Ia menggeser badannya sedikit. yang mana, hal itu malah membuat gadis kecilnya terbangun.


"Engh.", Neysa, terbangun dengan suara beratnya.


"Ayah, mau kemana?.", tanyanya. saat melihat ayahnya, hendak beranjak dari tempat tidur.


"Ada nenek, disini. ayo, sapa dulu.", ujar Sean. gadis itu menoleh ke sebelah kirinya. ia tersenyum melihat neneknya akhirnya datang, dan menjenguknya. ya, sejak ibu Cellya meminta menjadikan Neysa dan Sean dalam satu ruang perawatan, dan semua orang menyetujuinya, kecuali ibu Sean. ia memang tidak terlihat menyambangi cucunya ini.


Sebenarnya, bukan hanya faktor itu saja. ia ingin lebih menenangkan diri dan mengontrol emosinya yang tidak stabil saat mengingat kejadian tujuh tahun lalu. awal ia begitu kecewa dengan sang putra, karena ucapannya kala itu.


"Nenek?!.", ia memeluk neneknya hangat. ya, ia merindukan nenek yang mengasuhnya sedari kecil. Sean tersenyum melihat Neysa dan ibunya berpelukan dan saling melepas rindu. ia menyadari posisinya, dan segera beranjak turun dari ranjang untuk meninggalkan mereka berdua.


Ibu Cellya menemani Sean di taman, selama Neysa bersama neneknya. ya, ibu Sean datang dengan membawa beberapa buku gambar, pensil warna, boneka dan mainan. dan saat ini, mereka sedang bermain bersama.


Neysa nampak menggambar neneknya yang sedang duduk tersenyum di depannya. ya, neneknya meminta digambar karena, ia sudah lama tidak melihat Neysa menggambar selama sakit.


Awalnya, gadis itu nampak menggambar neneknya seorang diri. tapi setelah selesai, ia menambahkan kakeknya, Oma, ayahnya, dan Neysa sendiri.


"Apa sudah selesai?.", tanya neneknya. Neysa menggeleng.


"Sebentar lagi, nek.", jawabnya.


"Tumben, kenapa lama sekali?.", tanya neneknya, heran. biasanya, Neysa tidak membutuhkan waktu lama untuk menggambar sketsa seseorang.


"Selesai.", ujarnya, riang. ia menyerahkan gambar itu pada neneknya.


"Ini.....?!.", neneknya, terdiam melihat hasilnya.


"Ya, ini nenek, kakek, Oma, ayah dan Neysa. kita adalah satu keluarga.", sahutnya. gadis itu, menjelaskan siapa-siapa saja yang berada dalam gambarnya. ibu Sean terdiam, ia masih saja menunduk melihat gambar yang di buat oleh cucunya.


"Nenek?!.", panggilnya. ibu Sean, menatap manik mata cucunya.


"Apakah gambarku bagus?.", tanyanya. ibu Sean, mengangguk.

__ADS_1


"Lalu, apakah kita bisa menjadi keluarga yang hangat seperti gambarku?.", tanyanya lagi. ibu Sean, menatap cucunya. mencari tahu, apa maksud ucapannya.


"Nenek. sebenarnya, Ney sudah tahu sejak lama kalau nenek tidak menyukai ayah.",


"Mungkin, itu sebabnya ayah tidak pernah di rumah.", ujarnya. ibu Sean menatap cucunya sendu.


"Ney, tidak tahu apa penyebabnya. tapi, bisakah nenek membiarkan Ney ikut tinggal bersama ayah?.", tanyanya, polos.


"Tinggal dimana?.", tanya neneknya.


"Neysa, ingin tinggal bersama ayah. dimana pun, itu nek.", jawabnya. gadis kecil yang selalu bersikap dewasa di usia yang belum waktunya. dia terbiasa menerima semua situasi yang ada tanpa mengeluh.


"Bukankah, selama ini Neysa sudah tinggal bersama ayah?!.", ujar neneknya. Neysa mengangguk.


"Secara fisik, iya. secara batin, tidak.", jawabnya. begitu dewasa kah pikirannya?, sampai ia bisa menjawab demikian?!.


"Yang terlihat, memang aku tinggal bersama ayah, nek. tapi, sehari-hari kami menjadi orang asing.",


"Ayah pergi bekerja pagi-pagi sekali. pulang larut malam, saat Neysa sudah tidur.",


"Kami, tidak pernah sarapan ataupun makan malam dalam satu meja makan.",


......................


"Nenek, apakah nenek menyayangi Neysa?.", tanyanya, setelah hening tanpa suara di ruangan itu.


"Tentu.", jawab neneknya, tanpa ragu. sisa-sisa air mata dan hidung yang tampak memerah, menjadi tanda bahwa ia baru saja menangis.


"Bisakah, nenek mengabulkan permintaan Neysa, tadi?.", tanyanya. wanita itu menghela nafas dalam.


"Ayah.", panggilnya sembari melambaikan tangannya. membuat Sean menoleh, melihat gadis kecil itu berlari menghampiri dirinya dan sang mertua yang sedang duduk di bangku taman.


Nampak, supir ibunya mengikuti Neysa yang nampak riang menghambur ke pelukan sang ayah.


"Kenapa Neysa kesini?. apakah Neysa meninggalkan nenek?!.", tanyanya. gadis itu mengangguk.


"Nenek, ingin bicara dengan ayah. dan meminta Neysa, untuk bermain dengan Oma.", jawabnya. Sean menatap mertuanya, saat mendengar penuturan putrinya. lewat isyarat matanya, ia seolah menanyakan harus pergi atau tinggal, pada mertuanya.

__ADS_1


Ibu Cellya mengangguk. memberi jawaban pada Sean.


"Baiklah. baby, main bersama Oma dulu. ayah, akan menemui nenek dulu.", ucapnya.


"Ok, ayah.",


Sean beranjak dari duduknya dan segera menuju ruang rawatnya. ya, mungkin memang inilah saat waktu yang tepat untuk menjelaskan dan meluruskan semua kesalahpahaman tujuh tahun yang lalu.


"Tok...",


"Tok...", ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. pria itu kini tengah duduk di sofa bersama ibunya. hanya saja, mereka tetap berjauhan.


"Neysa, bilang. mama, memanggilku.", hanya kata itu yang mampu ia ucapkan untuk memulai percakapan ini. ia tidak mau mengatakan terlebih dahulu. ia ingin tahu, semua keluh kesah ibunya, kepadanya selama ini. ibu Sean mengangguk. ia menyerahkan lembar gambar sketsa yang di buat oleh Neysa, tadi.


Ya, gambar dirinya, suaminya, besannya, cucu serta putranya.


"Ini gambar, Neysa?.", tanya Sean. ibunya mengangguk. di berbakat dalam menggambar, seperti mendiang ibunya.


"Dia menanyakan hal yang tidak bisa, ibu jawab.", ujar ibu Sean. Sean menatap ibunya penuh tanya.


"Dia ingin tinggal bersama ayahnya. dia bertanya, apakah aku mengizinkan?.", cerita ibu Sean.


"Aku menjawab. bukankah, selama ini Neysa dan ayah memang tinggal bersama?.", lanjutnya, menyambung cerita.


"Dia menjawab dengan jawaban yang sangat cerdas. jawaban itu, mampu membuatku terpukul seketika.",


"Aku mengira-ngira apakah niatku mendidik, menyayangi dan melindunginya selama ini. membawa dampak buruk bagi kesehatan mentalnya?!.", Sean masih terdiam, mendengarkan cerita ibunya.


"Dia bilang, secara fisik, iya. tapi, secara batin, tidak. kami memang tinggal satu rumah. tapi, kami bahkan tidak pernah saling menyapa.",


"Ayah pergi bekerja keluar rumah, pagi-pagi buta dan baru kembali saat Neysa sudah tidur malam.",


"Mendengarnya mengatakan hal itu. aku merasa menjadi nenek yang jahat. nenek yang terlalu mendikte.",


"Mungkin, karena hal itu juga. dia selalu berpikir dewasa sebelum usianya.",


"Katakan!. menurutmu, apa mama begitu jahat, karena telah memisahkan kalian?!. membuat jarak di antara kalian?!.",

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2